
"Andri...." Arrida membalas sapaan Andri, si vokalis band.
"Arrida!Gak nyangka bisa ketemu lo disini ..." kata Andri menghilangkan rasa terkejutnya.
"Iya, kamu juga disini, Ndri? Kok, pas orientasi universitas aku gak lihat kamu!"
"Sama, Da! gue juga baru sekarang lihat elo!"
Arrida mengangguk.
"Ya udah Lan, yang ingin kamu kenalkan, aku udah kenal" kata Arrida pada Lani.
"Wah, bisa kebetulan ya" Kata Lani.
"Ya udah kita pergi yuk, maaf ya, Mas, kita duluan" kata Arrida sambil berpamitan pada Bryan.
"Okke ... besok kita pasti akan ketemu lagi," ujar Bryan.
Arrida hanya mengangkat bahunya, lalu menggandeng Lani untuk pergi dari hadapan Bryan, sementara Andri mengekori keduanya.
πΌ
"Ini baksonya, Da," kata Arman, sambil meletakkan tiga mangkok bakso di atas meja, di depan Arrida, Lani dan Andri.
"Makasih, Bang ... Oiya, kak Uwais mana, Bang?"
"Lho, emang ga bilang ama Rida?"
"Enggak, dari tadi ditelfon, gak aktif"
"Gak tau ya, Da ... Tadi setelah dapet telepon, dia langsung pergi, sekitar setengah jam yang lalu"
"Naik apa, Bang? Kok, kayaknya sepedanya ada tuh" kata Arrida sambil menunjuk sebuah sepeda yang terparkir cantik di pinggir taman resto.
"Wah, gak perhatian tuh, Da, tadi rame banget jadi gak terlalu ngeh ma Uwais ... kita kira mau jemput kamu, kan ini udah sore"
"Oh, ya udah Bang! Gak papa, paling ntar kak Uwais ngehubungi aku,"
"Iya ... Ya udah, abang tinggal ya" pamit Arman. Ia pun kembali ke pantry.
Arrida menganggukkan kepalanya.
"Jadi, kak Uwais juga disini?" tanya Andri.
"Hmm," Arrida mengangguk
"Kuliah di universitas yang sama?"
"Iya," jawab Arrida singkat.
"Lo juga kenal kak Uwais dari SMA ya, Ndri?" tanya Lani pada Andri.
"Gak juga, gue anak pindahan, waktu gue pindah, kak Uwais udah lulus"
"Trus, kok bisa kenal?"
"Lah, dia kan pacar Arrida, gitu yang gue tau," jawab Andri terlihat santai. "Kita pernah ketemu sekali, waktu lebaran di rumah Arrida"
Lani melirik Andri, lalu mengalihkan lirikannya ke arah Arrida.
"Kenapa?" Arrida merasa risih dengan cara Lani melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Tuh, kata Andri, kak Uwais pacarnya elo,"
"Terus?"
"Berarti kalian bukan hanya temen deket aja kan?" tanya Lani masih penasaran.
"Tau, ah!" kata Arrida sambil menyuapkan baksonya.
"Sebenarnya ni, Lan ... gue pengen pedekate ma Arrida, tapi karna udah ada stempel di jidatnya Rida, kalau dia milik Uwais, gue milih mundur, untung ... belum cinta, baru tertarik aja"
"Hahaha, ceritanya lo telat?" tanya Lani.
"Kalaupun gue gak telat lah, belum tentu Arrida nya mau sama gue"
"Kenapa bisa yakin?"
"Lo gak lihat apa?" kata Andri sambil melihat wajah Arrida.
"Apaan?" tanya Lani sambil ikut memperhatikan wajah Arrida.
Arrida menghentikan suapannya, ia hanya melirik kedua orang dihadapannya bergantian.
" Kenapa dengan wajahku? Cantik?" tanya Arrida bercanda
Andri tersenyum. Sementara Lani menyentil kening Arrida.
"Gue tau, Ndri ... ! Di wajah Arrida ada wajah kak Uwais" kata Lani memberi kesimpulan.
"Lo bisa lihat?" kata Andri tak percaya.
"Iya, setelah tadi gue perhatikan, sekilas, seperti ngelihat wajah kak Uwais"
"Nah, itu dia ... dari awal ngelihat dia, ada wajah orang lain, bukan wajah gue, tapi karena cantik, gue tertarik buat ngedeketin, ya ... Walaupun gue tau, dia gak mungkin suka gue, siapa tau setelah pedekate dia bisa suka gue," Andri terkekeh.
"Setelah gue kenal kak Uwais pas lebaran, dari situlah, fil gue bilang ini dia orangnya ... karna di wajah kak Uwais ada wajah Arrida ... Kata orang tua, kalo wajahnya mirip itu berarti jodoh dunia akhirat."
"Aamiin" kata Arrida mengaminkan dalam hati.
"Ah iya, gue juga pernah denger kayak gitu, kalo wajah cowok ma cewek itu mirip, berarti jodoh"
Arrida hanya tersenyum mendengarkan perbincangan antara Lani dan Andri.
