Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
128. Akhirnya menikah.


__ADS_3

"Belum ada kabar dari kak Uwais?" tanya Lani pada Arrida di kamar mereka. Setelah masa perbaikan asrama selesai, mereka sudah bisa menempati kembali asrama putri, tidak lagi bertempat di asrama pasca sarjana.


Arrida menggeleng, sambil memperhatikan layar ponselnya.


"Sabar, mungkin emang belum nyampe!"kata Lani menenangkannya.


"Eh!" Arrida terkejut, ketika nada panggil ponselnya berbunyi. "Kak, Uwais," ucapnya, seketika itu juga dia menggeser tombol hijau.


"Assalamu'alaikum," sapa Uwais.


"Wa'alaikumsalam, Kakaaaak! Baru nyampekah? Kenapa pesannya gak dibales? Kenapa ditelfon gak diangkat? Aku udah kirim banyak pesan, coba lihat, ada berapa pesan dan berapa panggilan? Pasti banyak, kan? Kakak baik-baik aja, kan? Gak terjadi sesuatu, kan? Tau gak, Kak, aku cemas banget, nyampe gelisah sendiri," ungkap Arrida terdengar merengek dan manja. Dia memberondong banyak pertanyaan, padahal Uwais hanya mengucapkan salam.


Ah, bagaimana mungkin, Uwais tidak merasa gemas dengan sikap manja nan protektif gadis kesayangannya itu. Inilah yang selalu membuatnya begitu merindukan gadis itu.


"Aku kangen kamu, Cinta!" ucap Uwais lembut namun terdengar tegas. Dia tidak menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dari Arrida. Ia merasa harus menenangkan hati gadis itu terlebih dulu sebelum menjawab semua pertanyaannya, dan benar saja, mendengar pernyataan rasa rindu dari lelaki pujaannya itu, hati dan pikiran Arrida menjadi lebih tenang dan damai. Hingga Arrida menjadi terdiam, hatinya berbunga-bunga.


"Alhamdulillah, aku baru nyampe, Cinta, baru aja turun dari pesawat, dan ini baru mengaktifkan hapenya, pesan dan panggilannya gatau ada berapa, aku belum cek, aku langsung ngehubungi kamu, makasih doanya ya,"


"Hm-mm," kata Arrida sambil mengangguk, walaupun sebenarnya Uwais sendiri tidak akan bisa melihatnya.


"Ya udah ya, aku mau langsung ke rumah sakit,"


"Iya, Kak, hati-hati, salam buat papah, mamah,"


"Iya, insyaaAlloh,"


Percakapan yang singkat itu pun berakhir. Arrida bernapas lega, mengetahui Uwais telah tiba dengan selamat sampai ke kotanya. Tapi, entah kenapa perasaan tak enak yang menyebabkan khawatir itu masih saja hadir di hatinya. Ia pun berusaha untuk terus menepis rasa gundah yang ada.


🌼


Uwais segera menuju ruang ICU VVIP, tempat pak Ridwan dirawat. Di situ, sudah ada bu Tania yang menunggu, juga ada Fariz dan Rara, serta ada pak Arthur, bu Sofia, Adnan dan Hani yang sedang menjenguknya.


"Alhamdulillah, kamu udah dateng, nak!" kata bu Tania sambil mendekap Uwais, air matanya sudah mengalir deras di pipi.


"Gimana papah, Mah?" tanya Uwais sambil melepaskan dekapannya.


Bu Tania hanya menggeleng.


"Dek, gimana ujiannya?" tanya Fariz sambil menepuk pundak Uwais.


"Alhamdulillah lancar, Mas, Wais lulus, tinggal wisuda," jawab Uwais. "Mah, kenapa papah bisa kritis lagi?" tanya Uwais pada bu Tania.


