
Arrida dan Lani baru saja menyelesaikan resume mereka dengan tulisan latin. Lumayan lama juga karena mereka tidak terbiasa menulis dengan huruf tegak bersambung.
"Alhamdulillah... selesei," kata Arrida sambil mengibas-ibaskan tangannya karena pegal.
"Iyya, ternyata kesel banget nulis latin" keluh Lani
"Kalau kata kak Uwais, paling cuma ditumpuk, gak bakal dibaca"
"Hmm bener banget, siapa juga yang mau baca segini banyaknya, dari seribu peserta lebih "
"Iya kamu bener Lan,"
"Oh iya, Da, tau gak, tadi mbak Arin cerita tentang kak Uwais, dia tanya kok bisanya gue kenal sama si dry ice?"
"Dry ice?" Arrida bingung.
"Iya, dry itu kering, ice itu es ... dingin ... jadi, kak Uwais itu sosoknya kering alias garing dan dingin bagaikan es, tapi kegaringannya dan sifat dinginnya itu hanya pada cewek,"
"Ah, masa iya?" Arrida tak percaya, karena sepengetahuannya, Uwais adalah sosok yang ramah, humble dan suka menolong.
"Iya, mbak Arin kan satu fakultas sama kak Uwais ... Jadi, yang namanya kak Uwais itu, gak pernah mau tersenyum ma cewek, kecuali yang dikenalnya, itu pun kalau di sapa duluan, selebihnya dia flat aja,"
"Masa gitu? Gak mungkin, ah"
"Yah, gak percaya, kata mbak Arin, kak Uwais itu dapat julukan dari temen-temen cewek se-fakultasnya si ganteng berhati dingin,"
"Baru tau cerita ini," kata Arrida sambil menganggukkan kepalanya. "Padahal menurutku kak Uwais ramah lho ... Mungkin, karena belum kenal aja, jadi bilangnya seperti itu"
"Nggak, Da ... gimana mau kenal, orang dianya aja kayak membuat jarak dan benteng sangat tinggi!"
"Benarkah? Kak Uwais itu ramah lho"
"Cuma sama elo, Da ... Sepertinya dia memang membuat batasan yang sangat ketat agar cewek-cewek tidak mudah mendekatinya,"
"Maksudnya, biar cewek-cewek gak ge-er dan gak baper ya?"
"Iya ... gitu seh kata mbak Arin"
Arrida mengangguk memahami sesuatu. Mungkinkah, Uwais melakukannya karena menjaga hati hanya untuknya? Mungkin dia bermaksud untuk tidak membuat para gadis baper kepadanya.
"Eh, tapi, Da ... masih kata mbak Arin nih ya ... walaupun kak Uwais tidak mudah didekati, tetep aja cewek-cewek itu banyak yang penasaran ma dia ... Karena dia tampan banget ... Nah, dengan sikap dinginnya itu, malah membuat kak Uwais makin terlihat cool dan terlalu mempesona, pokoknya cowok perfect lah,"
"Hahaha, padahal dia cuma penjual bakso, lho,"
"Nah, itu lagi kelebihannya ... Bayangin aja, dia udah punya usaha walaupun masih kuliah ... Ya, otomatis lah, cewek-cewek pada ngantri ...."
"Iya ya?" Arrida setuju dengan yang dikatakan Lani.
"Eh, Da, satu lagi yang mau gue omongin, kata mbak Arin, ada satu cewek dari fakultas lain, namanya Laura, hampir tiap hari ke kelas kak Uwais, nungguin, bahkan kadang ikutan masuk kelas ... sayang, kak Uwais gak ada respon, dan lucunya lagi malah terjadi pertengkaran antara dia ma mbak Metha,"
"Siapa?"
"Mbak Metha itu, cewek satu fakultas ma kak Uwais yang juga mepetin kak Uwais ... Bayangin aja, yang diperebutkan malah gak tau bahkan mungkin gak mau tau,"
"Waw, segitunya, apa gak ada cowok lain? Kenapa harus kak Uwais?"
