Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
15. Pegangan Ar...


__ADS_3

Langit tampak semakin mendung, angin berhembus lumayan kencang ... Arrida masuk ke kantin bersama Nana dan Hani. Hampir semua yang ada disitu menatapnya, lalu berbisik-bisik.


Nana dan Hani menoleh pada Arrida, memastikan apa dia baik-baik saja atau tidak.


Menyadari dilirik kedua sahabatnya, Arrida memberikan senyuman yang menunjukkan kalau dia baik-baik saja sehingga kedua sahabatnya ini bisa tenang.


Mereka pun duduk di tempat paling pojok di area kantin, lalu memesan makanan.


๐ŸŒผ


Baru saja Arrida hendak menyuapkan bakso ke dalam mulutnya, tiba-tiba ada empat orang siswi mendekatinya. Dia Audy dan ketiga rekannya


"Oh ini ya ... Player of the year, coba gue lihat!" Audy membungkukkan badannya, mencoba melihat wajah Arrida.


Sekilas Arrida menatapnya santai, lalu menyuapkan baksonya yang sudah ada di depan mulutnya.


"Kok lo masih punya muka sih? kalo gue udah gak mau sekolah disini," komentar Audy mencoba menyudutkan


"Untung bukan kamu mbak ... Jadi mbak masih bisa sekolah disini," jawab Arrida cuek tanpa menatapnya.


"Ish ... Bener-bener gak tau malu!"


"Masalah ya mbak?"


" Iya lah!"


"Mbak.m, sebelum mbak ngomong, mbak udah cari kejelasan belum?"


"Ngapain? Udah jelas kan? Kamu penggoda cowok-cowok disini!"


"Terserah kata mbak lah, kalo emang percaya sama postingan gak jelas, nanti ... Mbak malu sendiri kalo tau kebenarannya!"


Audy terdiam. Sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli dengan postingan itu, dan dia juga tidak seharusnya terprovokasi untuk mengintimidasi Arrida, meskipun dia menyukai Uwais.


Akhirnya dia dan ketiga temannya pun pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.


"Kamu gak papa kan Da?" tanya Hani memastikan.


"Aku gak papa Han, aku udah tau kok bakal kayak gini,"


"Kamu udah nyiapin mental ya?" tanya Nana sedikit menggoda.


Arrida mengangguk mengiyakan. Nana dan Hani mengangkat ibu jarinya. Mereka pun segera menghabiskan makanannya.


๐ŸŒผ


Sesaat setelah mereka menyelesaikan makannya, dan hendak meninggalkan tempat duduk mereka, tiba-tiba ada sebungkus minuman teh melayang tepat mengenai kepala Arrida, menyebabkan wajahnya basah dan dingin karena air teh nya keluar dari plastiknya. Ketiganya terkejut, langsung mencari si pelempar. Namun sayang, belum juga tau siapa yang melempar, ternyata ada lagi yang melayang ke arah Arrida, kali ini sebungkus es jeruk, tambah lagi ada jus, kopi dan terus menerus bungkusan- bungkusan berisi minuman melayang pada Arrida. Bukan cuma itu, makanan basah bahkan kuah-kuah sisa makanan yang terbungkus plastik dilemparkannya pada Arrida. Sepertinya memang sengaja dipersiapkan untuk melempari Arrida.


Nana dan Hani makin bengong, mereka mencoba menghalau lemparan- lemparan tersebut. Arrida yang bingung hanya diam sambil menutup wajahnya.


Tiba-tiba ada yang merengkuh Arrida. Tangan kekar milik Uwais, ia menarik kepala Arrida, mendekatkan ke dadanya lalu didekapnya hingga kepala dan tubuh Arrida tidak lagi terlempar plastik berisi minuman itu. Kini, malah kepala dan tubuh Uwais lah yang terkena lemparannya.


Sambil tetap mendekap Arrida, Uwais berusaha membawa keluar Arrida dari serangan bungkusan - bungkusan minuman tersebut.


Keluar dari kantin, ia melepaskan dekapannya, lalu menggenggam erat tangan Arrida, lalu menariknya mengajaknya berlari ke tempat yang lebih aman.


Lebih tepatnya ke ruang BK.


"Maaf Pak, Bu, tolong lindungi Arrida!" ucap Uwais.


