
Uwais menunggu Arrida di gazebo dekat perpustakaan. Mereka memang sudah janjian akan bertemu sepulang sekolah untuk membahas persamaan redoks pelajaran kimia. Buku Arrida sudah dibawa oleh Uwais kemarin pulang sekolah.
Dia sempat mempelajarinya semalam, sekedaar mengingat kembali.
"Sori ya kak... udah nunggu lama ya?" Arrida datang menghampiri.
"Sekitar lima menitan lah"
Arrida mengangguk sambil duduk disamping Uwais.
"Lho, katanya Hani mau ikut?"
"Gak jadi, katanya ada kumpulan di klub badmintonnya"
Uwais mengangguk. Ia pun mulai mengeluarkan buku kimia milik Arrida. Dan dia mulai menerangkannya. Apa itu redoks, reaksi reduksi dan oksidasi, dan bagaimana penyetaraan persamaan reaksinya.
Arrida yang memang sebenarnya sudah agak paham, bertambahlah pemahamannya. Sebenarnya ia bisa bertanya hal yang tidak dia mengerti pada gurunya, namun kemarin dia tidak sempat bertanya dikarenakan jam pelajaran keburu usai.
"Udah paham kan?"tanya Uwais.
"Iya....Oiya kakak udah lihat jawabanku untuk yang sepuluh nomer di tugas kemarin?"
"Udah... yang ini kan... ?!? Ini nomer tujuh dan sembilan masih keliru... coba kamu kerjakan sesuai yang tadi diterangkan"
"Okke"
Arrida bersemangat mengerjakan kedua soal tersebut. Uwais memperhatikannya, melihat bagaimana cara Arrida menyelesaikannya.
Tanpa sadar kepala keduanya begitu dekat. Terutama bagian pipi mereka. Tapi untuk sesaat mereka mengabaikan getaran yang berdesir di hati mereka.
"Udah, seperti ini kan kak" Arrida menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Uwais, yang kemudian diterimanya. Lalu diperhatikan jawabannya.
"Hmmm iya, bener banget" Uwais menyerahkan bukunya.
"Makasih ya kakak mentor, besok-besok aku boleh nanya lagi ya"
"Hmmm"Uwais mengangguk. "Kamu tau Ar... reaksi redoks itu sama kayak seseorang saling mencintai"
"Maksudnya?"
"Kamu tau kan kalo oksigen itu penting?"
"iya lah, kalo gak mana bisa kita bernafas dengan baik, pasti butuh oksigen lah"
"Nah, yang namanya sebuah hubungan itu bagaikan persamaan redoks, oksigen adalah cintanya. Jadi gini... reaksi reduksi itu kan pelepasan oksigen, seorang yang jatuh cinta itu pasti ada cinta yang dilepaskan maksudnya diberikan, kemudian reaksi oksidasi itu kan pengikatan oksigen, berarti orang yang disukainya itu menerima cinta tersebut....Seperti saling memberi dan mengikat cinta, maka akan jadi setara,dan terjadilah hubungan yang baik"
"Terus maksud kakak apa?"
"Lupakanlah" Uwais kecewa karena Arrida berpura-pura tak mengerti. Sepertinya dia memang sengaja mengalihkan tidak ingin terpancing dengan perkataan Uwais.
__ADS_1
"Oiya Ar .... coba mana buku mu, sini" Telapak tangan Uwais menengadah meminta buku Arrida. Dan Arrida pun langsung menyerahkannya.
"Kamu tau nama unsur kan... nih ya coba kamu terjemahkan gambaran diri kamu itu bagaikan unsur-unsur ini" Kata Uwais sambil membuka buku Arrida yang bagian paling belakang. Tangannya yang memegang pulpen segera menuliskan sesuatu di lembar kertas bagian akhir dari bukunya itu.
Uwais agak membungkuk, ia menulis di lantai panggung gazebo, yang terbuat dari papan. Arrida pun ikut agak membungkuk memperhatikan apa yang ditulis Uwais. Sekarang posisi terbalik dengan tadi ketika Arrida mengerjakan soal. Kali ini Uwais yang menulis Arrida yang memperhatikannya. Dan kepala mereka juga masih sedekat tadi.
Tulisannya:
'Arrida kamu itu Kalsium Nitrogen Titanium Kalium(potasium) dan Cupprum(tembaga) Tellurium'
"Nih" kata Uwais setelah selesai menulis. Ia menoleh, bersamaan dengan kepala Arrida yang mendekat ke arah buku. Sehingga...
cup
Tanpa sengaja Arrida mengecup pipi Uwais, keduanya terkejut, jantung keduanya berdetak kencang tak beraturan. Hati keduanya berdebar hebat.
