Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
98. Dekapan rindu.


__ADS_3

Orang yang diinjak oleh Arrida mulai bangkit, ia membalikkan tubuhnya, kemudian mencengkram kaki Arrida, menariknya, hingga Arrida terjatuh.


Disaat yang sama sebuah motor berhenti di dekat mereka. Tepat di saat kelimanya akan menyerang Arrida, sebuah tarikan baju bagian belakang di salah satu dari kelima orang itu membuatnya mundur beberapa langkah, karena lehernya merasa tercekik.


Langsung saja, sebuah pukulan melayang ke wajah orang tersebut hingga tersungkur. Keempat lain menoleh ke belakang. Mereka mulai beraksi hendak mengeroyok orang yang turun dari motor. Namun ternyata orang ini bisa mengahadapi lawannya, pukulan dan tendangan silih berganti saling mengenai tubuh mereka.


Arrida bangkit. Ia ikut membantu, menyerang dengan pukulan, tendangan dan tak lupa ada tangkisan sebagai pertahanan. Tendangan ke arah belakang pun bisa Arrida lakukan dan tepat mengenai wajah si penjambret. Hingga orang yang menolong Arrida terkejut, bahkan menggeleng karena takjub melihat aksi Arrida. Kelima orang itu kalang kabut menghadapi Arrida dan orang tersebut. Mereka pun memilih melarikan diri dan meninggalkan keduanya dengan muka dan tubuh yang penuh lebam.


"Kaaaak!" teriak Arrida sambil berlari kemudian mendekap orang tersebut. Uwais. Arrida memanggilnya dengan bahagia dan bersemangat. Ia sudah lupa dengan kegundahan dan kegalauan hatinya pada cowok pujaannya itu.


Uwais tersenyum dan membalas dekapan gadis kesayangannya itu dengan sangat erat. Perasaan rindu tak dapat lagi dibendung hatinya.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Uwais pada Arrida.


Gadis itu hanya mengangguk dalam pelukan hangat kekasih hatinya itu. Ya, dia pun sangat merindukannya.


"Ada yang luka?" tanya Uwais sambil bermaksud melepaskan dekapannya, ia ingin memeriksa adakah luka di tubuh gadis kesayangannya itu.


"Emmmh!" Arrida malah makin mengeratkan dekapannya. Ia tidak ingin melepaskannya. Ia masih ingin berlama-lama merasakan kehangatan dari Uwais.


Cowok tampan itu pun tersenyum, ia merasakan betapa manjanya gadis si pemilik hatinya saat sekarang ini. Akhirnya, ia membiarkan gadis itu tetap merasakan kehangatan darinya dengan penuh cinta dan kerinduan. Tangannya terulur membelai lembut rambut milik Arrida dan mencium wanginya. Keduanya terdiam, saling merasakan kehangatan dan kenyamanan serta ketenangan. Hingga sebuah kecupan manis mendarat di pucuk kepala gadis kesayangannya itu.


Arrida tak menolak, ia makin membenamkan wajahnya di dada bidang milik Uwais.


"Kak, aku kangen kakak, aku sayang kakak" kata Arrida dalam hatinya. Ia tidak ingin mengatakannya secara langsung.


"Ar, aku merindukanmu, aku menyayangimu" gumam bathin Uwais. Sebenarnya ia ingin mengatakannya langsung, namun dia ingat akan perubahan Arrida selama liburan ini. Ia sedang menyelami apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasih hatinya itu.


🌼


"Kita pulang sekarang ya?" kata Uwais memastikan apakah gadisnya itu ingin pulang atau tidak, atau masih ingin berlama-lama di tempat tersebut.


Arrida mengangguk sambil melepaskan dekapannya.


"Kak, aku laper,"


"Ya udah, kita cari makan dulu ya,"


"Aku jadi pengen bakso Pluto, apa masih ada?"


"Masih."


"Kakak tau?"


"Aku tadi bilang ma Kirno, siapin dua porsi bakso untuk kamu,"


"Kok bisa?"


"Karena aku yakin, hujan gini kamu pasti milih yang anget-anget,"


Arrida tersenyum sambil mengangguk.


"Ayuk nunggu apa lagi." kata Arrida sambil menarik lengan Uwais menuju motor yang diparkirnya.


Kini mereka sudah menaiki motor. Uwais segera menyalakan mesin motornya.


"Kak tunggu, kita ke stasiun dulu ya, barangkali taksi yang ku pesan udah datang ... biar aku batalkan transaksinya, tapi aku pengen ketemu orangnya dulu."

__ADS_1


"Okke," Uwais pun segera melajukan motornya menuju stasiun. Benar saja, taksi yang dipesan Arrida sudah ada. Akhirnya Arrida memohon maaf karena membatalkan pesanannya dan memberi biaya sebagai ganti pembatalan.


Setelah itu, mereka pun segera menuju resto. Selama perjalanan, mereka hanya diam menikmati semilirnya angin malam dan merasakan betapa dinginnya suasana malam itu, apalagi setelah turunnya hujan.


Arrida mendekap erat tubuh Uwais dan menyandarkan kepalanya di punggung kekar milik Uwais. Saat ini ia hanya ingin seperti itu. Merasakan ketenangan dan kenyamanan.


