Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
29. Mau nyium kamu


__ADS_3

"Ya udah nih kakak minum!" Arrida menyodorkan gelas air mineralnya.


"Pegangin dong ...." perintah Uwais pada Arrida sambil tangannya yang masih penuh lumpur ia naikkan ke atas. Entah kenapa saat ini dia senang sekali menggoda gadis yang ada dihadapannya.


"Na, kamu aja nih yang megangin!" perintah Arrida pada Nana. Jujur, sebenarnya dia mau melakukannya, tapi hatinya sedang tak karuan, ia sedang menetralkan degup jantungnya. Dia tidak mau kalau harus terlihat gerogi saat memegangi gelas air mineralnya ke Uwais. Sudah tentu itu akan membuatnya terlihat malu karena gugup.


"Gak ah, ntar ditolak lagi, kamu aja yang megangin," kata Nana menolak perintah Arrida.


Uwais tersenyum, dia merasa menang. Dengan begini sudah dipastikan Arrida tak akan menolak. Tatapannya pun kini beradu dengan tatapan Arrida.


Dia mengangkat kedua alisnya sambil menyunggingkan senyum kemenangannya.


"Nih!"


Dengan terpaksa Arrida pun menyodorkan gelas air mineralnya ke depan mulut Uwais. Wajahnya sedikit cemberut.


"Yang ikhlas kalo melakukan sesuatu!" kata Uwais menggoda Arrida. Ia segera meminum air mineralnya.


Arrida makin cemberut, bibirnya makin manyun, tatapannya terlihat malas. Namun itu malah membuat Uwais semakin gemas. Tatapannya tidak lepas dari wajah Arrida. Ah, gadis yang ada dihadapannya ini makin lucu dan menggemaskan. Sementara Arrida memang sengaja mengalihkan pandangannya dari Uwais, saat ini ia tidak memiliki keberanian untuk menatapnya karena jarak mereka begitu dekat.


"Kenapa ga mau ngelihat aku, hm?" goda Uwais, ia tau kalau Arrida sedang gugup. Dia pun tersenyum licik.


"Gak papa," kata Arrida singkat sambil mengedikkan bahunya. Ia mencoba menarik nafas panjang tanpa harus terlihat jelas kalau dia sedang menetralkan kegugupannya.


Akhirnya Uwais mencolekkan lumpur ke pipi dan hidung Arrida.


"Ih, Kak kotor tau!!" Arrida terkejut. Ia tidak terima wajahnya diolesi lumpur selokan. Arrida pun langsung memukul lengan Uwais kemudian menarik lengan bajunya dan mengusapkan ke pipi serta hidungnya yang kotor. Sementara Uwais hanya tertawa kecil, dia tidak menolak saat lengan bajunya digunakan sebagai lap untuk wajah Arrida yang terkena lumpur tadi. Tubuhnya bergerak menyerong, agak membelakangi Arrida, sehingga gadis itu lebih leluasa menggunakan lengan baju Uwais bagian belakang untuk mengelap wajahnya.


"Pacaran mulu ni anak dua ya!" celetuk Roni sambil menggeleng.

__ADS_1


"Bukan pacaran tapi bercanda, ya gak, Ar," kata Uwais sambil meminta persetujuan dari Arrida. Ia sedikit menengok ke arah Arrida yang ada di belakang tubuhnya.


Arrida tidak memberikan jawaban, dia masih mengelap pipi dan hidungnya menggunakan baju Uwais.


"Bau got kan, Kak," Arrida sedikit merajuk.


"Nggak bau, tuh," Uwais menggeleng sambil memperhatikan wajah Arrida dari arah sisi pundaknya. Wajahnya sedikit condong ke wajah Arrida.


"Ka-kak mau ap-pa?" Arrida terhenyak. Wajah mereka saat ini begitu dekat hampir tak ada jarak. Arrida makin gugup. Jantung hatinya berdetak begitu kencang.


"Mau nyium kamu!" jawab Uwais santai tanpa ada rasa risih ataupun rasa bersalah.


"Woiii kira-kira, main nyium-nyium aja anak orang, lihat tempat!" bentak Roni sambil melempar gelas air mineral yang telah kosong tepat mengenai kepala Uwais. Nana dan Hani terkekeh melihat interaksi Uwais dan Arrida.


"Eh!" Uwais langsung tersadar dengan ucapannya barusan. Ia pun menjadi salah tingkah,


"Mm, maksudnya bukan nyium pake bibir, tapi nyium pake hidung buat mastiin bau apa nggak!" kata Uwais menjelaskan, ia menarik kembali kepalanya agak menjauh dari wajah Arrida.


