Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
110. Viral


__ADS_3

"Kak, aku dingin," keluh Arrida setelah melepas pelukannya.


"Lalu kenapa kamu lepaskan dekapannya."


"Hangat sih, tapi tetap saja basah, aku pengen pulang." kata Arrida sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


"Ya udah ayo!" ajak Uwais sambil menggenggam tangan Arrida. Mereka pun berjalan bergandengan tangan hingga tiba di depan gerbang asrama.


"Aku masuk ya Kak!"


"Hmm, masuklah, cepet bersihkan diri, lalu minum hangat."


Arrida mengangguk.


"Apa perlu ntar aku kirim coklat hangat kesini?" tanya Uwais


"Ga usah, Kak, ya udah, aku masuk ya, kak."


Uwais mengangguk, mempersilahkan Arrida untuk masuk.


"Ar," panggil Uwais sebelum Arrida benar-benar melewati gerbang asrama..


"Hmm?" Arrida membalikkan tubuhnya menatap ke arah Uwais.


"Aku sayang kamu."


"Aku tau, makasih." jawab Arrida singkat.


"Hei, mana jawabannya?" tanya Uwais.


"Oh, kirain itu pernyataan."


"Itu emang pernyataan tapi dia membutuhkan jawaban."


"Mana ada pernyataan seperti itu?" kilah Arrida.


"Ada, jadi jawab ya ... 'Aku sayang kamu, Ar'."


"Aku juga sayang, Kakak," kata Arrida sambil tersenyum.


Uwais juga menampilkan senyum bahagianya. Ternyata, rasanya saling menyatakan perasaan sayang itu sangat membahagiakan.


"Makasih, aku pergi ya." kata Uwais.

__ADS_1


"Iya, Assalamualaikum." kata Arrida sambil berlalu dari hadapan Uwais.


"Wa'alaikumsalam." jawab Uwais tersenyum sambil menatap kepergian gadis kesayangannya itu.


🌼🌦️🌼


"Kak, Arrida sekarang ada di kantor fakultas, dia dipanggil ketua jurusan dan dosen wali."


Uwais membaca pesan dari Lani. Siang itu ia bergegas ke kampus Arrida, tepatnya ke kantor fakultas. Rasa cemas menyelubungi hatinya. Dia berharap gadis kesayangannya itu tidak apa-apa, setelah sebuah video tentangnya viral di media sosial.


🌼


"Hei, cewek sia**n!!! Akhirnya gue ketemu lo juga!" kata Laura sambil menarik kerah baju Arrida, membuat gadis itu berdiri dihadapannya.


Arrida yang tengah duduk di bangku taman bersama Lani benar-benar terkejut dan bingung, pasalnya Laura tiba-tiba datang dengan sangat emosi.


"Eh, ada apa ini?!" tanya Arrida tidak mengerti. Dia merasa malu karena diteriakin seseorang di tempat umum, belum lagi tatapan mata orang-orang disekitar mereka yang mulai menyaksikannya. Hingga akhirnya ada yang merekam kejadian tersebut kemudian disebarkan di media sosial.


"Gak usah munafik dasar pembohong! lo udah bohongin gue,"


"Apa ini mbak?" Lani mencoba menengahi.


"Diem lo! Gak usah ikut campur!!"kata Laura sambil mendorong tubuh Lani hingga dia terjatuh.


"Awww!!" jerit Arrida. Belum juga dia menghampiri Lani, tangan Laura sudah menjambak rambut Arrida, hingga gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang.


"Hei! lepasin!"tangan Arrida mencengkram tangan Laura yang sedang menarik rambutnya.


"Ada apa sih mbak?" tanya Arrida sambil berteriak, tangannya masih memegang tangan Laura yang belum melepas jambakan rambutnya.


"Lo pikir gue gak tau hubungan lo dengan Uwais?! Pembohong!! Dasar cewek rese'!" kata Laura melepas jambakannya kemudian tangan itu melayang menuju pipi Arrida.


Namun secepat kilat, tangan Arrida menahannya.


"Jaga ucapan mbak ya, aku gak pernah bohongin mbak,"


"Katanya kakak adik! tapi ternyata bohong!! kalian nipu gue," Laura menarik tangannya dari cengkeraman Arrida, dan Arrida melepasnya.


"Apa mbak pernah nanya kita? hubungan kita apa? nggak kan?"


