Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
16. Ar... Bertahanlah


__ADS_3

Ruang kelas saat jam istirahat begitu hening, hanya ada Arrida didalam kelasnya. Dia memutuskan untuk tidak ke kantin karena masih ingat kejadian kemarin. Hanya Nana dan Hani yang ke kantin. Walaupun sebenarnya keadaan sekarang sudah lebih baik sebab Pak Lukman sedang menyelesaikan masalahnya. Terlihat sikap teman-teman di kelasnya pun sudah kembali hangat seperti sebelum adanya postingan.


"Hmm kamu disini ternyata,"


Itu suara milik Justin. Dia masuk ke kelas Arrida setelah sebelumnya mencari Arrida di kantin.


"Oh kamu ...." Sekilas pandangannya melihat sumber suara, namun dia langsung mengalihkannya kembali ke ponsel pintarnya.


"Jadi karna ini ya, Da, kamu nolak aku?" Justin telah duduk di kursi yang ada di hadapan Arrida.


"Maksudnya?" Arrida menghentikan jemarinya yang sedang memainkan game di ponsel.


"Aku bukan tipe cowok untuk cewek kayak kamu, kan?"


Arrida mengernyitkan keningnya tak paham.


"Selera mu cukup tinggi Da, ada kak Rian, kak Uwais, kak Wisnu, mereka orang-orang populer dan tampan,"


Arrida menarik nafas panjang. Dia menggeleng kecil.


"Nggak Jas, postingan itu gak bener, dan aku murni memang tidak bisa membalas perasaanmu,"


"Gak papa, Da, aku ikhlas kok kamu duain, tigain, atau jadi yang ke berapa nya kamu juga gak papa, mau yang kelima ke enam, yang penting aku bisa sama kamu,"


"Stop Jas, kamu jangan gila ... Simpan perasaanmu ya, kita cukup berteman aja,okke ... Dan jangan berharap lebih dari ini,"


"Jadi ditolak lagi nih?"


Arrida menyunggingkan senyumannya dan mengangguk.


"Tapi kita tetep berteman, kamu jangan berubah,"


Arrida hanya tersenyum. Justin mengerti.


"Kamu gak ke kantin?" tanya Justin


"Nggak, lagi males,"


"Bukannya takut dilempari anak-anak lagi?"


" Hehehe ... Iya, karena itu juga... Kamu tau?"


"Iya, aku ada disana, saat kak Uwais nolongin kamu,"


"Oh,"


"Dia bener-bener sesuatu banget, Da,"


"Maksud kamu, kak Uwais?"


"Iya, jiwa penolongnya okke banget,"


Arrida mengangguk. Ia sadar betul, sudah beberapa kali Uwais menjadi pahlawan untuknya.


"Tapi ...." Justin menjeda kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Kalian romantis, Da ... Kayak di pilem pilem,"


"Gak usah ngaco, Jas ...."


"Beneran, Da, aku milih mundur lah, aku setuju kalo kamu ma kak Uwais,"


"Udah ah, aku mau ke perpus dulu, jadi keingetan mau balikin buku." kata Arrida tanpa menanggapi komentar Justin.


"Aku anter ya."


Arrida mengangguk.


Mereka pun ke perpustakaan, hanya sebentar, hanya mengembalikan buku yang dipinjam Arrida beberapa hari yang lalu.


"Oh syukurlah, aku terselamatkan dari cewek kayak kamu, Da ...." Wisnu menghalangi langkah Arrida dan Justin ketika mereka telah keluar dari perpustakaan, dan berjalan di taman belakang perpustakaan


Arrida tak berkomentar. Dia hanya memandang datar Wisnu.


"Ternyata kamu jalan sana jalan sini sama ini sama itu, bener-bener cewek gampangan banget!"


"Eh, kak Wisnu jaga tu omongan, jangan mentang-mentang ketua OSIS trus bisa ngomong seenak mulut!" kata Justin membela Arrida.


"Hoh, kamu itu pacarnya yang ke berapa? Dapet apa dari cewek gatel ini?"


"Eh, jangan sembarangan ya!" Justin menarik kerah baju Wisnu. Arrida segera melerai mencoba memisahkan, namun malah terdorong oleh Wisnu hingga dia terjerembab jatuh ke tanah.


"Heiii apa-apaan seh ni?" Rian dan Roni menghalangi keduanya agar tidak sampai berkelahi. Kebetulan Rian, Roni, Uwais dan Asep sedang menuju ke perpustakaan, dan melihat Justin dan Wisnu akan berkelahi.


Uwais berjongkok, memegang lengan Arrida, dan menariknya agar bisa berdiri. Arrida pun menurut.


"Dia yang ngajak berkelahi duluan!" Wisnu membela diri. Rian, Roni, Uwais dan Asep menoleh pada Justin.


"Ketua OSIS yang gak punya attitude, bisanya ngehina cewek, mungkin dia sakit hati karna sudah ditolak!" ucap Justin menyindir Wisnu dengan penuh penekanan.


"Udah udah, jangan bertengkar, malu dilihat orang, dan aku yang paling malu!" Arrida semakin merasa dipermalukan.


"Hmmh punya malu juga" sindir Wisnu.


"Ooy lihat! Cowok cowok kamu ada disini semua!" lanjutnya.


