Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
77. Keindahan kamu


__ADS_3

"Apa?"


"Yang aku rindukan itu kamu!"


Uwais melirik gadis kesayangannya itu. Pun Arrida, dia ikut melirik cowok pujaannya itu. Sesaat yang indah, Arrida segera kembali menatap langit sambil menyeruput minuman coklatnya. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang. Di malam hari yang begitu indah, suasana romantis serta pujaan hati yang mengungkapkan rasa rindunya....Bukankah itu sesuatu yang istimewa?


"Emang kamu gak kangen ma aku?"


"Eh? mm....Enggak" jawab Arrida singkat. Ia bercanda, hanya ingin tahu reaksi cowok pujaannya itu


"Bener?" tanya Uwais penuh penekanan dan penasaran.


"Bo'ong" jawab Arrida sambil tertawa kecil.


Uwais tersenyum lebar, hatinya meleleh. Usapan lembut pun akhirnya mendarat di pucuk kepala Uwais.


"Malam ini aku bahagia banget Ar, ini kali keduanya kita menikmati bintang"


Arrida melirik kembali cowok pujaannya itu sambil mengernyitkan keningnya. Seperti mengingat-ingat kapan waktu menikmati bintang yang pertama kali.


"Waktu abis jengukin Nana, setelah lihat Hani bertanding, trus kita makan nasi di taman kota abis sholat Maghrib"


"Ah iyya, yang Pluto itu kan? Tau gak kak, saat itu aku gak terlalu paham arah pembicaraan kakak lho" kata Arrida sambil nyengir.


"Hah dasaar" Uwais tertawa kecil.


"Hehehe... Wah, kak lihatlah ... indah banget langitnya" Arrida sengaja mengalihkan pembicaraan, ia ingin menjadikan saat ini adalah momen yang romantis.


"Hmm bener banget.... menurut kamu indah mana ketika kita lihat bintang setelah Maghrib atau saat fajar menjelang subuh kayak gini?" tanya Uwais sambil menikmati indahnya langit di fajar hari.


"Keduanya indah, ciptaan Alloh yang benar-benar harus dinikmati dan disyukuri, termasuk ciptaan Alloh yang lagi duduk disamping aku ini" Arrida melirik Uwais sambil menaikkan kedua alisnya.


"Haish gak usah menggoda ..." Uwais tertawa kecil.


"Heheh... ciyeee malu tuh"


Uwais menggeleng sambil mengulum senyumnya. Dia mengalihkan pandangannya kembali menatap langit.


"Kamu bener Ar, memang indah dan luar biasa ciptaan Alloh, bulan....bintang... bahkan... bintang yang ada disisiku juga begitu cantik" Kini Uwais yang menggoda Arrida. Ia alihkan pandangannya kepada gadis kesayangannya itu.


"Aiiihh... kakak lagi menggoda atau memujiku?"


"Lagi bersyukur, bisa diijinkan oleh Alloh menikmati keindahan kamu"


Arrida melebarkan senyumnya, cowok pujaannya itu memang selalu bisa untuk membuat hatinya meleleh.


"Kenapa tersenyum?" tanya Uwais ketika melihat ekspresi gadisnya itu


"Karna aku juga lagi bersyukur, bisa menikmati ciptaan Alloh dari jarak yang sangat dekat" kata Arrida sambil memiringkan tubuhnya, pandangannya hanya tertuju pada wajah Uwais, ia menopang dagunya, siku lengannya berada diatas pahanya. Sementara tangan yang satunya masih memegang cangkir.


Uwais membalas tatapan itu sambil tersenyum, ia ikut memiringkan kepalanya hingga keduanya bisa saling menikmati keindahan wajah mereka. Hening sejenak.


"Udah ah natapnya" Arrida kembali menatap langit. Rasanya dia tidak bisa mengendalikan degup jantungnya yang tak karuan.


"Kenapa?" Uwais kembali mode santai. Ia juga sedang berusaha menetralkan suasana.


"Gak tau apa kak... kalo kakak natap aku itu, ada yang sesak disini" Kata Arrida sambil menunjuk dadanya.


Uwais hanya menggelengkan kepala dan mengulum senyumnya.


"Sama Ar, ada yang berdebar hebat kan... nafas kita seakan tertahan"


"Kakak juga merasakannya?"


"Iya"jawab Uwais singkat


"Rasa ini, sama seperti waktu kakak gak sengaja ngekiss aku di bis, itu pertama kalinya jantung aku gak karuan"

__ADS_1


"Kalo aku merasakan pertama kalinya setelah melakukan RJP ke kamu"


Arrida terhenyak, ia melirik tajam Uwais.


"Itu bener Ar, waktu itu... setelah rasa cemasku hilang karena kamu udah sadar, tiba-tiba aja, hatiku jadi gak jelas rasanya"


Arrida menutup mulutnya.


"Berarti, bener kata Nana dong, RJP rasa first kiss"


Uwais tersenyum.


"Sepertinya begitu" kata Uwais sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tatapannya masih ke arah langit.


