Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
142. Mencintaimu adalah anugerah


__ADS_3

"Aku pamit ke tempat praktek, aku minta antar bang Arman," Itu pesan yang dikirim Arrida pada Uwais.


Uwais membacanya, namun raganya masih merasa lelah karena menangis.


Setelah kepergian Arrida tadi, hatinya makin kacau, hatinya makin sakit, terlebih melihat Arrida yang pergi begitu saja, ia sebenarnya sangat menyesal, namun ia sendiri lebih memilih diam.


Perlahan ia menuju lemari baju, mencari sesuatu, entah apa, yang jelas ia ingin sekali mendapatkan sesuatu yang bisa mengembalikan ingatannya, ia sudah lelah dengan kondisinya saat ini.


Tiba-tiba ia melihat sebuah jaket yang menurutnya sangat familiar. Jaket yang pernah diberikannya kepada Arrida saat di rumah sakit, awal pertemuan.


Entah dorongan darimana, ia pun memakainya, mungkin saja karena pagi ini sedang turun hujan. Lumayan bisa membuat tubuhnya lebih hangat.


"Ah, Arrida, kamu lebih memilih pergi meninggalkan aku, hujan-hujanan ke tempat praktek dalam keadaan marah dan sakit hati atas ucapanku, tapi aku bisa apa? Aku bukan hanya hilang ingatan tapi aku juga tidak berguna untukmu, aku bodoh," Uwais bermonolog. Uwais kembali berada di titik terapuhnya. Dia merasa tidak percaya diri bisa menjadi suami yang baik untuk Arrida dan apakah dia mampu menemani Arrida menjaganya sesuai amanah pak Ridwan jika kondisinya seperti sekarang ini.


Uwais menarik nafas panjang.


"Kamu ngapain disini? Mengurung diri? Mau buat ulah apa?" Tiba-tiba Fika datang membuka kamar Uwais. Membuat Uwais terkejut dan berbalik menatapnya.


Fika kemudian duduk di tepi tempat tidur, sementara Uwais memilih duduk di kursi meja rias.


"Kamu ada masalah apa, hm?" tanya Fika.


Uwais hanya diam dan tidak berniat menjawabnya.


"Tadi, Arrida datang-datang ke rumah, minta bang Arman anterin, untung aja, mobil bang Arman udah dibalikin Kirno kemaren,"


Uwais diam hanya menatap datar Fika.

__ADS_1


"Arrida mukanya sembab kayak abis nangis, kamu apain dia? Kalo kalian bertengkar, kamu yang harus banyak ngalah, kayak almarhum papah ke mamah, kayak bang Arman ke mbak, contoh mereka, walau bagaimanapun, wanita itu cukup didengarkan, jangan sakiti dia dengan kata-kata yang gak manfaat apalagi sampai mukul,"


Uwais tetap diam mendengarkan. Sebenarnya, tidak ada masalah antara dirinya dan Arrida, ini hanyalah ketidakpercayaan dirinya saja.


"Kamu beruntung, begitu dapat pasangan, papah langsung setuju, dan dia bener-bener sayang sama kamu! Arrida gadis baik yang selalu kamu perjuangkan, kamu jaga, kamu selamatkan dan kamu sayang! Kamu tau, sebelum kamu bersamanya, kamu lebih dulu meminta ijin orang tuanya, padahal kamu baru aja lulus kelas dua belas, dan orang tuanya juga langsung setuju tanpa tau kamu anak papah ... Kamu tau karena apa? Itu karena kamu amanah!" jelas Fika.


Uwais masih mencerna kata-kata Fika.


"Demi Arrida, kamu buka resto, demi Arrida kamu bangun rumah, demi Arrida kamu siap apapun, karena kamu mencintainya, dan dia pun sama! Dia sabar walau kamu hilang ingatan, dia terlalu menyanyangi kamu, Dek!"


"Kamu tau, kemarin dia terpaksa harus pulang dengan Rasya, perutnya sakit jika datang bulan hari pertama, dan kamu, dulu kamu pernah sangat mencemaskan keadaannya, saat Arrida mengalaminya! Tapi lihatlah tindakan kamu kemarin! Jangankan merawatnya, mengkhawatirkannya saja tidak!"