Arrida tersipu, dia pun menundukkan kepalanya dan menjatuhkannya di belakang pundak Uwais.


"Udah udah, gak usah malu gitu, kalo kamu mau, ntar aku cium beneran ini," kata Uwais sambil tangannya terulur ke belakang pundaknya mengusap pucuk kepala Arrida dengan lembut.


Arrida segera menjauhkan kepalanya dari pundak Uwais. Dia mendaratkan pukulan yang lumayan keras ke pundak Uwais.


"Aww pedes banget Ar, pukulannya," kata Uwais sambil mengusap pundaknya.


"Mau lagi?" tangan Arrida terangkat seperti hendak melayangkan pukulannya.


"Berani kamu mukul lagi, aku cium lho!" kata Uwais menggoda Arrida.

__ADS_1


"Hisssh ...." Arrida mengurungkan niatnya, tangannya segera dia turunkan. Walaupun sebenarnya dia yakin Uwais tidak mungkin melakukannya, namun dia sangat senang Uwais menggodanya seperti itu.


Nana dan Hani tertawa saling memandang memberi isyarat dengan kedua alisnya. 'Hei lihatlah dua orang yang sedang jatuh cinta' begitulah kira-kira apa yang sedang mereka ungkapkan melalui isyarat tersebut. Entah kenapa Roni, Nana dan Hani terlihat tertawa ikut bahagia melihat interaksi Uwais dan Arrida yang begitu hangat.


Namun, tanpa mereka sadari ada seseorang yang cemburu melihat keceriaan mereka, lebih tepatnya melihat kehangatan antara Uwais dan Arrida.


Dia Audy. Gadis yang cukup populer diantara kelas sebelas, wajahnya cantik, banyak cowok-cowok yang menyukainya. Walaupun mereka juga tau kalau Audy ini naksir abis Uwais bahkan dengan percaya dirinya ia sempat mengumumkan kalau Uwais adalah gebetannya, hanya miliknya. Dia sebenarnya ramah, dan cekatan, namun dia kurang bisa mengendalikan emosinya, terlalu cuek, dan juga terlalu arogan, serta mudah tersinggung.


Gadis itu terbakar cemburu yang cukup menggila, hingga akhirnya disaat ada kesempatan, ketika Arrida sedang lengah karena asyik mengambil sampah, dia mendorong Arrida ke selokan yang memiliki lebar kurang lebih 70 cm dan kedalaman kurang lebih 90 cm. Dia jatuh terjerembab ke selokan. Hampir sebagian besar tubuhnya terkena lumpur got yang lumayan bau. Bahkan wajahnya sudah penuh tertutup lumpur.


"Ehhh, maaf aku gak sengaja!!" Audy berpura-pura panik.


Uwais, Nana, Hani dan Roni yang berada tidak jauh dari tempat itu segera menghampiri Arrida. Uwais segera turun ke selokan lalu membantu Arrida bangun. Ia membersihkan wajah Arrida dari lumpur.


"Aww!" Arrida meringis. Ia melihat ke bawah tepatnya ke lutut. Ternyata ada pecahan kaca yang cukup besar tertancap disana.


"Ya Allah, sakit banget ya?" Uwais panik, ia segera naik kemudian duduk di pinggir selokan, kedua tangannya terulur ke bawah ketiak Arrida, seperti memeluknya dari belakang lalu menarik tubuhnya ke atas, sehingga posisi Arrida yang terangkat memunggungi Uwais kini berada diatas tubuh Uwais.


Nana dan Hani langsung menolong Arrida berdiri.


"Kamu gak apa-apa, Nak?" tanya salah seorang bapak menghampiri Arrida. Kemudian disusul beberapa orang lagi di belakangnya.


"Lututnya kena beling, Pak," kata Uwais sambil bangkit dari posisi terlentangnya.


"Ya udah bawa ke puskesmas, tuh tiga rumah dari sini!" kata bapak yang berdiri dekat dengan Arrida.


"Iyya Pak, makasih," kata Nana dan Hani hampir bersamaan.


"Biar aku kasih tau pak guru ya," kata Roni. Uwais mengangguk. Ia pun mengikuti Nana dan Hani mengantar Arrida ke puskesmas.

__ADS_1


Pandangannya sempat mengarah pada Audy. Uwais tau, kalau yang dilakukan Audy pada Arrida adalah suatu kesengajaan. Gadis itu salah tingkah melihat tatapan tajam dari Uwais. Namun aura kejengkelannya terlihat jelas, ia begitu geram melihat keempatnya berlalu dari hadapannya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2