
Terumbu karang yang terawat, ikan badut yang hidup di terumbu karang bersembunyi diantara anemon laut, ikan-ikan kecil yang berwarna-warni berenang kesana kemari, dan hewan-hewan air lain yang lucu dan unik serta tumbuhan bawah laut yang memiliki tampilan sangat menawan, benar-benar membuat Arrida dan Uwais merasa takjub.
"Seneng snorkelingnya?" tanya Uwais pada Arrida, keduanya telah menyelesaikan kegiatan snorkeling mereka, dan telah berganti pakaian. Kini mereka berjalan santai di pasir pantai menuju tempat parkir.
"Alhamdulillah, luar biasa kak, aku bisa lihat banyak hal di bawah laut, besok-besok kita diving ya, Kak!" ajak Arrida penuh permohonan.
"Okke!" jawab Uwais santai. "Oh ya, kamu lihat apa aja tadi?"
"Banyak lah, aku lihat Nemo si ikan badut, dia lagi sembunyi di antara anemon laut."
"Ya, ikan badut kan emang bersimbiosis dengan anemon laut, sudah tentu dia tinggal bareng di terumbu karang." jelas Uwais, "Oh ya, kamu tau persamaan kamu ma ikan badut?" tanya Uwais.
"Pasti karena lucu dan menggemaskan, iya, kan?" jawab Arrida sekenanya.
"Hahaha, pede!"
"Tapi emang aku menggemaskan, kan?"
"Iya, tapi jawabannya bukan itu,"
"Terus apa?"
"Sama-sama suka sembunyi?"
"Hah?"Arrida mengerutkan keningnya, penuh tanya.
"Iya, kalo ikan badut sembunyi di terumbu karang, kalo kamu sembunyi di hatiku," kata Uwais sambil terkekeh.
"Eaaa, camiku gombal," kata Arrida ikut terkekeh. "Kakak tau ikan apa yang bisa bikin baper?"
"Mmmm, apa ya?" kata Uwais sedikit berpikir.
"Kakak gak tau kan?"
"Tau!"
"Trus apa jawabannya?"
"Ikan stop loving you!"
"Yaaaa ... Camiku, kok tau seh soal gombal-gombal gini?" kata Arrida sambil tertawa.
"Hehehe, yang penting hanya gombalin kamu, Cinta,"
Arrida pun hanya tertawa renyah.
Setelah puas melakukan kegiatan snorkeling, Uwais mengajak Arrida ke aquarium raksasa. Mereka melihat berbagai macam jenis makhluk laut. Mulai dari ubur-ubur, berang-berang laut, berbagai macam jenis ikan baik yang ukuran kecil maupun yang besar seperti ikan pari, hiu dan lumba-lumba serta berbagai spesies laut asli, yang dapat dilihat di atas dan di bawah permukaan air.Β Mereka terlihat bahagia, tidak lupa Arrida mengabadikan setiap momen kebersamaan mereka melalui ponsel Uwais.
Setelah puas menikmati aneka kehidupan laut di aquarium raksasa, Uwais mengajak gadisnya itu ke planetarium. Arrida sungguh sangat menikmatinya. Kini mereka sedang berada di wahana Teater Bintang. Di sini, langit-langit berupa bagian dalam kubah besar bangunan Planetarium, digunakan sebagai layar sehingga benar-benar seperti pemandangan langit.
Di layar tersebut ditampilkan pemandangan langit malam dengan segala kondisi dan situasi. Pembentukan Tata Surya, Gerhana Matahari dan Bulan, Riwayat Hidup Bintang, serta Situasi tata surya dan segala isinya seperti galaksi, matahari, planet, dan bulan. Kurang lebih enam puluh menit, mereka menikmati momen di wahana Teater Bintang. Kemudian, mereka menuju teleskop observatorium. Mencoba beberapa teleskop yang memang diijinkan untuk digunakan pengunjung.
"Kakak, gak mau coba?" tanya Arrida setelah menggunakan teleskop.
"Nggak, percuma aja,"
"Percuma kenapa? Apa karena siang hari?"
"Bukan, mau siang hari ataupun malam hari sama aja."
"Maksudnya?" Arrida masih belum mengerti.
"Karena bagaimanapun keadaannya, yang terlihat dengan ataupun tanpa teleskop, hanya wajah cantik kamu." kata Uwais sambil tertawa.
"Ya ampuuun, gombal ih!"
"Gak gombal, Cinta, itu beneran!" kata Uwais masih terkekeh. "Nih ya, banyak bintang yang aku lihat, tapi di mataku gak ada bintang seperti kamu."
__ADS_1
"Kak, kenapa sih kakak gombal mulu?" tanya Arrida tersipu. Wajahnya merah menghangat.
"Ini bukan gombal, Cinta, ini itu kata-kata indah buat kamu. Kamu tau?"
Arrida menggelengkan kepalanya.
"Bintang-bintang itu banyak berkelip dan bersinar tapi hanya satu yang bersinar di hatiku, dan itu kamu."
"Ah, udah ah, ayok, lama-lama di sini, kakak bisa kacau!" kata Arrida sambil menarik lengan Uwais dan pergi meninggalkan tempat teleskop. Uwais hanya terkekeh dan menurut begitu saja saat gadisnya menarik lengannya.
Mereka kini menuju ruang pameran yang memamerkan aneka peralatan observasi astronomi, gambar benda-benda langit dengan informasi lengkapnya, pakaian astronot, hingga koleksi pecahan batu meteor.
"Kamu tau ini apa, Ar?" tanya Uwais sambil menunjuk sebuah gambar.
"Ini .... " Arrida memperhatikan gambar yang ditunjuk oleh Uwais.
