
"Ini kak, aku buatin susu jahe" kata Arrida ketika sudah tiba di ruang keluarga. Dia membawa secangkir susu jahe panas buatannya.
"Eh... tidur?" Arrida bergumam. Dia pun agak membungkuk, meletakkan minuman susu jahe itu diatas meja dengan sangat pelan. Lalu mengambil pelan remote TV dari genggaman tangan Uwais, dia bermaksud mematikan televisi. Tapi ternyata Uwais malah terbangun karena merasa ada pergerakan di telapak tangannya. Ia terkejut lalu membuka matanya. Dan langsung menangkap wajah cantik dan imut milik gadis pujaannya itu dengan netranya.
"Eh, malah bangun" gumam Arrida pelan, ia ikut terkejut, ketika Uwais membuka matanya dan langsung menatapnya dalam-dalam.
Keduanya terpaku, dan sesaat saling menatap, menikmati wajah terkasih yang ada dihadapan mereka.
"Eh maaf kak, mau ambil remote... mau matiin tivi... taunya malah bikin kakak bangun ya" Arrida yang salah tingkah segera berdiri. Mencoba menetralkan kegugupannya. Uwais masih diam memandangi gadisnya itu.
"Oh iya kak, ini aku buatin susu jahe, di dapur masih ada, ntar bisa diminum kalo kakak masih mau" lanjutnya masih terlihat salah tingkah. Ia mengambil cangkir yang berisi susu jahe yang ada di atas meja lalu menyerahkannya kepada Uwais.
Uwais mengangguk, kemudian dia berusaha untuk duduk. Setelah itu, diapun menerima cangkir yang berisi susu jahe itu dari tangan Arrida, kemudian mematikan televisi melalui remote yang belum sempat diambil oleh Arrida tadi.
"Mungkin susu jahenya masih agak panas kak" sela Arrida.
Uwais mengangguk mengerti. Ia meniup susu jahe itu lalu menyeruputnya pelan.
"Makasih Ar... ini benar-benar membantu"
Arrida menampilkan senyum indahnya.
"Jangan senyum gitu Ar" Uwais kembali menyeruput susu jahenya.
"Lagi sakit gak usah aneh-aneh kak" Arrida menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di samping Uwais.
"Apa yang aneh Ar, kamu tuh yang negatif mikirnya... emang aku mau ngapain kamu, aku kan cuma bilang kamu jangan senyum kayak gitu"
"Kenapa kok gak boleh? ini kan senyum aku"
"Ya ... Karena senyum kamu itu ..."
"Kenapa? senyum aku menggoda gitu ?" Arrida memotong perkataan Uwais
"Senyummu itu menggemaskan Ar... negatif aja pikirannya"
"Bukan negatif kak, tapi waspada"
Uwais terkekeh geli. "Emang aku mau ngapain kamu Ar"
"Ya gak tau ... apapun bisa terjadi kan kak, apalagi cuma kita berdua disini"
"Nah pikiran kamu tuh yang negatif"
"Udah dibilangin ini bukan negatif, tapi lebih pada antisipasi aja" Arrida mempertahankan pendapatnya.
__ADS_1
"Aku lagi sakit Ar, gak akan macem-macem"
"Iya sakit, tapi masih bisa ikut ujian ke sekolah, kenapa gak ijin aja coba"
"Ini ujian terakhir Ar, sayang kalau harus susulan... Males juga, lagian cuma satu pelajaran ini"
"Berarti kakak baik-baik aja dong, karena masih bisa mengerjakan soal... kalo aku ni ya kak, lebih milih istirahat di rumah"
Uwais hanya tersenyum lalu kembali menyeruput susu jahenya.
"Kak, kira-kira kapan mas Fariz pulang?"tanya Arrida mengalihkan topik pembicaraan
"Mungkin sore, tapi bisa juga malem"
"Hah? jadi aku harus nungguin kakak sampai malem?"
"Ntar aku ijin ke Bu Sofia ya"
"Bukan gitu kak..." Arrida terdiam memikirkan sesuatu
"Gak usah mikir negatif Ar, mana mungkin aku melakukan hal yang ada didalam pikiranmu"
"Emang kakak tau apa yang aku pikirkan? Lagian mau mikir negatif juga wajarlah, di rumah ini aku cuma berdua ama laki-laki yang bukan mahramnya, yang ketiganya setan kan"
Uwais terkekeh pelan. Ia tidak menyangka kalau gadis kesayangannya itu berpikiran negatif tentangnya.
Arrida terdiam. Ia sendiri sebenarnya tidak memiliki jawaban. Ia juga tidak berpikiran negatif pada cowok pujaannya itu, dia hanya takut, sedikit teringat kejadian dengan pak Jefry.
Uwais menatapnya penuh makna. Entah kenapa ia tidak tega menggodanya kali ini.
"Duduk sini Ar" Kata Uwais sambil menepuk tempat duduk di sampingnya, ia meminta agar Arrida mau duduk disebelahnya.
Arrida menggeleng.
Uwais tersenyum gemas.
"Aku gak mungkin ngapa-ngapain kamu Ar, lagian aku kan sakit "
"Jadi kalau lagi sehat kakak bisa ngapa-ngapain aku gitu?"
