Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
118. Menyelamatkan diri


__ADS_3

Perasaan Uwais benar-benar kacau saat ini. Setelah kepergian Bobby, ia mendapat kabar dari Lani jika Arrida tidak ada di rumah sakit.


"Ada apa Wais?" tanya Arman, saat melihat Uwais sudah menutup teleponnya.


"Arrida gak ada di rumah sakit, Bang."


"Ya Allah, sabar ya Wais ...." Arman mencoba menenangkannya.


"Padahal, sore ni niatnya aku mau nganter mbak Fika pulang, biar selama menyelesaikan masalahnya dengan Bobby, mbak Fika disana aja ... Disana ada papah dan mas Fariz, aku yakin mbak Fika pasti bakal lebih aman."


Arman mengangguk mengerti.


"Tapi kalo kayak gini, kepulangan mbak Fika bakal tertunda, karna aku harus nyari Arrida ... Tapi kalo aku nyari Arrida dulu, aku gak yakin keselamatan mbak Fika, Bobby pasti akan terus kesini tanpa sepengetahuan pak Radith, dan mungkin akan terus memaksa mbak Fika agar ikut dengan dia!"jelas Uwais kebingungan.


"Biar aku yang antar Fika pulang!"usul Arman.


"Bener bang? Gak ngerepotin?"


"Kamu kayak sama siapa aja."


"Oh, Alhamdulillah, akhirnya masalah Mbak Fika bisa diatasi, sekarang tinggal masalah Arrida." Uwais sedikit bernafas lega.


"Ada apa, Bang?" tanya Andri pada Uwais. Dia baru saja datang ke resto bersama Arka untuk makan siang. Ia melihat Uwais dalam keadaan yang bingung.


"Arrida, Ndri ... Dia dibawa orang pergi dari rumah sakit!"


"Apa? Diculik lagi?" tanya Andri sambil geleng-geleng kepala.


"Iya!"jawab Uwais singkat.


"Ya ampun, ada masalah apa sih dia? Kenapa banyak banget orang yang nyulik dia?" tanya Andri lagi, dia ikutan bingung.


"Aku harus segera ke rumah sakit, mudah-mudahan aja yang Lani kabarkan gak bener."


"Tunggu, aku ikut, aku suka yang seperti ini, kalo bener penculikan aku bisa ngehubungin Mas Diaz."kata Arka.


Uwais dan yang lainnya bingung.


"Gak usah bingung Bang, bang Arka ini kan jurusan kriminologi, kenalannya banyak di kepolisian, bahkan Mas Diaz, abangnya, juga seorang intel."jelas Andri.


"Ya udah, ayo kita pergi! Tunggu apalagi?" ajak Arka.


"Bukannya bang Arka mau makan ya?"tanya Uwais.


"Ah, aku lebih suka kasus ketimbang makan." kata Arka.


"Yah Bang, tapi aku suka makan ketimbang kasus." keluh Andri pada Arka.


"Kamu disini aja, makan ... trus pulang, atau ntar nyusul ke rumah sakit." ujar Arka kemudian.


"Yah, si abang, bukannya kita kesini mau makan bareng ya." Andri masih protes.


"Udah, makannya disana, yuk ikut aja!"kata Arka sambil menarik baju Andri agar keluar dari resto. Ia tidak peduli dengan wajah Andri yang sudah ditekuk. Sementara yang lain hanya tersenyum.


"Bang .... "panggil Uwais pada Arman.


"Sudah pergilah!" kata Arman


"Titip mbak Fika dan resto yang Bang!" pinta Uwais pada Arman.


"Iya! Tenang aja soal resto dan Fika, semoga Arrida cepet ditemukan ya." kata Arman menenangkan Uwais.


"Aamiin."kata Uwais sambil berlalu dari hadapan Arman.


🌼


"Ya udah, kak, aku pulang aja ya, biar aku ikut bantu-bantu di resto!" pamit Lani pada Uwais. Sebelumnya mereka sudah mencari keberadaan Arrida di tempat rawat.


"Ya udah, hati-hati!"

__ADS_1


"Iya kak, semoga Arrida cepet ketemu."


"Aamiin. Aku nyusul Andri dan Arka ke ruang kontrol CCTV dulu ya."


Lani mengangguk kemudian mereka pun berpisah.