"Nah itu dia, makin kak Uwais dingin dan misterius, malah bikin dia jadi makin cool, dan membuat cewek-cewek semakin penasaran"
"Hmm" Arrida mengangguk-angguk.
"Cuma kata mbak Lily, temen satu kosnya mbak Arin, katanya hati-hati kalau berhadapan ma Laura, dia licik,"
"Licik?"
"Yaaa ... Dia bisa melakukan apa aja untuk mendapatkan yang dia inginkan"
"Kata mbak Lily nih ya, sebelum tau tentang kak Uwais, Laura itu naksir temen sejurusan, sayang cowoknya udah punya pacar ... dan yang terjadi, pacarnya dijebak, ah pokoknya gila deh katanya,"
Arrida tiba-tiba teringat kata-kata Kirno yang mengatakan jika Laura adalah psycho.
__ADS_1
"Eh Da, elo bener adiknya kak Uwais?"
"Bener,"
"Tapi bukan adik kandung ya? Kalian sepupu?"
"Aku adik tingkatnya waktu di SMA dulu, kebetulan ambil kuliah di universitas yang sama, jadi deket deh"
Lani tidak percaya, tatapannya menyelidik.
"Nggak deh, perasaan gue kok bilang lain ya? Dari cara kalian menatap tadi pagi itu beda, kalian pacaran ya?"
"Kami hanya deket, Lan," kata Arrida.
"Elo suka dia ya? atau dia yang suka elo?"
"Bingung ngejelasinnya, pokoknya yaaa kita deket aja"
"Emang kak Uwais gak pernah nembak kamu? Nyatain cinta, atau bilang maukah kamu jadi pacarku? Gitu?"
"Emang penting?"
"Iyalah, biar jelas statusnya,"
Lagi, dulu ketika SMA, Nana dan Hani yang mempertanyakannya, kini setelah dua tahun berlalu, masih saja ada yang mempertanyakannya tentang apakah Uwais pernah mengungkapkan perasaan cintanya pada Arrida? Rasanya memang seperti tak ada kejelasan. Walau sebenarnya dia tidak peduli, karena perhatian dari Uwais sudah sangat berlebih, namun jika pada kenyataannya, ada orang lain yang menanyakan apakah Uwais menyatakan cintanya, selalu saja pertanyaan itu menyudutkannya.
"Lalu aku ini siapanya? Haruskah aku menanyakannya? Memperjelas hubungan kita sebenarnya?" Arrida bermonolog dalam hati. Ada sesak yang dirasakan oleh dadanya. Ia pun menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kenapa Da? Kok bengong? Lo digantung kak Uwais ya ... Kalian deket, tapi dia gak pernah nyatain cinta, bilang 'Aku suka kamu atau I Love You' ... gitu ya?" kata Lani menebak.
Ah, semua yang dikatakan Lani benar adanya ... dan itu membuat rasa nyeri hadir di ulu hatinya.
"Sok tau, dia kan hanya kakak tingkatku, Lan"
"Ya, udah terserah lo deh kalo emang gak mau ngaku, yang penting hati-hati aja kalau berhadapan ma Laura"
Arrida mengangguk. Untuk saat ini dia sedang tidak ingin membahas soal ungkapan perasaan cinta. Biarlah dia menikmati segala perhatian dari Uwais, menikmati bagaimana cara Uwais memandangnya, memanjakannya dan menjaganya.
...
...***********...
Hari ini, kegiatan PPKMB, diisi dengan pembuatan paper mob yang dimulai dari pukul delapan pagi hingga pukul setengah satu siang. Kemudian setelah kegiatan ishoma (istirahat, sholat dan makan), para peserta PPKMB dikenalkan dengan UKM yang ada di kampus seperti organisasi hingga ekstrakurikuler. Ada organisasi di tingkat universitas, fakultas, dan program studi. Ada pula kegiatan ekstrakurikuler di berbagai bidang seperti seni dan olahraga. Setiap organisasi dan ekstrakurikuler mempresentasikan kegiatan yang mereka laksanakan termasuk program unggulannya.
