
"Hai, Ar" sapa Uwais ketika gadis itu menghampirinya di dekat gerbang asrama putri.
"Eh, kakak, aku kan udah bilang kalo selama PPKMB aku mau berangkat sama Lani, jadi gak usah dijemput," Kata Arrida pada Uwais sambil menunjuk Lani yang baru saja keluar dari pintu asrama. Dia adalah teman sekamarnya, namun beda jurusan.
"Iya, tau, cuma pengen lihat kamu aja ... udah siap?" tanya Uwais, saat ini dia sedang berdiri bersandar di sepedanya. Ia tidak peduli banyak mata menatapnya. Sepertinya, mereka seangkatan dengan Arrida, karena semuanya mengenakan pakaian berwarna hitam putih, dengan segala atribut masa orientasi.
"Siap! InsyaaAllah!" kata Arrida sangat yakin.
"Baguslah, hati-hati ya"
"Iya kakak, pulang gih! Gak risih apa, banyak yang ngelihatin? Pagi-pagi udah ke asrama."
"Gak lah, masuk juga nggak ...."
"Bukan itu maksudnya"
"Terus apa?"
"Mereka kayak ngelihat seorang idol, tatapannya pada horor berasa pengen nerkam kakak" kata Arrida tidak suka dengan tatapan mata rekan-rekannya yang terlihat berbinar dan seakan menggoda, mencari perhatian dari cowok pujaannya itu.
"Oh... gak papa, toh yang aku lihat juga cuma kamu" kata Uwais.
Arrida tersenyum sambil menatap Uwais.
"Yuk, Da!" ajak Lani setelah gadis itu berdiri disamping Arrida
"Iya, yuk! Oh iya kenalin, ini kak Uwais dan ini Lani" Arrida mengenalkan Lani pada Uwais dan sebaliknya.
"Kak Uwais ganteng ... " kata Lani tanpa mengedipkan matanya. Ia sedang menjabat tangan Uwais tanpa berniat melepaskannya.
"Udah, gak usah ditatap terus kayak gitu" Arrida mengusap wajah Lani. "Ini juga, gak usah kelamaan jabat tangannya" sambungnya sambil menarik tangan Lani dan Uwais agar terpisah.
"Yah, ada warning" kata Lani cemberut.
"Ya udah kak, kita pergi dulu ya" pamit Arrida sambil menarik lengan Lani agar menjauh dari Uwais. Mereka pun meninggalkan Uwais sendiri berdiri di dekat sepedanya sambil mengulum senyum dan menggelengkan kepalanya.
πΌ
Saat ini, Arrida beserta rekan mahasiswa baru lainnya, sedang melaksanakan salah satu kegiatan orientasi belajar mengajar. Pada orientasi ini, mereka mengikuti serangkaian proses belajar mengajar layaknya sedang mengikuti perkuliahan. Kegiatan ini memang merupakan pembekalan untuk mempersiapkan para mahasiswa baru sebagai simulasi mengikuti perkuliahan yang sebenarnya.
Ada seorang dosen pria hadir mengajarkan materi seperti di dalam kelas. Dia menyampaikan informasi seputar sistem akademis dan pengembangan kepribadian. Arrida dan lainnya, menyimak dengan seksama, karena selanjutnya akan diberikan tugas untuk dipresentasikan.
Menjelang siang hari, Arrida dan rekan lainnya mengikuti orientasi kehidupan kampus. Kegiatan ini didampingi oleh para senior di kampus sebagai panitianya. Tujuannya, untuk memberi tahu mahasiswa baru mengenai kegiatan di luar kegiatan akademis atau perkuliahan.
Para senior ini memberi sejumlah tugas pada para mahasiswa baru. Mereka harus mengerjakan dan mengumpulkan saat masa orientasi berlangsung. Tugas itu berupa tugas pribadi dan tugas kelompok.
πΌ
"Gimana tadi?" tanya Uwais, dia sengaja menjemput Arrida sore hari di depan kampus, tempat dilaksanakannya kegiatan orientasi.
" Baik kak!" jawab Arrida.
"Kita pulang ke resto kan, ya" usul Uwais.
"Iyya,"
__ADS_1
"Hmm, mana Lani?"
"Gak jadi ikut, kak, katanya mau ke tempat mbak Arin, kakak sepupunya,"
"Oh, ya udah, ayok! Jalan kaki gak papa kan?"
"Gak papa kak, sambil nikmatin sore hari"
Uwais tersenyum mengangguk, kemudian mereka pun berjalan kaki hingga menuju resto.