🌼


"Lihatlah, Wais, ini Arrida, dibawa oleh perawat laki-laki, dia melewati pintu darurat, sepertinya Arrida memang tidak sadarkan diri. Lihat, setelah sampai di depan pintu, Arrida digendong. Dia tidak melewati pintu utama." jelas Arka sambil memperlihatkan gambar di beberapa monitor.


"Berarti ini bener penculikan." kata Uwais.


"Iya, sekarang kamu lihat tempat parkir, dia masuk mobil berwarna putih, kita shoot platnya, ntar aku akan bekerja, aku akan lacak keberadaannya." kata Arka.


"Sementara aku lacak, kamu ingat-ingat deh dia punya musuh apa nggak ... Kalau iya, dan ada yang kamu curigai, itu bisa menjadi petunjuk buat penyelidikan selanjutnya."


"Mungkin Laura," curiga Uwais. Menurutnya, hanya dia yang berpotensi mencelakai Arrida, karena Bryan sudah dijamin tidak akan mengganggu lagi gadis kesayangannya itu.


"Punya nomer hapenya?" tanya Arka pada Uwais.


"Punya,"


"Okke kita akan lacak dan sadap nomernya."


"Makasih ya, Bang"


"Gak usah sungkan, aku seneng kok, dapet kasus sebelum lulus, lagian ini juga dibantu ma mas Diaz dan rekannya, biar cepet, kayaknya penjahatnya bukan penjahat kelas kakap, hanya orang baik yang tidak bisa bersikap baik."


Uwais mengangguk mengerti.


"Tenang, pasti Arrida bakal cepet ketemu."


"Iya, Bang, makasih banget atas bantuannya."


🌼


"Gimana? Dia sudah sadar?" tanya seorang wanita pada dua orang laki-laki yang tampaknya sedang berjaga di sebuah rumah tua besar tak berpenghuni yang jaraknya sangat jauh dari pemukiman warga. Dia Laura.


"Kalo sekarang?"


"Gak tau Bos, belum dilihat lagi,"jawab lelaki yang memiliki tato burung elang di punggung telapak tangannya, bernama Odi.


"Lagian Bos, tumben amat sih, nyuruh nyulik, gak kayak biasanya aja, tabrak terus lari." kata Oji lagi. Mereka memang sudah biasa mendapat perintah untuk menabrak seseorang dan membuatnya seperti tabrak lari. Dan itu terjadi pada Ratih dan Metha.


"Sengaja! Gue mau main-main dulu ma ni cewek, soalnya kemaren dia berani lawan gue, gak kayak cewek-cewek sebelumnya, lemah!!"


"Oh, terus, kenapa harus ke rumah tua ini? udah maghrib, agak merinding juga di sini, Bos!" kata Odi, lelaki bertato elang.


"Bego!! ya jelas karena ini jauh dari rumah warga!" bentak Laura. "Udah, minggir, gue mau masuk! Ada alat penerangnya kan?"


"Udah bos!"jawab Oji. Padahal dia hanya menyediakan lampu emergency yang menggunakan baterai.


🌼


"Hei jal*ng!" kata Laura sambil menendang kaki Arrida dengan sangat keras. Di tangannya ada sebuah pisau bedah, sepertinya dia ingin merusak wajah Arrida. Sementara Arrida sedang duduk terkulai di sebuah kursi. Sebenarnya, dia baru saja sadar ketika Laura masuk, namun ia berpura-pura seolah-olah dia belum sadarkan diri.


Arrida meringis kesakitan karena tendangan Laura, ia pun membuka matanya kemudian ia menendang perut Laura hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.


"Sial! Ternyata malah udah sadar!! Belum sempet gue ukir tu wajah!"


"Haha ... Kamu lagi mbak! Belum kapok?" tanya Arrida sambil mengembalikan kesadarannya pelan-pelan, karena kepalanya masih sangat terasa berat.


Tanpa banyak bicara, Laura langsung mendekati Arrida dengan tangan yang memegang pisau terangkat ke atas seperti akan menikam tubuh Arrida.


Sebelum pisau itu mengenai tubuhnya, Arrida segera melayangkan tendangan ke tangan Laura, sehingga pisau yang dipegangnya terlempar lumayan jauh. Setelah itu, ia tendang lagi bagian perut Laura, hingga Laura tersungkur. Kemudian Arrida mengambil pisau milik Laura yang terlempar tadi, dan dengan segera, ia menghampiri Laura yang baru saja berdiri. Namun, Arrida tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera melayangkan tendangannya kembali, kali ini di wajah Laura, tepat mengenai pipinya, hingga cairan merah keluar dari sudut bibir Laura.