"Gak tau nak, menjelang subuh, tiba-tiba papah bilang dingin, dingiiin banget, padahal papah udah pakai sweater tebal, sampai mamah selimuti dengan selimut tebal, papah masih bilang dingin juga, terus sempet muntah-muntah, dan gak lama kemudian papah merasa sesak, akhirnya papah dibawa ke rumah sakit ...." cerita bu Tania sambil terisak.


Uwais segera menghampiri pak Ridwan yang terbaring lemah dengan alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Assalamu'alaikum, Papah, ini Uwais, Pah," bisik Uwais di telinga pak Ridwan.


Terdengar suara rintihan dari lelaki paruh baya yang terbaring lemah, tanda merespon akan kehadiran Uwais.


"Papah sehat ya, Wais sudah lulus, nanti Papah dampingi Wais wisuda,β€œ bisik Uwais lagi di telinga pak Ridwan. Tangannya menggenggam lembut tangan pak Ridwan.


Terdengar kembali rintihan dari pak Ridwan, sesaat setelah Uwais berbisik di telinganya.


"Dek, mas pengen bilang sesuatu,"ucap Fariz sangat serius. Ia kemudian mengajak Uwais duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


"Ada apa, Mas? Kayaknya serius?"


"Papah ingin lihat kamu wisuda dan menikah!" jelas Fariz.


"InsyaaAlloh kalo wisuda bentar lagi, Mas ... Kalo nikah, Wais dan Rida udah sepakat nanti, paling cepet kalo Arrida udah lulus."


"Tapi papahmu ingin sekarang," potong pak Arthur.


"Tapi, Yah, Rida masih kuliah," sanggah Uwais.


"Ayah tau ... Ayah dan bunda semalam sepakat, mengabulkan keinginan papahmu, agar kalian menikah sekarang,"


"Ayah ... Papah pasti sembuh seperti biasanya, jadi kita gak usah seriusin keinginan papah, itu bukanlah permintaan terakhir papah," kata Uwais seakan menolak kenyataan kondisi pak Ridwan yang kritis.


"Kalo iya, bagaimana?" tanya pak Arthur serius.


Uwais menggelengkan kepalanya.


"Papah pasti sembuh!" tegas Uwais sambil menahan tangis.


"Sebelum papahmu masuk rumah sakit, malemnya, kita sempet bertemu dan berbincang, papahmu bilang: 'Hidup aku gak akan lama lagi, titip keluargaku ya, terutama Uwais, aku sayang sama dia, aku senang dia bisa survive, bisa hidup mandiri! Jujur, sebenarnya aku sangat mengkhawatirkannya, dia berjuang sendirian tanpa aku di sampingnya, aku harap dia segera menikah dengan Arrida, agar ada yang menemaninya, dan untuk terakhir kalinya aku ingin lihat dia wisuda juga menikah ... Fariz sudah menikah, Fika sudah menikah dengan orang yang tepat, kini tinggal Uwais yang belum aku dampingi pernikahannya, aku ingin menjadi saksi pernikahannya!" pak Arthur menghentikan ceritanya. Ia ingat, bagaimana ekspresi pak Ridwan saat mengatakan hal itu. Sangat serius dengan wajah yang sendu dan menahan air matanya.


"Terakhir papahmu bilang: 'Menurutmu, apa usiaku akan cukup sampai pernikahan Uwais dan Arrida?'... Papahmu sudah merasakan sesuatu, Wais!" kata pak Arthur berkaca-kaca. Ia merasa akan kehilangan sahabat terbaiknya.

__ADS_1


"Kemarin sempet sadar, yang pertama ditanyakan kamu, lalu dipanggil pula nama Arrida," kata Fariz pada Uwais.


Tiba-tiba terdengar suara pak Ridwan memanggil nama Uwais dengan sangat lirih. Uwais, bu Tania, Fariz dan pak Arthur segera mendekati pak Ridwan.


Matanya terbuka, memandang Uwais, butiran bening keluar dari sudut matanya, namun ada senyum lemah terbit di wajahnya. Samar-samar, dia memanggil nama Uwais.


