Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
130. Takdir Allah


__ADS_3

"Jadi, sekarang kamu mau kemana?" tanya Arrida. pada Andri.


"Aku mau ke lokasi rumahku, dan nanti aku nyari ke rumahmu!"


"Gak papa sama relawan lain kalo kita malah nyari keluarga kita?"


"Gak papa, mereka udah tau kok tujuan utama kita,"


"Untung ada sahabatnya bang Arka yang jadi ketua tim relawannya!" kata Arrida.


"Mas Nael, maksud kamu,"


"Ah iya itu namanya,"


"Ya udah ayok, mumpung masih siang, karna kalo udah malem kita pasti akan kesulitan nyarinya, bakal gelap gulita, jangan lupa rompi relawan yang dikasih mas Nael dipakai, jadi bisa kapanpun dan dimanapun masuk ke posko penyelamatan yang ada,"


Arrida mengangguk.


"Kalo gitu kita cari ke lokasimu dulu aja," usul Andri.


"Iya, okke," kata Arrida menyetujui.


"Eh, tunggu, Ndri, kita cari di lokasi kak Wais dulu!"


"Lho, kenapa?"


"Karena keluargaku pasti ada di sana, sedang takziyah di rumah almarhum papah!"


"Oh iya iya!" Andri mengerti.


🌼


"Ya Alloh," Arrida menangis melihat keadaan di sekelilingnya. Berkali-kali pipi mulusnya diusap, namun tetap saja basah, karena air matanya tak kunjung berhenti mengalir.


"Yang mana rumah Bang Wais, Da?" tanya Andri yang memang belum pernah ke rumah Uwais.


Arrida memindai di sekitarnya, semua tampak kacau, banyak puing-puing menumpuk dan berserakan sangat kotor berlumpur.


"Kayaknya yang itu," kata Arrida sambil menunjuk sebuah rumah berlantai dua.


Mereka segera menuju ke rumah yang dituju, melewati berbagai macam material yang tersapu ombak tsunami termasuk kendaraan dan beberapa jasad manusia.


Arrida mencoba untuk kuat melihat pemandangan yang baru dilihatnya untuk pertama kali.


Rumah Uwais begitu kacau keadaannya, halaman sudah berlumpur dan penuh material sampah, namun, walaupun begitu, rumah tersebut menjadi tempat penampungan warga, mereka memanfaatkan lantai atas sebagai tempat aman untuk berlindung dari amukan tsunami.

__ADS_1


Arrida segera mencari siapapun yang dikenali olehnya diantara kerumunan warga yang terlihat masih shock dan banyak yang menangis. Dia mencoba masuk ke sebuah kamar yang pintunya terbuka.


"Bunda," panggil Arrida pada seseorang yang dikenalinya diantara orang-orang yang berkerumun di kamar itu. Ada bu Sofia. Ternyata di kamar tesebut, bu Tania sedang terbaring tidak sadarkan diri.


"Arrida, kamu dateng, nak," bu Sofia segera menghampiri dan langsung memeluk gadis kesayangannya itu. Tangis keduanya pecah dalam dekapan.


Setelah keduanya tenang, bu Sofia mulai menceritakan yang terjadi sebenarnya, sementara Andri yang merasa Arrida sudah aman, memilih pamit dan pergi dari rumah itu, untuk mencari keluarganya.


Sebelumnya, bu Sofia terlebih dahulu mengenalkan Arrida kepada orang-orang yang berkumpul di kamar tersebut, yang ternyata mereka adalah kerabat dan keluarga besar Uwais. Mereka memang sedang bertakziyah di rumah pak Ridwan.


"Sebelum tsunami, terjadi gempa yang cukup lama, banyak warga yang mulai berlarian ke tanah yang lebih lapang, para pelayat semuanya keluar dari rumah," kata bu Sofia mulai bercerita. "Termasuk bunda, mamah dan semua keluarga juga pada keluar rumah," imbuhnya.


"Lalu papah, kak Uwais?"


"Papah baru aja dimandikan, di halaman belakang, Uwais dan Fariz ikut serta memandikan, ketika gempa, ayah langsung nyari bunda ke halaman depan, ninggalin Uwais yang masih memandikan papahnya, didampingi orang yang biasa memandikan jenazah,"


"Lah mas Fariznya?"


"Nyari si kembar, karena Rara kebingungan gak tau anak-anak pada kemana,"


"Lalu ayah sekarang mana?" tanya Arrida, ia merasa dati tadi belum bertemu dengan ayahnya.


Bu Sofia menggelengkan kepalanya. Ia mulai menangis kembali.


"Bunda yang bener dong!"


"Bunda gak bohong, kan?" Arrida mulai menangis, hatinya merasakan sakit yang teramat dalam.


"Waktu air udah dateng, keadaan seketika kacau, semua orang menyelamatkan diri saling bertabrakan, tau rumah ini berlantai dua banyak orang yang ikut masuk, dan naik ke lantai dua,"


"Terus?" tanya Arrida masih terisak.


