
Arrida membuka matanya perlahan. Ia mengerutkan keningnya, beberapa kali ia mengerjapkan mata, untuk mengumpulkan kesadaran yang telah hilang beberapa waktu. Gadis itu memindai ruangan, tampak asing. Ini bukan di kamarnya di asrama.
Lalu dia menyadari ada sesuatu yang menindih tangannya, tatapannya pun beralih ke samping kanan, ada kepala lelaki pujaannya tengah tertidur di atas punggung tangannya yang digenggam olehnya.
Walau tak mengerti apa yang sudah terjadi, namun Arrida bahagia, ketika membuka mata ada lelaki kekasih hatinya. Ia pun menyunggingkan senyumannya. Kemudian memiringkan tubuhnya dengan sangat perlahan agar lelakinya itu tidak terbangun.
Telunjuk dari tangan satunya yang tidak digenggam Uwais menyentuh pelan pelipis lelaki itu. "Kenapa ini kok luka?" gumam Arrida pelan. Namun ternyata, sentuhan dan suara pelan gadis itu justru membuat Uwais terbangun.
"Kamu sudah sadar, Ar? Gimana keadaanmu sekarang? Apa yang kamu rasakan, hm?" tanya Uwais masih penuh kecemasan. Ia kemudian bangkit dari duduknya di lantai kemudian beralih duduk di samping Arrida, tepatnya di bibir tempat tidur. Tangannya tak melepaskan genggamannya.
"Aku gak papa kak, cuma agak berat kepala aja, apa yang terjadi kak, kenapa aku ada disini?" tanya Arrida, kemudian ia bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.
"Beneran kamu gak papa?"
"Iya, kak .... Ini, kakak juga kenapa wajahnya lebam-lebam kayak gini?" Arrida melepaskan genggamannya kemudian menangkup wajah lelaki pujaannya itu.
Uwais memaksakan tersenyum. Perih di hatinya masih saja terasa saat ingatannya tiba-tiba hadir tentang Arrida yang tak berdaya yang akan dilecehkan oleh Bryan. Ia melepaskan kedua tangan Arrida yang menangkup wajahnya. Kemudian mendekap gadis itu dengan sangat erat.
"Maafkan aku, Ar ... karna belum bisa jaga kamu dengan benar."
"Ada apa, Kak? Apa yang terjadi?"
"Kamu gak bakal ingat, dan sebaiknya memang kamu ga usah ingat ya." kata Uwais sambil melepaskan dekapannya.
"Lalu kenapa wajah kakak lebam gini? Apa ada hubungannya ma aku?" tanya Arrida sambil menunjuk beberapa bagian dari wajah Uwais yang terluka.
"Gak usah banyak mikir ya. Istirahatlah."
"Hei, kakak tampan, yang wajahnya lagi lebam, aku tuh baru aja bangun, aku disuruh tidur lagi?"
Uwais tersenyum.
"Lalu kamu pengen apa, hm?"
"Ceritakan yang terjadi, kak. "
Uwais menarik nafasnya dalam-dalam . Gadis yang ada di hadapannya ini memang keras kepala.
"Okke aku cerita, tadi, kamu dibawa paksa oleh Bryan dalam keadaan gak sadarkan diri!"
Ingatan Arrida tiba-tiba muncul saat dia akan pulang ke asrama, kemudian ada yang membekapnya dari belakang.
"Ya Alloh, terus apa yang terjadi, Kak?"
Uwais hanya terdiam, menatap Arrida dalam-dalam.
Arrida paham, ia langsung melihat ke tubuhnya. Bajunya sudah berganti, bukan lagi baju miliknya.
"Aku ... h"kata Arrida sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Nggak, Ar... tidak sampai terjadi apa-apa! Tenanglah!" kata Uwais langsung mendekap kembali gadis kesayangannya itu.
"Kakak serius kan?"
"Iya, aku jamin, tidak terjadi apapun sama kamu!"
__ADS_1
"Kakak datang nolongin aku?"
"Hmm."
Arrida akhirnya mengeratkan dekapannya, ia sangat berterimakasih pada lelaki pujaannya itu.
"Bryan gak akan macam-macam lagi sama kamu." ujar Uwais sambil mengusap pelan rambut Arrida.
Arrida melepaskan dekapannya, ia memperhatikan wajah Uwais yang tampak kacau.
"Ini, pasti sakit ya, sampai mata kakak kayak gini." kata Arrida sambil menyentuh pelan pelipis Uwais yang bengkak, sehingga matanya terlihat sedikit menyipit.