Arrida mematung, tatapannya datar, tangannya refleks memegang bibirnya.
Uwais langsung menatap kedua mata Arrida yang menatapnya kosong. Sepertinya gadis yang wajahnya tinggal beberapa senti lagi bersentuhan dengan wajahnya sedang nge-blank, pikirannya entah kemana. Namun yang pasti Uwais merasa dejavu. Dia merasakan perasaan yang sama ketika dia tidak sengaja mencium bibir Arrida di bis.
"Maaf... kak... gak...sengaja" kata Arrida lirih. Sepertinya otaknya bekerja cepat. Dia langsung bisa mengendalikan perasaannya. Pikirannya tidak lagi kosong.
"Aku tahu"
Tangan Uwais terulur mengusap lembut pucuk kepala Arrida.
"Aaaah lagi lagi... bibir ku udah gak gadis lagi"
"Ya gak gitu kak... sering banget nih bibir bertabrakan ma kakak"
Uwais terkekeh geli.
"Ya udah yang penting hanya sama aku ya, gak boleh ma yang lain"
"Maksud kakak?"
" Biar hanya aku saja yang bertanggungjawab atas kamu ya"
Arrida terdiam. Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Jantungnya semakin dag dig dug bercampur rasa bahagia yang membuncah. Sampai ia kesusahan menelan salivanya.
Uwais tersenyum lembut, tatapannya menyendu. Tiba-tiba seperti terasa ada angin sepoi-sepoi menyapa keduanya.
"Hei Ar... malah bengong" Uwais mulai menggoda. Mode seriusnya mulai disenyapkan.
Arrida tersenyum kikuk.
"Ar, pipi yang sebelah lagi ngiri lho Ar" goda Uwais sambil mendekatkan pipinya yang sebelah lagi dihadapan wajah Arrida.
"Hiiiiish" Arrida menekan pipi Uwais dengan telunjuknya lalu menjauhkannya dari hadapannya.
__ADS_1
Uwais terkekeh.
"Jangan berpikiran aneh-aneh kak"
"Nggak aneh-aneh, cuma se-aneh kok... aku bener kan... kamu udah nyuri cium pipiku sebelah.... jadinya yang ini masih ting-ting!" kata Uwais sambil menunjuk pipinya yang belum mendapatkan kecupan dari Arrida. Dia masih saja menggoda gadis kesayangannya itu.
Dan akhirnya sebuah cubitan cantik pun mendarat di lengan atas Uwais.
"Aww... pedes Ar"
"Mau lagi?"
"Cium maksudnya?" mata Uwais berbinar-binar
"Ish... cubiiiiit kak... cubiiiiit... mau lagi?" kata Arrida penuh penekanan, ia terlihat kesal gemas. Dan itu sangat disukai oleh Uwais.
Uwais tertawa hangat.
"Ya udah... udah... maaf... kalo nyubitnya pake bibir gak papa Ar" Uwais masih saja terus menggoda Arrida.
"Kakaaaaak"
"Iya iya maaf... abis kamu lucu sih"
"Menggemaskan juga kan?" Arrida mulai ikutan mode menggoda. Matanya ia kedip- kedipkan beberapa kali.
"Haishh... yang kayak gini nih... jadi bikin pengen nyubit" kata Uwais sambil menahan diri.
"Eits udah-udah Bang, jangan diteruskan pikiran liarnya okkeh" canda Arrida hingga akhirnya keduanya tertawa.
"Ya udah Ar... ini... kamu terjemahkan nama unsur yang menggambarkan diri kamu" kata Uwais sambil menyerahkan buku yang tadi ditulisnya.
"Okke" Arrida menerimanya, kemudian memperhatikan tulisannya. Berfikir sejenak.
Arrida kamu itu Kalsium Nitrogen Titanium Kalium(potasium) dan Cupprum(tembaga) Tellurium'
Lalu dia tuliskan nama-nama unsur yang di maksud.
Kalsium\= Ca, Nitrogen\=N, Titanium\=Ti Kalium(potasium)\=K dan Cupprum(tembaga)\=Cu Tellurium\=Te
Dan hasilnya:
"Arrida kamu itu Ca-N-Ti-K dan Cu-Te"
Arrida tersenyum membaca hasil terjemahan nama unsurnya.
"Waa ini pujian bener- bener tepat banget ya...kakak tau ajah" Kata Arrida tersenyum menatap Uwais dan mengerjapkan matanya sekali lagi.
"Aishh... anak ini....malah menggoda gini ya"kata Uwais tersenyum sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
Arrida pun tersenyum melihat reaksi Uwais. Gemas.
...🌸🌸🌸🌸🌸...