Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
101. Jangan dilepas


__ADS_3

"Halo dek," sapa Laura pada Arrida, saat dia keluar kelas masih di koridor.


"Oh mbak Laura, ada apa?" tanya Arrida malas. Dia sudah tahu jika Laura hanya akan merayunya, membujuk dia agar Uwais bisa mau menjadi pacarnya. Selalu seperti itu, Arrida selalu diajak jalan hang out, shopping atau sekedar makan. Tapi seperti biasa Arrida pasti menolaknya.


"Jalan yuk, pliis ... kali ini jangan nolak."


"Tapi maaf, sekali lagi aku tolak."


"Kenapa seh nolak terus?"


"Ya gak papa, aku lagi males."


"Kenapa seh males terus?"


"Maaf mbak, aku udah dijemput ma kak Uwais, tuh." kata Arrida sambil menunjuk Uwais datang menghampirinya.


"His! Sesekali lo rayu aja dia, sekalian ajak dia jalan ma kita!"


"Mbak kan tau gimana dia? Mana mau dia jalan ma mbak."


"Ya lo rayu lah ... "


"Dirayu mau gimanapun dia gak bakal mau, mbak."


"Ayo, Ar ... Pulang," kata Uwais ketika sudah dihadapan keduanya.


"Ini kak, mbak Laura ngajak jalan, mau ya?" kata Arrida seakan memohon.


Uwais melirik Laura sekilas dengan tatapan tajamnya.


"Ayo cepetan, kita pulang." kata Uwais sambil menarik tangan Arrida lalu meninggalkan Laura berdiri mematung.


🌼


"Hei kak, lihat wajah jutek mbak Laura," kata Arrida ketika tiba di tempat parkir.


"Males,"


"Oh, ayolah kak, lihatlah."


"Jangan maksa, Ar!"


"Lihatin dia aja ga ngabisin tenaga kan? pake gak mau segala."


"Kasihan mataku kalo cuma buat ngelihatin dia ... Mataku ini, hanya untuk ngelihat gadis yang sempurna."


"Ish, gak usah jelalatan ya ... tu mata dijaga."


"Maksudnya? Siapa yang jelalatan?" Uwais menoleh melihat ke arah Arrida.


"Kakak ... Katanya mata kakak hanya untuk lihat gadis-gadis yang sempurna, maksudnya apa itu?"


"Kamu mesti salah denger ... aku bilang mataku ini hanya untuk ngelihat gadis yang sempurna, bukan gadis-gadis yang sempurna, paham ... berarti itu hanya satu gadis." kata Uwais sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Arrida.


Arrida yang merasa terdesak, ia memundurkan kepalanya, agar wajahnya bisa berjarak dengan wajah Uwais. Kemudian matanya mengerjap beberapa kali.


"Si- siapa maksud Kakak?"


"Gadis sempurna itu kamu, Arrida Lathifatunnisa!!" kata Uwais penuh penekanan terutama ketika dia menyebut nama lengkap gadis itu.


Arrida menelan salivanya dengan sangat berat. Perlahan ia mendorong tubuh Uwais agar wajahnya tidak terlalu dekat dengannya.


Uwais tersenyum, ia sangat suka dengan wajah salah tingkah gadis kesayangannya itu.


"Ayo kita pulang, lagian kenapa kamu masih ngurusin uler itu," kata Uwais dengan nada tidak suka. Ia tahu, jika Laura sering sekali mengajak Arrida untuk pergi bersenang-senang agar bisa mengambil hatinya.


"Kan dia yang nyamperin, Kak,"


"Kamu hati-hati ya."

__ADS_1


Arrida mengangguk sangat meyakinkan.


🌼


"Eh, Wais, Da, kebetulan banget ada disini." kata Kirno, menyapa Uwais dan Arrida yang sedang duduk di belakang resto dekat tempat sholat. Uwais sedang membantu Arrida menyelesaikan tugas kuliahnya.


"Eh bang Kirno," kata Arrida membalas sapaan Kirno. Ia tahu, Kirno baru saja datang ke resto, karena harus mengantarkan ibunya ke rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Uwais pada Kirno. Ia tahu kalau Kirno akan menyampaikan informasi yang menurutnya sangat penting.


"Lo masih inget Metha kan?" tanya Kirno.


Uwais terdiam seakan mengingat.


"Mbak Metha yang pindah kuliah karna berkelahi dengan mbak Laura? gara-gara rebutan kak Uwais?" tebak Arrida, sambil melirik ke arah Uwais. Sementara, yang dilirik hanya menggelengkan kepalanya. Karena ia sendiri, tidak pernah tahu langsung perkelahian itu, ia hanya mengetahuinya melalui cerita Kirno yang menunjukkan sebuah video di media sosial yang memperlihatkan kedua wanita itu berkelahi.


"Bener banget ... Dia gak pindah! Tapi dia ada di rumah sakit, dia koma."


Arrida dan Uwais terkejut. Mereka menatap Kirno penuh tanya.


"Gue kan abis nganterin ibu ke rumah sakit, selain kontrol kesehatannya, dia juga jenguk anak temannya, dan ternyata yang dijenguk itu Metha."


"Ya Ampun," kata Arrida terkejut. Dia bingung untuk berkata-kata lainnya.


"Katanya, Metha ada yang menabraknya, seperti korban tabrak lari gitu. Tapi gue gak yakin, gue ngerasa ini ada hubungannya dengan Laura, seperti dulu kisah Ratih waktu SMA."


Uwais melirik Arrida, rasa khawatir pun mulai muncul di hatinya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan gadis kesayangannya itu.


