Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
55. Tetap dengan senyum itu


__ADS_3

"Kalau gak mau buka mata, aku cium lho" bisik Uwais di telinga Arrida, ia sengaja menggoda gadisnya itu.


Dan akhirnya bisikan itu sukses membuat Arrida membuka matanya. Menatap Uwais dengan menyipitkan matanya dan sedikit mengerucutkan bibirnya.


Berhasil.


Wajah Arrida seperti inilah yang selalu membuat Uwais merasa gemas sehingga akhirnya Uwais mencubit hidung mancungnya lembut.


"Kak..." panggil Arrida manja, sambil memegang hidungnya yang tidak terasa sakit, dia hanya merasa kalau cubitan itu bukan hanya menyentuh hidungnya saja tetapi juga menyentuh hingga hati. Arrida tersipu, ia lupa tentang 'cinta yang terabaikan'


"Kamu ganti baju ya, trus ikut aku" Uwais memerintah.


"Kemana?"


"Nagih janji"


Arrida mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Kamu gak ingat?" Uwais menunjukkan jari kelingkingnya agar Arrida mengingat 'janji kelingking' nya tempo hari.


"Oh iya, janji yang waktu itu ya, yang kakak boleh minta apa saja asalkan gak aneh-aneh dan gak bikin uang jajan ku abis"


Uwais tersenyum geli, ia pun menganggukkan kepalanya. "Iya, aku tagih hari ini boleh kan?"


"Iya, tunggu ya" Arrida segera berlari untuk masuk ke dalam rumahnya dengan senyum bahagia. Sementara Uwais mengekori langkahnya.


"Sepi ya" tanya Uwais saat masuk ke dalam rumah Arrida.


"Iya lah saat kayak gini ya sepi, abang ke kampus, ayah ke kantor, dan bunda ikut ayah, gak tau mau ada apa"


"Udah tau" komentar Uwais singkat.


"Hmm maksudnya? kakak tau gitu bunda sama ayah?" Arrida merasa heran


"Kan tadi kamu yang bilang" Uwais nyengir.


"Kakak tunggu ya" Kata Arrida sambil meninggalkan Uwais di ruang tamu.


"Kamu gak nawarin minum Ar?!!" tanya Uwais sambil sedikit berteriak agar Arrida yang sedang menuju ke kamarnya mendengar suaranya.


"Ambiil aja di ruang makaan, atau di kulkaas" kata Arrida ikut berteriak.


Uwais hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


🌼


Arrida mengenakan kaos putih dibalut jaket jeans, dia juga mengenakan celana panjang jeans. Rambutnya dikuncir satu. Dia membawa ransel kecil di punggungnya.


Uwais menatapnya saat Arrida turun dari kamarnya. Tatapan tanpa kedip. Entah kenapa Arrida tampak begitu cantik luar biasa dan semakin imut. Wajahnya yang baby face membuatnya semakin menggemaskan walaupun tanpa make-up apapun.

__ADS_1


"Ayo kak" Ajak Arrida membuyarkan tatapan Uwais.


"Oh iya ayo... " Uwais segera mendahului ke pintu. Dibelakangnya Arrida menyusul.


"Kamu udah ijin bunda atau ayah?" tanya Uwais sambil menyerahkan helm untuk Arrida.


"Udah, tapi..."


"Tapi ... gak diijinin?"


"Bukan... tapi ada yang aneh aja"


"Anehnya?"


"Biasanya bunda bakal tanya macem-macem, ama siapa, kemana, lama nggak? tapi sekarang kok nggak ya?"


"Mungkin karena kamu perginya ma aku, kan kita udah pernah pergi bareng waktu ke pertandingan Hani ma jenguk Nana"


"Iya tau... tapi waktu itu aja bunda nanya banyak banget sebelum akhirnya bunda kasih ijin" Arrida telah memasang helmnya


Uwais hanya tersenyum, ia seperti mengerti 'sesuatu.'


"Ya udah, yang penting diijinin kan?" Uwais segera menaiki motornya.


Arrida mengangguk


Akhirnya motor pun melaju dengan santai, tidak terlalu pelan juga tidak terlalu kencang. Dan dalam waktu dua puluh menit, mereka tiba di pantai dengan pasirnya yang putih, ombaknya begitu tenang. Suasananya masih sangat asri, sepertinya pantai ini belum terlalu di eksplor. Sepi juga tidak, karena di kejauhan sana ada beberapa nelayan yang sedang bergelut dengan perahu kecil juga pukat /jaring ikan.


Selama beberapa saat dia menikmatinya. Hingga ia sadar dan membuka matanya, lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Uwais tak terlihat. Sebenarnya dia penasaran kenapa Uwais masih belum menghampirinya atau apa ada sesuatu saat dia memarkirkan motor atau apa? ia sendiri tak paham. Tapi sudahlah, saat ini Arrida sedang ingin menikmati pantai yang indah ini.


