Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
11. ceroboh dan menolong


__ADS_3

Nana dan Hani menoleh pada Arrida. Mereka bisa membaca dengan jelas kecemburuan di wajahnya. Arrida meletakkan botol air mineral yang dipegangnya di pinggir lapangan. Lalu mengalihkan pandangannya dari Uwais. Ia melangkah meninggalkan lapangan diikuti oleh Nana dan Hani menuju kelasnya.


"Da, kamu cemburu?" tanya Hani hati-hati.


"Cemburu ya? Apa ini ya, yang namanya cemburu?" tanya Arrida meyakinkan dirinya sendiri. "Kok sakit ya Han?" tanya Arrida lemah.


"Waaa, diem-diem kamu yang ada hati ma kak Uwais, Da" seru Nana yang malah tampak bersemangat.


Arrida mengangguk, bibirnya sedikit mengerucut.


"Harusnya kan gak boleh ge-er apalagi baper," Arrida menahan rasa kecewanya.


"Sejak kapan, Da?" tanya Hani


"Gak tau Han, ga jelas, muncul gitu aja, terlebih, rasa itu bikin sesek hati saat dia nolongin aku waktu hanyut, mungkin, emang akunya yang baper,"


"Iyya, kak Uwais emang baik banget, salah-salah malah kita yang kejebak perasaan sendiri," kata Nana sendu.


Ketiganya hampir sampai ke kelas.


"Inget ga, dia pernah nolongin mbak Audy kelas sebelas waktu jatuh dari tangga, itu sampe heboh, padahal cuma nolongin biar ga jatuh doang, nyampe sekarang mba Audy cari-cari perhatian gitu, belum lagi Erfi kelas X IPA 3 yang ditolong waktu hampir ketabrak, dia juga terus nyari perhatian, tambah lagi mbak Erna, kalian lihat sendiri kan gimana perhatiannya dia selama ini, atau ... mbak Erna itu pacarnya, Da?" tanya aHani menyelidik, walaupun dia tau tidak mungkin mendapatkan jawabannya.


"Hm, mending ga jatuh cinta deh, bikin sakit hati aja, udahlah, biar aku nikmati rasa ini sendirian aja ... Lagian aku uda janji gak mau punya pacar dulu, usia juga belum tujuh belas tahun," ujar Arrida mantap.


"Seriusan, Da? Hati-hati lho, kemakan omongan sendiri," kata Hani mengingatkan


"Entar kalo ternyata kak Uwais beneran suka ma kamu, mau kamu tolak?"lanjutnya.


"Jangan gitu Han, jadi merinding neh," Arrida mengusap-usap lengannya.


"Soalnya, aku yakin dia itu suka kamu ... Cuma tinggal nunggu waktu aja,"


"Han, dia udah kelas dua belas, bentar lagi lulus, kayaknya gak mungkin lah dia fokus sama masalah ecek-ecek kayak gini, pasti dia akan fokus untuk ujiannya," jelas Arrida.


"Iya Han, kita juga belum tau sebenarnya kak Uwais itu uda punya pacar apa belum," kata Nana. Kini ketiganya sudah berada dalam kelas, duduk di tempat mereka.


"Udah ah, gak usah ngomongin dia lagi, biar aja rasa ini aku simpan baik-baik disini," kata Arrida sambil menunjuk bagian kiri dadanya.


"Kasihan kamu, Da," Nana membelai rambut Arrida mencoba menggodanya.


Arrida tersenyum. "Enak kayak kamu, Na, sebatas kagum aja, gak perlu ngerasain yang aneh-aneh, ya, kan, Na?" tanya Arrida.


Nana hanya nyengir. "Iya lah, Da,nyadar diri juga kalee, siapa seh kak Uwais, sementara, aku mah apa atuh, hanya butiran debu, cukup dengan lihat senyumnya aja udah bikin hati berbunga-bunga," kata Nana melayang-layang.


Arrida ma Hani terkekeh.


Tiba-tiba ponsel Arrida berbunyi. Ia segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon.

__ADS_1


"Hah? Kak Uwais Han, Na?" Arrida terkejut, ia memperlihatkan ponselnya pada Hani dan Nana, bermaksud memberi tahu siapa yang meneleponnya. Hani dan Nana ikut terkejut, wajahnya mereka berbinar penasaran.


"Angkat, Da," perintah Nana tidak sabar.


Arrida pun menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Assalamu'alaikum," Kata Arrida ragu-ragu


"Wa'alaikumsalam, Ar ... kamu ke luar, atau aku yang masuk ke kelas mu, aku lagi di depan ruang kelasmu!" kata Uwais setengah memerintah.