πΌ
Arrida gelisah, hatinya tidak tenang. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Uwais, tapi tidak aktif, puluhan chat pun tak ada satu pun yang dibalas, hanya tanda ceklist satu.
"Bingung banget sih, Da! Lo samperin aja ke resto, siapa tau dia udah pulang" saran Lani. Sejak tadi dia merasa tidak nyaman melihat Arrida yang gelisah memperhatikan ponselnya sambil membolak-balikan tubuhnya di kasur.
Arrida menatap jam dinding di kamarnya. Masih setengah sembilan. Masih ada waktu setengah jam, sebelum jam malam berakhir. Ia segera bangun dari tidurnya kemudian mengambil jaket yang menggantung di balik pintu.
"Hei, mau kemana, Da?"
"Ke resto, bukannya kamu nyuruh aku kesana?"
"Oh, iya, butuh temen gak?"
"Nggak, aku sendiri aja"
"Ya udah, hati-hati ya"
Arrida mengangguk cepat, lalu ia segera keluar dari kamar.
__ADS_1
πΌ
Taksi yang ditumpangi Uwais tiba-tiba berhenti tak jauh dari resto. Cowok pemilik senyum limited edition itu pun segera keluar dari taksi yang ditumpanginya. Ia segera menyebrang menghampiri seorang gadis cantik berhidung mancung, dengan rambut panjangnya yang dikepang satu. Sebelumnya, dia memang sudah melihat gadis ini dari jendela taksi.
Ia tersenyum penuh keharuan bahkan air matanya juga keluar, dan tidak butuh waktu lama, ia segera memeluk gadis tersebut sangat erat. Gadis itu pun membalas pelukannya dengan lebih erat juga. Hening sesaat. Ada tangis keharuan diantara mereka. Lebih tepatnya tangis kerinduan.
"Ayo kita ke tempatku" ajak Uwais setelah beberapa saat saling mendekap. Gadis itu mengangguk menyetujui ajakan Uwais. Uwais tersenyum bahagia, sampai ia tak melepas rangkulannya di pinggang gadis itu ketika mereka menyebrang jalan.
Hingga akhirnya ketika hampir tiba di gerbang resto, dia melihat di kejauhan jalan seorang gadis yang telah menghiasi hatinya selama hampir tiga tahun ini, sedang berdiri mematung memperhatikan ke arahnya.
"Ar ... " panggil Uwais pelan dan terkejut.
Ya, Arrida menyaksikan semuanya, dimulai ketika taksi berhenti, kemudian Uwais berlari menghampiri gadis cantik disebrang, sampai akhirnya mereka saling berdekapan
Ada sesak terasa di dada Arrida. Sakit. Itulah yang saat ini dirasakan oleh hati Arrida. Air matanya mengalir begitu saja tanpa diminta. Ia mengeratkan jaket yang dikenakannya dengan kedua tangan. Kemudian segera berbalik, ketika Uwais menatap ke arahnya. Ia tidak ingin ketahuan oleh Uwais jika dia ada, dan sakit hati melihat semuanya. Namun sayang, Uwais sudah menyadari kehadiran gadisnya itu.
"Tunggu, jangan pergi!" kata Uwais sambil mencekal lengan Arrida. Sebelum mendekati Arrida, ia telah meminta gadis yang dirangkulnya tadi menunggu di resto.
"Lepasin, Kak!" kata Arrida sambil berbalik menghadap Uwais dan berusaha melepas cengkraman tangannya. Air matanya masih mengalir, namun tatapannya yang tajam penuh amarah dan kekecewaan mengarah kepada cowok pujaannya itu.
"Maaf!" Uwais segera melepas cengkraman tangannya.
Arrida tak peduli, ia pun segera membalikkan badannya kembali, bermaksud meninggalkan Uwais.
"Jangan pergi dulu, Ar!" Uwais mencekal kembali lengan Arrida.
"Lepasin, Kak! Gak usah pegang-pegang!" kata Arrida sambil menepis tangan Uwais, kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Uwais.
"Plis, Ar, jangan pergi!"
Arrida tidak menghiraukannya, ia lebih memilih segera pergi dengan langkah yang sengaja ia percepat. Namun Uwais tak mau kalah, ia pun berlari mengejar gadis kesayangannya itu.
Grep
Uwais segera mendekap Arrida dari belakang. Ia tak ingin Arrida pergi begitu saja dalam keadaan emosi.
"Lepasin!" Arrida memberontak. Ia mencoba melepaskan kedua tangan yang melingkar di tubuhnya. Namun Uwais semakin mengeratkan dekapannya.
"Gak usah dekap-dekap !!" teriak Arrida, nyeri di ulu hatinya kembali terasa, ia ingat betul bagaimana Uwais mendekap erat gadis berkepang satu itu.
"Jangan pergi ... plis, jangan pergi!" kata Uwais penuh permohonan.
"Aku gak mau bicara sama kamu! Lepasin aku! Dan gak usah seenaknya mendekap! Setelah kamu dekap cewek lain, kamu seenaknya dekap aku, emang aku apaan?" tangis Arrida.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
Oiya kakak readers mampir juga ya ke karya temanku... recommended banget nget.... karya: Dee Hwang
__ADS_1
πππ