Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
93. Menikmati irama


__ADS_3

"Apa kakak sayang aku?" tanya Arrida tiba-tiba.


Sebelumnya dia tidak pernah berani menanyakannya. Namun entah kenapa, setelah tadi malam berbincang dengan Lani, tiba-tiba saja terbersit di hatinya untuk menanyakan hal itu kepada Uwais.


"Tentu saja, Ar ... Dengan segenap jiwa aku dan seluruh hidup aku ... Kenapa kamu nanyain hal itu?" tanya Uwais merasa aneh dengan pertanyaan Arrida, seakan-akan gadis kesayangannya itu meragukan kasih sayangnya. "Apa ada yang menggangu pikiran kamu? Katakan! Ada apa? Hm? Apa ada sesuatu?"


Arrida terdiam menatap sorot mata Uwais yang penuh kasih sayang. Tidak ada hal lain yang lebih indah dari hal yang saat ini dia lihat. Ah, sorot mata yang teduh dan menyejukkan hati. Arrida jadi merasa bersalah telah menanyakan perasaan Uwais padanya. Padahal, semua orang pun bisa melihat betapa Uwais begitu menyayanginya.


Arrida menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan terlalu banyak berpikir ya ... Istirahatlah, biar aku panggilkan mbak Fika," kata Uwais sambil mengusap pucuk kepala Arrida.


Arrida mengangguk pelan.


🌼🌦️🌼


"Mbak yakin? Gak papa Uwais tinggal?" tanya Uwais pada Fika saat berpamitan hendak pulang ke kotanya. Disampingnya sudah berdiri Arrida mengenakan kaos berlengan panjang berwarna putih dengan corak garis-garis biru di sisi bajunya, di bagian depannya ada tulisan wonderful day. Rambutnya di ikat satu dengan sangat rapi, mengenakan celana jins panjang dan sepatu kets berwarna putih. Sungguh cantik dan terlihat fresh.


Mereka ada di ruang belakang resto, disitu juga sudah ada Arman dan Andika. Sementara Kirno yang menjaga resto.


"Iya... Mbak belum punya keberanian ketemu papah, salam aja buat mamah." jawab Fika sangat meyakinkan. Sudah dua bulan ini, akhirnya Fika memberanikan diri berbicara dengan Bu Tania, tangis haru begitu terasa saat mereka bertelepon ria. Bahkan kini, mereka selalu saling mengirim chat. Namun, dia masih belum sanggup jika harus berbicara dengan pak Ridwan, apalagi dia pernah menyebabkan kondisi pak Ridwan menjadi kritis karena tindakannya dulu.


"Ya udah, Uwais pamit ya, Mbak!" kata Uwais sambil mendekap Fika.


"Rida juga pamit, Mbak!" kali ini Arrida yang mendekap Fika.


"Bang, titip Mbak Fika ya!" kata Uwais menitipkan Fika pada Arman dan Andika. Ia menepuk pelan lengan atas Arman.


"Iya, tenang aja, kayaknya Lani juga bakal nemenin Fika di sini." kata Arman, yang kemudian mendapatkan anggukan kepala dari Uwais.


Uwais tidak ragu untuk menitipkan Fika pada Arman, Andika dan Kirno, karena Uwais sudah menganggap ketiganya menjadi bagian keluarganya.


🌼


Arrida menyambut uluran tangan Uwais ketika menaiki kereta. Mereka pun masuk ke dalam gerbong, dan duduk di kursi yang nomernya sesuai dengan yang tertera pada tiket.


Kini kereta sudah melaju sekitar satu jam yang lalu. Dan saat ini mereka sudah duduk dengan nyaman di tempatnya. Sementara kursi di hadapan mereka masih kosong, tampaknya tidak terlalu banyak penumpang yang ada di gerbong itu. Sebelumnya, mereka sempat mengobrol tentang Fika dan Arman yang tampak mulai akrab, lalu saling bercerita tentang Lani yang mulai menjalin hubungan dengan Kirno juga bercerita tentang Andika yang telah menyelesaikan skripsinya dan akan segera sidang.


"Kalo ngantuk tidur aja, Ar!" perintah Uwais lembut.


"Ini masih sore kak, masa udah nyuruh aku tidur."


"Biasanya kan kamu cepet banget kalo tidur, mau itu ada temennya atau tidak, kamu mana peduli kalo udah ngantuk."


"Ish, gak usah disebutin juga kali."


Uwais hanya tersenyum.


"Perjalanan kita masih jauh, Ar ... besok pagi baru nyampe."


"Iya, aku tau, kak"


"Nanti abis Maghrib kita ke kantin ya ... kita makan disana."

__ADS_1


Arrida mengangguk. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


"Wah lihat kak, kita bisa lihat sunset dari sini"


"Hmm, kamu bener, indah banget." kata Uwais sambil mendekatkan tubuhnya ke arah jendela ikut melihat pemandangan sunset indah yang dimaksud oleh Arrida. Kini, seakan Arrida dipeluk Uwais dari belakang karena tubuh Arrida terkungkung oleh tubuh dan kedua tangan Uwais, sehingga jarak mereka terkikis habis. Pipi keduanya berdekatan dan hanya menyisakan jarak satu ruas jari saja.


