Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
105. Kamu dimana Ar?


__ADS_3

"Harapannya seperti itu, Sya ... Doain aja ya!" jawab Arrida pasti. Walaupun tanpa harus mengatakan dia dan Uwais pacaran, namun mulai saat ini dia akan meyakinkan dirinya sendiri jika hubungannya dengan Uwais tidak main-main.


"Kamu yakin, Da ... Bukannya kalian udah putus?"


"Darimana kamu dapet berita itu?"


"Aku udah jarang lihat kamu bareng dia."


"Hubunganku baik-baik aja, Sya ... Kamu jarang lihat kita bareng karena dia lagi praktek lapangan, dan kamu tau Sya ... Kemarin waktu di mall, aku lagi ma dia, cuma kamunya aja yang gak lihat ... ! Ni, saat ini aja dia lagi nungguin aku di parkiran."


"Ya Tuhan, maaf Da, hampir saja aku merebut kekasih orang lain." Wajah Rasya menyendu, menyimpan rasa sakit di hatinya.


"Gak papa, Sya, kamu kan gak tau yang sebenarnya."


"Jujur aku sakit hati, tapi mau gimana lagi, aku juga ga bisa maksain cinta kamu buat aku, percuma, kamunya gak akan bahagia dan aku gak mungkin nyakitin kamu."


"Makasih, Sya, atas pengertiannya."


"Ternyata rasanya ditolak kayak gini ya, Da."


"Tenang aja, ntar juga sembuh, lagian kamu kan udah punya calon, belajarlah untuk mencintainya."


"Aku sedang mencoba, namun andai harapan ke kamu itu ada, maka aku pasti milih kamu!"


Arrida tersenyum tipis.


"Aku minta maaf ya, Sya!" kata Arrida tulus


"Gak papa, Da, aku yang seharusnya minta maaf! Makasih udah ngijinin aku buat mengungkapkan perasaan aku, kamu gak marah kan?"


"Nggak, kita masih bisa jadi temen, Sya,"


Rasya mengangguk. Kemudian Arrida pun pamit dan pergi meninggalkan Rasya sendiri di kelas. Ia bergegas ke tempat parkir, karena Uwais telah menunggunya dari tadi.


🌼


"Kebetulan gue ketemu lo disini" kata Laura pada Uwais yang sedang memainkan game di ponselnya,. Dia sedang menunggu Arrida di tempat parkir.


"Laura??" Uwais mengerutkan keningnya. Ia menangkap wajah penuh kecewa dan marah di wajah Laura.


"Gue tadinya mau minta penjelasan ma Rida tapi berhubung gue ketemu lo disini, gue minta penjelasan sama lo!"


"Penjelasan tentang apa?" tanya Uwais.


"Sebenarnya apa hubungan lo dengan Arrida?"


"Apa pentingnya buatmu?" tanya Uwais lagi.


"Sangat penting! Gue denger, kalian bukan kakak adik, kalian udah bohongin gue! Apa itu bener?" tanya Laura dengan nada tingginya.

__ADS_1


Uwais terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu. Ia mengingat semua cerita tentang Ratih dan Metha yang berurusan dengan Laura. Rasa khawatirnya pada Arrida langsung menguat dan mendalam di hatinya. Ia pun bimbang, haruskah dia jujur meskipun posisi Arrida menjadi terancam?


"Kenapa lo diam? Jawab Wais!" perintah Laura tidak sabar.


"Aku ada hubungan dengan dia atau tidak, itu bukan urusanmu,"


"Itu menjadi urusan gue, gue nggak mau ada yang milikin elo."


"Hei! Aku bukan apa-apa nya kamu ya,"


"Terserah! Yang jelas lo hanya milik gue!"


"Gak usah aneh!" kata Uwais sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia kemudian melirik sekilas jam di pergelangan tangannya. Harusnya Arrida sudah keluar dari kelasnya. Ia segera melangkah, hendak meninggalkan Laura.


"Ya udah! Kalau gitu jawab pertanyaan gue!" Teriak Laura sambil menahan langkah Uwais dengan mencengkram lengannya.


"Pertanyaan apa? Yang mana?" tanya Uwais sambil menepis cengkraman tangan Laura.


"Apa hubungan lo dengan dia?"


"Dia adik tingkatku sewaktu SMA." jawab Uwais hati-hati.


"Cuma itu kah?"


