Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
68. Rencana Allah yang terbaik


__ADS_3

"Nih dek, dari Uwais" Adnan menyerahkan sesuatu sore itu di kamar Arrida. Dia sedang bersantai di tempat tidur, membaca sebuah komik kesukaannya.


"Apa ini, bang?" Arrida menutup komiknya kemudian menerimanya dengan perasaan heran. Pasalnya, saat Uwais berpamitan terasa datar-datar saja, bahkan dia tidak mengatakan apa-apa apalagi sampai memberikan sesuatu.


"Lihat aja" perintah Adnan


Arrida segera mengambil apa yang ada di dalam plastik berwarna silver itu. Sebuah kotak dengan bungkus warna biru muda. Ada pita berwarna pink. Cantik.


Kemudian Arrida membukanya.


"Ya Allah... ini beneran bang?" Arrida menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Terkejut. Sebuah ponsel baru.


"Beneran! Itu masih baru banget... cuma udah abang buka, untuk mengembalikan data-data kamu yang lama, dan mengganti SIM-card baru dengan nomer lama. Uwais minta tolong sama abang buat ngurusin data kamu, untungnya, abang tau data dan akun kamu"


"Hah?" Arrida masih tidak mengerti.


"Iya dek, itu hadiah ulang tahun kamu ke tujuh belas dari Uwais, katanya... buka aja bungkusnya... Tapi, tadi setelah Abang urus SIM-card, data dan akun kamu, abang bungkus lagi sama persis dengan sebelumnya"


"Hah.. sulit dipercaya"


"Lihatlah dek, bagaimana Tuhan bekerja"


"Maksud abang?"


"Ketika hape kamu yang lama rusak, ternyata Allah udah nyiapin yang baru"


Arrida mengangguk.


"Uwais itu udah mempersiapkannya beberapa bulan lalu, hasil usaha jajanannya bareng Roni. Jadi selama ini, mereka bagi hasil. Karena Roni hanya menjalankan, dan Uwais yang punya modal. Ini cerita Roni"


"Beneran Bang?" Arrida masih tak percaya


"Iya... semalam waktu abang anter pulang... Roni cerita, katanya... Gak tau gimana, Uwais pengen banget ngasih hape buat sweet seventeen kamu... Padahal dia punya tabungan, uang jajan dari ortunya, tapi dia pengen beliin kamu dari hasil kerjanya... Kamu tau dek, dia juga mencoba buka usaha sambil kuliah disana"


Mata Arrida berkaca-kaca. Ia tak percaya dengan cerita Adnan. Ia tak sabar lagi untuk mengaktifkan ponselnya.


"Ya udah Abang tinggal dulu ya"


Adnan pun meninggalkan Arrida di kamarnya.


🌼


Arrida segera mengaktifkan ponselnya, lalu dibukanya aplikasi hijau. Ia ingin sekali menghubungi Uwais. Namun ternyata sudah muncul beberapa pesan suara dari Uwais


πŸ”‰β–ΆοΈ: "Ar... kalau kamu mendengar ini, berarti hapenya sudah aktif, makasih sudah mau menerima dan menggunakannya. Sampaikan makasih buat bang Adnan ya"


Arrida mulai serius mendengarkan.


" Iya nanti aku sampaikan, eh... kenapa gak kakak aja yang ngucapin makasih ke abang?" Arrida bermonolog.


πŸ”‰β–ΆοΈ: "Ar... hiduplah dengan baik, walau aku gak ada di sisi kamu.. Kamu jangan lagi terluka dan jangan sedih...Kamu jangan membuat khawatir lagi ya... Berjanjilah untuk menjalani hidup dengan bahagia"


Mata Arrida mulai berkaca-kaca. Kenapa kesannya seperti akan pergi jauh dan tak kembali? hatinya terasa sesak. Dan seperti ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya.


