Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
71. Sahabat di masa lalu


__ADS_3

"RIDWAN" Pak Arthur dan Bu Sofia menyebut nama orang yang menabrak itu bersamaan.


"ARTHUR" panggil orang itu lirih. Wanita yang disampingnya menutup mulutnya tak percaya jika mereka bertemu dengan pak Arthur dan Bu Sofia. "Orang di masa lalu"....


Tatapan itu beradu... Ada rasa dan ingatan yang melintas... Masa lalu yang penuh cerita. Cinta, persahabatan dan pengorbanan.


Pak Arthur langsung mendekap erat pak Ridwan, sangat erat.


"Lama tidak bertemu, gimana kabarmu Wan?" tanya pak Arthur sambil menepuk-nepuk punggung pak Ridwan penuh penekanan


" A- aku ba-ik.... gimana kabar kamu?" jawab pak Ridwan, dia mengeratkan dekapannya. Ada buliran kristal bening keluar dari sudut matanya.


"Kenapa kamu pergi gitu aja... tanpa ngasih kabar, dimana, kemana, kamu masih marah, hagh?" Dari sudut matanya juga keluar buliran kristal bening. "Maafkan aku... maafkan aku!!" ucap pak Arthur tulus.


"Aku baik baik saja Thur.... Aku baik... baik sekali" Pak Ridwan semakin mengeratkan dekapannya.


🌼


"Tania" Bu Sofia menyapa wanita yang ada di belakang pak Ridwan.


"Sofia" balasnya.


Keduanya saling berpelukan. Menumpahkan segala rasa di hati mereka. Ada tangis yang menyertainya.


"Kalian selama ini dimana? kenapa meninggalkan kita?" Tanya Bu Sofia masih dalam dekapan Bu Tania.


"Kami ada disini" jawab Bu Tania masih dengan tangisnya.


*flashback on*


26 tahun yang lalu....


"Kamu sadar Thur... jangan jadi gila" Tania berteriak ketika Arthur mencengkram kedua lengannya hingga tubuhnya terdorong hingga mepet ke dinding teras rumah Tania.


"Kamu kasih tau pacar kamu, jangan dekat-dekat Sofia!"


"Kamu tenang...tenang!!" Tania masih berteriak. "Lepaskan aku!" pintanya kemudian, sambil mendorong tubuh Arthur. Namun pria itu masih saja mencengkram lengan Tania dengan erat. "Kamu nyakitin aku Thur!!!"


Akhirnya Arthur melepasnya.


"Duduklah! Jangan bicara dengan ku jika kamu emosi!!!" Tania meninggi... ia bermaksud meninggalkan Arthur dan masuk ke dalam rumahnya.


"Tunggu! Baiklah, aku minta maaf!!" Arthur menahan emosinya, ia mencoba mengendalikan amarahnya.


Kini Arthur duduk di kursi yang ada di teras. Ada dua pasang kursi yang ada disitu. Kemudian Tania ikut duduk di kursi satunya yang ada di samping Arthur.


"Kamu salah paham dengan mereka Thur" Kata Tania memberi pengertian.

__ADS_1


"Salah paham gimana, jelaskan! Bahkan beberapa kali aku melihat mereka berdua"


"Kapan?"


"Kamu aja yang gak tau!!! Atau... jangan bilang kamu sebenarnya tidak tau kalau mereka bermain di belakang mu!!!" Arthur memberi kesimpulan.


"Hei!! Hati-hati kalau bicara!"


"Lalu apa? Ridwan pasti menggoda Sofia!"


"Jangan sembarangan kalau bicara, ntar menyesal! Ridwan bukan orang seperti itu"


"Lalu menurutmu Sofia yang menggodanya???!!!" Arthur mulai terpancing lagi emosinya.


"Kamu emang udah berubah Thur!" Tania akhirnya memberi komentar tentang sikap Arthur sekarang ini.


Arthur menoleh dan memberikan tatapan tajamnya.


"Kita berempat sudah sahabatan, tapi kamu gak sadar udah nyakitin kita bahkan perasaan Sofia... Kalau kamu sudah tidak percaya pada dia, lebih baik lepaskan Sofia"


"Kamu gila Tania, mana mungkin aku melepaskannya!"


"Lalu apa maksud suratmu yang meminta Sofia untuk tidak pernah menemuimu lagi? tapi nyatanya sekarang kamu kayak orang bingung tanpa dia"


"Tapi bukan berarti dia harus secepat itu dekat dengan cowok apalagi pacar sahabatnya sendiri?"


"Ada beberapa foto yang dikirim seseorang padaku"


"Dan kamu percaya?"


