Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
57.Hanya ada kamu disini dan disini


__ADS_3

"Ar dengar.... bingkisan dari kamu ku simpan baik-baik di dalam lemari dan belum aku buka... rencananya akan kubuka sekembalinya dari rumah nenek yang kukira waktunya hanya tiga hari disana.... ternyata aku baru bisa pulang jam 7 pagi tadi... Maaf aku baru membacanya pagi ini dan aku ga pernah sengaja mengabaikan perasaan kamu"


Arrida berkaca-kaca. Ada haru menyelimuti hatinya.


Ia terdiam tanpa bisa menatap cowok pujaannya itu.


"Maaf telah membuatmu menunggu... maafin ya"


Arrida mengangguk pelan.


"Dan makasih ya..."


Akhirnya Arrida melirik Uwais dan mulai menatapnya.


"Untuk apa?" tanya Arrida bingung


"Karna kamu udah mau nunggu aku"


Arrida mengangguk kembali.


Hening. Uwais kemudian menarik nafasnya panjang.


"Ar, untuk yang tadi, aku juga minta maaf ya, seperti waktu itu di bis, yang ini pun aku gak sengaja"


Arrida langsung teringat kejadian tadi, ketika bibirnya dan bibir Uwais kembali beradu sekilas.


Ia langsung memegang bibirnya dengan jemarinya.


Wajah Arrida memerah. Entah dia harus mengatakan apa, yang jelas dia benar-benar sangat malu. Kenapa beberapa hal kadang tidak bisa kita hindari?


"Ar kenapa diam aja?"


"Bingung kak....mau bilang apa coba? udah kejadian juga kan"


"Iya sih... dan ini untuk kedua kalinya...kamu jangan marah ya"


Arrida mengangguk. Hanya itu yang saat ini bisa dia lakukan.


"Tenang aja... Aku gak akan ambil first kiss kamu tanpa ijin kok" kata Uwais penuh keyakinan.


"Eh" Arrida terkejut dengan kalimat yang baru saja Uwais ucapkan. Lalu dua kali saling bersentuhan bibir itu disebut apa ya?


"Kenapa?" Uwais merasa aneh dengan tanggapan Arrida yang hanya mengatakan 'eh'


"Lalu, menurut kakak, yang kita ... em... dua kali itu apa dong?" Arrida terbata menyusun kata, ia bingung dan ragu kalau harus mengatakan bahwa yang terjadi itu adalah ciuman.


" Kiss yang tidak ada unsur kesengajaan... Kalau di sengaja itu berarti kan udah ada niat sebelumnya Ar..."

__ADS_1


Arrida mengangguk paham


"Tapi kak, walaupun tidak sengaja, itu sukses bikin jantung aku gak karuan"


"Sama" jawab Uwais singkat, dia tampilkan senyum khasnya


"Itu juga berasa first kiss aku"


"Sama" jawab Uwais lagi.


"Jadi jangan pernah sama orang lain ya Ar"lanjutnya


"Eh pertanyaan apa itu?"


"Cuma aku ya Ar" kata Uwais tanpa mempedulikan pertanyaan dari Arrida. Dia melirik gadis kesayangannya itu penuh harap.


Arrida pun mengangguk patuh begitu saja. Melihat anggukan kepala dari Arrida, senyum Uwais mengembang di wajah tampannya.


"Aku ingin melakukan first kiss yang di niatin, kalau sudah halal.... Kamu mau nikah kapan?" tanyanya kemudian


"Apa?nikah?" gumam bathin Arrida.


"Kak yang bener aja kalo nanya, aku masih enam belas tahun, masa iya ditanyain nikah, KTP aja belum punya, masih dibawah umur kali" kata Arrida bingung


Uwais malah terkekeh mendengar penuturan Arrida.


"Ish anak ini, jangan mikir sembarangan"kata Uwais sambil mengetuk pelan kening Arrida dengan ujung telunjuk.


"Masa nikah cuma buat kiss? aneh-aneh aja" Uwais menarik nafas panjang, sambil menggeleng.


"Hee... kakak yang aneh-aneh bukan aku...masa aku ditanyain nikah?"


"Kan nanya aja Ar... kamu punya keinginan nikah usia berapa?"


"Oh.... " Arrida mengangguk sambil berfikir.


"Paling cepet usia 23 tahun , standar usia 25, kalau maksimalnya belum tau usia berapa?"


"Hmmm" Uwais mengangguk, seperti memastikan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Arrida ingin penjelasan dengan 'hmmm' nya Uwais.


"Kamu bersedia menunggu kan Ar?"


"Maksudnya?"