"Ini Wais, Pah ... Papah pasti sehat, Wais sudah lulus, bentar lagi Wais wisuda," ucap Uwais di dekat telinga pak Ridwan.


"I ... I-ka, A-man," kata pak Ridwan memanggil nama Fika dan Arman.


"Mbak Fika dan bang Arman belum kesini, Pah,"


Pak Ridwan mengangguk.


"I ... I-daa," kali ini pak Ridwan memanggil nama Arrida.


"Arrida gak disini, Pah," jawab Uwais.


Pak Ridwan memejamkan matanya, sehingga cairan bening itu keluar lagi.


"Tenang, Wan, kamu pasti akan melihat Uwais menikahi Arrida," kata pak Arthur.


Pak Ridwan menarik nafasnya panjang dan seperti terlihat menahan sakit.


"Dia akan menikah sekarang," kata pak Arthur di dekat telinga pak Ridwan.


Semua menatap pak Arthur, termasuk Uwais, ia sangat terkejut.


"Yah," panggil Uwais.


Pak Arthur hanya menjawab panggilan itu dengan anggukan.


"Kamu bisa tenang, Wan, sekarang juga dia akan menikah," kata pak Arthur sangat meyakinkan.


Pak Ridwan tersenyum, dia mengangguk pelan beberapa kali. Ada raut ketenangan di wajahnya. Tatapannya beralih pada bu Tania, sehingga bu Tania segera mendekatinya dan menggenggam tangannya.


"Iya, Pah, papah senang kan, bisa menjadi saksi pernikahan Uwais sekarang?" tanya bu Tania yang mendapat anggukan lemah dari pak Ridwan.


🌼


"Ayah, maksudnya gimana ini?" tanya Uwais pada pak Arthur, ia masih dilanda kebingungan. Mereka berada di luar ruangan bersama Adnan, bu Sofia, Hani dan Fariz.


"Tapi ... " sela Uwais.


"Maaf, merusak rencana pernikahan kalian, ayah berharap kalian tidak keberatan, ini demi papah kamu, besok peresmian dan resepsinya saja yang sesuai rencana kalian,"


"Maksud ayah, aku nikah siri gitu?"


"Nggak juga, ayahnya Hani kemarin sudah mengurusnya dengan Adnan, kebetulan ayahnya Hani kan pegawai KUA, semua sudah disiapkan,"


"Iya, Kak, bentar lagi bapak kesini bareng pak Kiai Yusuf," kata Hani.


"Lalu bagaimana dengan Arrida, apa dia tau?" tanya Uwais.


"Dia belum tau, tapi dia sempet nanyain waktu abang suruh dia kirim scan-an KTP nya, cuma gak abang jelaskan untuk apa," kali ini Adnan yang menjawab.


Uwais mengusap wajahnya. Bingung. Ia benar-benar belum siap.


"Bunda tadi sudah menghubungi Arrida," kata bu Sofia.


"Lalu, jawaban Arrida apa Bun?" tanya Uwais.


"Belum ada jawaban pasti, mungkin dia juga bingung, kayaknya emang kalian perlu bicara," jawab bu Sofia.


"Berarti Arrida harus kesini?" tanya Uwais.


"Gak perlu, pengantin perempuan tidak ada di tempat akad, gak papa! Yang penting wali, pengantin laki-laki, dan saksi, nanti kita bisa lewat zoom, biar Arrida juga tau," jelas Fariz.


"Boleh, ya?" tanya Uwais.


"Kita udah konsultasikan, kok!" kata Adnan.


"Iya, pak Kiai Yusuf juga sudah menerangkan, nanti juga Ustadz Dzikri akan kesini! Beliau juga membolehkan pernikahan tanpa pengantin wanita ada di tempat akad," ujar Fariz yang meyakinkan Uwais bahwa pernikahan yang akan dilaksanakan statusnya tetap sah.