"Ayah sempet ngelihat Uwais yang masih di luar, ia menggendong jenazah papah di punggungnya, diikat pakai kain, ia berusaha menyelamatkan diri untuk naik ke lantai atas, ayah mencoba turun untuk membantu, jalannya sangat sulit karena harus bertubrukan dengan orang-orang yang naik ke lantai atas,"


"Lalu?"


"Ketika sudah diluar, air keburu menyeret mereka!" ujar bu Sofia sambil terisak dan sedikit menjerit, ia tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi pada pak Arthur, pak Ridwan dan Uwais. Saat itu, ia melihatnya dari teras lantai atas.


"Itulah yang bikin mamah pingsan, dia shock, karena kehilangan semuanya, papah, Uwais, Fariz, Rara, dan si kembar," jelas bu Sofia.


"Nggak, Bun, jangan bilang gitu, kita belum menemukan mereka," kata Arrida memberi harapan.


"Bunda berharap semua baik-baik saja," ucap bu Sofia mulai merasa tenang.


"Kalau bang Adnan gimana, Bun?"

__ADS_1


"Bunda gak tau, abang kamu setau bunda sedang dalam perjalanan kesini, bareng Hani, dan nyampe sekarang tidak tau bagaimana keadaan mereka,"


Arrida terdiam, ia memikirkan sesuatu.


"Bun, Rida gak bisa diem kayak gini, ijinkan Rida nyari ayah, kak Uwais, dan jenazah papah ... bang Adnan ... Mudah-mudahan bisa ditemukan semuanya, termasuk mas Fariz sekeluarga," kata Arrida sambil menepuk pundaknya sendiri, memperlihatkan rompi relawan yang dipakainya. Seolah memberi tahu bu Sofia bahwa keberadaannya di sini adalah ikut misi kemanusiaan, menyelamatkan korban bencana.


"Iya, bunda ijinkan, pergilah, apapun kebaikan yang kamu lakukan, pasti Alloh membalasnya,"


"Aamiin, Rida juga mau cari posko penyelamatan yang paling dekat dengan tempat ini, jadi bisa ngunjungi bunda dan mamah setiap saat,"


🌼


Sebelum Arrida turun keluar, ia menyempatkan menemui bu Tania yang masih pingsan, ia mencium tangannya, lalu berpamitan akan mencari ayahnya, Uwais, jenazah pak Ridwan dan Fariz sekeluarga, walaupun sebenarnya ia tahu bu Tania tidak bisa mendengarkan pamitannya itu.


Kemudian, ia melangkah menuju pintu namun ia sempat menghentikan langkahnya di hadapan sebuah bingkai foto yang terpajang di kamar itu. Foto Uwais bersama orang tuanya, dan kedua kakaknya. Lalu ia menyadari jika kamar tempat ia berdiri sekarang adalah kamar Uwais, suaminya.


"Kak, aku ada di kamar kamu, ini pertama kalinya aku masuk kamar ini, tapi kamu gak ada," ucap Arrida dalam hati, ia memejamkan matanya, membayangkan jika Uwais ada di hadapannya. Air matanya kembali menetes.


"Ya Alloh, aku akan berusaha ikhlas dengan takdir-Mu ya Alloh, tapi tolonglah, pertemukan aku dengan suamiku apapun keadaannya, baik dalam keadaan hidup maupun sudah tak bernyawa lagi," pinta Arrida dalam doanya.


"Aku akan berusaha menemukan kakak," Arrida bermonolog sesaat setelah dia membuka matanya dan menatap foto Uwais yang ada di hadapannya.


🌼


Hal yang pertama Arrida lakukan adalah mencari posko penyelamatan yang paling dekat dengan lokasi rumah Uwais, agar dia bisa berkoordinasi dengan tim SAR dan tim relawan lainnya.


Beruntung, dia menemukan posko penyelamatan yang berada di dekat masjid yang jaraknya seratus meter dari rumah Uwais.


Hari itu, Arrida tidak ikut turun mengevakuasi mayat, ia lebih memilih memberikan pertolongan dengan merawat korban yang luka-luka, dan bekerja di bagian dapur umum, sambil sesekali melihat jenazah yang sudah di evakuasi dan diletakkan sementara di halaman masjid sebelum dilakukan penguburan massal.


Saat inilah, tak ada lagi rasa takut di hati Arrida melihat mayat korban bencana. Jiwa kemanusiaan langsung menguat di dalam dirinya.


Esoknya, dia memutuskan untuk mencari ayahnya, Uwais dan keluarganya. Langkahnya menelusuri jalan yang masih bisa dilalui. Ia berharap bisa menemukan siapapun yang dikenalnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Namun, hingga sore, masih belum menemukan yang diharapkannya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......

__ADS_1


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2