"Ini gak ada apa-apanya, hatiku yang lebih sakit ketika melihat kamu sedang disentuh oleh Bryan." jawab Uwais sangat tegas.
Arrida mengangguk sambil mengusap-usap pipi Uwais.
πΌπ¦πΌ
Esoknya, Arrida kembali beraktivitas, ia ke kampus diantar oleh Uwais. Ya, Uwais memang semakin protektif semenjak kejadian itu.
"Pokoknya kalau kamu mau kemanapun harus bersamaku, telfon aku maka aku akan datang." Itu pesan Uwais pada Arrida yang harus dilaksanakan oleh gadis itu. Uwais tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada gadis kesayangannya itu.
"Lho Wais, belum tidur? " tanya Andika pada Uwais yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia merasa aneh. Pasalnya, Uwais adalah orang yang sangat jarang bergadang.
"Iya bang, semenjak kejadian kemarin aku bener-bener susah tidur. Aku terlalu cemas dengan keadaan Arrida, Bang." kata Uwais sambil duduk di samping Andika yang sedang asik menonton film di televisi.
"Tenanglah, Arrida udah aman dan pasti akan baik-baik saja." ujar Andika menenangkan.
"Iya sih, Bang, hanya aja bayangan kemarin masih muter di pikiranku, aku gak bisa bayangin kalo aku telat dateng nolongin Arrida, entah apa yang akan terjadi, hidupku, masa depanku, dan pastinya aku gak akan pernah maafin diri sendiri."
Uwais mengangguk kemudian ia menarik nafas panjangnya.
"Tapi Wais, berat banget sih perjalanan kisah lo... orang orang yang suka kalian berdua pada nekat-nekat,"
"Maksud abang?"
"Lah itu si uler? Bukannya dia berbahaya ya?" tanya Andika sambil mengingatkan Uwais tentang Laura.
"Iya Bang, bener... Dulu malah pernah pak gurunya Arrida nekat nyulik dia. "
"Hah? guru?"
"Iya, kadang aku merasa, kenapa Arrida kalo di dekatku selalu saja ada masalah? apakah ini pertanda buruk ataukah baik? padahal selama aku kuliah disini dan dia masih di sana sama sekali tidak terjadi apapun pada dia."
"Jangan berkecil hati, mungkin ini ujian untuk hubungan kalian."
"Tapi kenapa harus Arrida yang selalu jadi korban?"
"Mungkin Tuhan ingin nguji seberapa kuat kamu bisa menjaganya. Apa kamu bisa bertahan dengan ini semua atau tidak?"
"Insyaa Alloh, aku siap untuk menjaganya, bertahan, dan mempertahankan Arrida juga mempertahankan hubungan ini."
"Sip, itu namanya laki-laki yang bertanggung jawab, aku doakan kalian semoga selalu dalam lindungan Allah.... "
"Aamiin"jawab Uwais.
__ADS_1
"Cepet halal. "
Uwais tersenyum.
"Sedang mempersiapkan, Bang, doanya saja, dan lagi Arrida ingin menikah paling cepet di usianya 23 tahun."
"Wah, kamu harus banyak-banyak bersabar. "
Uwais terkekeh.
"Eh, ada apa itu ribut-ribut?" tanya Andika penasaran, ia langsung bangkit dari duduknya, disusul oleh Uwais. Di luar terdengar orang-orang yang berteriak dan berlarian.
"Astaghfirullah... itu kan asrama, Wais, " kata Andika panik, sambil menunjuk ke arah asrama. Mereka sudah keluar resto, dan melihat keadaan sekitarnya. Ternyata terjadi kebakaran di asrama tempat Arrida tinggal.
"Ya Alloh ... Arrida!" pekik Uwais.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
ππππππππππππππππππππ
Kak reader mampir juga yuk di novel sahabat literasiku... pokoknya ceritanya keren pake banget.... πππ
Judul : Malena
Karya: Khodijah Rahman
MALENA
Blurb
"Pergi! Jangan sentuh aku! Pergi!
Malena, gadis yang mengalami trauma psikis akibat diperkosa saat usianya beru 10 tahun. Dia bagaikan mayat hidup selama hampir 3 tahun setelah kejadian itu. Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya jika dia melihat orang asing terutama laki-laki.
Orang tua Malena berjuang sekuat tenaga untuk kesembuhan putrinya, hingga memutuskan pindah dari Napoli ke Firenze.
Akankah Malena sembuh total dari traumanya? Akankah Malena bertemu dengan laki-laki yang mampu menghilangkan traumanya?
Happy reading yaaaπππ
__ADS_1
ππππππππππππππππππππ