Semua guru BK yang ada di ruangan terkejut. Mereka Bu Sofia, Bu Intan, Pak Lukman dan Pak Tino.


"Arrida dibully di kantin, imbas dari postingan!" kata Uwais sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Ya Ampuuun, ada-ada aja, dasar bocah! Kalian berdua tunggu disini, biar bapak ke kantin!" kata Pak Lukman yang langsung keluar dari ruang BK diikuti oleh pak Tino.


๐ŸŒผ


โ€œKalian pulang ya ... Baju kalian basah dan kotor, gak mungkin kalian meneruskan pelajaran, biar ibu yang mengurus ijin kalian!" Bu Sofia memberi saran.


Arrida dan Uwais hanya terdiam. Arrida telah membersihkan wajahnya yang lengket di toilet ruang BK.


"Ibu pesankan taksol ya," Bu Intan menawarkan.


"Gak usah bu, saya bawa sepeda sendiri!" tolak Uwais ramah.


"Biar Rida sendiri yang mesen taksol bu!" Arrida langsung menyela, sambil merogoh saku roknya mengambil ponsel pintarnya.


"Ibu antar kamu sampai depan" kata Bu Sofia, yang terlihat khawatir dengan keadaan anaknya.


Arrida mengangguk. Sebenarnya ia ingin sekali memeluk ibunya karena saat ini dia sangat ingin menangis. Baru kali ini dia merasa dipermalukan dan dikucilkan.


๐ŸŒผ


Arrida sedang menunggu taksol didepan gerbang sekolah ditemani bu Sofia setelah sebelumnya Hani mengantarkan tasnya ke ruang BK. Sementara Uwais keluar dari parkiran menaiki sepedanya.


Hujan rintik-rintik mulai turun, Uwais sempat menoleh ke arah Arrida dan bu Sofia. Kemudian ia menghentikan laju sepedanya hanya untuk memandang Arrida menangis dalam pelukan bu Sofia. "Kamu akan baik-baik saja Ar, bersabarlah!"


๐ŸŒผ


"Kamu yakin, Dek, mau berangkat ke sekolah?" tanya Adnan memastikan keadaan Arrida pagi ini.


Semalam, Pak Arthur, bu Sofia, Adnan dan Arrida sempat membicarakan tentang permasalahan Arrida di sekolah.


"Yakin, Bang, Rida udah gak papa, mereka yang bully kan belum tau yang sebenarnya, tapi bagi yang sudah tau, dan mereka pintar, pasti tidak akan percaya dengan postingan itu,"


"Kalau kamu gak mau sekolah gak papa, Nak, biar bunda yang minta ijin," bu Sofia memberi saran


"Tenang, Bun! Lihat! Rida udah gak papa," kata Arrida mantap.


"Iya, Bun, tenang aja,"


"Masalah kamu pasti segera selesai, pak Lukman hari ini akan manggil anak-anak yang terlibat, selanjutnya akan ada pemanggilan orang tua, termasuk orang yang membuat postingan dengan akun abal-abal!"


"Sudah ketemu bun pelakunya?" tanya Arrida antusias.


"Tadi pak Lukman bilang, ada kemungkinan yang melakukan adalah Erna, seperti cerita kamu, Nak!"


Sofia memberi penjelasan.


Arrida menganggukkan kepalanya mengerti.


"Bunda berangkat duluan, ya," pamit bu Sofia. Biasanya jika Arrida menggunakan angkutan umum, pasti Arrida akan lebih dulu berangkat ke sekolah daripada bu Sofia, tapi hari ini Arrida akan berangkat diantar Adnan.


"Abang jadi nganter, kan?" tanya Arrida sambil memasukkan suapan nasi gorengnya yang terakhir.


Iya, Dek, tenang aja, akan abang antar nyampe depan gerbang sekolah, kalo perlu nyampe depan kelas, biar abang jadi bodyguard kamu,"


"Gak perlu berlebihan juga kalleee," cibir Arrida membuat Adnan ngakak, sementara pak Arthur hanya menggelengkan kepala.


"Abang cepetan dong, lama amat makannya, ntar Rida telat!"


"Tenang dek, gak akan telat, kan naik motor, bisa nyalib sana nyalib sini!"


"Hati-hati Adnan, jangan suka mepet mepet kalo naik motor!" Pak Arthur mengingatkan.