"Sampai usia itu, aku akan ajak kamu menikah"

__ADS_1


"Apa gak kecepetan ya kak sekarang kita ngomongin nikah?"


"Nggak lah, anggap aja ini salah satu tujuan hidup kamu dari sekian banyaknya tujuan hidup kamu.... kamu punya tujuan hidup kan?"


Arrida mengangguk.


"Aku ingin jadi seseorang seperti yang kamu inginkan... yang bertanggungjawab, mandiri, dan penyayang"


"Hei kok kakak tau?"


"Emang kamu lupa? kamu menuliskan semua itu kan... waktu acara game saat latihan, apa tipe cowok yang disukai dan tidak disukai, serta tipe cewek yang disukai dan tidak disukai"


Arrida mengangguk, ia ingat ketika acara game waktu latihan PMR, dewan senior meminta seluruh andik menuliskan tipe-tipe cowok dan cewek yang disukainya dan tidak disukainya.


"Tapi sayang banget, aku tidak masuk dalam tipe cowok yang kamu sukai"


Arrida melirik, mencari jawab maksud Uwais.


"Tipe mu gak mencantumkan cowok yang tampan, jadi aku gak masuk kan"


"Haishh... " seperti biasa , Arrida menatap Uwais sambil menyipitkan matanya dan sedikit mengerucutkan bibirnya. Wajah menggemaskan yang selalu dia rindukan.


Uwais terkekeh, dia merasa sangat gemas dengan wajah Arrida saat ini.


" Kamu tau Ar... bertemu kamu, bersama kamu, melalui dan menghadapi banyak sekali kejadian diantara kita, itu adalah hal baru buatku. Aku mengalaminya hanya dengan kamu... dan ada rasa tak biasa yang sulit diartikan hadir di hati ini, dan rasa itu hanya ketika bersamamu, bahkan ketika kita tidak saling bertemu, ternyata... Selain Tuhan dan orang tua, hanya ada kamu disini dan disini " Kata Uwais sambil menunjuk ke dadanya dan dahi di bagian samping matanya.


Mendengar penuturan Uwais, Arrida menelan salivanya sangat berat. Ada rasa bahagia yang membuncah, seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di sekelilingnya... Ia tak menyangka kalau Uwais merasakan sama persis dengan yang dia alami dan dia rasakan.


Arrida lagi-lagi mengangguk. Ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Uwais.


"Aww.... "Arrida mengangkat kakinya. Tiba-tiba saja, telapak kaki Arrida terasa sakit, seperti ada yang mencubitnya, tidak... ini lebih seperti ada yang mencapitnya. Ada sedikit goresan luka di bagian tumitnya. Begitu dilihat ke bawah ternyata ada seekor kepiting yang berukuran sedang tidak terlalu besar ataupun kecil.


Dan setelah diperhatikan lagi, masih ada lima ekor lainnya. Arrida langsung bangun, dan naik ke batu karang yang dia duduki tadi. Uwais berdiri dari duduknya, dengan niat akan mengusirnya, namun kepiting-kepiting itu pergi berlari begitu saja.


"Udah Ar ... turun, udah pergi kepitingnya"


Arrida segera turun, tapi sial bagi Arrida, sebelum telapak kakinya berpijak dengan benar, dia tidak seimbang, membuat dia terjatuh, kakinya terkilir. Dan dia merasakan punggung kakinya sakit yang luar biasa, hingga air matanya keluar.


"Kamu gak papa Ar?" Uwais berjongkok, melihat Arrida menangis sambil mengusap-usap punggung kakinya.


"Sakit banget ya"


"Iya, aku gak hati-hati, bukannya telapak kaki yang berpijak malah punggung kakinya.... jadi ini sakit banget"


"Ya udah, kita istirahat disana sambil nungguin pak Ahmad datang" Uwais memberi usul sambil menunjuk sebuah tempat dibawah pohon kelapa yang tidak berbuah. Sebenarnya, mereka bisa saja menyewa perahu yang lain, kebetulan yang datang ke pulau kecil itu, bukan hanya mereka, namun ada beberapa orang lainnya, dan semuanya menyewa perahu. Perahu-perahu itu ada yang menunggu ada juga yang tidak. seperti yang dilakukan Uwais pada pak Ahmad, ia memilih membiarkan pak Ahmad kembali dan akan dihubungi ketika Uwais dan Arrida telah selesai menikmati batu-batu karang yang indah dan unik.


Arrida mengangguk, ia juga ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya, lebih tepat kakinya. Sembari ditolong oleh Uwais, ia berusaha untuk bangun. Namun sayang, sakit di kakinya masih sangat terasa.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2