
Hari ini, sesuai janji yang Uwais sampaikan, mereka akan berkencan seharian jika keadaan kaki Arrida membaik. Mereka sudah bersiap sejak subuh.
"Udah siap?" tanya Uwais ketika Arrida sudah ada di hadapannya. Ia sedang berada di atas motornya menunggu Arrida.
"Udah kak, gimana? Apa aku cantik?" tanya Arrida, ia mengenakan celana overall, bagian dalamnya kaos panjang berwarna putih, rambutnya dikepang satu.
"Kamu selalu terlihat cantik, dan hari ini sangat cantik."puji Uwais tulus.
"Hmm ... Kakak juga selalu tampan!" kata Arrida sambil mengusap lembut pipi Uwais.
"Ya udah, naiklah!"perintah Uwais agar Arrida naik ke motor.
πΌ
Mereka sengaja berangkat setelah subuh karena Uwais ingin mengajak Arrida melihat sunrise di tepi pantai. Perjalanan ke pantai, ditempuh sekitar dua puluh menit, dan kini mereka berdua sengaja duduk di pasir putih tanpa alas.
"Wah, ini indah banget, Kak,"
"Kamu suka?"
"Iya," Arrida mengangguk.
"Nikmatilah, abis ini kita jalan-jalan dulu, sarapan lalu snorkeling!"
"Beneran, Kak? Kita ntar snorkeling?"
"Iyya." jawab Uwais singkat.
Arrida berbinar, ia terlihat bahagia.
"Jangan tidur lagi, lihat sunrise yang bener! Jangan malah kamu yang dilihat sunrise!" kata Uwais mengingatkan Arrida tentang kejadian ketika melihat sunrise di pinggir sawah.
"Hehee, itu kan kita abis perjalanan jauh, Kak, dan aku belum tidur,"
Uwais hanya tersenyum. Mereka benar-benar menikmati indahnya matahari terbit, sambil bercanda dan berbincang ringan, kemudian mereka berjalan-jalan ringan di pasir pantai sambil menikmati semilir angin pantai yang menerpa wajah keduanya.
"Aku bahagia, Kak!"
"Aku lebih bahagia, Cinta!" kata Uwais sambil menautkan jemarinya pada jemari milik gadis kesayangannya itu.
"Semoga ke depannya kita selalu bahagia ya, Kak!" kata Arrida sambil mengeratkan tautan jemarinya.
"Aamiin! Asal kamu gak melepaskan genggaman tangan kamu, kita pasti bisa menghadapi masalah bareng ... Jangan berlarut-larut terbawa emosi ya ... Marah boleh, tapi harus segera diselesaikan." jelas Uwais sambil memberi nasehat.
"Iya, Kakak! Maaf, soal yang udah lalu, ke depannya, aku akan belajar lebih dewasa!"
"Gak perlu belajar dewasa, kamu cukup belajar berdamai dengan hati kamu, maka ketika kamu ada masalah, kamu gak akan mudah emosi, hati kamu mudah mengendalikannya."
"Kak, hati kakak terbuat dari apa sih?" tanya Arrida penuh kekaguman pada lelaki pujaannya itu.
"Hanya segumpal darah sama dengan yang lainnya."
Arrida tertawa kecil.
"Aku bersyukur bisa dipertemukan kakak dalam kehidupan ini!"
"Aku juga."
"Semoga kakak adalah jodoh aku dunia dan akhirat!"
"Aamiin, semoga Alloh meridhoi perjodohan ini!"
"Ya ampun!" Arrida tiba-tiba menutup mulutnya.
"Kenapa?"
"Ngomong-ngomong soal perjodohan, gimana ini kak? Apa kakak gak takut saingan sama orang yang dijodohin ma aku?"
Uwais hanya tersenyum.
"Udah ah, ga usah bahas masalah ini, males!" kata Uwais. Ia memang tidak ingin membahas tentang "perjodohan" versi Arrida, karena dia merasa lucu sendiri. Lihatlah betapa polosnya gadis kesayangannya itu.
"Aaah, kakak cemburu ya?" goda Arrida.
"Nggak, Cinta!" ucap Uwais lembut dan penuh penekanan.
__ADS_1
"Trus?"
"Apanya yang terus? Pokoknya stop ngomongin hal ini, karena aku yang akan datang ke kamu lebaran nanti!" jelas Uwais.
Arrida mengangguk pasti.
"Pasti kakak yang menang, karna kakak udah memenangkan hatiku terlebih dahulu, dan kayaknya nih Kak, kakak adalah jodoh yang udah Alloh siapin buat aku."
Uwais tersenyum manis. Ia mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya pelan, mengisyaratkan jika dia mengaminkan apa yang diucapkan oleh gadisnya itu.
"Kita sarapan dulu, yuk!" ajak Uwais yang kemudian mendapatkan persetujuan dari Arrida. Kurang lebih lima belas menit mereka berjalan-jalan di pantai, kemudian mencari tempat makan, dan kini, mereka berada di sebuah warung nasi uduk dan bubur ayam, yang berada di lokasi kios-kios para pedagang yang berjajar rapi. Mereka duduk di sebuah bangku panjang menikmati makanannya.
"Kak, kenapa kakak mesen nasi uduk?"tanya Arrida ingin tahu makanan apa yang menjadi kesukaan Uwais.
"Biar kenyang!" jawab Uwais sambil menyuapkan nasi uduk ke dalam mulutnya.