"Uhp" Arrida menutup mulutnya.


"Kenapa?" Uwais kembali menatap gadisnya itu.


"Berarti, bukan dua kali dong kita pernah kiss... tapi tiga"


Uwais tertawa gemas. Bisa-bisanya gadis dihadapannya ini berpikir ke arah sana.


"Waktu kamu cium pipi aku gak dihitung?" Uwais mulai menggoda Arrida lagi.


"Kak... gak usah diingetin" Arrida tersipu malu. Wajahnya sudah merah merona.


"Pipi satunya masih ting-ting lho Ar" Uwais makin menggodanya.


"Kak" Arrida mencubit lengan Uwais.


"Aww... iya iya... hahaha, udah nyubitnya... lepasin" Uwais mulai tidak nyaman.


"Ssst.. nanti ayah, bunda ma mamah bangun kak" kata Arrida sambil melepas cubitannya


"Gak papa... emang kenapa kalau bangun? takut ya?"


"Ya gak enak aja, ngelihatin kita berduaan gini, bukannya tidur malah bercanda"


"Ish pikirannya kemana-mana"


Uwais tertawa lagi.


"Oh iya kak, gak nyangka, ternyata orang tua kita sahabatan"


"Iya, kaget juga"


"Ternyata ginjalnya ayah, ginjalnya om Ridwan ya, keluarga kakak emang suka menolong ya..."


Uwais terdiam, tidak terlalu ingin mengomentari. Ia hanya membenarkan ucapan Arrida dalam hatinya.


"Oh iya Ar, kamu lihat gedung itu" tunjuk Uwais ke arah sebuah gedung berlantai tiga yang jaraknya sekitar 100 meter dari resto miliknya.


"Kenapa?"


"Itu asrama putri universitas B, besok selama kamu kuliah...kamu tinggal disitu!"


"Siap! Laksanakan!" kata Arrida dengan menaikkan lengannya seperti sikap hormat.


"Kamu bisa sering-sering kesini, dan aku bisa mengunjungimu, kalau ada kesulitan, kesini aja, jalan kaki ga jauh kok, hanya sekitar 100 meter, jalan ke fakultas mu juga deket, kalau aku gak ada kuliah bisa kuantar"


" Angkutan gak ada kah?"


"Ada sih, cuma jarak dari asrama ke kampus kamu itu dekat Ar... sekitar 300 meter. Ada jalan pintas nanti aku kasih tau ya"


"Kok kakak tau, kakak suka anter cewek dari asrama ya"


"Gak usah mikir aneh" kata Uwais tiba-tiba tidak suka dengan ucapan Arrida.

__ADS_1


"Trus?"


"Gak ada terus, besok kalo kamu kuliah, aku akan antar jemput kamu"


"Eh... kok"


"Gak usah nolak, itu udah jadi keputusan ku" akhirnya Uwais menetapkan keputusannya sangat tegas.


"Kak... " panggil Arrida lirih. "Marah?"


"Nggak... cuma gak suka aja kalo kamu curiga"


"Cuma bercanda kak" kata Arrida hati-hati


Uwais tersenyum.


Kemudian terdengar suara adzan Subuh dari masjid yang dekat dengan resto.


"Udah subuh, sholat yuk"


"Gak tunggu ayah, bunda, mamah?"


"Kayaknya masih pada tidur, biarkan istirahatnya agak lama, ntar kalo udah jam 5 lebih aja, baru dibangunkan" kata Uwais memberi usul.


"Ya udah, aku ambil mukena dulu kak, kita jamaah ya"


Uwais mengangguk.


🌼


Selepas subuh, ketika para orang tua terbangun, tempat Uwais sudah kedatangan Andika, Kirno dan Arman. Mereka memang datang seperti biasanya, sehabis subuh, karena akan menyiapkan resto hari ini.


" Wah Arrida udah nyampe ya" sapa Kirno.


"Eh iya bang, gimana sehat?"


"Iya sehat banget, ini kenalin Andika, waktu ke warung Cinta Pluto belum ketemu kan?"


"Ha ... Iyya bener."


Arrida pun menyalami Andika sambil berkenalan.


"Ayo Ar, ikut aku" Ajak Uwais tiba-tiba sambil menarik lengan Arrida.


"Eh Wais....main tarik tangan anak orang" Kata Andika protes


"Iya bang, mumpung masih pagi, mau nyari sarapan, itu buat mamah dan orang tuanya Arrida udah disiapin di meja, tolong di temenin ya, bang" perintah Uwais pada Andika, yang kemudian mendapatkan anggukan.


🌼


"Ayo naik" perintah Uwais agar Arrida naik ke sepedanya


"Mau kemana kak?" tanya Arrida penasaran


"Nanti juga kamu tau" Kata Uwais.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers udah mampir


Makasih udah baca


Makasih udah mendukung


Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa


Sehat selalu kakak readers

__ADS_1


Semoga suka dan terhibur...


☺️☺️☺️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»


__ADS_2