Ada yang nyeri di sudut hati Uwais, ia menjadi semakin bertambah tidak percaya diri, merasa dirinya semakin tidak berguna. Karena cemburu, dia malah membiarkan istrinya itu padahal dalam keadaan sakit.


"Ah, Arrida, maafkan aku!" ungkap Uwais dalam hatinya.


Uwais menarik nafas panjangnya, ia semakin merasa bersalah.


"Mbak gak nyalahin kamu kalau cemburu, tapi harus pada tempatnya," kata Fika kemudian bangkit dari duduknya mendekati Uwais dan menepuk pundaknya lalu keluar dari kamar.


Sepeninggal Fika, Uwais melihat ponselnya, dibacanya berulang kali pesan dari Arrida. Hatinya gamang untuk membalasnya. Padahal ingin sekali ia meminta maaf. Ia pun memilih diam sambil menatap hujan melalui jendela kamarnya.


Ia memasukkan ponselnya ke saku jaket. Ternyata tangannya menyentuh sesuatu, ada sebuah kertas berwarna biru muda. Ia pun segera mengeluarkannya dari dalam saku jaket kemudian membaca tulisan yang ada di kertas tersebut. Itu surat cinta dari Arrida, yang berisi lagu karangannya dan diakhiri dengan kata 'Hatiku Padamu, Kak'.


Saat membacanya, hati Uwais berdebar hebat, nafasnya tiba-tiba naik turun tak beraturan, ada sebuah ingatan yang mulai muncul walau belum sempurna. Ingatan masa SMA. Ketika Uwais menyanyikan lagunya saat HUT sekolah bertepatan dengan ulang tahunnya dan Arrida. Saat itu, hatinya benar-benar berbunga, apa yang dia nyanyikan adalah ungkapan seluruh hatinya untuk Arrida. Walaupun jemari lentiknya sedang asyik memainkan gitar, dan bibirnya sedang menyanyikan syair lagu, namun tatapannya hanya tertuju pada satu gadis cantik yang memiliki bola mata indah dengan bulu mata yang lebat dan lentik juga senyuman menarik yang memikat hatinya. Bayangan gadis kesayangannya itu tampak jelas dalam ingatannya saat ini. Ketika gadis itu tersenyum, ketika gadis itu menatapnya, semua sangat indah dan selalu saja membuat hati Uwais berdebar kencang tak beraturan.


"Arrida-ku!" ucapnya spontan sambil memegang dada.

__ADS_1


Ia pun segera berlari keluar, tergesa menuju tempat dimana motor diparkir.


"Mau kemana, Wais?" tanya Fika yang melihatnya tergesa-gesa.


"Mau ke Arrida!"


"Tapi ini lagi hujan, jangan kemana-mana!" perintahnya kemudian.


"Aku harus kesana! Penting!!!" tegas Uwais sambil berteriak penuh penekanan.


"Pakai taksi aja!" kata Fika memberi saran agar Uwais tidak kehujanan, karena mobil masih dipakai oleh Arman.


"Kelamaan, Mbak," tolak Uwais.


"Kalau gitu dipakai jas hujannya!" Fika meminta Uwais mengenakan jas hujan untuk melindungi tubuhnya nanti saat naik motor agar tidak basah. Akhirnya, Uwais pun menurut.


Setelah memakai jas hujan, ia segera mengendarai motornya membelah jalanan basah yang masih terguyur hujan.


"Arrida-ku, mencintaimu adalah anugerah dari Alloh, jangan pernah lepaskan genggamanmu, karena Alloh tak akan membiarkannya, Alloh telah mengijinkanku untuk selalu menjagamu dan membahagiakanmu, lagi dan lagi! Untuk itulah, Alloh memberikanku kesempatan hidup sekali lagi karena ada amanah yang harus aku jalankan! Aku mencintaimu, hati aku pun hanya untukmu, Cinta!" ucapnya dalam hati.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Uwais otw sadar....


Makasih kak readers, masih setia dukung Arrida dan Uwais. Makasih likenya dan hadiah serta kommentnya, Sehat sehat sehat selalu ya... 😘😘😘


Hatiku Padamu Kak readers.... πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2