
"Kalian tau, kepiting disini sangat sangat jarang muncul, dan kita tidak pernah tau kapan munculnya, kalo kata orang kepiting itu biasanya muncul setiap matahari terbit atau terbenam, disini tidak mungkin terjadi, dia akan keluar karena memang ingin keluar ada hal yang disukainya, aneh kan?" Pak Ahmad masih menjelaskan soal kepiting
Arrida dan Uwais mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh pak Ahmad.
"Itu ada dongengnya... konon katanya kepiting itu adalah jelmaan seorang raja yang terkena sihir,dia dibuang di pulau ini, hingga suatu ketika ada seorang gadis terdampar di pulau kecil ini. Gadis itu sangat baik, ia rela merawat si raja kepiting dan akhirnya mereka menikah serta saling melindungi, si gadis itu mati karena melahirkan semenjak itulah di selalu mengurung diri dan hanya keluar jika dia merasa gadis itu datang ia berjanji akan menemui orang-orang yang baik dan ikhlas seperti gadis tersebut ,dan membalas kebaikannya, dengan mengabulkan keinginannya"
"Itu cuma dongeng kan pak" Arrida menyela
"Iya, dongeng saja, tapi dipercaya penduduk sini, gak jarang mereka sengaja kesini biar bisa ketemu kepiting, tapi kenyataannya dia tidak muncul. Tapi kalau tiba-tiba saja dia muncul, maka penduduk sini akan suka cita, dan seringnya apa yang diinginkan bisa terjadi"
Arrida nyengir tidak dapat berkomentar apapun. Begitupun dengan Uwais, dia juga hanya diam, tidak memprotes cerita itu. Tampaknya mereka hanya tidak ingin membuat pak Ahmad kecewa dengan ceritanya.
" Oiya, ada satu lagi keunikan disini, soal batu karang"
"Kenapa dengan batu karang pak?"
"Ini hanya untuk pasangan yang belum menikah... masing-masing batu ada maknanya, ada bahagia, ada rindu, ada kesombongan, ada perpisahan, ada sakit hati Semua bisa dilihat di batu mana kalian pertama kali duduk"
"Maksudnya?" Arrida juga penasaran dengan ceritanya
"Tadi kalian duduk di batu yang mana?"
"Itu pak, batu yang agak besar, tidak terlalu tinggi, kalau dilihat dari sini lurus pak, disamping batu karang yang menjulang tinggi"
"Oh yang itu.... kok pas banget .. luar biasa kalian ini... "pak Ahmad tertawa bahagia
"Kenapa pak?" Uwais bertanya kebingungan
"Itu adalah batu cinta, coba kalian perhatikan, batu itu seperti bentuk hati... artinya kalian pasti menikah"
Uwais dan Arrida terkejut. Namun dibalik ketidakpercayaan mereka dengan cerita yang disampaikan pak Ahmad, mereka lebih memilih mengaminkan hal yang baiknya. Bukankah semua sudah diatur dan ditentukan oleh Tuhan? kita tinggal berusaha dan menjalaninya dengan baik.
"Kalian belum menikah kan?"
"Belum pak! doanya aja" jawab Uwais sambil tersenyum lucu. Sementara Arrida hanya tersipu. Keduanya bingung... Kenapa bapak yang ada dihadapan mereka ini begitu jujur dan polos menanyakan hal nikah pada mereka. Tidakkah terlihat kalau mereka masih kecil dan salah satunya masih dibawah umur?
"Ah anak kota... kalo di kampung sini... anak seusia kalian pasti sudah menikah"
__ADS_1
Arrida dan Uwais menelan salivanya dengan sangat berat. Mereka terdiam namun sedikit menyunggingkan senyuman kikuk milik mereka. Speechless
"Ah ya sudah, ayo kita pulang, kita obati kaki nak Rida, bapak punya minyak mujarab untuk luka dan keseleo" Ajak pak Ahmad yang kemudian di-iyakan oleh keduanya.
Sekali lagi Uwais menggendong Arrida hingga naik ke perahu. Padahal Arrida hanya meminta di tuntun saja. Namun Uwais memaksa agar Arrida mau digendong. Arrida pun menurut.
Dan akhirnya sampailah mereka di kediaman pak Ahmad. Rumah semi permanen yang sangat sederhana, namun keadaan nya sangat rapi dan bersih. Satu kata dalam benak Arrida dan Uwais untuk rumah pak Ahmad "nyaman"
Arrida duduk dengan kedua kakinya berselonjor. Kemudian Uwais mulai mengkompres punggung kaki Arrida yang terkilir menggunakan es batu yang sudah dibalut kain. Selanjutnya, ia mengusap-usap dengan sedikit memijatnya menggunakan minyak 'mujarab' yang diberikan oleh pak Ahmad.