"Gue gak peduli, yang jelas, lo jauhi Uwais, dia milik gue!"


"Oh ya? sejak kapan?"

__ADS_1


"Gue kenal dia lebih dulu daripada lo! jadi lo jauhi dia, atau Lo akan tau akibatnya!"


"Kenapa? mbak ngancem? aku cinta pertamanya dan terakhirnya, sementara mbak, hanyalah temen SD nya, hanya masa lalu, dan mungkin sudah dilupakan!" ujar Arrida yang justru makin memancing amarah Laura.


"Sial... Beraninya Lo!!" sebuah tamparan mendarat cantik di pipi Arrida.


Arrida menatap Laura dengan tatapan tajamnya, satu tangannya mengusap pipi yang tadi ditampar oleh Laura.


"Ini! untuk kebohongan lo!" Satu lagi tamparan mampir indah di pipi Arrida yang sebelahnya.


"Dua tamparan!! kamu salah orang Mbak! Ini!" satu tamparan mendarat di pipi Laura. "Untuk tamparan kesatu, dan ini yang kedua!!!" tangan Arrida yang satunya pun bergerak menampar pipi Laura yang sebelahnya lagi. Hingga Laura terhuyung ke belakang beberapa langkah.


"Kita Impas!" kata Arrida enteng. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya seperti membersihkan debu di telapak tangannya.


Laura tidak tinggal diam. Ia mendekati Arrida, mendorong tubuhnya, kemudian tangan kanannya kembali meninju pipi Arrida, namun sayang Arrida lebih dulu menangkisnya.


Tidak berhenti sampai disitu, tangan kiri Laura langsung mengarah ke pipi Arrida, namun sekali lagi Arrida dapat menangkisnya.


Masih belum menyerah, Laura kini menendang perut Arrida, hingga Arrida terhuyung ke belakang, dan jatuh. Laura langsung loncat ke tubuh Arrida, dan menindih perutnya.


" Gak usah sok cantik!!!" teriak Laura sambil mencakar pipi Arrida.


"Hssshh!" desis Arrida menahan sakit. Ada cairan merah segar keluar dari pipinya akibat cakaran Laura.


Arrida terpancing emosinya, kemudian dia menarik kerah baju Laura dengan kedua tangannya, lalu membanting tubuhnya ke samping, hingga Laura tidak lagi menindih tubuhnya.


Kepala Laura sempat terbentur tanah. Posisinya miring. Arrida bangun. Lalu segera mengunci tangan Laura, agar tidak bisa bergerak.


"Lepasin!!" teriak Laura terdesak.


"Aku ga bisa lawan cewek lemah, tapi kalo mbak maksa juga, aku terpaksa membela diri!" Arrida bangun, melepas Laura, ia mengusap darah yang membasahi pipinya.


Tak disangka Laura segera bangkit, dan memulai lagi aksi g*lanya. Untung, Arrida sangat cepat tanggap, ia tidak ingin kecolongan lagi, karena ternyata, Laura tidak bisa dianggap enteng. Ia pun segera menangkis pukulan Laura, dan melayangkan pukulan di pipi gadis itu, sekali, dua kali, hingga dari sudut bibirnya keluar darah.


Laura mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, ia terlihat makin murka. Kakinya melayang hendak menendang Arrida. Namun Arrida lebih dulu menghindar. Kemudian secara spontan kaki Arrida melayang menuju wajah Laura. Namun tendangan itu hanya berhenti di udara, tepat didepan wajah mulus Laura, tidak sampai mengenainya.


"Aku gak mau ribut!" kata Arrida. Dia menurunkan kakinya, kemudian mengambil tas dan berlalu pergi. Namun sayang, Laura menyergapnya dari belakang. Ia bergelantungan di punggung Arrida.


"Sudah berhenti!!!" kata seorang satpam akhirnya datang bersama satu rekan lainnya. Mereka memisahkan Arrida dan Laura.


"Kalian bikin malu aja, anak kuliahan kelakuan preman!!" gerutu satpam yang menurunkan Laura dari punggung Arrida.


"Yang lain bubar!! Bukannya misahin malah nonton! Dasar anak jaman now!!" ujar satpam satunya lagi. Dia menggandeng lengan Arrida.

__ADS_1


Itulah video yang viral di media sosial, tanpa editan.


__ADS_2