
"Saya minta maaf, Tan, saya tidak tau akan berakibat seperti ini," kini Uwais yang menghampiri bu Rachel.
"Tapi jujur saya memang tidak bisa membalas Erfi, saya juga sama sekali tidak pernah memberikan harapan apapun padanya," kata Uwais meyakinkan.
"Tante tau Nak, tante bisa mengerti ketika membaca diarynya," kata bu Rachel juga penuh keyakinan, bahwa Uwais tidak bersalah.
"Tapi penolakan cinta dan pemukulan itu hal yang berbeda, Tan, apalagi adik saya dikeroyok, ini termasuk kasus hukum, kami bisa menuntutnya," sela Fariz, membuat semua orang yang ada di kamar itu saling pandang, terlebih Mike dan ibunya.
"Saya ngerti, saya minta maaf atas tindakan anak saya, jadi ... Sebaiknya bagaimana, kami siap menanggungnya,"kata bu Rachel sangat tegas.
"Mom!" Mike sedikit berteriak. Dia terkejut karena ibunya seperti setuju untuk dilakukan jalur hukum.
"Mike! Minta maaflah!!" perintah bu Rachel pada Mike.
"Kalo pemukulan bisa selesai dengan minta maaf, maka tidak perlu ada hukum yang menanganinya, kita pun bebas mukulin orang, maka ijinkan saya memukul anak anda, Tan, sebagai balasan buat adik saya!" ucap Fariz tampak santai.
"Fariz ...." pak Ridwan bersuara memanggil nama Fariz membuat dia menoleh kepada ayahnya.
Namun pak Ridwan mengalihkan pandangannya pada Uwais dan Uwais memahami arti tatapan itu
"Uwais gak papa, Pah," kata Uwais menjawab tatapan ayahnya. Ia merasa tidak perlu untuk membawa kasus pemukulan ini ke jalur hukum. Asal dengan syarat Mike menyesali perbuatannya dan mau berubah.
Tiba-tiba terdengar suara parau dari Erfiana. Gadis itu menggerakkan kepalanya sedikit menggeleng, keningnya berkerut, matanya perlahan terbuka. Tatapannya langsung tertuju pada Uwais.
"Kak Uwaishh," katanya lirih.
Uwais terdiam, dia hanya menatap datar pada Erfiana. Dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menghampiri panggilan Erfiana.
"A-ku min-ta ma-af,"ucap Erfiana terbata-bata.
Semua pandangan tertuju pada Uwais, namun orang yang dipandang masih saja diam, tanpa ingin bereaksi sedikitpun.
Bu Tania, menarik lengan Uwais, agar dia mendekat pada Erfiana.
"Ma-af," ucap Erfiana sangat lirih.
Uwais hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun. Namun Erfiana mengerti, ia pun memalingkan wajahnya agar Uwais tidak tahu kalau air matanya sedang menetes. Ia menyesal dan merasa tidak memiliki muka lagi karena telah melakukan hal yang bodoh dan memalukan untuk dirinya sendiri .
"Segera sembuh ya, tetap semangat berangkat ke sekolah," akhirnya Uwais mengeluarkan suaranya pada gadis itu.
__ADS_1
Erfiana mengangguk tanpa melihat Uwais. Wajahnya masih melihat ke arah lain.
πΌ
Uwais telah kembali ke kamar rawatnya. Dia benar-benar membutuhkan istirahat saat ini. Akhirnya, orang tua Uwais menemaninya malam itu. Sementara itu, Arrida pun telah diantar oleh Fariz ke rumahnya. Ada sesuatu yang sulit digambarkan untuk hatinya saat ini. Arrida memang menyukai Uwais. Tapi dia tau kalau Uwais bersikap biasa pada semua cewek-cewek. Dengan kejadian ini dia bisa menyimpulkan kalau perasaan yang dia rasakan hanya bertepuk sebelah tangan.
"Ijinkan aku mencintaimu kak... biarkan aku mencintaimu dalam diam," bathin Arrida bergumam sendu.
Ah, sepertinya ada sedikit kecewa di hatinya, namun dia segera tersadar bahwa cinta tak harus memiliki, tak perlu menuntut, cukup ikut bahagia ketika orang yang kita cintai bahagia.
πΌ
Tiga minggu berlalu setelah kejadian pemukulan itu. Hari ini adalah hari terakhir Penilaian Akhir Semester. Semua siswa bergembira walaupun mereka belum tahu hasilnya, tapi mereka merasa lega karena tidak lagi dipusingkan untuk mengerjakan soal-soal tes.
Sepulang sekolah banyak para siswa yang membuat acaranya sendiri- sendiri untuk melepas penat mereka, mencari udara kebebasan setelah tes berakhir. Ada yang langsung pulang ke rumah, ada yang bermain ke rumah teman, ada yang ke mall, ada yang ke kafe, ada yang nonton, bahkan ada yang masih di sekolah. Termasuk Arrida dan kawan-kawan PMR, mereka sedang berada di GOR untuk mempersiapkan agenda bakti sosial OSIS dan donor darah yang akan dilaksanakan selama dua hari.
