Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
65. Cahaya untukmu(1)


__ADS_3

"Gimana kabar kamu Wais?" tanya pak Arthur setelah ada dihadapan Uwais dan Arrida. Tadi setelah kepergian Melati, pak Arthur sengaja menghampiri keduanya. Disusul dengan Bu Sofia dibelakangnya


"Alhamdulillah baik Yah... Ayah gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah sehat... gimana kuliahmu?"


"Lancar Yah, Alhamdulillah.... Doanya selalu Yah...."


Pak Arthur mengangguk sambil memberikan senyuman terbaiknya. Adnan tiba-tiba datang kemudian merangkul Arrida. Ia ikut mendengarkan pembicaraan antara orang tuanya dan Uwais.


"Kamu agak kurus ya Wais?" kini Bu Sofia yang bertanya.


"Iya kah Bun? Kuliah cukup berbeda gak kayak SMA bun, tugasnya kalau gak segera diselesaikan bakal ketumpuk ma tugas dari dosen lain... jadi kurang perhatian ma kondisi tubuh kali Bun... " Uwais memberi alasan


"Tapi menyenangkan kan?" tanya Bu Sofia lagi.


"Iya sangat menyenangkan...kuliah itu semua diatur kita sendiri... mau sukses gimana kita ... mau gitu-gitu aja gimana kita....mau gagal pun gimana kita"


"Yang penting jaga kesehatan ya"


"Siap Bun..." Uwais tersenyum.


"Gimana gak menyenangkan, kuliah itu banyak cewek yang lebih bening-bening daripada anak SMA iya kan?" ledek Adnan sambil menaikkan kedua alisnya pada Uwais


Uwais hanya tersenyum. Tidak menanggapi. Dia lebih menjaga perasaan gadis yang ada disampingnya. Sementara Arrida, hanya menatap Uwais dengan tatapan menyelidik.


"Alaaah, cewek mulu... makanya kuliahnya gak kelar-kelar" Bu Sofia protes.


"Kelar kan Bun.... tinggal wisuda ini" Adnan membela diri


"Banyak cewek bening, tapi ditinggal nikah" pak Arthur meledek Adnan


"Yah, ayah jangan bilang-bilang, malu sama Uwais"


Uwais tertawa kecil.


"Oh ya, Wais... Jadi kamu ultah juga hari ini?" Masih Bu Sofia yang bertanya.


"Iya bun"


"Wah gak nyangka, kok bisa sama ma Arrida ya?" tanya pak Arthur. "Ini kebetulan atau gimana?"


"Kalian emang jodoh! Bener kata mas Fariz waktu itu saat di rumah sakit!" Adnan mengingatkan kata-kata Fariz tempo hari di rumah sakit, ketika mereka menunggu Uwais yang sedang diobati karena luka di perutnya. "Inget gak Yah?" tanya Adnan pada ayahnya


"Iya" jawab pak Arthur. Ia juga ingat akan ucapan Fariz ketika itu.


"Jodohin mereka aja Yah! Adek gak usah dijodoh-jodohin ma yang lain" Adnan memberi saran


Uwais mengusap-usap tengkuknya. Sementara pak Arthur dan bu Sofia saling berpandangan dan memberikan senyuman tipis mereka.


"Biar sekolah dulu..! Ya Uwais..." pak Arthur meyakinkannya pada Uwais.

__ADS_1


"Siap yah"jawab Uwais mantap.


Arrida tersenyum bahagia mendengarnya. Namun ada sesuatu yang membuatnya merasa heran. Sejak kapan Uwais memanggil ayahnya dengan sebutan 'ayah' dan ibunya dengan sebutan 'bunda' paling tidak, jika dengan ibunya pun pasti akan memanggil dengan sebutan 'bu Sofia'. Apakah mungkin karena seringnya mereka mengalami kejadian-kejadian bersama, membuat Uwais dan kedua orang tuanya menjadi dekat? Mungkin saja. Sama hal nya seperti Nana dan Hani, karena seringnya mereka bertiga bersama, akhirnya Nana dan Hani memanggil kedua orang tua Arrida dengan panggilan 'ayah bunda' juga memanggil Adnan dengan sebutan 'abang'.


Namun, dari segala macam pemikirannya saat ini, Arrida hanya merasakan sebuah kebahagiaan. Disaat usianya genap tujuh belas tahun, ia benar-benar dikelilingi oleh orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya dan mencintainya.


🌼


Hari sudah semakin malam ketika mereka akan berpamitan dengan anak-anak panti. Sebelumnya mereka telah mengadakan sholat maghrib berjamaah, tadarus bersama dilanjutkan sholat isya berjamaah. Kemudian mereka juga telah selesai makan malam.


Kini Arrida, Nana dan Hani masih berkumpul dengan beberapa anak-anak yang usianya sekitar 5 sampai 6 tahun, mungkin sekitar 10 anak. Mereka berada di teras depan yang cukup luas. Sedang berbagi cerita dan canda. Tak jauh dari situ ada Uwais, Adnan dan Roni sedang berbincang santai, sementara pak Arthur dan bu Sofia sedang berbincang sesaat sebelum berpamitan dengan pengasuh dan beberapa pengurus panti asuhan di ruang aula.


Tiba-tiba listrik padam. Suasana panti asuhan seketika menjadi gelap gulita. Suara anak-anak panti menjerit terdengar riuh. Uwais segera bangun dari duduknya. Ponsel yang dipegangnya sejak tadi segera dia angkat tinggi-tinggi setelah mengaktifkan mode senter. Adnan dan Roni mengikuti apa yang dilakukan oleh Uwais, namun mereka bergerak ke tempat yang lain, dimana terdengar beberapa teriakan anak-anak kecil dengan usia sekitar sembilan sampai dua belas tahun.


