Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
13. Bebas (menikmati cintanya dalam diam)


__ADS_3

"Jangan-jangan lo gak ngungkapin perasaan lo, karna takut ditolak ya?" ledek Roni pada Uwais.


Uwais mengangkat alisnya menatap Roni, bingung, harus mengiyakan atau tidak.


"Nggak lah, gue emang masih pengen sendiri," jawab Uwais tegas.


"Beneran?" Roni menyelidik setengah tak percaya. "Lalu gimana dengan perasaan lo ke Arrida?" tanyanya kemudian.


"Biasa aja, kalo pun misalnya gue suka, gue akan bertahan, gue gak mau ganggu sekolahnya," jawab Uwais pasti.


"Lalu bagaimana dengan perasaan Arrida, andai ternyata dia suka sama elo? Apa akan bernasib sama kayak ciwi-ciwi yang suka ngedeketin elo?" kata Roni mencari tahu.


Uwais mengernyitkan keningnya. Mencoba mengingat siapa yang dimaksud oleh Roni


"Yah dia gak nyadar, kalo selama ini dia banyak bikin hati ciwi-ciwi klepek-klepek ... Erna, Audy, Erfi, Mira, Nia, Ita, Asya, Tata ...." Roni tiba-tiba terdiam. Kalau saja Uwais tidak menghentikan melalui isyarat tangannya, mungkin Roni akan menyebutkan semua nama cewek yang pernah ngedeketin Uwais dari semenjak mereka kelas sepuluh sampai mereka sekarang kelas dua belas.


"Gue tau kok, tapi gue gak pernah mempermainkan perasaan mereka, gue jaga sikap dan jaga jarak, gue ngasih batasan yang sangat jelas, dan gue gak pernah PHP-in mereka,"


"Iya ... gue setuju itu, gue tau gimana elo ke ciwi-ciwi itu, tapi, untuk kasus Arrida, kayaknya lo mulai melewati batas yang lo buat sendiri deh," Asep menyimpulkan.


"Iya kah?" Hanya ucapan. Sementara jauh dalam hati Uwais, ia mengiyakan kesimpulan yang Asep katakan. Ia sadar, kalau benteng pertahanan yang dia buat perlahan mulai runtuh. Nyatanya sekarang, sebelum dia menyelesaikan studinya dia bertemu dengan seorang gadis imut dan menggemaskan, yang membuat dia terjebak dengan perasaannya sendiri, yang membuat hatinya selalu bergetar, jantungnya selalu berdegup kencang, otaknya selalu memikirkannya. Rasa itu rasa yang aneh namun indah.


"Iya, bener," Roni mengangguk, setuju dengan apa yang Asep pikirkan


"Kalau emang iya, biar ntar gue lamar dia di saat yang tepat," seru Uwais mantap.


"Wih keren pemikiran lo, nyampe lamar - lamar segala," Asep menepuk punggung Uwais.


"Biar ga usah mempermainkan banyak hati anak orang, cukup satu, serius untuk selamanya,"


"Wah berat euy, mikirnya udah kejauhan," kata Asep yang di iyakan oleh Roni.


Uwais hanya tertawa melihat ekspresi keduanya.


"Tapi lo harus ekstra jaga dia, Bro," kata Roni memberi saran. "Karena dia banyak yang suka dan banyak pula yang benci,"


Uwais bingung.


"Lo gak sadar, dia banyak di sukai cowok-cowok, dan banyak dibenci cewek-cewek,"seru Roni.


"Iya bener, satu contoh aja, lo gak lihat perlakuan Erna tadi waktu hiking? Untung aja ada Rian," ujar Asep mengingatkan.

__ADS_1


Uwais pun terdiam membenarkan. Dia tau para ketua yang menyukai Arrida memiliki banyak penggemar. Belum lagi cewek-cewek yang juga menyukainya.


Dia sendiri tidak mengerti mengapa banyak siswi yang menyukainya padahal dia bukanlah seorang ketua organisasi sekolah, yang biasanya punya pamor tinggi, atau seorang atlet sekolah yang punya banyak idola, atau siswa paling pintar yang membuat bangga sekolahnya.


Uwais hanyalah siswa biasa, dengan prestasi hanya bisa masuk 10 besar di kelasnya, bukan di sekolahnya. Wajahnya memang tampan, memiliki postur tubuh yang ideal, selalu berpenampilan rapi, tidak suka macam-macam, taat pada aturan kecuali waktu itu, demi gadis yang ia sukai ia rela untuk dihukum. Ia suka berolahraga. Ia hangat, ramah, suka menolong, dan humble. Satu lagi, siapapun yang melihat senyuman Uwais pasti hatinya jadi melting.


🌼


"Da, kamu kecentilan banget sih? Uwais, Rian, Wisnu, Justin semua kamu deketin," Erna bertanya dengan nada ketus pada Arrida.


Tadi setelah Arrida berbicara dengan Rian, Erna memanggilnya untuk bicara di belakang ruang PMR.


"Aku gak ngerasa kecentilan mbak, mereka yang deketin aku, apa aku harus menjauh? Aku juga membatasi diri kok," Arrida menjelaskan.


"Lagian kenapa mbak Erna sewot seh, suka-suka hati mereka lah mau deket ma siapa?"


"Kamu kalau diingatkan itu harusnya yang bener dan ga usah macem-macem ama senior!" Erna mulai meninggi.


"Oh mbak Erna senior? Senior macam apa yang berani sama juniornya? Gak jadi teladan banget sih?!! Lagian hak apa mbak ngelarang-larang untuk dekat dengan siapa, sekolah aja gak ngelarang untuk berteman dengan siapapun asal tidak melewati batas,"


"Kamu berani ya, Da,"


"Aku emang berani,"


"Eh aku gak sialan ya mbak senior!"


