Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
56. Hatiku Padamu, Kak


__ADS_3

Perahu melaju dengan sangat tenang, hanya menggunakan dayung. Karena mesin perahu sedang rusak.


"Tunggu ya" perintah Uwais sambil berdiri


"Mau apa kak"


"Mau nyobain mendayung perahu" Kata Uwais.


Akhirnya bersama bapak nelayan, yang diketahui bernama pak Ahmad, Uwais pun ikut mendayung perahu.


"Kamu mau nyoba Ar"


"Iya coba sini kak"


Arrida mengambil dayung dari tangan Uwais lalu mencoba mendayung. Tapi tidak segampang yang terlihat, mendayung ternyata terasa berat, bahkan yang ada Arrida hanya menyipratkan air saja.


Dan pada akhirnya hanya ada tawa diantara mereka bertiga.


"Sini, biar aku lagi aja" Uwais mengambil kembali dayung dari tangan Arrida. Lalu membantu bapak Ahmad mendayung.


Sekitar lima belas menit, akhirnya mereka pun tiba di pulau kecil yang dimaksud. Uwais segera turun disusul kemudian Arrida. Begitu mereka turun dari perahu, mereka langsung disuguhi batu-batu karang dengan bentuk-bentuk yang unik dan indah.


🌼


Kini mereka sedang berjalan berdua di pasir putih dengan santai menuju batu karang. Mereka memilih duduk di salah satu batu karang, yang tidak terlalu besar juga kecil.


"Kakak pernah kesini?" tanya Arrida pada Uwais. Ia biarkan kakinya terkena air pantai hingga atas mata kaki.


"Belum" Jawab Uwais singkat. Ia juga ikut membiarkan kakinya terkena air pantai.


" Kok kakak tau tempat ini"


"Waktu pulang tadi....kita nyampe kampung nelayan ini menjelang subuh, karena kehabisan bahan bakar, dan kita mencoba minta bantuan pada penduduk setempat.... Alhamdulillah kita pun bisa mendapatkan bahan bakar... Pak Ahmad lah yang nolongin kita, terus menurut pak Ahmad ada pulau kecil berisi batu batu karang yang indah, dia menawarkan akan mengantar kita..... Tapi karena kita tidak bermaksud liburan, akhirnya kita gak sampai ke pulau kecil ini"


"Oh, berarti....." terjeda, Arrida tidak meneruskan kalimatnya.


" Kakak baru pulang?" tanya Arrida memastikan.


"Iya, maaf ya Ar..."


Arrida terdiam, matanya melirik Uwais.


"Untuk apa?" tanya Arrida sambil memainkan kakinya di air. Ingin sekali rasanya dia bertanya kenapa selama ini Uwais tidak menghubunginya.


"Aku tidak menghubungimu selama hampir dua bulan ini"


Deg....


Ternyata Uwais bisa membaca apa yang ada di pikiran Arrida. Gadis itu hanya menunduk. Ada nyeri di hati yang kembali terasa. Dia kembali mengingat seakan dirinya diabaikan. Rasa malu, rasa tak berharga, rasa kecewa, dan rasa marah menjadi sesuatu yang sangat sulit dilampiaskan.

__ADS_1


Arrida memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan perasaannya. Namun entah kenapa, bukannya tenang, malah Arrida menjadi ingin menangis.


"Ar" panggil Uwais pelan. Ia tau gadis kesayangannya itu sedang menahan segala rasa yang tidak menentu yang selama ini dipendamnya.


"Beri aku alasan kak" Kata Arrida dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terakhir kita ketemu, kakak bilang, kakak akan menghubungiku, kita akan bicara, tapi mana...


bahkan selama hampir dua bulan aku nungguin kakak tanpa kepastian" Ah, akhirnya jatuh juga air mata Arrida.


"Kakak jahat.. tau gak??? aku merasa terabaikan, aku bahkan jauh-jauh hari mempersiapkan keberanian untuk menghadapi hari perpisahan sekolah, hanya untuk bicara ma kakak, tapi...kita tidak sempat bicara ... dan bodohnya lagi, disaat kakak bilang akan menghubungiku, nyampe sekarang aku nungguin kakak, aku menyedihkan banget kan?" Arrida sedikit terisak.


"Nggak Ar.... kamu gak menyedihkan, kamu sangat menyenangkan, makasih udah nungguin aku.. maafkan aku selama ini gak ngehubungi kamu, karena kita gak mungkin bicara kalau cuma lewat telepon"


Uwais mulai menjelaskannya perlahan. Sementara Arrida mulai mengusap air matanya.


"Kenapa aku menjanjikan aku akan menghubungimu dan kita akan bicara, karna aku pikir aku akan kembali secepatnya setelah pemakaman nenek, mungkin dalam waktu tiga hari... ternyata mamah bilang tunggu sampai 7 harinya, bahkan papah sampai ambil cuti kerja selama 7 hari, dan hanya mas Fariz yang pulang kesini"


Arrida mulai tenang.


