Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
7. Bangun Ar...


__ADS_3

Sabtu ini dilaksanakan acara pengukuhan andik menjadi anggota PMR. Karena pembelajaran di sekolah Arrida hanya sampai hari Jumat saja, maka hari Sabtunya libur. Dan biasanya digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler. Namun kali ini digunakan untuk acara pelantikan para andik PMR.


Para andik datang ke tempat perkemahan yang telah ditentukan. Setelah berkumpul mereka langsung mendirikan tenda sesuai regunya.


Program kegiatan pelantikan dimulai dari apel pembukaan, dilanjutkan dengan wide game dan lomba- lomba sampai sore hari, kemudian malamnya acara pentas seni, dan pada tengah malamnya ada pengambilan logo PMI dan upacara pengukuhan.


Saat ini para andik tengah bersiap untuk melakukan wide game. Mereka harus melakukan perjalanan dengan melewati beberapa pos. Saat di pos itu akan di tes mulai dari pengetahuannya dan kekuatan fisik mentalnya. Pos- pos yang harus dilalui biasanya berisi pengetahuan umum, kedisiplinan, keagamaan, pertolongan pertama, simulasi atau evakuasi penyelamatan di air.


Regu Arrida telah melewati empat pos, mereka tinggal melewati satu pos lagi. pos kelima. Cuaca sudah semakin mendung. Mereka berjalan dengan sangat cepat.


"Aduhhhh ... tunggu!" Nana menghentikan langkah kakinya. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Kenapa, Na?" Arrida memegangi lengan Nana


"Aku sakit perut ... Gak kuat lagi, uda ga bisa ditahan ini!"


"Kamu pengen buang hajat, Na?" Kali ini Hani yang bertanya, dan mendapat anggukan dari Nana.


"Duh gimana dong ... Bisa tahan gak Na? Bentar lagi pos terakhir," kata Rina teman seregunya.


"Kamu pucet banget Na ... Bener- bener ga bisa ditahan ya?" tanya Arrida.


Nana hanya menjawab dengan anggukan lagi. Sepertinya dia sudah kehabisan tenaga untuk berbicara.


"Trus ... kamu mau dimana buang hajatnya?" tanya Erika kebingungan.


Rina, Erika, dan Uly adalah teman seregu dengan Arrida. Semuanya saling memandang ditengah Nana yang sedang menahan rasa mulas di perutnya. Tangannya mulai dingin, agak basah berkeringat. Kelimanya begitu khawatir dan panik dengan kondisi Nana.


"Paling ke sungai" kata Uly sambil menunjuk sungai yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka.


"Gimana, Na? Kamu mau?" tanya Arrida memastikan. Sebenarnya dalam hati mereka terselip keraguan, mengingat sebelumnya sudah ada peringatan untuk tidak ke sungai tanpa pendampingan kakak dewan berhubung kondisi aliran sungai memang deras, serta licin apalagi dari semalam turun hujan.


Makanya sebagai pos terakhir simulasi penyelamatan di air dilakukan di akhir kegiatan wide game, mengambil tempat yang aliran sungainya agak tenang, tidak penuh bebatuan.


Nana hanya mengangguk sambil memejamkan matanya. Ia sudah tidak peduli lagi. Yang dia inginkan saat ini hanyalah mengeluarkan isi perutnya.


"Ya udah, aku antar." Arrida menggandeng lengan Nana. Mereka bergegas menuju sungai. Dengan penuh hati-hati, Nana mencari tempat yang nyaman, agak ke tengah agar tertutup batu yang cukup besar.


Sementara teman-temannya yang lain menunggu mereka sambil duduk-duduk berkipas tangan. Istirahat sejenak.


Arrida setia menemani Nana. Sampai Nana siap melakukan hajatnya. Kemudian dia melangkah untuk kembali ke sisi sungai.


"Tungguin, Da ...." rengek Nana, dia tidak mau Arrida meninggalkannya.


Arrida berdiri sejenak, tanpa melihat Nana yang sedang melakukan hajatnya. Dia mencoba mencari tempat yang nyaman untuk dia duduk sambil menunggu Nana.


"Ya udah, aku tunggu disitu, ya." ujar Arrida menunjuk sebuah batu yang besar yang letaknya tidak jauh dari tempat Nana buang hajat.


"Ya," kata Nana mengangguk walaupun dia tidak melihat mana yang ditunjuk oleh Arrida


Arrida pun menuju batu yang dia maksud, dengan pelan melangkah setengah melompat.