Agenda bakti sosial ini merupakan agenda tahunan OSIS bersama Pramuka dan PMR, maka yang mengikuti kegiatan ini adalah anggota intra sekolah (OSIS) dan ekstrakurikuler Pramuka dan PMR. Acara bakti sosial ini dilaksanakan di sebuah tempat warga yang juga ada panti asuhannya. Program kerjanya antara lain, bersih-bersih lingkungan, kegiatan taman baca dan pemberian sembako. Jadi beberapa siswa dibagi per lokasi sesuai dengan pelaksanaan kegiatannya, ada yang di panti asuhan, di mushola dan di lingkungan warga.
Arrida dan tiga puluh rekannya mendapatkan tempat di lingkungan warga. Bersama beberapa warga dan juga karang taruna setempat, mereka membersihkan jalanan, mencabut rumput, mengecat tong sampah, merapihkan tanaman yang ada di pinggir jalan serta membersihkan selokan.
Saat ini Arrida, Nana dan Hani ikut membantu membersihkan selokan. Uwais dan Roni seperti sengaja bergabung dengan mereka. Ada canda tawa diantara kelimanya. Sehingga ketika membersihkan selokan dari sampah, limbah padat, pasir ataupun lumpur tidak terasa lelah. Rian, semenjak mengungkapkan perasaannya lebih sering menghindari Arrida. Tapi dia cukup senang karena Arrida masih bisa bahagia dan tetap hangat bersama sahabat-sahabatnya.
"Nih, istirahat dulu bentar!" kata Arrida sambil menyerahkan air mineral kemasan gelas pada Uwais, Nana, Hani dan Roni. Dia baru saja mengambilnya dari dus air mineral yang sudah disediakan tak jauh dari selokan yang sedang mereka bersihkan.
Uwais dan Roni segera naik. Merekapun duduk di pinggir selokan.
Hani berinisiatif menusukkan sedotan ke plastik yang menutup gelas air mineral untuk diberikan pada Roni juga Uwais.
"Pegangin dong, kan tangan ku kotor," kata Roni sambil meminta Hani untuk memegang gelas air mineral, agar Roni bisa meminumnya melalui sedotan. Hani pun menurutinya.
"Ar, kamu ga inisiatif?" tanya Uwais bermaksud meminta pada Arrida agar dia melakukan hal yang sama seperti Hani
"Biar aku aja, Kak," Nana mengusulkan diri.
"Na, aku maunya Arrida,"
"Huuu, sama aja kan, Kak," protes Nana.
"Iya, biar Nana aja," kata Arrida sambil menyedot minumannya.
__ADS_1
Nana tertawa mendapat dukungan dari Arrida. Ia pun segera mendekatkan gelas air mineralnya ke mulut Uwais namun Uwais mengabaikannya.
"Ar, ada apa itu di tanganmu?" tanya Uwais tiba-tiba, sambil menunjuk tangan Arrida yang memegang gelas air mineral, ia terlihat seperti panik.
Keempatnya akhirnya ikutan panik.
"Apa Kak?!!" Arrida agak ketakutan.
"Coba sini deket biar aku lihat!" perintah Uwais.
Tanpa pikir panjang, Arrida segera mendekati Uwais.
"Itu di tanganmu!" kata Uwais sambil menunjuk lengan Arrida dengan isyarat matanya.
Arrida langsung menaikkan tangannya yang masih memegang gelas air mineral, hingga tepat di depan wajah Uwais, kedua netranya langsung memeriksa siku dan lengan bawahnya.
Srruuuup
Uwais berhasil menyedot air mineral milik Arrida. Uwais tersenyum puas bisa menjahili gadis yang telah mengobrak abrik hatinya itu.
"Heiii!" Arrida baru sadar kalau dia dijahili oleh Uwais.
"Waaa, Kak Uwais modus," Nana manyun karena tidak berhasil membuat Uwais menyedot minuman yang disodorkannya.
"Makanya kalau disuruh mau, ya!" kata Uwais memberi perintah.
"Ish jorok, ini kan bekas aku!"
Uwais mengedikkan bahunya, cuek.
"Waaa ciuman tuh!" Nana berkomentar. Menurutnya Uwais telah mencium bibir Arrida secara tidak langsung, karena dia menempelkan bibirnya di sedotan bekas bibir Arrida.
Roni dan Hani terkekeh. Uwais terlihat santai. Dia membenarkan apa yang dimaksudkan oleh Nana. Sementara Arrida sempat terhenyak karena malu. Dia juga diam-diam membenarkan apa yang dikatakan Nana. Getaran aneh yang indah itu masih saja selalu hadir. Ada kebahagiaan yang kini menggelitik hati keduanya.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Halo kak readers
sehat selalu yaaaπππ
__ADS_1