Uwais mengangguk paham. Terlebih, dia juga sudah mengenal ustadz Dzikri, seorang ustadz pemilik pondok pesantren tahfidzul Qur'an yang sangat terkenal di tempatnya. Jadi dia sangat yakin dengan yang disampaikan Fariz, karena sudah sering mendengar tausiah dari ustadz Dzikri.


"Kamu mau nyiapin mahar, Wais?" tanya Fariz.


"Oh, kalo untuk mahar, Wais sudah menyiapkannya sejak lama, Mas," kata Uwais. Sebuah set perhiasan emas cantik yang sengaja dipesannya bertuliskan nama Arrida dan inisial huruf A untuk cincinnya. Sementara itu untuk uang, ia siapkan senilai dua puluh juta seratus ribu rupiah, sesuai dengan tanggal dan bulan lahir keduanya.

__ADS_1


"Oh, ya sudah," jawab Fariz.


"Biar, Wais bicara dulu dengan Arrida, Bun, Yah!" kata Uwais, yang kemudian mendapatkan persetujuan dari pak Arthur dan bu Sofia.


🌼


"Assalamu'alaikum," ucap Uwais membuka obrolan melalui ponsel.


"Wa'alaikumsalam, Kak," jawab Arrida.


"Kamu udah ditelfon bunda, kan?"


"Iya,"


"Jadi, menurutmu gimana?"


"Bingung, tapi setelah dipikirkan, aku gak papa, Kak, aku ikut aja keputusan ayah, aku setuju, dan lagi, kan nikahnya ma kakak, yaaa walaupun, usia nikahnya lebih cepet dari yang direncanakan,"


"Kamu serius?"


"Iya, Kak"


"Kamu udah siap jadi pendamping hidupku mulai saat ini?"


"InsyaaAlloh,"


"Kehidupan kita akan berubah lho, Ar, kita akan terikat selamanya dunia akhirat, dan ada tanggung jawab diantara kita,"


"Iya, Rida tau, bunda udah sering bilang," kata Arrida tidak lagi memanggil dirinya dengan 'aku' tetapi menggunakan namanya 'Rida'


"Maaf, Cinta, kalau pernikahan kita malah seperti ini,"


"Gak papa, Kak, demi papah, aku siap, yang penting niat kita lillah,"


"Gak papa ya, besok saat resepsi, kita atur sesuai rencana kita,"


"InsyaaAlloh, ya sudah, kakak siap-siap dulu sana, aku juga mau siap-siap, sholat hajat dulu, Kak," ujar Arrida memberi saran.


"Hmm, iya, Assalamu'alaikum," kata Uwais.


"Wa'alaikumsalam warohmatulloh," jawab Arrida. Kemudian mereka pun mengakhiri obrolan mereka.


🌼


"Saya nikahkan engkau ananda Uwais Asy Syauqi bin Ridwan Mubarok dengan putri saya Arrida Lathifatunnisa binti Arthur Al Faruq dengan mas kawin seperangkat alat sholat, set perhiasan dua puluh gram dan uang sebesar dua puluh juta seratus ribu rupiah dibayar tunai," kata pak Arthur mengucapkan lafal ijab pernikahan sambil menjabat tangan Uwais.


"Saya terima nikahnya Arrida Lathifatunnisa binti Arthur Al Faruq dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Uwais melafalkan kabul pernikahan dalam satu kali tarikan nafas.


"SAH,"


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Ah, akhirnya sah juga, Arrida dan Uwais menikah.... 😍😍😍


Makasih kakak readers


Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini


Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya


Sehat selalu ya kakak readers


Hatiku Padamu Kak readers pake banget...


Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa


πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Hai kak readers mampir juga yuk, novel sahabat literasi ku, ini novel keren banget 😘😘😘


Judulnya : Atmosphere


Karya : Hilmiath_



**Happy reading yaaa😘😘😘

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’**


__ADS_2