Arrida menelan salivanya dengan susah payah. Ingin sekali dia berteriak dan menangis.


"Terserah apa yang ada dipikiran kak Wisnu, tapi mau percaya atau tidak, aku menghormati semuanya sebagai teman tidak lebih!!!" Arrida langsung berlari meninggalkan semuanya. Ia menuju toilet. Ia ingin menangis dan menenangkan diri disana.


Sementara, diantara cowok-cowok yang ada disitu, ada hati Rian yang kecewa. Dan mungkin, Uwais pun merasakan hal yang sama dengan Rian. Namun dia berusaha bersikap biasa. Sedangkan Justin, dia sudah mulai menerima keputusan Arrida , berbeda dengan Wisnu yang justru malah semakin membencinya.


🌼


Bel masuk setelah istirahat berbunyi, semua siswa mulai memasuki kelasnya. Tidak terkecuali Arrida, dia keluar dari toilet setelah mendengar suara bel, dan suasana sudah agak sepi. Dia mempercepat langkahnya keluar dari toilet. Namun, tangannya tiba-tiba ada yang mencekalnya. Arrida berbalik mencari tahu siapa yang memegang lengannya.


"Kak Uwais?" Arrida terkejut.


"Kenapa baru keluar dari kamar mandi?"

__ADS_1


"Hah? Emmm itu ...." Arrida bingung kenapa bisa Uwais ada di dekat toilet.


"Apa dari tadi dia nungguin aku keluar ya?" gumam bathin Arrida.


Uwais mengeluarkan plester luka dari saku bajunya, lalu membukanya. Dan tanpa persetujuan dari Arrida dia merekatkannya di siku lengan Arrida. Dia sempat melihat siku Arrida luka saat jatuh terdorong oleh Wisnu tadi.


"Udah tenang hatinya?" tanya Uwais setelah merekatkan plester luka di siku Arrida.


Arrida mengangguk.


"Makasih ya, Kak!"


"Hmm ...." Uwais kini yang mengangguk.


"Udah, ke kelas sana!" perintahnya kemudian.


"Kak Uwais juga, ya!" Mereka pun akhirnya ke kelas masing-masing.


🌧


Langit begitu gelap, suara guntur bersahutan, sesekali tampak kilatan di langit. Angin berhembus kencang, membuat suasana begitu dingin bercampur sedikit mengkhawatirkan. Hujan pun turun dengan sangat derasnya, hingga menyebabkan adanya genangan-genangan air di beberapa tempat.


Sepulang sekolah seluruh anggota PMR berkumpul di sebuah kelas yang sudah kosong. Mereka mengadakan persiapan untuk kegiatan bersih-bersih pantai yang akan dilaksanakan hari Minggu.


"Eh bu Sofia? Ada apa, Bu?" tanya Uwais ketika mendapati bu Sofia ke ruang PMR.


"Ada Arrida?"


"Oh mungkin ada di kelas, biar Uwais panggilkan, Bu!"


"Iya, nanti saya tunggu di ruang BK, itu ada orang tua Erna mau ketemu sama Arrida,"


"Oh, iya," Uwais mengangguk. Lalu segera berlari menuju kelas yang dijadikan tempat pertemuan anggota PMR.


Begitu sampai, Uwais langsung mencari sosok Arrida, namun nihil, dia tidak menemukannya. Akhirnya dia menghampiri Nana dan Hani menanyakan keberadaan Arrida.


"Arrida ke ruang klub atletik, Kak!" jawab Hani.


"Ngapain?"


"Tadi sebelum kumpul, ada anak kelas X IPA 2, bilang ke Arrida kalau dia disuruh ke ruang klub atletik ma pak Jefry tapi gak tau mau ngapain, cuma kata dia pak Jefry kelihatannya lagi marah!"


"Apa?!!!" Uwais terkejut.


"Kenapa gak ditemenin?!!" Ia panik dan sangat mengkhawatirkan keadaan Arrida.


"Pak Jefry nyuruh Arrida sendirian kesana!" Kini Nana yang menjawab.


"Ya Allah !!!" Uwais mengusap wajahnya kasar. Kecemasan sangat terlihat di mukanya. Nana dan Hani keheranan.


Uwais segera berlari menuju ruang klub atletik yang berada di ujung paling belakang sekolah, lebih tepatnya dekat dengan lapangan utama. Dia tidak peduli dengan hujan yang mengenai tubuhnya, juga tidak peduli dengan genangan air yang membuatnya sempat terpeleset dan jatuh. Pikirannya kacau, hatinya sangat tidak tenang.


Pak Jefry saat ini memang masih termasuk guru baru di sekolahnya. Tepatnya baru semester kemarin dia menjadi guru olahraga. Namun dia sudah mengenal pak Jefry saat dirinya masih kelas enam Sekolah Dasar. Ingatannya kembali ke beberapa tahun silam. Saat dirinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi waktu itu. Ketika salah seorang temannya yang putri dipeluk dan dicium oleh pak Jefry di dalam kelas yang saat itu lagi kosong.


"Ya Allah, apapun yang terjadi, lindungi Arrida!" Uwais melafalkan doa di dalam hatinya

__ADS_1


"Ar ... Semoga tidak terjadi apa-apa!" gumam Uwais lirih "Bertahanlah!"


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2