"Iya, ini Pluto, yang pernah dianggap sebagai planet." kata Uwais.
Arrida menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan dengan teliti gambar yang ada di hadapannya.
"Kak, makasih ya, sebelum kakak bilang mencintaiku, aku masih merasa menjadi Pluto, tapi sekarang aku merasa menjadi Bumi, makasih, sudah menjadi matahari yang menerangi hidupku, yang selalu menghangatkan hati aku." kata Arrida sambil menggenggam kedua lengan Uwais.
Uwais mengangguk perlahan sambil mengedipkan kedua matanya dengan lembut.
"Kamu adalah matahariku, bulanku dan bintangku, Ar," kata Uwais.
"Wah, banyak banget, masa semuanya, serakah ini namanya," Arrida protes.
"Matahari, bulan dan bintang itu indah, dan semua keindahan itu ada di kamu, Ar."
"Wah, bener-bener ni kakak, ngegombal terooos!" komentar Arrida sambil tertawa.
Uwais terkekeh.
"Tau gak, Kak ... Ternyata kesini bareng kakak, emang beda rasanya, gak kayak waktu aku study tour dulu, makasih ya, kakak udah mewujudkan ucapan kakak, kalau kita bakal kesini berdua."
Lagi-lagi Uwais tersenyum, mengiyakan apa yang dikatakan oleh gadis kesayangannya itu.
πΌ
"Kak, ini indah banget!" Lagi, Arrida dibuat takjub. Gadis itu tidak berhenti tersenyum. Wajahnya memancarkan kebahagiaan setelah melihat pemandangan di hadapannya. Hamparan berbagai macam jenis bunga yang penuh warna, bermekaran, sungguh menyejukkan mata. Arrida menghirup udara yang diwarnai wangi bunga. Matanya terpejam menandakan dia benar-benar sedang menikmatinya.
"Kamu suka, Ar?"
"Banget! Makasih ya, Kak!"
Uwais mengangguk.
"Semua ini bener-bener indah dan cantik, Kak!"
"Ya, semua memang indah dan cantik, tapi tetep aja, hanya kamu bunga yang terindah dan tercantik di hatiku!"
"Mulai deh gombalnya,"
"Gak papa, kan sama catrinya ini!" kata Uwais penuh percaya diri.
"Kak, kayaknya tadi, kakak salah makan siang, deh!"
"Hmm?"Uwais menaikkan kedua alisnya. Ia belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh Arrida.
"Iya, seharian ini kakak gombal mulu! Jangan-jangan efek dari makan siang tadi?" canda Arrida.
"Oh ... Emang kamu gak suka?"
"Suka banget, tapi rasanya gak karuan digombalin mulu!"
Uwais hanya tersenyum kemudian ia menggenggam tangan Arrida.
__ADS_1
"Ayo, kita jalan berkeliling, sambil nunggu sunset, trus ntar malam, katanya akan ada pesta lampion dan kembang api!"
"Wah, asik banget."
"Iya, makanya, tuh, udah mulai ramai pengunjung."
πΌ
Mereka sedang duduk di kursi taman. Menikmati indahnya matahari terbenam yang warna kuning senjanya menyinari bunga-bunga berwarna-warni yang seakan sedang menari karena terkena angin sore.
"Ya Allah, cantiknya sunset dilihat dari sini, spotnya pas banget, Kak ... Ayo, Kak, foto bareng, kalo dulu kan kita foto di balik sunsetnya, sendiri-sendiri,"
Uwais mengangguk. Ia merapatkan tubuhnya pada gadisnya itu, sangat dekat dan tak berjarak. Pipi keduanya hampir menempel. Hingga saat Arrida telah selesai mengambil gambar, ia pun menoleh.
Cup
Niatnya ingin menatap langsung wajah tampan lelaki pujaannya yang tersorot cahaya matahari terbenam, namun tanpa sengaja, dia malah mencium pipi Uwais.
"Hei, apa ini?" tanya Uwais terkejut bahagia, senyumnya merekah, tangannya mengusap pipi yang tanpa sengaja dikecup oleh gadis kesayangannya itu.
Arrida menutup mulutnya. Dia menjadi salah tingkah, hatinya berdebar, jantungnya berdetak kencang.
"I-itu gak sengaja, Kak!" jelas Arrida.
"Wah, pipiku, dua-duanya udah gak ting-ting lagi! Kok pas banget ya, waktu dulu sebelah sini, dan sekarang yang ini!" kata Uwais sambil menunjuk kedua pipinya bergantian.
"Itu, gak sengaja, Kakak!"
"Sengaja juga boleh!"
"Emmmh, maunya!" Arrida mencubit lengan Uwais.
"Aduh!" Tiba-tiba Uwais memegang dadanya, dan meremas bajunya.
"Kenapa, Kak?" Arrida panik. Pasalnya yang dicubit lengan Uwais tapi kenapa Uwais malah seperti kesakitan di bagian dadanya?
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
πππππππππππππππππ
Hai kak readers mampir yuks ke novel karya sahabat literasiku. Pokoknya keren banget. πππ
Judul: MAFIA STORY Kemabalinya Anak Tak Berguna
Author: Warnyi
Brurb:
Fitnah telah membuatnya terusir dari rumah dan keluarganya, hingga suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pemimpin mafia terbesar dan menjadikannya sebagai penggantinya.
Agra kembali setelah meraih kesuksesan, dengan tujuan ingin membalas dendam. Diwarnai dengan kisah percintaan dengan gadis masa kecilnya. Akankah Agra bisa membalaskan dendamnya dan mengalahkan para musuhnya?
__ADS_1
Happy reading yaaaπππ
πππππππππππππππππ