Arrida menelan salivanya dengan sangat berat. Jantungnya berdebar kencang dan tak beraturan. Nafasnya seakan tertahan. Apalagi ketika ia merasakan sapuan nafas Uwais di pipinya. Pun dengan Uwais, yang saat ini jantungnya berdegup seakan seirama dengan degup jantung milik gadis cantik kesayangannya itu.


Dan pada akhirnya pemandangan sunset yang indah tidak lagi mereka pedulikan, karena mereka sedang sibuk merasakan getaran-getaran halus dan indah di hati keduanya. Ada desiran hebat di dada mereka. Sehingga tampak semburat merah merona di wajah mereka karena ada kehangatan yang baru saja hadir. Mereka terdiam beberapa detik.


Keduanya saling menoleh, membuat hidung mancung keduanya bersentuhan. Arrida segera memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. Menatap luar, namun dengan tatapan yang kosong. Dia berusaha menetralisir hatinya agar lebih tenang.


Sementara Uwais, masih tetap dengan posisinya, ia tidak berniat menjauh, bahkan ia sengaja ingin berlama-lama menikmati wajah merona Arrida dan wangi dari wajah gadis itu.


"Ternyata, ada yang lebih indah dari sunset ...." bisik Uwais di telinga Arrida, membuat hati gadis itu semakin tak karuan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Kini, Uwais sudah memberi jarak, sehingga wajahnya tidak terlalu dekat.


"Appa?" kata Arrida memberanikan diri kembali menatap cowok pujaannya itu. "Apa yang lebih indah?" tanyanya kemudian.


"Kamu!" kata Uwais sambil tersenyum. "Apalagi, saat wajah kamu merona kayak gini, itu lebih menggemaskan" goda Uwais.


"Udah ngegodanya?" tanya Arrida.


Uwais hanya memberikan senyum manisnya.


"Selamat!" kata Arrida.


"Apa?"


"Kakak sukses bikin aku gak karuan ... !" kata Arrida sambil memegang dadanya.


"Ada yang sesak di hati ya? berdebar, namun indah?" tanya Uwais.


Arrida mengangguk cepat. Uwais kembali tersenyum.


"Mmm ... Apa ... kakak ... tadi biasa aja? tidak merasakan apapun?" tanya Arrida pelan-pelan sambil menggeleng.


"Mana bisa aku tidak merasakan apapun ... tiap bersama kamu, selalu saja getaran indah itu hadir." kata Uwais sambil menarik telapak tangan Arrida lalu menempelkannya di dada bidang miliknya.


Arrida merasakan degub jantung yang keras dan kencang. Debaran itu masih ada dan sangat terasa.


"Udah tau? kamu bisa ngerasainnya, kan?" tanya Uwais.


Arrida menggeleng. Ia bermaksud menggoda Uwais.


"Benarkah? kamu gak bisa ngerasain?"


Arrida masih menggeleng.


"Serius?" Uwais tak percaya


Arrida menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Kamu benaran gak bisa merasakan?"

__ADS_1


"Hu-um" kata Arrida masih mengangguk.


Akhirnya, tangan Uwais menarik kepala gadis kesayangannya itu, lalu menempelkan di dadanya. Lebih tepatnya, agar telinga Arrida bisa mendengar betapa kerasnya degup jantung Uwais.


Arrida terkejut, debaran di hatinya pun makin tak karuan, namun dia lebih memilih diam dan menikmati irama detak jantung cowok tampan pujaannya itu.


"Bagaimana? Uda kedenger?" tanya Uwais.


Namun Arrida malah menggelengkan kepalanya. Sejak tadi ia memang sengaja menggoda Uwais.


Uwais sedikit menunduk, melihat wajah Arrida, memastikan sesuatu. Jari telunjuknya menyentuh kening Arrida, lalu mendorongnya pelan agar menjauh dari dadanya. Tapi gadis itu malah semakin menempelkan kepalanya di dada Uwais. Seakan tidak ingin menjauh.


"Aku ngedenger kak ... biarkan aku menikmati iramanya ... " kata Arrida, kepalanya masih menempel di dada bidang milik Uwais sambil mencium aroma parfum Uwais yang membuatnya tenang.


Uwais tersenyum, lalu satu tangannya yang tadi, mengeratkan kepala Arrida di dadanya, beberapa saat.


"Kamu benar-benar menggemaskan, Ar"


"Aku tau" kata Arrida sambil mengangguk.


Uwais tersenyum gemas.


"Kak Uwais, aku gak ingin jauh-jauh dari kakak" kata Arrida dalam hatinya.


"Kak ..." panggil Arrida sambil menjauhkan kepalanya dari dada Uwais. Tangan Uwais pun melepasnya.


"Apa? Hm?" tanya Uwais.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


...Oiya kakak readers mampir yuks karya: kak Morata....


...Novel bagus neh... punya temenku ... pokoknya kereeeen pake banget.... jangan lupa mampir yaaa πŸ₯°πŸ˜˜πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»...



__ADS_1


Happy reading yaaa ☺️😘😘πŸ₯°πŸ‘πŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2