Gadis itu memegang pipinya sambil menahan rasa sakit yang tidak terkira.


"Maaf mbak, sebelum wajah saya yang diukir, gimana kalo mbak ngerasain dulu ukirannya!" ucap Arrida sambil mendekat ke arah Laura yang kesakitan, ia segera menarik satu tangan Laura lalu memutarnya ke belakang punggungnya, begitupun dengan tangan satunya lagi, sehingga kedua tangan Laura terkunci di belakang punggungnya. Satu tangannya yang memegang pisau ia arahkan ke pipi Laura.

__ADS_1


"Hei lepaskan!!" Laura memberontak.


"Gak akan!" tegas Arrida.


"OJI ... ODI ... !!!" Teriak Laura memanggil kedua anak buahnya.


Tak lama kemudian, kedua anak buah Laura pun datang.


"Kalo kalian berani mendekat, aku bisa ukir ni wajah bos kalian!" kata Arrida hingga menyebabkan kedua anak buah Laura tadi kebingungan, akhirnya mereka pun hanya diam memperhatikan dan mengikuti pelan-pelan langkah Arrida menuju pintu keluar.


"Kalian diam disitu!! Atau bos kalian ini, bener-bener saya ukir wajahnya!" ancam Arrida pada kedua anak buah Laura.


Laura juga bingung, ia tidak tahu harus berbuat apa atau memerintahkan apa pada anak buahnya, dia pun memilih diam sambil merasakan pipinya yang masih saja sakit karena tendangan Arrida.


"Mana kunci mobilnya? " tanya Arrida


"Gak akan gue serahkan!"


"Cepet berikan!"


"Gue yakin lo gak berani ngukir gue!"


"Oh ya?" Arrida juga sebenarnya memang tidak mungkin melaksanakan ancamannya. Namun dia harus benar-benar terlihat berani guna menciutkan nyali lawannya. Ia pun sedikit menekan ujung pisau ke pipi Laura hingga keluar darah dari pipinya.


"Gimana? Mbak mau kerjasama? atau mau makin dalem ni tusukannya?"


" Okke! Hei ambilkan kunci di tas gue!"


Akhirnya salah satu anak buah yang bernama Oji mengambil kunci mobil dari dalam tas Laura. Kemudian Arrida menyuruh agar Oji membukakan pintu mobilnya.


"Masuk!!" perintah Arrida sambil mendorong Laura masuk ke dalam mobil, di kursi penumpang bagian depan. Ia bermaksud agar kemudian Laura bergeser ke kursi kemudi, dengan maksud Laura lah yang menjadi supirnya, karena sebenarnya, selain dia tidak tau arah, dia sendiri belum terlalu bisa mengendarai mobil.


Tapi sayang, posisi ketika Laura baru saja masuk ke mobil, tidak disia-siakan oleh Oji, ia menarik tangan Arrida yang memegang pisau lalu dipukulkannya tangan itu beberapa kali ke mobil hingga akhirnya pisau itu terlepas dari tangan Arrida.


Paham kondisinya tidak baik, Arrida segera menendang alat vital milik Oji kemudian berlari sekencang mungkin meninggalkan rumah tua itu, walaupun dia tidak tau harus kemana.


"Sial! Kejar dia bodoh!" teriak Laura pada Odi yang dari tadi diam saja. Dia memang tidak menyuruh Oji karena lagi merasakan sakit yang luar biasa di bagian alat vitalnya. Odi pun berlari, tapi dia juga bingung ke arah mana Arrida tadi pergi, apalagi jalanan begitu gelap. Odi yang memang agak penakut akhirnya memilih kembali ke rumah tua.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers


masih setia ma Arrida dan Uwais


sehat selalu yaaa


Lopyuol 😘😘😘


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Kak readers mampir juga di novel keren karya sahabat literasi ku ya.... pokoknya bagus banget... 😍😍😍😘😘😘


Napen : Emy


Judul : It's me


ini Blurbnya:


Alice pernah mengalami kecelakaan, hingga membuat wajahnya terluka.


Semenjak itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.


Namun, diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice.


Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya?


Apakah pria itu akan menampakan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?


__ADS_1


......Happy reading yaaa😘😘😘......


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2