"Siap, Yah, tenang aja, cuma ngebut dikit!" Adnan cekikikan membuat adik satu-satunya itu merengut.

__ADS_1


"Udah, Bang, cepetan, tuh bunda udah pergi!" gerutu Arrida saat mendengar suara motor bu Sofia yang telah melaju.


"Iya, Dek, sabar ...." kata Adnan sambil mengakhiri makannya.


Tak lama kemudian, Arrida dan Adnan pun menuju ke sekolahnya Arrida. Namun sayang sekali, sekitar 500 meter lagi sampai sekolah, ban motor Adnan malah kempes karena bocor. Adnan meminggirkan motornya ke dekat trotoar. Arrida mengikuti dengan wajah yang cemberut.


"Duuh, gimana nih bang?" Arida mulai menggerutu. "Jalan kaki masih lumayan jauh, angkutan umum susah, pesen taksi kelamaan, mana lima menit lagi bel masuk,"


Sudah lima menit berlalu, mereka menunggu di trotoar.


"Tunggu dek, siapa tau ntar ada angkutan lewat yang gak penuh," Adnan mencoba menenangkan Arrida yang sedang cemas.


Arrida tak berkomentar, ia sudah tau jawabannya, angkutan umum jika jam segini, dengan jarak sudah mendekati sekolah pasti sudah sangat penuh, dan jarang menaikkan orang.


"Arrida!"


Sebuah suara yang sangat familiar menyapa. Dia Uwais dengan sepedanya tepat berhenti di hadapan Arrida dan Adnan.


"Kak Uwais!" wajah Arrida sedikit berbinar.


"Oh kamu kah yang namanya Uwais?" tanya Adnan, dia ingat nama Uwais saat semalam keluarganya membahas masalah Arrida di sekolah.


Uwais mengangguk dan tersenyum.


"Nah kebetulan, kamu bisa tolongin abang, kan,"


Uwais mengernyit, mencari tahu maksud Adnan.


"Abang gak bisa nganter Arrida, ban motornya bocor, dari tadi nungguin angkutan gak ada yang berhenti, ni anak udah mau nangis aja takut telat, karena kamu juga mau ke sekolah kan ya, bisa bonceng adek abang ga?"


"Boleh," jawab Uwais singkat, "Arrida nya mau ga?" tanya Uwais sambil menatap Arrida.


"Hah, jelas aja mau lah, masa dia nolak, dari tadi uda mau nangis," ledek Adnan.


Uwais hanya tersenyum melihat kejahilan Adnan pada Arrida.


"Ya udah, ayo naik!" perintah Uwais pada Arrida untuk naik ke sepedanya.


Setelah pamit pada Adnan, walau sedikit ragu Arrida pun menaiki tempat duduk bagian belakang sepeda Uwais.


Mereka akhirnya meninggalkan Adnan menuju ke sekolah.


"Pegangan Ar, kita ngebut!" perintah Uwais pada Arrida karena dia melajukan sepedanya dengan sangat kencang agar bisa segera sampai sekolah.


Arrida menurut. Kedua tangannya memegang kuat pinggir jaket milik Uwais. Namun kepalanya sedikit bersandar di punggung Uwais. Walau Arrida mencoba untuk mengabaikan perasaannya, namun jujur saja dia merasa nyaman bersandar di punggung Uwais.


Kembali getaran aneh yang indah itu hadir diantara keduanya. Dan Uwais mengulum senyum merasakan ada yang bersandar di punggungnya.


๐ŸŒผ


Mereka tiba tepat ketika pak Yono menutup pintu gerbang yang tinggal beberapa senti lagi tertutup rapat.


"Maaf pak telat, tadi ban bocor!" kata Uwais memberi alasan.


"Ya udah cepet masuk!" pak Yono membuka kembali pintu gerbang.


Uwais segera masuk dan menuju tempat parkir.


"Makasih ya, kak!" kata Arrida sesaat setelah turun dari sepeda Uwais.


"Hmm," Uwais mengangguk tersenyum sambil sedikit melirik Arrida.


"Aku ke kelas duluan ya." pamit Arrida sambil meninggalkan Uwais.

__ADS_1


Ada senyuman yang indah terbit di wajah Uwais sambil menatap kepergian Arrida.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


__ADS_2