Dari kejauhan tempat Arrida berada, dia melihat cahaya itu mendekat. Dan semakin dekat. Hatinya begitu tenang, apalagi ketika mengetahui jika yang menghampiri adalah pujaan hatinya.


"Kalian gak papa?" tanya Uwais memastikan yang ada di ruangan itu baik-baik saja. Dalam keremangan cahaya, terlihat anak-anak saling mendekap dengan Arrida, Nana, dan Hani.


"Gak papa kak" jawab Arrida hampir bersamaan dengan Nana dan Hani.


"Maaf, gensetnya baru kemarin rusak dan sekarang lagi diperbaiki, jadi belum ada penerang selain lilin ini" Salah seorang pengurus panti memberi informasi. Dia datang dengan membawa sebuah lilin yang sudah menyala di tangan kanannya, sementara di tangan kirinya membawa sebungkus lilin yang masih belum dinyalakan.


"Oh iya, gak apa-apa!"kata Uwais.


"Sebaiknya adek-adek dibawa ke aula aja... kumpul disana lebih baik" ajak pengurus panti.


Uwais mengangguk, lalu mengatur anak-anak untuk ke ruang aula.


"Mana hape kalian? nyalakan mode senter"perintah Uwais pada Arrida, Nana dan Hani. Dia bermaksud agar nanti di aula bisa lebih terang dengan bantuan senter, daripada hanya lilin.


"Ya sudah, kalo gitu biar pake lilin aja, ayo..."kata Uwais


Akhirnya mereka pun kini berkumpul di ruang aula. Tempatnya memang cukup luas, namun hanya di gelar karpet saja, sama sekali tidak ada tempat duduk. Disana sudah ada pengasuh, orang tua Arrida dan beberapa pengurus.


Anak-anak lebih tertib. Mereka ada yang memilih tiduran, ada yang hanya duduk sambil mengobrol, dan ada yang bercanda. Uwais dan Arrida duduk dekat dengan pintu masuk ruang aula. Lebih dekat dengan teras aula. Mereka duduk bersebelahan. Dihadapan keduanya ada sebuah lilin menemani. Mereka terlihat romantis seperti sepasang kekasih yang sedang duduk berdua ditemani candle light.


"Hari ini aku seneng banget kak"


"Sama"


"Kakak kenapa seneng?"


"Bisa merayakan dua kali ulang tahun bersama kamu dan aku harap... kedepannya kita akan selalu merayakannya bersama"


"InsyaaAllah" Arrida mengangguk.


"Bener ya"Uwais masih memastikan, dan Arrida masih dengan anggukannya.


"Kakak gak nanyain kenapa aku seneng"


"Udah kebaca Ar dari wajah kamu"

__ADS_1


"Emang kakak tau apa ?"


"Kamu seneng kan di ultah mu yang ke tujuh belas ini, ada aku" Uwais sedikit terbahak


"Ish, mulai kepedean..." Arrida menatap dengan menyipitkan matanya. Membuat Uwais selalu gemas.


"Trus apa kalau bukan?"


"Karena ultahku makin spesial dengan adanya kakak saat ini" Kata Arrida cengengesan.


"Apa bedanya Ar"


"Beda lah, karena yang tadi kakak yang ngomong, bukan aku, makanya kakak tadi jawab gak tau aja... pura-pura dikit kek" Arrida mode cemberut


Uwais menggeleng sambil tersenyum, ia mengacak pucuk kepala Arrida dengan sangat gemas. Dan Arrida langsung merapikan rambutnya.


"Oiya kak ..Makasih yaaa...."


"Untuk?"


"Udah hadir hari ini, menemaniku, dan menjadi penerang buatku malam ini"


"Itu bukan buatmu aja Ar, itu juga buat Nana, Hani dan anak-anak" Kata Uwais, sengaja menggoda Arrida. Ia tau kalau gadis kesayangannya itu akan mode cemberut lagi. Padahal sesungguhnya, yang ia lakukan tadi, memang karena gadis yang ada disampingnya itu


"Iyya tau.... tapi seenggak-enggaknya, saat kakak tadi datang bawa senter tuh, aku seneng banget, gatau kenapa hatiku jadi merasa tenaaaang banget" Kata Arrida dengan sangat jujur. Dan Uwais sangat menyukai apa yang Arrida katakan barusan.


"Aku akan selalu menjadi cahaya untukmu Ar..." kata Uwais membalas kejujuran Arrida.


"Eh!" Arrida malah terkejut. Namun dia merasa bahagia, hingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa memandang wajah tampan Uwais dalam keremangan. Begitu pun Uwais, ia hanya bisa balas memandang wajah cantik dan cute milik Arrida dengan rasa bahagia yang tak dapat dilukiskan oleh kata-kata.


"Ar ....Gimana keadaanmu saat aku gak ada" tanya Uwais akhirnya.


"Baik, semua berjalan biasa, sepatu dari kakak selalu aku pakai"


"Makasih ya Ar... udah hidup dengan baik selama aku gak ada"


"Hei, kan masih ada orang-orang yang sayang ma aku kak"


"Di sekolah baik-baik aja kan?"


"Baik kak, kan ada bunda juga"


"Hmm" Uwais mengangguk merasa tenang.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Kakak kakak reader


Makasih dukungannya ya ... Makasih udah mampir dan menyemangati


Makasih karena tidak lupa untuk like n favorit...sehat selalu ya...

__ADS_1


Semoga suka dan terhibur


🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2