Hup


Bugh


Arrida hilang keseimbangan. Kakinya terpeleset karena batu yang dia pijak licin. Tubuhnya limbung, kepalanya sempat membentur batu yang ada didepannya. Seketika Arrida hilang kesadaran dan hanyut terbawa arus sungai...

__ADS_1


Nana sempat kaget mendengar seperti sesuatu terjatuh.


"Apa itu, Da?" tanya Nana. Dia belum menyadari kalau Arrida sudah hanyut.


Tak ada jawaban. Hanya ada suara gemuruh aliran air sungai. Pikirnya mungkin Arrida tidak mendengar pertanyaannya.


"Daaa?!" Nana mengeraskan suaranya. Memanggil Arrida memastikan kalau Arrida masih ada di dekatnya.


"Daaa!!!?" panggilnya sekali lagi. Berharap kali ini ada jawaban dari Arrida.


Nana panik. Dia segera mengakhiri hajatnya. Dia takut kalau yang ada dalam pikirannya terjadi


"Daa ... Jangan nakutin aku!!! "


Nana bangun. Celingukan. Yang dicari tidak terlihat.


"Jangan - jangan bener.,suara jatuh tadi itu kamu Da!"Nana bergumam dalam hati.


"Tolooooooong ...." Nana berteriak histeris.


"Tolooooooong ...."


Nana segera ke pinggir sungai dengan sangat hati-hati.


Tiba di pinggir sungai, sudah ada Hani, Uly, Erika, dan Rina. Mereka berlari menghampiri suara Nana minta tolong.


"Ada apa, Na?" kata keempatnya hampir bersamaan.


"Arrida gak ada, dia hanyut!"


"Ayo kita cari! Rin, Erika, kalian ke pos kelima kasih kabar ke kakak dewan." perintah Uly selaku ketua regu. Rina dan Erika mengangguk. Mereka segera berlari menuju pos kelima yang jaraknya kurang lebih dua ratus meter dari tempat mereka sekarang.


Nana, Hani, dan Uly berlari menelusuri pinggir sungai mengikuti aliran airnya. Berharap bisa menemukan Arrida.


🌼


"Kakak ... Tolong ... Arrida hanyut!!!" Erika mengabari kakak dewan yang ada di pos. Napasnya terengah-engah. Erika dan Rina baru saja sampai di pos.


"Apa!!!? Bagaimana bisa?!!" Roni bersuara. Dia salah satu kakak dewan yang berjaga di pos kelima.


Yang lain tak kalah terkejut. Disitu ada Uwais.


"Dua orang tunggu di pos, kabari pusat agar pembina tau, dan yang lain ikut mencari, ikuti aliran sungai!" Uwais langsung memberi perintah. Dia langsung berlari menyusuri pinggir sungai.


Disusul rekan- rekannya yang lain. walaupun pencarian agak berpencar, namun mereka masih menyusuri area sungai.


Beberapa menit sudah berlalu, langit semakin mendung, sesekali angin bertiup lumayan kencang. Yang mencari semakin panik, karena tidak terlihat sedikitpun bayangan Arrida.


Akhirnya Nana, Hani dan Uly bertemu dengan Uwais. Mereka ketakutan dan mulai menangis, mereka mengekori Uwais. Kecemasan semakin melanda mereka bertiga.


"Jangan nangis ... Arrida pasti kita temukan, berdoalah yang baik untuk sahabat kalian ya,"


Kata Uwais yakin tanpa melepas pandangannya ke arah sungai. Dia hanya berusaha menenangkan sahabat Arrida.


"Tunggu! Itu pasti Arrida!"


Uwais melihat sesuatu tersangkut diantara bebatuan, ada pohon bambu yang jatuh melintang sehingga menghalangi arus sungai.

__ADS_1


Uwais segera turun ke sungai menuju tempat yang dimaksud. Air sungai berada sepaha Uwais. Nana, Hani dan Uly menunggu penuh harap dan khawatir.


Benar saja apa yang Uwais duga sebelumnya. Arrida tersangkut diantara pohon bambu dengan batu yang cukup besar. Tanpa menunggu lama, Uwais langsung menggendong Arrida. Membawanya ke tepian sungai. Diletakkannya dengan posisi terlentang. Ada memar di kening Arrida. Ia memeriksa keadaan Arrida, memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Arrida!!! Bangun Ar!!!" teriak Uwais sambil menepuk bahu Arrida. Tak ada respon. Uwais mulai panik. Dia memperhatikan dada atau perut Arrida memastikan bergerak naik-turun atau tidak. Tapi tak ada pergerakan.