"Arrida mungkin masih aman saat ini, karena yang Laura tau kalau Rida adiknya Uwais, tapi gue gak yakin kalau akhirnya Laura tau yang sebenarnya." ujar Kirno.


Uwais menarik nafas panjangnya. Ia juga terbesit pemikiran yang sama dengan Kirno.


Arrida hanya menatap Uwais dan Kirno bergantian. Ia sangat memahami apa yang Uwais dan Kirno khawatirkan.


"Aku gak papa Kak, aku akan jaga diri." kata Arrida menjawab tatapan Uwais.


"Tapi, aku gak yakin, karena aku tahu Laura saiko" kata Kirno.


"Bang, jangan nakutin dong." ujar Arrida sedikit merengek.


"Bukan nakutin, tapi biar kita lebih waspada aja" jelas Kirno.


Arrida terdiam. Ia juga menyetujui apa yang dikatakan oleh Kirno.


"Ah, iya, gue ke resto dulu, ni bang Dika katanya mau ke terminal,mau jemput orang tuanya, mereka udah datang." kata Kirno pada Uwais.


"Oh iya," ucap Uwais mengijinkan Kirno untuk menuju resto.


"Orang tuanya bang Dika udah datang ya?" tanya Arrida, sesaat setelah kepergian Kirno dari hadapan mereka


"Iya," jawab Uwais singkat.


"Senengnya ... akhirnya tercapai juga, pasti orang tua bang Dika gak sabar lihat anaknya di wisuda besok."


"Iya, kamu bener, Ar ..."


"Mereka nginep disini kan, kak?"


"Hmm ... " kata Uwais sambil mengangguk. "Kamu gak papa, Ar, soal Laura?" tanya Uwais kembali membahas tentang Laura.


"Gak papa, Kak, aku bisa jaga diri."


"Kamu hati-hati, ya." kata Uwais masih dengan rasa khawatirnya.


"Tenang aja, Kak, kalo aku takut, aku akan menggenggam tangan kakak." kata Arrida sambil tersenyum dengan sangat manis. Namun Uwais tahu, kalau senyumannya itu hanya untuk membuatnya tenang. Ah, pandai sekali gadis ini menutupi perasaan takutnya.


Uwais langsung menarik telapak tangan Arrida dan menggenggamnya.


"Seperti ini ya, dan jangan dilepas" kata Uwais mengeratkan genggaman tangannya. Gadis itu mengangguk cepat. Uwais pun tersenyum dengan tenang.

__ADS_1


🌼🌦️🌼


Hari ini, Andika wisuda. Resto sengaja tutup. Arrida, Uwais, Arman, Fika, Kirno dan Lani ikut serta meramaikan suasana di sekitar gedung tempat wisuda untuk menikmati keramaian dan kegembiraan yang ada di area wisuda. Uwais sengaja tidak mengambil tempat untuk membuka stand bakso, dia hanya ingin hari itu digunakan untuk bersenang-senang, turut berbahagia dengan kelulusan Andika.


Kirno dan Lani berjalan sendiri, begitupun dengan Arman dan Fika, tidak ketinggalan pula Uwais dan Arrida. Tiga pasangan ini, berjalan-jalan menikmati keramaian stand-stand yang ada, sembari menunggu selesainya acara di dalam gedung.


"Inget waktu acara HUT sekolah ya, Kak" kata Arrida sambil melihat pernak-pernik di sebuah stand.


"Iya, sayangnya, saat itu kita sebagai penjaga stand. Jadi tidak terlalu menikmati ... Kalo sekarang, kita bisa bebas nikmati stand-stand yang ada."


"Ah iya kakak bener."


"Tapi, aku kangen mie rebus buatanmu"


"Beneran? masa kangen? Kan sekarang kakak udah bisa buat mie sendiri pake bakso, lebih enak"


"Beda momen, Ar."


"Ah iya, saat itu kita kan ulang tahun ya, dan kakak ngasih ini, dan ini." kata Arrida sambil memperlihatkan gelang yang masih setia melingkar di pergelangan tangannya, serta tas yang ada di punggungnya.


Uwais tersenyum. Ia bahagia gadis itu mengingatnya.


"Eh, kak, duduk disana yuk sambil ngemil jajan." ajak Arrida pada Uwais. Ia menunjuk ke arah gedung kantor pusat universitas, bagian administrasi.


"Ayok kita kesana, kamu pegel ya?"


"Lumayan, kak"


Akhirnya mereka menuju gedung tersebut. Tempatnya tidak seramai gedung tempat wisuda, bahkan cenderung agak sepi, hanya beberapa orang saja yang ada disitu.


Arrida duduk lesehan di teras depan pintu masuk kantor. Sementara Uwais masih berdiri.


"Ar, berdiri dulu deh." pinta Uwais.


"Ada apa?"


"Udah berdiri aja!"


Arrida pun menurut.


Setelah dia berdiri di hadapan Uwais, lelaki itu justru malah berjalan ke arah belakang Arrida.


"Diem, jangan tengak-tengok!" perintah Uwais.


Arrida menurut sambil mengerutkan keningnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang sebenarnya akan Uwais lakukan.


Ternyata, Uwais memasangkan sebuah kalung liontin love di leher Arrida. Tidak terlalu susah untuk memasangnya karena rambut panjang Arrida memang diikat.


"Wah apa ini kak, cantik banget."


"Selamat ulang tahun, Ar, semoga makin sholihah, dan barokah,"


"Hah, emang kita ulang tahun kak?"


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2