
Arrida melirik Uwais sekali lagi. Kini mereka berlima sedang beristirahat. Mereka lesehan di teras market. Arrida, Nana dan Hani menikmati makanannya. Roni duduk disamping Nana, sementara Uwais mengambil tempat duduk di samping Arrida.
"Kenapa?" tanya Uwais pada Arrida begitu saja
"Apanya?" Arrida bingung dengan maksud pertanyaan dari Uwais.
"Kamu mau ngomongin sesuatu kan?"
"Gak ada" kata Arrida singkat. Dia masih menutupi rasa sedihnya karena akan berpisah dengan Uwais. Tangan kanannya yang memegang bakso bakar tiba-tiba ditarik oleh Uwais, kemudian baksonya dilahap olehnya.
"Ehh... bilang dong kalo minta" Arrida protes
"Pengen langsung dari tangan kamu"
" Ya udah nih" Arrida menyuapkan kembali bakso yang tersisa di tusuknya. Uwais pun membuka mulutnya menerima suapan bakso dari tangan Arrida.
"Makasih ya"
Arrida mengangguk sambil tersenyum
"Hei kalian pacaran mulu, padahal jadian nggak" Roni menyela. Membuat Uwais dan Arrida kompak menatap horor padanya.
"Eh emang gue salah ya? tatapan kalian.. beuh ngeri-ngeri sedap....? Kalian gak sadar apa... kalian itu udah kayak sepasang kekasih? Tapi ternyata tanpa status"
Uwais menelan salivanya dengan sangat berat. Ia tau, segala perhatiannya dan apa yang dilakukannya terhadap Arrida lebih dari sekedar teman ataupun kakak tingkat kepada adik tingkatnya, dan orang lain juga bisa memandang mereka memang seperti pasangan yang berkencan. Sempat ada rasa bersalah karena tak kunjung mengungkapkan perasaannya dan memperjelas hubungannya, hanya karena alasan klasik bahwa dia akan pergi, dan apakah dia akan mampu membahagiakan Arrida serta menjaganya jika dia jauh? Uwais tidak punya keyakinan untuk itu, apalagi dia belum pernah sama sekali memiliki hubungan 'special' dengan seorang gadis.
Arrida terdiam. Ia jadi tertegun, mengapa dia mau saja diperlakukan seperti itu oleh Uwais, yang nyatanya dia tidak pernah diberikan kepastian.
Tapi apakah harus? Selama ini mereka menikmati perasaan mereka dan menikmati semua momen kebersamaan mereka tanpa harus memikirkan tentang status hubungan.
🌼🌦️🌼
"Fix... kalo dibiarkan kalian tidak akan pernah bisa bersama" Nana memberi kesimpulan.
Arrida mematung ia memilih untuk tidak menghiraukan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Saat ini Arrida, Nana dan Hani sedang duduk di bawah pohon tempat waktu itu Arrida tidur di punggung Uwais. Mereka baru saja selesai pelajaran olahraga dan sedang istirahat.
"Emang kamu gak ingin melakukan sesuatu Da?"tanya Nana lagi
"Maksudnya?" Arrida akhirnya mulai menanggapi.
__ADS_1
"Yaaa sesuatu yang mungkin bisa dikenang seumur hidup, karena kak Uwais akan keluar kota"
"Ya.. ya... ntar aku kasih kado perpisahan" jawab Arrida enteng.
"Yang kayak gitu udah biasa Da" Hani memberi komentar.
"Trus?" Kali ini Arrida benar-benar tidak tau maksud dari kedua sahabatnya itu.
"Sesuatu yang spesial" Hani memberi clue
"Contohnya?"
"Kasih tau kak Uwais kalau kamu punya perasaan padanya, tanpa harus memikirkan kamu ditolak atau diterima, cukup dia tau aja perasaanmu yang sebenarnya" Hani menjelaskannya.
"Hah?" Arrida bengong
"Iya lah Da, kak Uwais udah mau lulus, mau kuliah juga, keluar kota pula, kenapa gak kamu manfaatkan aja... kesempatan gak datang dua kali.... diterima ... ya syukur berarti kamu gak bertepuk sebelah tangan, ditolak juga ya sudah ... gak akan malu kan...toh kalian gak akan ketemu lagi" Kali ini Nana yang berkomentar.
"Iya... manfaatkan aja... kita kan tau... kalau kak Uwais nolak cewek cuma dibiarin aja kan... kecuali yang kasus Erfi itu ... baru dia bertindak" Kata Hani menyemangati.
