
Air laut cukup tenang, deburan ombak saling berkejaran, banyak orang-orang berdatangan menikmati pantai. Maklumlah hari ini adalah hari Minggu. Bagi masyarakat terutama di daerah sekitar, pantai ini memang merupakan salah satu tujuan wisata yang bisa dinikmati sebagai liburan asik yang nyaman di kantong.
Bisa jalan-jalan di pinggir pantai, naik kuda, bermain pasir, bermain ombak, mandi air laut, bahkan ada tempat yang sengaja dijadikan arena bermain. Jadi, keadaan pantai saat ini memang cukup ramai.
Namun keadaan seperti ini malah membuat para anggota PMR lebih bersemangat. Sembari membersihkan pantai mereka juga seakan berkampanye kepada pengunjung untuk selalu menjaga kebersihan di pantai tersebut.
Anggota PMR yang berjumlah sekitar 70 orang yang terdiri dari dewan kerja (kelas 11) dan andik (kelas 10) pun langsung terjun ke pantai, bersama sebagian masyarakat yang memang ikut berpartisipasi dalam bersih-bersih pantai terutama para pemudanya. Mereka memunguti sampah-sampah yang berserakan, lalu mengumpulkannya untuk dibawa ke tempat pengelolaan sampah.
Acara bersih-bersih berlangsung sekitar 2-3 jam. Kemudian dilanjutkan acara lomba-lomba. Istirahat. Dilanjut refreshing, bisa berswafoto, menikmati jalan-jalan di pinggir pantai, dan berkuliner.
Arrida, Nana dan Hani memilih untuk duduk-duduk di pantai sambil mengobrol dan berfoto ria. Namun tak disangka saat mereka tengah berfoto ada seseorang yang ikutan berfoto. Dia Adnan.
Ketiganya menoleh pada Adnan.
"Abang kok datang kesini?" Arrida terkejut.
"Udah datang ya, Bang?" Kini Hani yang bertanya, dia sama sekali tidak terkejut. Dan dia merubah panggilannya ke Adnan dari 'kak' menjadi 'abang'.
Arrida mengernyitkan keningnya.
"Kita yang minta, Da," Nana sekarang yang bersuara.
"Iyya Da, kita minta ijin nanti gak pulang bareng sama temen-temen, nanti kita pulangnya sendiri, karena nanti dijemput ma bang Adnan, makanya kakak dewan mengijinkan,"
"Kok bisa? Trus abang kok ga bilang?"
"Ini rencananya Hani, Da, dia pengen ngajakin kamu refreshing setelah melalui masalah kemarin. Nah, waktu ketemu bang Adnan di halte, udah deh, kita hubungi bang Adnan sekalian," cerita Nana.
"Iya dek, Bunda ma ayah udah ngijinin, sekalian biar kamu seneng katanya, kita nikmati sore ini, lihat sunset, dan terserah kamu pengen apa, kemana, kita hangout ya, nyampe malam juga gak papa, kebetulan besok tanggal merah kan, jadi libur, ni abang bawa mobil," kata Adnan sambil menunjukkan kunci mobil di tangannya.
"Asiiik neh, tapi gak bawa baju ganti," kata Arrida pelan.
"Bunda udah nyiapin semua, Da, abang tinggal bawa," kata Adnan meyakinkannya.
"Lah, Nana ma Hani gimana?" tanya Arrida kemudian.
__ADS_1
"Kita udah nyiapin dong , Da," seru Nana.
Arrida menggelengkan kepala. Merasa gemas dan menyenangkan memiliki sahabat seperti Nana dan Hani.
"Aku uda telat ya," Tiba-tiba ada suara dari arah belakang mereka. Dan itu membuat keempatnya berbalik ke belakang melihat ke arah pemilik suara.
"Kak Uwais?" Arrida kembali terkejut, ia langsung mengalihkan pandangannya pada Nana dan Hani. Keduanya hanya nyengir.
"Jangan bilang, ini juga bagian dari rencana kalian," kata Arrida mencari tahu.
Hani mengangguk. Saat itu Uwais duduk di samping Adnan setelah sebelumnya bersalaman menyapa Adnan.
"Aku rasa, kak Uwais juga perlu diikutsertakan, Da, dia yang udah nolong kamu dari pak Jefry, dan kita kayaknya butuh refreshing bareng deh, biar bang Adnan yang jadi bodyguard kita hari ini," kata Hani menjelaskan.
"Ish enak aja, abang juga mau refreshing sendiri, mumpung di pantai, mau lihat cewek-cewek, siapa tau ada yang bening," Adnan sewot namun bercanda.
"Aduh, abang tamvan, gak usah jauh-jauh nyari, gak lihat apa, ada cewek bening disini," canda Nana sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
Hani langsung menyentil kening Nana.
"Aww sakit, Han," Nana mengusap keningnya.