πŸ”‰β–ΆοΈ: " Ar ... Aku mohon maaf soal semalam... maaf aku sudah mendekapmu... aku gak bisa lihat kamu nangis... dan kalau kamu gak terima, kamu bisa marah, tapi jangan diemin aku, mohon maafkanlah aku, dan jujur ... itu adalah yang pertama buat aku, mendekap seorang gadis dengan penuh rasa yang sulit digambarkan, Maaf"


Arrida menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya. Ah, kenapa Uwais harus membahasnya saat ini? Sejujurnya, ia juga tidak bisa marah... bahkan yang semalam ia rasakan adalah ketenangan dan merasa aman serta nyaman. Baginya, hal itu juga merupakan yang pertama kalinya, mendekap seorang pria dengan penuh perasaan yang tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Ya, walaupun dia berkali-kali pernah mendekap Uwais saat di gendong atau saat tertidur di motor. Namun saling mendekap erat, baru semalam terjadi. Dan tanpa terasa, air matanya akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.


πŸ”‰β–ΆοΈ"Oh ya Ar ... Aku gak tau kenapa aku ingin banget ngasih kamu hape...padahal hape kamu masih sangat bagus... Semalam, akhirnya aku tau, ternyata semua adalah rencana Allah yang terbaik buat kamu di hari ulang tahunmu"


Arrida masih menangis. Ada keharuan menyeruak di hatinya. Ia mengusap pangkal hidungnya yang memerah karena nangis.


"Maaf kak aku nangis lagi, bukan karena cengeng, tapi karena kakak bikin aku nangis" Arrida masih bergumam dan hanya dia yang bisa mendengarnya.


πŸ”‰β–ΆοΈ" Bahagia selalu ya Ar, lahir bathin di dunia dan akhirat...selamat ulang tahun"


Air mata Arrida terus saja mengalir membasahi kedua pipinya. Ia menganggukkan kepalanya mendengar pesan suara Uwais terakhir.

__ADS_1


"Kakak juga...selalu bahagia lahir bathin di dunia dan akhirat" ucap Arrida lirih.


Segera setelah mendengarkan pesan suara Uwais, dia pun melakukan panggilan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Aneh. Panggilan ketiga dan keempat, masih tak ada jawaban. Arrida mulai khawatir, ada sesuatu yang melintas di benaknya.


Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan prasangka buruknya. Hingga panggilan ke sepuluh masih saja tak ada jawaban. Rasa kesal dan khawatir bercampur menjadi satu. Ia menyerah dan membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di tempat tidur. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


Selepas sholat isya berjamaah dengan Bu Sofia di ruang sholat, tiba-tiba terdengar teriakan Adnan dari dalam kamarnya. Namun samar terdengar. Ia pun segera ke lantai atas, menuju kamar Adnan yang letaknya berhadapan dengan kamar Arrida.


"Apa sih bang?" Arrida bermaksud memperjelas apa yang Adnan teriakkan. Ia kini berada di pintu kamar Adnan.


"Angkat telfonnya Uwais"


"Hah, serius kak Uwais telfon bang?"


"Iya! sana cepetan! bisa lumutan dia nungguin kamu"


Arrida bergegas ke kamarnya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di kasur.


"Hah... tiga puluh tiga panggilan tak terjawab?" Arrida menutup mulutnya tak percaya.


Sebelum ia melakukan panggilan telepon, terlebih dahulu Uwais memanggilnya. Tanpa ragu lagi dia menggeser tombol hijau.


"Assalamu'alaikum" Arrida membuka percakapan


"Wa'alaikumsalam warohmatulloh...."


"Kakaaaaaak" Arrida berteriak. Bahagia.


"Hei, gak usah teriak"


"Aku telfon kakak, tapi gak diangkat-angkat" rengek Arrida


"Sama" Jawab Uwais singkat


"Hehehe... maaf" Arrida nyengir


"Kenapa gak diangkat-angkat?" tanya Uwais kini.