Apalagi saat kakinya terkena ombak. Ia merasa sangat senang, sehingga ia memutuskan untuk bermain kejar ombak. Di saat ombak mendekat ke tepian ia akan berlari mundur, namun disaat ombak menyurut ke lautan, Arrida akan maju. Seperti itu... bolak balik.


BUGH


Arrida menabrak seseorang saat berjalan mundur menghindari ombak. Gadis itu segera berbalik memastikan siapa yang telah ditabrak oleh tubuhnya. Ternyata Uwais. Namun sayang Arrida malah hilang keseimbangan dan hampir terjatuh. Untung saja Uwais segera meraih tubuhnya, sementara Arrida memegang erat kemejanya dengan kedua tangannya, agar dia benar-benar tidak jatuh.


Cup


De Javu.


Sebuah kecupan sekilas.


Kejadian terulang, bibir Uwais menyentuh bibir mungil Arrida. Keduanya terpaku.


Sesaat, mereka saling berpandangan. Degup jantungnya berpacu tak karuan, hingga detak jantung mereka seakan terdengar. Nafas mereka tertahan kemudian saling memburu udara. Keduanya mencoba untuk menelan salivanya dengan sangat berat. Canggung dan salah tingkah.


Akhirnya dengan cepat mereka mengembalikan kerja otak mereka.


Uwais sengaja mengeratkan dekapan di tubuh Arrida hingga gadis itu bisa berdiri tegak. Lalu melepaskannya dengan segera guna mengendalikan suasana agar tidak terlalu canggung.

__ADS_1


"Kamu gak papa"


Arrida mengangguk dengan kikuk. Ia masih mengatur debaran jantungnya.


"Seneng banget main kejar ombak, nyampe gak tau kalau ada orang di belakangnya" Uwais sengaja tidak membahas perihal kecupan sekilas tadi.


Arrida tersenyum kaku. Sedikit nyengir.


"Kakak darimana? lama amat markir motornya?"


"Mau lihat batu karang yang indah gak?" Bukannya menjawab Uwais malah bertanya.


"Mau! emang ada? dimana?"


"Tuh di sebelah sana!" kata Uwais sambil menunjuk sebuah tempat yang ada di pulau kecil di sebrang tak jauh dari pantai yang mereka pijak saat ini.


" Naik apa?"


"Naik itu" Uwais menunjuk perahu yang sedang ditarik oleh nelayan dari tepian pantai ke lautan.


"Tadi abis markir motor, aku nyari bapak itu, biar bisa nganter kita lihat batu karang"


Arrida mengangguk mengerti.


Dan mereka pun menuju ke perahu. Uwais naik terlebih dahulu, kemudian tangannya terulur untuk menarik Arrida membantunya naik ke perahu. Arrida tersenyum melihat telapak tangan yang terbuka, ia pun tak menolaknya, tangan kanannya meraih uluran tangan Uwais, kemudian menggenggamnya erat. Sangat erat.


Kini keduanya sudah di perahu. Arrida duduk di ujung depan perahu, sementara Uwais di tengah perahu dan bapak nelayan di belakangnya. Keduanya menikmati indahnya lautan. Arrida mengambil ponselnya kemudian mengabadikan segala yang dilihatnya indah. Dia juga menyempatkan untuk berswafoto. Sengaja agar Uwais juga ikut dalam gambarnya. Tidak puas dengan hasilnya, akhirnya Arrida berbalik lalu mengambil gambar Uwais yang terlihat sangat cool.


"Hei mau foto gak bilang-bilang" kata Uwais tersenyum.


"Stop kak... tetap dengan senyuman itu"


Cekrek


Arrida mendapatkan gambar Uwais dengan sempurna.


Uwais tersenyum sambil menggeleng


"Sini" pinta Uwais. Lagi, tangannya terulur meminta Arrida mendekat ke tempat duduknya. Dan gadis itu menerima uluran tangannya, sehingga kini dia duduk di dekat Uwais.


Diambilnya ponsel dari tangan Arrida, lalu memposisikan Arrida berada didepannya.


"Senyum Ar" pinta Uwais agar Arrida tersenyum dan melihat kamera.


Cekrek


Senyum keduanya mengembang, sehingga wajah mereka benar-benar terlihat bahagia.


"Kita belum pernah foto berdua, jangan dihapus ya" Perintah Uwais sambil menyerahkan kembali ponsel itu ke Arrida.

__ADS_1


Arrida mengangguk. Dia menatap Uwais dari samping, dan Uwais menyadari hal itu, akhirnya ia pun menatap gadis kesayangannya tersebut. Sehingga kini keduanya saling berpandangan, seakan saling menikmati wajah yang ada dihadapan mereka masing-masing. Mereka benar-benar menikmati situasi seperti saat ini....yang terasa hangat dan nyaman.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2