" Kenapa tidak, foto itu sangat jelas"


"Kalau gitu percuma kamu pertahankan, kalau kamu sendiri tidak percaya kepadanya"


"Gimana aku bisa percaya pada dia, dan pada sahabatku, sementara foto-foto itu buktinya"


"Arthur, perlihatkan padaku foto itu"


"Kamu gak perlu tau!! karna selain foto itu, aku juga sudah melihat mereka berdua dengan mata kepalaku sendiri, dua hari yang lalu aku melihat mereka berdua duduk di kafe Rainbow hanya berdua, hari sebelumnya aku lihat mereka hanya berduaan di perpus, dan seminggu yang lalu, aku lihat Ridwan menarik tangan Sofia saat di taman kampus"


Tania seperti teringat sesuatu. Kejadian-kejadian yang diceritakan Arthur terlintas jelas begitu saja dalam pikirannya.


"Ketika di kafe Rainbow, di perpus, di taman kampus, mereka tidak berdua, ada aku!"


"Bohong! aku gak lihat kamu"


"Terserah, kamu percaya atau tidak, yang jelas aku ada disitu bahkan aku yang menyuruh Ridwan mencegah kepergian Sofia, karena dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja setelah membaca surat putus dari kamu"

__ADS_1


Arthur mematung.


"Itu bukan surat putus hanya permintaan untuk tidak menemuiku lagi"


"Sama saja... ! Kamu tau?! Apa yang kamu lakukan sangat tidak adil, kamu menuduhnya selingkuh dengan sahabatmu, kamu meminta untuk tidak lagi menemuinya, tapi sekarang kamu minta aku untuk bilang pada Ridwan jauhi Sofia sedangkan di lain hari kamu tiba-tiba menitipkan Sofia pada Ridwan, dan meminta dia untuk membahagiakan Sofia.... Bukankah itu konyol?"


Arthur terdiam, dia mulai menyadari tindakan anehnya. Semenjak dia divonis gagal ginjal kronis. Hidupnya menjadi berubah, kadang ingin melepas Sofia, biar dia bisa bahagia dengan yang lain, daripada hanya terus bersamanya yang punya penyakit gagal ginjal kronis, 'Sofia hanya akan mendapatkan penderitaan jika tetap bersamanya'. Itu yang selalu ada dalam benaknya. Namun kadang dia merasa harus menitipkan Sofia pada Ridwan dan membahagiakannya, karena hanya Ridwan yang dipercaya.


Namun seperti saat ini, dia juga selalu merasa sangat tidak ingin kehilangan Sofia bahkan merasa cemburu jika Sofia dekat dengan cowok lain termasuk sahabatnya sendiri. Jelas itu memusingkan dirinya sendiri bahkan orang lain. Perasaan itulah yang membuat keadaan selalu kacau dan terlihat buruk. Persahabatan mereka menjadi terpuruk, bahkan sikap Arthur cenderung memusuhi Ridwan.


Hingga suatu ketika, hidupnya kembali bergairah. Ia kembali memiliki semangat hidup, setelah ada pendonor ginjal. Dan Sofia masih tetap setia menemaninya.


Namun sayang, di saat yang sama, ketika kesehatannya sudah membaik, mereka juga harus kehilangan sahabat-sahabatnya. Ridwan dan Tania.


*flashback off*


"Maafkan aku Ridwan, Tania... aku egois ketika itu, aku bahkan menyebabkan rusaknya persahabatan kita... Aku sungguh-sungguh minta maaf, kalian masih marah kah? kenapa kalian pergi? bahkan Sofia pun tidak tau kemana kalian" kata pak Arthur penuh penyesalan.


"Sudahlah kita lupakan masa lalu... Syukurlah kalian hidup dengan baik sekarang, dan kamu dalam keadaan sehat" kata pak Ridwan menenangkan.


"Berkat kamu Wan, berkat kamu, kalau Alloh tidak memberikan pertolongan melalui kamu yang mendonorkan ginjal, mungkin aku sudah lama gak diijinkan di dunia ini lagi, terimakasih, terimakasih banyak" Dipeluknya lagi pak Ridwan erat.


"Sudah sudah.... kita bicara di teras masjid yuk" Ajak bu Sofia.


"Wadduh, sayang banget, ini kita sedang buru-buru, sudah ditunggu para tetangga kompleks rumah, ada acara malam takbiran, gimana kalo lain waktu kita bicara. Mungkin besok jika selesai sholat id dan silaturrahmi, berikan nomer mu" Kata pak Ridwan kemudian.


Akhirnya pertemuan mengharukan itu diakhiri dengan saling tukar nomer telepon.


Uwais dan Arrida datang ke masjid agung, ketika pak Ridwan dan Bu Tania sudah pergi. Dan pak Arthur serta Bu Sofia tengah duduk di teras masjid. Jadi, mereka tidak tahu jika kedua orang tuanya telah saling bertemu satu sama lain.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers udah mampir


Makasih udah baca


Makasih udah mendukung


Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa


Sehat selalu kakak readers


Semoga suka dan terhibur...


☺️☺️☺️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»


Maaf kemarin ga up, karena **tepar**πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2