" Tadi ada berapa panggilan tak terjawab di layar hape kamu?"


"Tiga puluh tiga, udah kayak baca tasbih abis sholat" Arrida terkekeh.


"Kamu baru panggilan ke sepuluh udah kesel?"


"Heheh, Iyya maaf... jadi sekarang kakak bener-bener kesel ya???" tanya Arrida hati-hati


"Nggak kesel, aku cuma cemas, takut terjadi apa-apa lagi. Terakhir kali kamu gak bisa dihubungi semalam, dan kamu keadaannya udah kacau, baju kotor, basah, kaki sakit juga... Apalagi ini sudah ada panggilan dari kamu sebelumnya, aku uda cemas banget"


"Maaf udah buat kakak cemas ... Kenapa kakak baru telfon? kakak masih di kereta?"


"Iya, aku di kereta, hapeku di silent, ada di tas... jadi gak kedengeran waktu ada panggilan..Begitu aku ambil hape, ternyata mati, akhirnya aku charge dulu" Uwais menjelaskan


"Kakak jahat tau gak"


"Kenapa?"


"Kakak udah bikin aku nangis"


"Kenapa?"


"Pesan suara kakak banyak banget, nyampe aku gak bisa bilang apa-apa"


"Kenapa sampai kamu nangis?"


"Karena Allah udah ngirimin kakak di hidup aku.... bukankah kakak bagian dari rencana Allah yang terbaik buat ku?"


Uwais tersenyum mendengar penuturan gadis kesayangannya itu. Walaupun sebenarnya senyuman itu tidak akan terlihat olehnya.

__ADS_1


"Kamu juga Ar.... kamu bagian dari rencana Allah yang terbaik buat hidup aku"


"Kaaaan.... aku jadi nangis lagi... "


"Boleh aku VC (video call)? pengen lihat kamu nangis"


"Jangan, aku jelek kalo nangis"


"Nggak, apapun keadaan kamu, kamu selalu menggemaskan"


"Kaaaan... kakak selalu bisa bikin aku melting"


"Kayak keju, melting" Uwais terkekeh


Arrida ikut terkekeh, ia tidak lagi menangis.


"Kak..."


"Hmm"


"Makasih hapenya, aku suka"


"Semoga manfaat ya"


"Pasti"


"Ar, kamu gak marah soal semalam?"


"Apa yang kakak rasakan semalam, aku juga merasakannya"


"Maaf ya"


"Aku yang makasih kak" Arrida tersenyum.


Dan dari seberang sana, Uwais pun tersenyum.


"Waktu tadi pamitan, kakak datar banget, taunya semua kakak ungkapin di pesan suara ya" kata Arrida sedikit protes saat berpamitan Uwais tak melakukan apa-apa.


"Kalau aku ngobrol banyak ma kamu, ntar aku gak pergi-pergi, takut kamu nangis gak rela kalau aku tinggalin" Goda Uwais.


"Ish... mulai deh kepedean..."


"Hahah cuma sama kamu aku kayak gini Ar"


"Biarpun aku gak rela, kakak bakal tetep pergi kan" Arrida berengut


"Iyalah... kan mau meraih rencana terbaik Allah yang lain, yang udah disiapkan oleh Allah, emang kamu gak mau dukung aku?"


"Aku selalu dukung kakak, dan mendoakan kesuksesan kakak"


"Aamiin, sukses juga buat kamu ya"


"Kakak jangan capek-capek, jaga kesehatan, katanya usaha juga ya disana?"


"Hmm" Uwais mengiyakan.


Dan akhirnya obrolan pun berlanjut ke hal-hal receh yang gak penting.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers


Makasih udah setia baca n ngasih jempolnya.


Makasih juga yang udah ngelike, nge fav, nge vote n komment nya yaa.


Semoga suka n terhibur

__ADS_1


Sehat selalu kakak readers


πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»


__ADS_2