"Sorry, aku harus segera pergi." kata Uwais terburu-buru ingin segera mencari Arrida.


"Jawab dulu! Apa dia pacar lo?"


Tanpa Uwais ketahui, Arrida mendengar semua percakapan itu dari awal sampai akhir. Hatinya sakit. Ia benar-benar kecewa. Dadanya terasa sesak.


"Ya Allah, kenapa ini sakit banget" ucap Arrida lirih. Tangannya meremas baju didepan dadanya.


Air matanya terus mengalir. Ia segera berlari, menjauh dari tempat itu dan bersembunyi di mushola kampus. Ia benar-benar tidak ingin sampai Uwais tahu keberadaannya, karena dia sangat tidak ingin bertemu dengan cowok pujaannya itu. Kini ia tahu, apa yang selama ini ada dalam benak Uwais. Dia bukanlah pacar. Dia terduduk lemas di sudut ruangan, menangis sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk.


"Tunggu!" cegah Laura. Ia berhasil mengejar Uwais.


"Apalagi?" tanya Uwais malas.


"Kata Bryan kalian pacaran, jawab dengan jujur!"


Uwais akhirnya tahu, bahwa yang memberitahukan kepada Laura tentang hubungannya bersama Arrida adalah Bryan.


"Kalo emang kalian bukan pacar, kenapa kalian sangat dekat??" tanyanya lagi.


"Karena dia calon istriku!" jawab Uwais pasti.


Laura melongo, wajahnya menahan emosi.


"Gak bisa! Lo bohong kan?" tanya Laura masih tidak percaya.

__ADS_1


"Tadi kamu yang minta aku jujur kan? Dan itu adalah kebenarannya, Arrida bukan pacar, tapi calon istriku!" kata Uwais sambil meninggalkan Laura yang merasa kesal dan marah.


"Maafin aku Ar, aku janji akan menjagamu dari Bryan dan Laura, Bismillah...." ucap Uwais dalam hatinya. Ia merasa sedikit menyesal harus memberitahukan kebenarannya pada Laura, karena dengan seperti ini, ia sudah membuat diri Arrida dalam keadaan bahaya.


🌼


Uwais bingung, Arrida tidak ada didalam kelasnya. Ia mencoba menghubunginya, baik melalui chat ataupun panggilan, tapi tak ada jawaban.


"Kamu dimana, Ar?" Uwais mulai panik. Ia mencari ke hampir seluruh area kampus, namun ia tidak menemukannya, bahkan ke mushola pun, ia tidak menemukannya, karena Arrida sudah beranjak pergi dari situ.


"Ya, Alloh, dimana Arrida?" Uwais benar-benar cemas. Saat ini ia sudah berada di resto, menunggu kedatangan Arrida. Namun gadis itu masih juga belum muncul.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Uwais masih saja cemas. Apalagi, saat Lani mengatakan bahwa Arrida belum ke asrama. Ia pun masih tetap berusaha menghubungi Arrida.


"Kamu baik-baik aja, kan, Ar?" gumam Uwais sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sabar Wais, bentar lagi pasti ada kabar dari dia." kata Fika sambil mengusap punggung Uwais.


"Dia gak pernah kayak gini, Mbak,"


"Apa kalian ada masalah?"


"Nggak, kami baik-baik saja, bahkan tadi itu kami janjian, aku mau anter dia beli buku, aku udah nungguin dia di kampusnya."


Uwais terdiam, ia teringat Laura dan Bryan. "Apa mungkin ada hubungannya dengan Laura dan Bryan, ya Alloh, selamatkan lah Arridaku." gumam hati Uwais.


"Gimana kalo kamu tunggu aja di deket asrama sampai jam sembilan, dia pasti pulang ke sana kan." saran Fika.


"Hmm, Mbak bener, biar Uwais tunggu disana." kata Uwais bersemangat. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


"Kak, Arrida baru aja pulang. Tapi dia diem aja. Flat gitu. Ditanya gak ngerespon. Kayaknya, dia abis nangis deh." Satu pesan chat dari Lani.


Uwais membacanya sesaat sebelum menaiki motornya. Akhirnya, ia segera melajukannya ke arah asrama.


"Ar, aku ada di asrama, aku ingin ketemu, kamu baik-baik saja kan?" Satu pesan chat Uwais kirimkan ke nomer Arrida. Namun, tanda ceklist satu, hanya terkirim, tidak terbaca.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...

__ADS_1


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2