"Tapi bubur juga bisa bikin kenyang!" Kata Arrida sambil menyuapkan sesendok bubur ayam ke mulutnya.
"Tapi cepet laper lagi." jelas Uwais.
"Oh,"
"Kenapa?" Uwais merasa heran.
"Gak papa. Kak, aku mau tanya, apa kakak tau makanan favoritku?"
"Bakso." jawab Uwais singkat.
Arrida mengangguk, membenarkan jawaban Uwais
"Minuman kesukaanku?"
"Jus alpukat!"
"Hobiku?"
"Lihatin bintang!"
"Warna favoritku?"
"Wah, kenapa kakak tau semuanya? Apa kakak benar-benar mencintaiku?"
"Ya jelas lah, kenapa tanya itu, hm?"
"Padahal aku juga mencintai kakak, tapi aku kok gak tau apa yang kakak sukai ya." kata Arrida penuh sesal.
"Itu gak bisa menjadi ukuran betapa besarnya cinta seseorang, kan?"
"Tapi, paling tidak, kita kan tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh pasangan kita, jadi, kita bisa ikut merasakannya, gitu kata bang Adnan."
"Lalu kenapa kamu gak tau apa yang aku sukai?"
"Aku emang gak tau pasti apa yang kakak sukai, aku hanya memahami apa yang biasa kakak lakukan dan kakak inginkan, kayak makanan, kakak lebih suka yang mengenyangkan, seperti halnya jika disuruh milih antara bakso dan mie ayam kakak pasti milih mie ayam, hari ini juga gitu, kakak lebih milih nasi uduk daripada bubur ... Kalo minuman, tergantung suasana, kalo lagi malam, kakak suka coklat hangat, kalo hujan, kadang suka susu jahe, tapi kalo siang pasti kakak suka es jeruk, trus kalo soal warna, kakak gak milih-milih warna, bagi kakak warna itu semuanya indah, hitam sekalipun,"
Uwais tersenyum.
"Terus, apalagi yang kamu pahami?"
"Aku gak tau hobi kakak apa ... tapi aku tau kalau kakak suka menolong orang lain."
"Terus?"
"Kakak selalu ingin aku bahagia, dan selalu berusaha mewujudkannya ... Kakak gak ingin ngelihat aku sedih dan sakit, Kakak akan sangat cemas jika terjadi sesuatu sama aku, kakak selalu menjaga hati aku, perasaan aku dan hidup aku! Itu sih yang aku pahami,"
"Aku lebih suka orang yang memahamiku daripada cuma sekedar tau tentang aku, dan kamu adalah orang yang memahamiku ... Makasih, Cinta," ucap Uwais sambil mengacak pucuk rambut Arrida.
"Kakak gak nyesel, aku gak tau apa yang kakak sukai?"
"Karena, memang tidak ada yang aku sukai secara khusus, mulai dari makanan, minuman, hobi, warna, pakaian, olahraga, semua biasa aja, aku hanya menikmati dan menjalaninya, yang penting aku ngerasa enjoy, udah cukup."
Arrida mengangguk sambil menghabiskan suapan terakhirnya.
"Tapi, sebenarnya semenjak ada kamu, aku punya kesukaan yang membuat aku kecanduan." kata Uwais yang juga menyuapkan suapan terakhirnya.
"Ya ampun! Kakak jangan main-main, kakak kecanduan apa?"
__ADS_1
Uwais hanya terdiam sambil menatap gadisnya itu dengan tatapan yang tak biasa. Penuh arti cinta.
"Aish, jangan bilang kesukaan kakak itu 'mencintaiku dan merindukanku' ... "
"Haha, kenapa kamu bisa nebak dengan tepat!"
"Tatapan kakak gak bisa bohong!"
"Iya, Ar, merindukan kamu menjadi hobiku."
"Hahaha, kalo seperti itu seh kak, semenjak aku suka kakak, aku juga punya hobi lain, selain liatin bintang, apa kakak tau?"
"Tau!"
"Apa?"
"Lihatin aku!"
"Ish kok tau sih," Arrida menyipitkan matanya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iyalah, dari dulu, diem-diem kamu suka lihatin aku, kan?"
"Eh, tau darimana?"
"Karena aku juga suka memperhatikan kamu ... Kamu keluar kelas, kamu ke perpus, kamu di kantin, kamu olahraga, kamu ke ruang PMR, kamu yang suka terlambat kalau hari Senin, sampai pernah lupa bawa topi, kamu yang ditembak Ryan ... "
"Hah? Stop, Kak ... Jadi, selama ini kakak diem-diem ... "
"Iya!" ucap Uwais tanpa mendengarkan ucapan Arrida selanjutnya. "Aku kan udah bilang, aku yang lebih dulu mencintai kamu!"
Arrida tersenyum dengan sangat manis. Ia akhirnya memilih diam memperhatikan lelaki tampan pujaannya itu.
Setelah sarapan, mereka pun ke spot snorkeling. Arrida dan Uwais sangat menikmati kegiatan snorkeling, mereka benar-benar terhipnotis dengan keindahan di dalam air laut yang kedalamannya hanya satu sampai tiga meter.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
πππππππππππππππ
Hai kak readers mampir juga ya, di novel sahabat literasiku... pokoknya keren banget ini... ini juara favorit juri di event Yang Muda Yang Bercinta.... pokoknya TOPππππ
Judul : Heavanna
Napen : SRN 27
Blurb
Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zia memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
...Happy reading yaaaπππ...
ππππππππππππππππ
__ADS_1