"Iya Da, daripada dipendam, dikeluarkan aja, udah saatnya cintamu terbuka, bukan lagi dalam diam" Sambung Nana
"Bener Da, sudah saatnya kamu tunjukkan ke kak Uwais" lanjut Hani
🌼🌦️🌼
Hari ini adalah hari perpisahan sekolah. Acara diadakan di GOR sekolah. Seratus persen siswa kelas dua belas tahun ini lulus. Dan yang paling mengejutkan Uwais mendapatkan nilai ujian tertinggi dari seluruh siswa kelas dua belas. Dia menjadi lulusan terbaik tahun ini. Dan itu sangat luar biasa.
Sejak pagi Arrida tampak gugup, dia terus membangun keberaniannya untuk bisa berbicara pada Uwais. Entah kenapa, semenjak pembicaraannya dengan Nana dan Hani tempo hari dia terus memikirkannya, dan sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Uwais di hari perpisahan,seperti saran dari kedua sahabatnya itu.
Terdengar gila menurutnya, karena semua mengalahkan impiannya dimana dia selalu bermimpi jika dialah yang ditembak (pernyataan cinta) bukan malah sebaliknya. Dia juga tau dari Roni kalau Uwais tak akan pernah mengganggu sekolah Arrida apa lagi usianya yang belum genap tujuh belas tahun.
"Okke lah... sekedar menyatakan cinta apa susahnya" Kata Arrida dalam hati. Kali ini ia benar-benar menguatkan pendiriannya, memantapkan hatinya untuk menyatakan perasaannya.
🌼
Sekitar pukul dua belas siang, acara perpisahan kelas dua belas pun selesai. Arrida memperhatikan dari kejauhan, tampak sosok cowok pujaannya itu sedang bersama Bu Tania. Uwais terlihat gagah dan tampan, dia sangat mempesona dengan mengenakan setelan jas. Memang di acara perpisahan sekolah di setiap tahunnya, siswa laki-laki mengenakan kemeja putih dengan setelan jas berwarna hitam, sementara siswa perempuan mengenakan kebaya.
"Kak..." panggil Arrida sesaat setelah menghampiri Uwais dan Bu Tania. Mereka hendak ke gerbang sekolah. Tak jauh dari situ, sudah menunggu Fariz didalam mobil.
__ADS_1
"Eh Arrida" sapa Bu Tania ramah
"Assalamualaikum tan" Arrida mencium punggung tangan Bu Tania.
"Wa'alaikumsalam" jawab Uwais dan Bu Tania hampir bersamaan.
"Sehat Tan?" Arrida menanyakan kabar pada Bu Tania
"Alhamdulillah, baik ... lama juga gak ketemu kamu... makin cantik aja ya"
Arrida tersipu mendengar pujian dari Bu Tania.
"Tante yang makin cantik" Arrida berganti memuji Bu Tania
"Ah bisa aja... oh iya kalian mau bicara ya... kalo gitu biar mamah duluan ya... nunggu bareng mas Fariz di mobil" pamit Bu Tania pada Arrida dan Uwais, kemudian dia segera menghampiri Fariz di mobil.
"Ada apa Ar?" Kata Uwais seperti buru-buru. Padahal semenjak pagi tadi dia berharap bisa melihat sosok gadis kesayangannya itu. Ia ingin bercerita banyak hal.
"Emmm.... kakak mau cepetan?"
Uwais mengangguk.
"Baru aja dapet kabar, nenek meninggal, dan kita harus segera ke rumah nenek di luar kota... papah udah nunggu di rumah" kata Uwais menjelaskan.
Bubar sudah kata-kata yang telah Arrida susun dengan susah payah. Ia jadi bingung harus memulai seperti apa. Untungnya ia sudah menyiapkan rencana B, rencana yang dia susun jika rencana A yaitu menyatakan langsung perasaannya tidak sanggup dia lakukan.
"Oh ya udah ... bentar kak" Arrida mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam ranselnya. Lalu diserahkannya pada Uwais.
"Apa ini?"
"Gak usah dibuka sekarang, nanti aja kalau kakak sempat ya"
"Makasih ya... maaf banget, padahal dari tadi aku cari kamu, kirain kamu ga dateng" Kata Uwais sambil mengusap-usap pucuk kepala gadis itu. Kemudian sempat mengusap lembut pipi kanan Arrida.
"Iya kak, gak papa... tuh udah ditunggu, pergilah"
"Maaf ya... nanti kita bicara, aku akan menghubungimu"
Arrida mengangguk sambil tersenyum hangat dan sangat manis.
__ADS_1
Uwais membalas senyuman itu, dengan senyuman limited edition nya.
...🌸🌸🌸🌸🌸...