"Jangan kurang ajar ya,Da,"


"Aku gak kurang ajar ya mbak, aku cuma membela diri, lagian kenapa seh mbak benci banget ma aku? Salah aku apa coba?"


"Aku gak suka sama junior yang sok cantik, kecentilan! Aku udah ngasih peringatan, tapi kamu lama-lama malah makin kegatelan, semua cowok kamu deketin dan kamu goda!"


"Mbak jangan asal nyablak ya, aku udah cukup sabar mbak kerjain tadi, tapi kalo mbak asal tuduh tanpa bukti itu namanya fitnah, dan aku gak suka ... Hati-hati mbak, mulutmu harimaumu, jangan sampai tu mulut rusak lahir batin!" ancam Arrida.


"Apa maksud kamu?"


"Aku robek mulut mbak, biar tau rasanya sakit!"


"Kurang ajar banget sih!!!"


"Dua kali mbak bilang aku kurang ajar, mungkin sebaiknya emang aku jadi kurang ajar nih, biar bisa ngasih mbak pelajaran!" kata Arrida sambil menaikkan kedua lengan bajunya yang panjang hingga ke pundak.

__ADS_1


Tangan Erna mengepal, sejurus kemudian telapak tangannya yang terbuka siap meluncur ke wajah Arrida. Secepat kilat Arrida menahan lengan Erna yang akan menamparnya.


"Mbak senior yang terhormat, tolong jaga sikap! Sikap mbak ini bikin aku gak respect!" kata Arrida sambil melepaskan tangan Erna kuat-kuat.


"Senior macam apa mbak ini, gak usah bikin malu diri sendiri mbak," seru Arrida kesal


"Buang-buang waktu aja!!!" Arrida melangkah meninggalkan Erna yang terpaku penuh amarah


"Kita belum selesai Da!!!"


Langkah Arrida terhenti. Ia membalikkan tubuhnya. Menatap tajam Erna.


"Apalagi sih mbak,gak usah cari masalah!"


"Terserah kamu mau main-main ama cowok manapun, asal jangan Uwais!!!" kata Erna menegaskan sambil melangkah mendekati Arrida.


"Oh, jadi ini karna kak Uwais, mbak cemburu? Kenapa gak bilang aja sih 'Jauhi Uwais' ... Itu cukup jelas buat aku, daripada sok sok-an bilang peringatan, jangan kegatelan, kecentilan, sok cantik ... Munafik banget sih!"


"Aku ngasih peringatan karna aku baik ya, Da!"


"Dan sekarang mbak lagi gak baik gitu?"


"Terserah apa yang kamu pikirkan, tapi jangan dekati Uwais!"


"Kalau aku gak mau?" tanya Arrida makin membuat Erna emosi.


"Kamu akan tau akibatnya!"


Arrida menampilkan senyumannya yang sulit diartikan, entah itu senyuman ejekan, senyuman merendahkan, senyuman sinis atau senyuman tulus. Entahlah.


"Aku kasihan sama mbak, kak Uwais itu bebas, dia bisa dekat dengan siapapun, itu hak dia ... Mengenai aku dekat atau jauh sama dia, itu juga hak aku, mbak jangan merasa kalah saing! Dan mbak gak usah pake ngancem-ngancem, karena aku gak takut!!!" lancar banget Arrida ngomong seperti itu tanpa ada rasa takut apapun. Baginya, ketika tadi dikerjain aneh-aneh waktu hiking, dia masih menghormati Erna sebagai kakak dewan senior, tapi saat ini sudah diluar ranah organisasi, Erna bukanlah apa-apa, apalagi ini hanya menyangkut urusan pribadi.


Erna terdiam menahan amarah.


"Kalo mbak emang pacar kak Uwais, aku akan menjauh, lagian ngapain juga gangguin hubungan orang, tapi pada kenyataannya, kalian gak ada hubungan apa-apa kan? Kenapa mbak mesti khawatir, dia kan emang baik sama semua orang, aku aja gak keganggu kok dia mau berteman ama siapa aja," kata Arrida penuh penekanan.


Padahal selama ini, dia juga merasa terganggu kalau melihat Uwais dengan teman-teman ceweknya. Ada rasa cemburu yang pada akhirnya selalu meragukan cintanya. Jadi, daripada menyiksa diri, dia pun memutuskan untuk menikmati cintanya dalam diam, menikmati canda tawanya, menikmati wajah dan senyumannya, memperhatikannya dengan tulus, mengagumi segala sikapnya, bahagia saat dia bahagia, tanpa harus dia tunjukkan rasa cinta itu pada Uwais, tanpa embel-embel berharap dicintai balik. Cukup seperti itu, bagi Arrida sudah sangat indah dan menyenangkan. Dan dia tidak ingin merusaknya jika sampai Uwais tau kalau dia mencintainya. Mungkin hanya akan bertahan sampai Uwais lulus kelas dua belas.


Erna masih saja menahan amarahnya, secara logika dia membenarkan apa yang dikatakan Arrida, namun hatinya menolak, dia hanya ingin memiliki Uwais sendirian.


"Aku pergi mbak, aku rasa pembicaraan kita yang gak penting ini selesai, makasih buat makiannya!" Arrida meninggalkan Erna mematung penuh amarah.

__ADS_1


Dan dari kejauhan Uwais tersenyum melihat kejadian tersebut. "Kamu luar biasa Ar, benar-benar menggemaskan,"


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2