Menjelang sore hari, kegiatan PPKMB universitas pun selesai. Kini Arrida dan semua peserta PPKMB diserahkan kepada fakultas masing-masing. Mereka melanjutkan kegiatan orientasi fakultas dan jurusan.
Tujuan orientasi di tingkat fakultas dan jurusan ini, adalah agar setiap mahasiswa baru dapat saling mengenal dan kompak dengan teman-teman satu angkatan. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan sejumlah tugas yang diberikan oleh senior. Seperti mempersiapkan atribut orientasi mulai dari name tag hingga dress code.
Arrida dan Lani berbeda kelompok. Namun dia sangat menikmati kegiatan tersebut, karena kegiatannya hanya apel sore dan pembagian tugas saja. Kini dia sedang menunggu Lani di gerbang gedung fakultasnya sambil memainkan ponselnya.
"Halo Ida cantik" Sapa seorang senior. Dia tersenyum aneh lebih seperti senyuman licik dan menyeringai. Bryan.
"Hah!" Arrida terkejut. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan orang yang sudah tidak ada dalam ingatannya.
"Aku Bryan, pake 'y', masih ingat?"
"Ya Tuhan mimpi apa aku semalam?" gumam Arrida dalam hati "Kak Uwais ... help me" panggilnya masih di dalam hati.
"Ternyata kita berjodoh ya ... bisa bertemu lagi, dan
satu fakultas pula" kata Bryan masih tersenyum aneh, menurut Arrida.
"Mas yang waktu itu ya... yang hapenya jatuh," Arrida pura-pura sok mengingat-ingat.
"Ingatanmu lumayan juga,"
Arrida nyengir garing.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak pernah balas chatku? dan juga gak pernah angkat teleponku?"
"Eh, maaf mas, aku gak biasa dengan nomer asing"
"Tapi kan aku udah ngechat kamu, memberitahu kalau aku adalah Bryan,"
"Hee ... aku suka mengabaikan nomer asing, maaf ya mas," kata Arrida sambil berpikir bagaimana caranya dia bisa pergi dari hadapan Bryan.
"Oh, tapi kamu save kan nomerku?"
"Heee, sayangnya ... enggak ku save" Arrida masih nyengir.
"Kenapa?"
"Gak papa"
"Takut ketauan pacarmu?"
Arrida hanya tersenyum kikuk.
"Da... maaf nunggu lama ya" kata Lani saat tiba di hadapan Arrida.
"Alhamdulillah, akhirnya Lani datang" kata Arrida dalam hati.
"Oh gak papa," jawab Arrida.
"Eh ada mas senior ya" Lani menoleh pada Bryan yang berdiri di hadapan Arrida.
"Hai, aku Bryan pake 'y' ...."
"Aku Lani" kata Lani menjabat tangan Bryan.
"Ya udah mas, kita duluan ya," kata Arrida berpamitan.
"Eh, bentar Da, ada yang mau gue kenalin ke elo" kata Lani mencegah agar mereka tidak pergi lebih dulu.
"Siapa?" Arrida penasaran.
"Tuh, dia lagi kesini." tunjuk Lani
"Hah," Arrida menutup mulutnya yang menganga dengan satu tangannya.
"Kenapa, Da?" Lani terheran.
"Andri ..." ucap Arrida lirih.
"Lo kenal???" Lani jadi penasaran
"Hai ..." Sapa Andri ketika sudah berada di hadapan ketiganya ... Ia tersenyum bahagia, ia juga terkejut bisa bertemu dengan teman semasa SMA-nya.
"Oh kak Uwais ..." hanya satu nama itu yang ia panggil dari dalam hatinya.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
Oiya kakak readers mampir juga ya ke karya temanku... recommended banget nget.... karya: Quenslyπππ
__ADS_1