Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
40. Bikin baper


__ADS_3

"Kakak lagi apa disini?" tanya Arrida saat masuk ke ruang PMR, ia melihat Uwais sedang mencari sesuatu di kotak perlengkapan P3K. Uwais terkejut, ia pun berbalik menatap sumber suara.


"Eh, Ar, ini mau ngobatin luka," jawab Uwais sambil memegang lengannya yang terluka karena terkena pisau cutter.


"Ya Allah, kenapa ini, Kak?" Arrida tampak panik, dia langsung menghampiri Uwais, dan memeriksa lengannya yang terluka.


"Ada kecelakaan kecil," jawab Uwais singkat.


Tadi, ketika pak Yono mendekati Vano dengan maksud akan menenangkannya, Vano ber-ulah, dia malah mengacung-acungkan pisau cutternya ke arah pak Yono agar jangan mendekat.


Tapi Pak Yono tetap bergerak semakin mendekat ke arah Vano. Dan Vano pun menjadi panik, akhirnya ia malah terus mengarahkan pisau cutter tersebut pada pak Yono.


Uwais tidak tinggal diam, ia berniat menahan tangan Vano, namun yang terjadi malah pisau cutter tersebut lebih dulu mengenai lengan Uwais. Sesaat setelah pisau cutter itu mengenai lengannya, dia langsung menendang tubuh Vano hingga terjungkal. Pak Yono segera menghampiri Vano, membantunya berdiri kemudian di bawa ke ruang BK. Sementara Uwais segera ke UKS untuk mengatasi luka di lengannya.


"Kecelakaan kecil apa? Kenapa bisa panjang kayak gini, lihat! Untung lukanya gak dalem," Arrida masih memperhatikan luka di lengan Uwais. Ia segera mengambil kasa dan kapas di kotak perlengkapan P3K.


"Kakak duduk dulu di situ biar aku bantu obati," kata Arrida sambil menyuruh Uwais duduk di kursi yang ada di ruang PMR.


Uwais menurut, dia terdiam sambil memperhatikan gadis kesayangannya ini yang tampak sedang mencemaskannya.


Arrida kemudian duduk di depan Uwais, lalu meraih lengan Uwais, mencoba menghentikan darah yang keluar dari lengannya, menekannya lembut menggunakan kasa. Setelah itu, ia bersihkan secara perlahan luka tersebut, kemudian mengoleskannya salep antibiotik.


"Nggak perih, Kak?" tanya Arida sambil terus mengoleskan salep antibiotik pada lengannya dengan sangat lembut dan hati-hati.


"Ngelihat kamu perihnya jadi hilang," kata Uwais sambil terus memperhatikan Arrida. Ia bahagia bisa dirawat oleh gadis kesayangannya.


"Hmmh ...." Arrida menarik nafas panjang, dia sempat menyipitkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir cowok pujaannya ini masih sempat-sempatnya menggoda. Uwais tersenyum gemas melihat gadis kesayangannya itu.


Kemudian dengan lembut Arrida menutup luka di lengan Uwais dengan kasa steril (perban).


"Jadi ada masalah apa kakak ma mas Vano?" tanya Arrida sambil menyelesaikan menutup luka Uwais dengan perban.


"Kamu tau?"


"Iya, tadi aku lihat kakak ke ruang UKS dan lihat mas Vano dibawa sama pak Yono ke ruang BK,"


"Ah, iya, tadi aku ke ruang UKS berharap ada yang bisa nolongin buat ngobatin lukaku tapi ternyata di sana kosong ... ya udah, aku ke ruang PMR, ternyata sama aja nggak ada orang ... untung kamu dateng, makasih ya, udah nolongin aku,"


"Hmm, sama-sama Kak," kata Arrida sambil membereskan perlengkapan P3K nya.


"Jadi ada masalah apa kakak sama mas Vano?" tanya Arrida sekali lagi.


"Hanya kesalahpahaman aja,"


"Salah paham lagi? Ya ampun, masalaaaah mulu!" kata Arrida sambil kembali duduk dihadapan Uwais.

__ADS_1


"Gak papa, yang penting masalahnya bisa selesai,"


"Tapi kenapa bisa sampai terluka?"


"Vano megang pisau cutter habis motong kabel rem sepeda ku, gak sengaja, terus kena tangan deh," kata Uwais tanpa menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Lain kali nggak usah pakai kekerasan, Kak,"


"Gak pakai kekerasan kok, cuma nggak sengaja, tanya aja sama pak Yono,"


"Awas kalau kakak luka lagi!" ancam Arrida.