Uwais menarik nafas panjangnya, ia benar-benar gemas dengan gadis kesayangannya ini.
Ia pun bangun, lalu mendekat ke arah Arrida. Kedua tangannya terulur menekan punggung sofa, sehingga membuat tubuh Arrida kini terkungkung oleh tangannya.
"Ka..kak ma..u .. ngapain?" Kata Arrida terbata. Dia menelan salivanya sangat berat. Nafasnya tertahan. Apalagi dengan posisi yang sangat dekat seperti itu.
__ADS_1
"Gadis manis... ga boleh ngeres ya pikirannya..." ucap Uwais lembut, membuat hati Arrida meleleh saat itu juga apalagi ketika satu tangannya Uwais terangkat merapikan anak rambutnya lalu menyelipkannya ke telinga ditambah lagi hangatnya deru nafas Uwais benar-benar menyapu wajah meronanya Arrida.
Uwais tersenyum gemas. Yang tadinya dia tidak ingin menggoda Arrida, justru akhirnya malah dia sangat menikmatinya, melihat wajah memucat dan salah tingkah gadis itu. Namun tiba-tiba kepalanya kembali terasa berat, pandangannya seperti kabur dan berputar-putar. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Lalu memejamkan matanya. Mencoba lebih rileks.
"Ish... apa-apaan sih ni... bikin sport jantung aja" gumam bathin Arrida. Ia segera mengatur nafasnya lalu menetralkan degup jantungnya.
Hening.
Tampaknya Uwais benar-benar lelah. Satu lengannya menutup kedua matanya.
"Kakak, tidur?" Arrida bingung, tiba-tiba Uwais berubah mode, setelah tadi menggodanya kini hanya diam tanpa kata.
Tak ada jawaban.
"Kak" panggilnya pelan. Masih tak ada jawaban.
Arrida pun bangkit. Lalu punggung tangannya terulur menyentuh kening Uwais. Masih panas.
"Ya Allah kenapa jadi panas banget gini sih" gumam Arrida panik
Ia pun memutuskan untuk mengambil air hangat yang dituangkan ke baskom. Lalu mencari handuk kecil. Namun ia tak menemukannya. Ia bermaksud untuk mengompres kening Uwais. Untung saja dia teringat kalau dia membawa sapu tangan di tasnya, akhirnya dengan sapu tangan miliknya ia mengompres kening Uwais.
Lagi, Uwais terkejut, namun kali ini karena ada yang hangat dan basah menempel di keningnya. Ia pun membuka matanya pelan.
" Eh Kakak kaget ya ... Maaf aku gak bermaksud ganggu tidur kakak... abisnya kakak panas banget, jadi aku kompres deh"
Uwais mengangguk mengerti seakan mengijinkan Arrida untuk mengompresnya.
"Kak, sebaiknya sweaternya dilepas, biar suhu tubuhnya ga terlalu panas"
Uwais paham, karena mereka memang sudah mempelajarinya di PMR. Jika demam sebaiknya tidak mengenakan pakaian tebal. Apalagi berlapis. Ia pun bangun kemudian melepas sweaternya. Lalu kembali berbaring di sofa.
Arrida dengan sigap meletakkan bantalan sofa tepat di bawah kepala Uwais. Kemudian ia mengompres kembali kening Uwais.
Arrida menungguinya. Ia duduk dibawah di samping Uwais, tepatnya di karpet yang menjadi alas sofa. Setelah dirasa sapu tangannya sudah dingin, ia pun merendamnya kembali ke air hangat, meremasnya, lalu meletakkannya kembali di kening Uwais. Begitu terus, berulang. Bahkan sesekali dia tempelkan ke leher Uwais. Sampai suhu tubuh Uwais tidak terlalu panas.
"Sekali lagi deh" Kata Arrida dalam hati.
Arrida kembali meletakkan sapu tangan hangatnya itu di kening Uwais. Namun tiba-tiba, satu tangan Uwais terulur memegang tangan Arrida. Kemudian ia menggenggam erat tangan gadis kesayangannya itu diatas dadanya. Mata Uwais masih terpejam. Sengaja, dia memang tidak ingin mengatakan apapun pada gadisnya kesayangannya itu.
Arrida terdiam. Ia pun membiarkannya dengan sukarela ketika tangannya digenggam oleh Uwais. Sampai akhirnya ia merasakan kantuk, dan kemudian ia tertidur sambil duduk, dengan tangan yang masih saling menggenggam. Kepalanya tidur di tepi sofa dekat pinggang Uwais.
Tak berapa lama kemudian Uwais terbangun, ia tersadar kalau dirinya menggenggam tangan Arrida. Ia melirik ke samping, dan tersenyum melihat gadisnya itu malah tertidur. Diusapnya pelan pucuk kepala Arrida agar gadisnya itu tidak sampai terbangun.
Kemudian dia memiringkan tubuhnya, memperhatikan wajah cantik milik gadisnya itu. Bulu mata yang lebat dan lentik, hidung yang mancung, dan bibir merah yang mungil. Kemudian tangan satunya terulur merapikan anak rambut Arrida yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...