Uwais pun meletakkan jari telunjuknya di depan lubang hidung Arrida untuk memeriksa ada hembusan napas atau tidak. Kemudian memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Arrida. Panik. Denyut jantungnya terasa lemah. Dicoba di bagian sisi leher Arrida untuk memastikan jantungnya tetap berdetak. Masih terasa lemah.


"Arrida...!!! Bangun, Ar!!! " Uwais makin panik. Dia berteriak. Mencoba untuk menyadarkan Arrida. Nihil. Nana, Hani dan Uly makin terisak.


"Kalian uda belajar RJP, kan? " tanya Uwais pada Nana, Hani dan Uly, ia ragu untuk melakukannya pada Arrida.


"Kami gak bisa dan gak sanggup kak ... Kami belum yakin bisa ...." jawab Hani ragu. Dia masih sesenggukan. Nana hanya mengangguk, masih terisak, wajahnya merah sembab, dia merasa apa yang menimpa Arrida adalah kesalahannya.


"Kami belum berani, Kak," kata Uly menggelengkan kepalanya, ia merasa takut untuk melakukan RJP. Karena mereka baru saja mendapatkan materi RJP. Itu pun saat materi diterangkan dia tidak terlalu memperhatikan.


Uwais melirik ke arah lain berharap ada rekan putri yang datang. Tapi sepertinya belum terlihat satupun.


Uwais frustasi. Tidak punya pilihan lain.


"Bismillah ...."


Akhirnya Uwais pun melakukan RJP ( Resusitasi Jantung Paru) atau memberikan nafas buatan.


Dia meletakkan salah satu telapak tangan di bagian tengah dada Arrida dan tangan lainnya di atas tangan yang satunya lalu menekannya beberapa kali. Tak ada respon. Dia pun mengulanginya. Namun Arrida masih tidak merespon juga.


Uwais pun mendongakkan kepala Arrida dengan meletakkan tangannya di kening Arrida lalu


mengangkat dagu Arrida secara perlahan.


Kemudian ia menjepit hidung Arrida, dan mendekatkan mulutnya ke mulut Arrida lalu memberikan napas atau udara dari mulutnya sebanyak dua kali sambil memperhatikan apakah dada Arrida terlihat mengembang dan mengempis layaknya orang yang bernapas atau tidak. Namun Arrida belum menunjukkan tanda bernapas.


Saat itulah, rekan-rekan mulai datang mendekati kelimanya (Uwais, Arrida, Nana, Hani, dan Uly). Mereka berkumpul cemas, bahkan sebagian ada yang berdoa. Erika dan Rina mulai khawatir dan menangis.


Merasa Arrida belum merespon, Uwais mencoba memperbaiki posisi leher Arrida. Selanjutnya, dia kembali melakukan kompresi dada yang diselingi dengan pemberian napas buatan. Hingga yang ketiga kalinya usahanya membuahkan hasil.


Hhha ... Hh


Arrida seperti terkejut, ia mengambil udara dalam-dalam. Ada air yang keluar dari mulutnya.


Uhhhuukk


Dia terbatuk mulai mengembalikan kesadaran dirinya.


Uwais menarik napas panjang. Ada kelegaan di hati nya. Bahagia.


"Alhamdulillah ...." Uwais memejamkan matanya. Ada butiran kristal bening mengalir dari sudut matanya. Ia menghapusnya pelan sambil memalingkan wajahnya agar tidak diketahui orang lain.


Nana dan Hani langsung duduk mendekati Arrida. Mereka membantu Arrida untuk duduk karena terlihat Arrida berusaha untuk bangun. Sebenarnya ingin sekali mereka memeluknya. Namun mereka memberi kesempatan agar Arrida bisa menarik napas dan mengembalikan kesadarannya agar penuh. Keduanya kembali terisak melihat Arrida, sementara yang lain ikut menangis karena lega.


"Alhamdulillah, Da, kamu sadar ...." kata Hani merangkul pelan pundak Arrida.


Arrida pun mengangguk perlahan sambil memejamkan matanya. Ia memberikan senyum kecilnya. Lega. Ia sandarkan kepalanya di lengan Hani.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_1


__ADS_2