Uwais tersenyum mendengar ucapan Arrida, ia senang gadis kesayangannya itu mengkhawatirkannya.


"Kan ada kamu yang ngobatin lukaku," kata Uwais sambil mengacak rambut Arrida. Eh tidak, lebih tepatnya dia mengusap pucuk kepala Arrida dengan lembut. Dan itu langsung membuat perasaan Arrida tidak karuan, jantungnya berdetak kencang. Membuat dia malah menjadi salah tingkah. Uwais menyukai wajah gugup gadis yang ada di hadapannya ini. Dia makin bersemangat untuk menggodanya.


Arrida menarik telapak tangan Uwais bermaksud menyingkirkannya dari kepalanya, namun Uwais malah mengeratkan pegangannya.


"Jangan kayak gini Kak, ntar aku baper lho," kata Arrida sambil mengatur degup jantungnya yang semakin tidak beraturan.


"Gak papa kamu baper, aku suka," kata Uwais terus menggoda Arrida.


"Hmm ... jangan kayak gini Kak, bikin cewek - cewek salah arti sama sikap kakak," Arrida mencoba melepaskan genggaman tangannya.


"Kalau cuma sama kamu aja gimana?" Uwais mendekatkan wajahnya ke wajah Arrida. Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, matanya mengerjap beberapa kali. Ia pun mendorong tubuh Uwais memberikan jarak diantara mereka.


"Mau kemana, Ar?"


"Heee itu, aku ... mau makan, lapaaarr," kata Arrida terbata-bata.


Uwais tersenyum gemas. Ia tau kalau gadis kesayangannya itu sedang gugup, dan mengalihkan keadaan dengan mengatakan lapar.


"Ya udah ayok, kita makan, aku traktir, sebagai rasa terimakasih aku, karena kamu udah ngobatin aku, mau kan?"


Uwais yang masih memegang tangan Arrida langsung menariknya dan mengajaknya keluar dari ruang PMR menuju kantin sekolah.


"Jadi mau makan apa?" tanya Uwais. Kantin sekolah di saat ini memang tidak terlalu ramai seperti biasanya karena saat-saat seperti ini (setelah tes penilaian semester) siswa boleh masuk sekolah boleh juga tidak. Kecuali yang mengikuti class meeting.


"Emang kakak tau aku mau makan dimana?"


"Lho emang dimana?"


"Aku bawa bekal kak, aku mau makan di taman belakang sekolah,"


"Ooooh, kenapa gak bilang dari tadi?"

__ADS_1


"Emang kakak nanya? Bukannya kakak main tarik aja ya?"


"Hee, iyaaa ... ya udah ... aku ikut makan bekalmu ya,"


"Ish, siapa tadi yang mau traktir ... kok malah ikut makan?"


"Traktirnya bisa kapan-kapan ya, sekarang makan bekalmu aja!"


"Hmmh, iya deh!" Arrida memanyunkan bibirnya.


🌼


Arrida membuka kotak bekalnya. Kini mereka sedang duduk di taman belakang sekolah tepatnya di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.


"Aku cuma buat mie goreng Kak, yakin mau?"


"Mau lah, ntar kalo masih laper juga, kita ke kantin aja,"


"Iyalah!" Arrida menyodorkan kotak makannya pada Uwais, untungnya dia membawa sendok dan juga garpu. Jadi , mereka bisa makan bersama-sama, tanpa harus bergantian sendok makan.


"Lho kok cuma sesuap?" tanya Arrida yang melihat Uwais tidak meneruskan makannya, yang dia tau Uwais hanya memakan mie goreng itu sesuap saja.


"Gak enak ya mie gorengnya?" tanya Arrida lagi, dia jadi salah tingkah karena Uwais hanya memandanginya.


"Enak banget kok Ar, serius!"


"Lalu kenapa kakak ga nerusin makan?"


"Aku baru inget, kan kamu yang laper, kalo aku ikut


makan, ntar kamu gak kenyang,"


"Nggak papa, bukannya tadi kakak bilang kalo masih laper kita ke kantin aja?"


"Gak papa, sini, biar aku suapin," Uwais menyuapi mie goreng itu pada Arrida.


Dan entah kenapa Arrida tak menolaknya. Ia larut begitu saja mendapatkan perlakuan seperti itu. Lagi dan lagi, getaran yang aneh namun indah membuncah begitu saja di hati Arrida.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Hai kak readers


sehat selalu yaπŸ‘


makasih udah setia baca kisah Arrida dan Uwais

__ADS_1


makasih atas dukungannya ya 😘😘😘


__ADS_2