Selepas anggota PMR pulang, kini mereka berlima mulai menikmati pantai. Mereka bermain kejar ombak, kadang berlari berkejaran karena tidak mau basah walaupun akhirnya mereka saling menyiram dan sekalian mandi di laut. Mereka juga bermain saling melempar bola-bola pasir. Pokoknya, mereka sangat menikmati sore itu di pantai. Tawa hangat terus mengiringi kelimanya. Apalagi waktu Arrida dikejar oleh Adnan, entah bagaimana ceritanya, Arrida malah bersembunyi di balik punggung Uwais, seakan meminta perlindungan darinya. Namun Uwais hanya tersenyum melihat kakak beradik yang rukun seperti bocah. Hangat. Itu yang ada dalam benaknya.
"Tolongin, Kak," kata Arrida sambil menarik baju belakang Uwais.
Tapi Uwais hanya diam sambil tersenyum memperhatikan keduanya. Ah, rasa aneh yang indah itu hadir lagi di hati keduanya, ada getaran yang dirasakan begitu halus. Indah. Nyaman. Hangat.
Adnan sudah ada di hadapan Uwais, dia berusaha untuk meraih Arrida yang bersembunyi dibalik punggung Uwais. Namun dia hanya bisa mengulurkan tangannya bergantian untuk bisa meraih Arrida, karena Arrida hanya menghindari ke kanan dan ke kiri. Terus seperti itu, sampai Uwais kesal karena harus menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan akhirnya saking gemasnya Uwais pun memegang tangan Arrida lalu dia serahkan pada Adnan.
Adnan senang Arrida bisa dicekalnya, kemudian dia pun mengambil pasir basah untuk dioleskan di kedua pipi Arrida. Arrida hanya mengerucutkan bibirnya. Matanya terpejam. Pasrah menerima perlakuan kakaknya.
"Ini namanya masker pasir laut, Dek,"
Uwais, Nana dan Hani tertawa terbahak. Kemudian mereka ikut mengoleskan pasir basah di wajah Arrida. Selesai mengerjai Arrida, mereka pun bermain air, berenang mengikuti ombak ke pantai.
__ADS_1
Puas bermain, mereka membersihkan diri, lalu bersiap untuk melihat matahari terbenam. Kelimanya berjalan menyusuri pantai, hingga mentari senja mulai terlihat. Warna merah jingga menghiasi langit yang perlahan mulai gulita. Cahaya matahari pun dengan anggunnya mulai menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat, menyisakan kehangatan yang indah.
Mereka memandang takjub dan terpesona dengan keindahan yang dihadirkan Tuhan di ufuk barat alam semesta.
Kelima wajah mereka menguning terkena sinar matahari. Mereka pun mengambil foto sebanyak. mungkin.
"Bentar, Ar," kata Uwais pada Arrida. Ia telah siap dengan kamera di ponselnya.
Arrida berbalik menatap Uwais.
'Cekrek'
Uwais mengambil gambar Arrida yang sedang memandang ke arahnya, tangan kanannya memegang ponsel, sementara tangan kirinya berkacak pinggang, rambutnya sedikit menutupi wajahnya karena tertiup angin pantai.
"Kak Uwais, ngapain ngambil gambar orang!" Arrida protes.
"Gak papa, buat aku jadiin wallpaper, gadis cantik dibalik sunset, biar gak sia-sia Ar," Uwais terkekeh.
"Eits, kalo gitu tunggu!" Arrida menyela, dia langsung mengambil gambar Uwais yang sedang menatapnya, tangan kanannya sedang memegang ponsel karena memang dia sedang merubah wallpapernya. Rambutnya sedikit tersibak angin, celana jeansnya dia naikkan sampai lutut. Kemeja putihnya terbuka 3 kancing, menutupi kaos bagian dalam berwarna biru muda, lengan kemejanya juga dilinting 3 lipatan. Tampak gagah dan sempurna. Senyum di wajahnya terukir indah.
"Mau dijadiin walpaper juga? Cowok tampan dibalik sunset?" komentar Uwais. Arrida hanya tertawa kecil.
Dan interaksi keduanya tidak lepas dari perhatian Adnan, Nana dan Hani. Ketiganya mengulum senyum. Namun sebenarnya tak jauh dari tempat mereka, ada seseorang yang merasa sakit hati dan penuh amarah melihat interaksi Uwais dan Arrida.
"Kita foto berlima yuk!" ajak Hani pada keempatnya, dan langsung disetujui oleh mereka. Dan akhirnya, mereka pun berfoto bersama dengan beberapa gaya yang ceria.
🌼
Setelah sholat Maghrib, mereka memutuskan untuk makan malam. Kelimanya masuk ke warung makan seafood. Mereka memesan beberapa porsi makanan ada cumi mentega, cumi goreng tepung, udang asam manis, udang saus padang, kerang saus tiram, kerang asam manis pedas, ikan bawal dan ikan gurame baik yang dibakar maupun yang digoreng.
Setelah pesanan datang mereka pun makan dengan nikmatnya. Namun lagi-lagi disaat Arrida sedang menikmati makannya, dia merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya bahkan lebih seperti mengancamnya.
Ia menoleh ke kanan, kiri, dan belakangnya, lalu memperhatikan sekitarnya. Nihil. Dia belum menemukan siapa atau apa.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...