"Tapi ternyata setelah hari ketujuh nenek meninggal, kakek nge-drop, dan dirawat... sebenarnya banyak saudara dan keluarga lain yang bisa nungguin, tapi berhubung anaknya kakek hanya mamah, mamah lah yang merawat, mamah juga gak ingin sampai kejadian seperti nenek, hanya mendapat kabar sudah meninggal tanpa bisa merawatnya"


Arrida teringat ketika sapaan Bu Tania terakhir kalinya yang mengatakan dirinya makin cantik. "Pantes saja wajah Bu Tania saat itu sendu banget." gumam bathin Arrida.


"Dan setelah seminggu kakek dirawat, kakek meninggal dunia nyusul nenek"


"Inna lillahi wa innailaihi roji'un" Arrida turut berbela sungkawa.


"Tapi minimal kakak kasih tau aku, kakak dimana, dan gimana apalagi setelah kakak dapat bingkisan dari aku" kata Arrida sedikit merengek. Ia seakan protes apa susahnya sih komunikasi lewat ponsel


"Ar dengar.... bingkisan dari kamu ku simpan baik-baik di dalam lemari dan belum aku buka... rencananya akan kubuka sekembalinya dari rumah nenek yang kukira waktunya hanya tiga hari disana.... ternyata aku baru bisa pulang jam 7 pagi tadi. Maaf aku baru membacanya pagi ini dan aku ga pernah sengaja mengabaikan perasaan kamu"


**flash back on**


Ketika Uwais telah tiba di rumahnya, ia segera ke kamarnya, dan hanya ada satu tujuannya, yaitu lemari bajunya. Ia sudah tidak sabar ingin segera membukanya.


Bingkisan itu dibukanya perlahan, dan ternyata isinya adalah sebuah jaket. Dan jaket itu jaket miliknya yang pernah dipakai Arrida saat pertemuan mereka pertama kalinya yang dipakai saat di rumah sakit.


Lalu terselip sebuah surat dengan amplop warna biru muda, motif awan dan gelembung. Segera ia membuka dan membacanya.


To: Kak Uwais


Hujan bawa kekasih hati


Hujan tunjukkan arti cinta


Hujan sambut sebuah doa


Sepertinya Tuhan ingin ku bersamamu

__ADS_1


kau yang terindah


kau yang terbaik


kau yang teristimewa


kau lah satu-satunya


ku ingin selalu menjagamu


ku ingin kau selalu bahagia


ku selalu merindukanmu


ku harap kau tau....


Dari sini ku mencintaimu


Dari sini ku menyayangimu


Dari sini ku merindukanmu


Dari hati ku ucap 'I Love you'


Hatiku padamu Kak


Arrida


Sangat simpel surat itu. Dan saat Uwais membacanya, tak henti senyumnya terbit di wajah tampannya. Bukan hanya karena bahagia, tapi juga ada rasa lucu yang menggelitik. Bagaimana bisa gadis kecil kesayangannya itu, menuliskan sebuah surat dengan lirik lagu yang dia ciptakan, dan yang pernah dinyanyikannya spesial di akhir lomba akustik saat HUT sekolahnya tempo hari. Dan tidak habis pikirnya lagi, kenapa bisa gadis itu sampai hafal betul lirik lagunya, padahal dia hanya menyanyikan satu kali penampilan saja ketika itu.


Namun, di bagian akhir surat... ada sebuah kalimat yang sukses membuat hati Uwais berdebar hebat.


'Hatiku Padamu Kak'


Getaran aneh dan indah itu semakin membuncah di hatinya. Rasanya sudah tak sabar dia ingin menemui gadis kesayangannya itu. Dia berpikir ini berarti Arrida telah mengungkapkan perasaannya?


Namun tiba-tiba ada rasa nyeri di hati Uwais.... Selama hampir dua bulan ini dia tidak memberikan kabar pada Arrida. Bukankah gadis itu akan berpikir jika dia telah menolaknya secara halus karena mungkin dianggap telah mengabaikannya selama hampir dua bulan??? Berjuta penyesalan pun berkecamuk, dia benar-benar ingin segera meminta maaf dan meluruskan masalahnya.


Ia segera berlari menuju motornya yang terparkir di garasi, hingga membuat Bu Tania keheranan.


"Mau kemana Wais?" tanya Bu Tania, dia mengikuti Uwais hingga di garasi


" Ada hal penting mah, mau ketemu kehidupan ku dan masa depanku, restui ya mah" ucapnya sambil mencium punggung tangan Bu Tania.


Bu Tania hanya mengeryitkan keningnya tak mengerti, namun senyumnya selalu terbit untuk anak kesayangannya itu.


"Ya...mamah restui kamu selalu... Ya sudah hati-hati" kata Bu Tania asal menjawab karena sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti maksud yang Uwais ucapkan


Dan sebelum bertemu dengan gadis kesayangannya itu, terlebih dahulu dia pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


**flash back off**


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2