🌼🌦️🌼
"Kalian sengaja kesini?" tanya Arrida pada Nana dan Hani. Mereka sengaja datang ke rumah Arrida karena ingin menjenguknya. Mereka sengaja tidak ke sekolah untuk mengikuti class meeting. Dan kini mereka berada di ruang keluarga.
"Iyalah Da....kan kaki kamu sakit" jawab Nana.
"Kan cuma kaki, gak sampai lemas terkapar"
jawab Arrida, membuat Nana cengengesan.
"Da, kemarin ketemu kak Uwais kan?"tanya Hani mengganti topik baru
"Kalian jalan?"tanya Nana
"Iya, kak Uwais ngajakin ke pantai"
"Trus?" tanya Nana dan Hani hampir bersamaan.
"Apanya yang terus?"
"Hubungan kalian!" Nana penasaran.
"Ya gitulah" Arrida mengedikkan bahunya.
"Apanya yang gitulah?" Hani gantian penasaran.
"Ya udah jalan aja"
__ADS_1
"Jadi kepastian statusnya apa?"tanya Nana mendesak, dia makin penasaran
"Jalani aja ...gitu"
"Lah emang kak Uwais gak bilang kalau sekarang kita jadi pacar gitu?" Masih Nana yang bertanya
Arrida menggeleng.
"Dia katakan aku cinta kamu gak? atau minimal dia membahas isi surat pernyataan cinta kamu?"
"Nggak, dia gak katakan cinta dan dia juga gak bahas isi suratku"
"Lalu?" Kali ini Hani yang bicara setelah tadi Nana terus yang bertanya.
"Yaaa jalani aja"
"Kesimpulannya?" Nana masih penasaran.
"Emang penting ya status?" Arrida bertanya. Ia mulai bimbang.
"Ya iyalaaah, dengan gitu kamu gak ragu lagi... jadi jelas ada labelnya... istilahnya 'sudah ada yang punya'.... kalo kalian pacaran.... berarti gak akan ada yang ganggu... kalau pun sampai kamu cemburu... berarti wajar... kan pacarnya sendiri, kamu mau perhatian juga ... gak papa... itu wajar...Beda kalo gak punya status... sok sok perhatian dan cemburu kan kesannya jadi lucu," Kata Hani panjang kali lebar
Arrida tertegun...ia baru menyadari hal itu.... bagaimana bisa seharian kemarin mereka bersama namun sama sekali tidak membahas isi suratnya, tidak membahas ke depannya bagaimana, dan tidak pula ada yang mengatakan 'I Love you'..
Arrida menepuk keningnya pelan.... dia sendiri tidak habis pikir dengan apa yang terjadi kemarin... mengalir begitu saja.
"Atau jangan-jangan.... bisa saja kak Uwais melakukannya karena kasihan sama kamu, Da" Nana memberi kesimpulan sekedarnya. Asal.
Oh tidak, apa yang Nana katakan barusan cukup menyentil hatinya kali ini. Namun ia teringat sesuatu.
"Pokoknya kalian harus saling jaga.... soal yang tadi bapak ceritakan kalian tidak percaya pun tak apa, tapi kalian harus saling percaya, tak perlulah orang lain tau gimana-gimana, karena yang tau dan yang menjalaninya adalah kalian" Ini adalah kata-kata terakhir dari pak Ahmad saat mereka berpamitan pulang.
Memang diantara keduanya kemarin tidak ada yang mengatakan cinta, tidak juga saling memperjelas status hubungan mereka, yang jelas .... kemarin Arrida tau kalau Uwais punya rasa yang tak biasa hadir di hatinya, bahkan yang ada dalam ingatan dan hatinya, selain Tuhan dan orang tua hanya ada dirinya. Dan semua itu sama persis dengan apa yang dia rasakan. Bukankah itu cukup? Apakah perlu dia menanyakan pada Uwais 'status kita apa?'
Arrida menarik nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya ada kebimbangan di hatinya, apalagi mendengar apa yang Nana katakan bisa saja kalau Uwais itu hanya kasihan.
"Yaaa... gak tau lah Na, Han... aku hanya akan menjalaninya aja dan ikuti alurnya... kita lihat nanti kak Uwais akan seperti apa dan bagaimana" Jawab Arrida memberi kepastian pada kedua sahabatnya.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...