"Gak lelah, Ar? Kalau lelah, aku gendong,"
"Hmmmh ... Gak usah aneh-aneh, Kak" Arrida menggeleng. Matanya menyipit menatap cowok itu, membuat Uwais tertawa gemas.
"Dapat tugas apa dari senior?" tanya Uwais.
"Tugas buat poster digital,"
"Tentang apa?"
"Mencintai alam sekitar"
"Nanti aku bantu membuatnya, trus, apalagi?"
"Resume materi yang disampaikan tadi di selembar kertas Folio dengan tulisan latin"
"Hahaha, paling gak dibaca, cuma ditumpuk, kalau gak dikerjakan, ntar dapet hukuman ... "
"Kakak pernah?"
"Ish, nakalnya"
"Itu sengaja, Ar ... aku dikerjain temen sekelompok, tugasku disembunyiin, agar aku nyanyi di depan panitia dan semua peserta"
"Trus kakak nyanyi?"
"Iyalah, "
"Gak malu?"
"Gak, malah berasa penyanyi tampil di panggung"
"Ish, mulai kepedean,"
πΌ
"Hei, Uwais!" Seseorang memanggil nama Uwais sambil menarik lengannya dari belakang. Uwais dan Arrida segera menoleh, melihat siapa yang memanggil nama Uwais. Seorang gadis, berambut coklat gelap, dengan model Bob nungging (Inverted bob), tanpa poni.
"Lo kapan pulang kesini? Kenapa gak pernah angkat telfon gue?" tanya gadis itu
"Kenapa aku harus ngasih tau kamu? Suka-suka aku mau angkat telfon kamu atau tidak, emang apa urusannya?"
"Kita kan lagi deket, lo tau kan, kalau gue suka lo,"
"Waw, berani sekali cewek ini," gumam hati Arrida.
__ADS_1
"Aku rasa kita gak sedekat itu,"
"Plis, kita tuh udah kenal dari SD,"
"Oh, mungkin ini yang namanya Laura si uler" Hati Arrida masih bergumam.
"Saat SD, aku juga gak begitu dekat dengan kamu" kata Uwais. Ia merasa malas meladeni gadis berambut coklat itu. "Ayo kita pergi!" ajak Uwais kemudian, kepada Arrida.
"Eh tunggu! Ini siapa?" tanya gadis itu ketus sambil memindai Arrida.
Arrida melirik Uwais. Seakan bertanya 'Apa yang harus aku jawab?"
"Eh, atau ini adiknya Uwais yang dibilang sama Kirno itu ya" ujar Laura. Senyumnya tiba-tiba saja terbit di wajahnya. Ia merasa bahagia bisa berkenalan dengan adiknya Uwais. Ia berpikiran akan mendekati 'adiknya' agar bisa mendapatkan 'kakaknya'
'Adik tingkat, adik ketemu gede' Arrida masih bermonolog sendiri.
"Wah, salam kenal adik ipar, nama gue Laura, calon kakak ipar lo, dek," kata Laura sambil menarik telapak tangan Arrida dan menggenggamnya.
"Hah?" Arrida melongo.
"Nama lo siapa, dek?" tanya Laura pada Arrida.
"Eh, a-aku, Arrida" Jawabnya spontan
"Kamu gak usah kepedean! Sudah kubilang, kita tidak sedekat itu!" Kata Uwais sambil melepas paksa jabatan tangan antara Arrida dan Laura.
"Ayo! Kita pergi!" perintah Uwais sambil menarik tangan Arrida, dan meninggalkan Laura dengan langkah sangat cepat, bahkan Arrida sedikit berlari untuk menyeimbangi langkah Uwais.
"Iiiighhh... Siaaal! Awas lo, Wais!"
Samar-samar terdengar umpatan dari Laura di telinga Arrida dan Uwais. Sekilas, Arrida melirik cowok yang masih menggenggam tangannya erat. Ada aura kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Arrida tak ingin mengganggunya dengan bertanya, ia hanya diam, sengaja memberi waktu untuk cowok yang memiliki mata indah itu agar lebih tenang.
Suasana resto begitu ramai, ketika Uwais dan Arrida datang, banyak mahasiswa yang baru saja ikut PPKMB sengaja datang untuk makan di tempat tersebut. Uwais mengambil jalan memutar, melewati taman kecil menuju pintu belakang resto.
"Kak...." panggil Arrida lirih
Uwais menghentikan langkahnya, lalu menatap Arrida. Wajahnya kali ini lebih teduh dan menenangkan. Berbeda dengan beberapa waktu lalu.
"Ada apa, hm?" tanya Uwais lembut. Ia masih belum melepaskan genggaman tangannya.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
__ADS_1