Sekitar lima belas menit, mereka pun tiba di resto. Resto sudah tutup. Hanya ada Kirno dan Fika yang sedang membereskan dan membersihkan resto. Sementara Arman dan Andika sedang menyiapkan bahan menu untuk olahan esok hari.


"Alhamdulillah, kalian dateng juga," sapa Fika pada Uwais dan Arrida. Dia langsung mendekap Arrida kemudian berganti mendekap Uwais.


"Gimana keadaan kalian?" tanya Fika kemudian


"Alhamdulillah, baik Mbak." jawab Arrida.


"Istirahatlah, ntar mbak siapin minuman hangat untuk kalian berdua," kata mbak Fika tanpa berbasa-basi.


"Makasih ya, Mbak."Kata Arrida dan Uwais hampir bersamaan.


🌼


"Kakak gak makan?" tanya Arrida saat hendak menyuapkan bakso ke dalam mulutnya. Mereka duduk di tempat favorit, tempat mereka pernah menikmati secangkir coklat hangat. Sebelumnya, Fika telah membuatkan segelas susu hangat dan secangkir coklat panas. Kemudian Arman menyiapkan dua mangkok bakso untuk Arrida.


"Ini buat kamu, makanlah!" seru Uwais. Ia mendorong pelan dengan jemarinya, mangkuk bakso yang ada dihadapannya.


"Wah, yang bener, Kak? Ini dua-duanya buat aku?"


Uwais mengangguk dan tersenyum.


"Kakak kok tau sih kalo aku laper banget."


Arrida pun mengangguk dan melanjutkan makannya. Sementara Uwais hanya memperhatikan Arrida, senyumnya tidak berhenti saat menatap wajah cantik gadis kesayangannya itu.


"Kak, jangan ngelihatin aku kayak gitu,"


"Kenapa?"


"Aku kan malu." ucap Arrida dengan wajah cueknya.


"Hahaha, Ar, Ar ... kamu bener-bener lucu!" kata Uwais. Ia benar-benar merasa gemas dengan sikap Arrida saat ini. "Udah, habiskan ya, biar kamu bisa segera istirahat"


"Iya,"


"Malam ini kamu tidur aja disini"


"Hmm" kata Arrida mengangguk sambil mengunyah makanannya.


"Ar, kamu gak papa? Ada yang luka atau sakit?" tanya Uwais penuh kekhawatiran. Tadi semenjak tiba di resto, ia tidak sempat menanyakannya.


"Gak papa, Kak, cuma masih kerasa aja ada yang nyut-nyutan di badan"


"Hmm, ya udah nanti dibalur minyak pijat sama mbak Fika ya!"


"Iya!"


"Tadi itu kamu luar biasa banget Ar, kamu berani banget lawan mereka"


"Tapi aku takut lho, Kak ..."

__ADS_1


"Kenapa kamu gak lari?"


"Udah! Tapi ketangkep!"


"Hmm??"


"Jadi, tadi itu tas aku di jambret, aku kejar dia sambil minta tolong... dia lari sampai ke sebuah gang .... Aku gak melanjutkan ngejar, firasatku gak enak .... aku langsung pergi dari situ ... Eh, taunya, dia balik ngejar aku, bareng keempat kawannya." cerita Arrida bersemangat. Ia sampai melupakan untuk memakan baksonya.


" Trus, salah satu dari mereka bisa ngejar aku, tapi bisa aku lawan, dia udah ga berdaya ... Sayangnya, aku tadi malah dijatuhkan orang itu dan saat itu aku bener-bener ketakutan, untung kakak dateng tepat pada waktunya."


"Katakan, sejak kapan kamu bisa bela diri?"


"Kakak tau??"


"Hei ... Ngelihat aksi kamu tadi saat ngelawan mereka, semua orang juga bakal tau kalau kamu punya ilmu beladiri!" jelas Uwais


Arrida nyengir.


"Jadi, sejak kapan?"


"Setelah kejadian waktu kita nonton konser ... Aku mutusin ikut ekskul beladiri, aku pikir, ini penting!"


"Apa alasannya?" kata Uwais sambil mengulurkan tangannya mengusap kepala Arrida. Ia benar-benar gemas dan bangga dengan gadisnya itu.


"Agar aku bisa jaga diri terutama di saat kakak gak ada! Soalnya ..." Arrida menjeda kalimatnya saat Uwais masih mengusap pucuk kepalanya.


"Soalnya apa, hm?" tanya Uwais sambil menurunkan tangannya ke atas meja.


"Soalnya, kalo kakak gak ada, bagaimana mungkin aku bisa menggenggam tangan kakak?" tanya Arrida sambil menarik tangan Uwais lalu menggenggam erat tangan itu.


"Maaf, kalo aku tidak selalu ada disisi kamu." kata Uwais sambil mengeratkan genggamannya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers


Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini


Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya


Sehat selalu ya kakak readers


Hatiku Padamu Kak readers pake banget...


Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa


πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–Oh ya Kak readers mampir juga yuks karya temen aku kak Gupita ... pokoknya kereeeen pake banget πŸ˜πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘πŸ»πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°




HAPPY READING YAAA 😘😘😘


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2