Arrida langsung memutuskan sambungan teleponnya, Nana dan Hani mengernyitkan kening mereka penasaran.


"Ada kak Uwais didepan!" kata Arrida sambil berlari keluar kelas. Diikuti Nana dan Hani, tapi mereka hanya sampai di balik pintu. Mereka bermaksud hanya mengintip Arrida dan Uwais.


"Kak Uwais, ada apa?" sapa Arrida setelah tiba di hadapan Uwais. Mereka duduk di bangku yang ada di koridor depan kelas Arrida.


"Kamu bukannya mau ketemu aku ya?" Arrida mengernyitkan keningnya. Masih belum mengerti.


"Nih, kamu mau ngasih ini kan?" kata Uwais sambil menyerahkan botol air mineral. Botol itu yang tadi sempat Arrida letakkan di pinggir lapangan


"Kalo mau ngasih itu yang bener, jangan malah diletakkan di pinggir llapangan,"


"Kak Uwais tau?" tanya Arrida sambil menerima botol tersebut.


"Iya lah, ayo cepetan kasih, aku udah haus banget karna lari tadi, l" ujar Uwais meminta


Uwais tersenyum menerimanya.


"Makasih ya," ucap Uwais sambil mengacak pucuk kepala Arrida. "Kenapa tadi kamu malah pergi, gak jadi ngasihnya?" tanya Uwais sambil membuka tutup botol air mineral.


"Bukannya kak Uwais uda dikasih minum ma mbak Erna tadi? Jadi, ngapain juga aku ngasih kakak, sia-sialah," kata Arrida sambil merapikan rambutnya.


"Ehmm gitu ya, tadi aku emang nerima minum dari Erna, tapi terus aku kasihin sama anak-anak lain yang tadi lari bareng,"


"E iya, itu ... Kak Uwais lari keliling lapangan karna gak pake topi saat upacara, kan? Maafin aku ya Kak, gara-gara aku, kakak jadi dihukum,"


"Kamu mau, kalau kamu yang lari di lapangan?"


Arrida dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Dan aku lebih gak mau kalau kamu yang lari di lapangan tadi," kata Uwais sangat meyakinkan membuat Arrida tersipu. Namun dengan cepat dia kendalikan perasaannya.


"Makasih ya, Kak, udah minjemin topi tadi,"


"Hmm, sekarang mana topi aku, kamu tadi juga mau mengembalikan topi, kan?" tanya Uwais setelah meneguk air mineralnya.


"Ah iya, tunggu sebentar!" Arrida langsung berlari ke dalam kelasnya menuju bangkunya, ia mengambil topi Uwais yang ada diatas mejanya, kemudian kembali ke luar kelas dan menyerahkan topinya pada Uwais.

__ADS_1


"Sekali lagi makasih ya kak, dan ...." ucapan Arrida terhenti. Uwais menoleh mengerutkan keningnya memberi tanya pada Arrida 'dan kenapa?' dengan isyarat di wajahnya.


"Maafin aku ya, Kak,"


Uwais menarik napas panjang, dia tersenyum.


"Ar, sejak awal kita ketemu, kamu seneng banget sih minta maaf dan ngucapin terimakasih?"


"Iya, kah?" Arrida mencoba mengingat.


Uwais hanya mengangguk sambil menghabiskan air mineralnya.


"Iya ya, itu mungkin, karena aku selalu saja ceroboh dan kak Uwais selalu saja nolongin aku," kata Arrida masih mengingat-ingat kejadian yang telah dilalui oleh mereka.


"Ah, kak Uwais emang pahlawanku," puji Arrida dengan menampilkan wajah malu-malunya. Dia memegang bagian kiri dadanya.


"Siapapun Ar, kalo celaka pasti ditolong,"


"Iya seh, tapi aku sering banget kan,Kak?"


"Tapi aku juga pernah buat kamu jatuh karena keserempet sepedaku, apa itu berarti kamu yang ceroboh?" tanya Uwais.


"Mungkin aja, Kak, coba kalo aku jalannya lebih hati-hati dan gak terburu-buru,"


"Kalau ...." Uwais menghentikan kata-katanya, dan itu membuat Arrida penasaran.


"Kalau apa, Kak?"


"Emm, Ar ...." Uwais mengambil posisi nyaman, ia berusaha untuk sangat hati-hati dalam memilih kata. "Aku minta maaf,"


"Minta maaf kenapa, Kak?"


"Waktu di bis," ucap Uwais.


DEG


...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Alhamdulillah


Makasih kak Readers


semoga suka ya juga terhibur


sehat selalu yaaa😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2