
Arrida menggenggam tangan Uwais kemudian mengecup punggung dan telapak tangannya.
"Apa kakak merasakannya?"
"Maaf," jawab Uwais sambil menggelengkan kepalanya.
Arrida menarik nafas panjang. Ia memahami keadaan Uwais yang memang tidak stabil.
"Apa kakak mau aku perlihatkan rekaman saat kita menikah?"
"Mana videonya?" tanya Uwais, ia seperti tidak sabar ingin melihat videonya, seakan-akan ia sudah pernah tahu tentang video pernikahannya.
Arrida segera membuka ponselnya, lalu memperlihatkannya pada Uwais.
"Aku gak ada di rumah sakit, aku di sini ketika akad berlangsung! Kita menikah karna permintaan terakhir papah! Padahal kita punya impian sendiri untuk menikah! Namun terpaksa kita menikah cepat, tidak sesuai rencana yang kita buat, karena saat itu papah udah kritis! Lihatlah kondisi papah, beliau ingin sekali melihat kita menikah, dan ini ayahku yang sedang menjabat tangan kakak!" kata Arrida sambil menjelaskan siapa saja yang ada di video itu.
"Setelah kita menikah, kondisi papah stabil, boleh pulang, siangnya sudah berada di rumah, jam setengah empat pagi, papah meninggal! Aku, mbak Fika, bang Arman, bergegas pagi itu ke bandara tapi tiba-tiba jadwal penerbangan ke kota S dibatalkan, karena ada tsunami!" imbuhnya.
"Kenapa kamu bisa ke sana? Bukannya akses ke sana ditutup untuk umum?"
"Aku ikut serta dengan tim relawan!"
Uwais mengangguk. "Dan kamu menemukanku?" tanya Uwais memastikan.
"Iya, bersama jasad papah dan ayah!" jawab Arrida sambil mengusap air mata. Sebenarnya ini sudah yang ke sekian kalinya Arrida menunjukkan video dan bercerita pada Uwais, berulang, namun tetap saja air mata itu keluar dari sudut matanya. Dan anehnya Uwais selalu mendengarkannya.
"Aku memang kehilangan ingatan, tapi aku janji, aku akan berusaha untuk mengingatnya, aku akan berusaha mencintaimu, aku janji akan selalu menjagamu, berbahagia bersama kamu, seperti yang diamanahkan papah!" kata Uwais sambil mengusap pipi Arrida yang masih basah karena sisa air matanya.
"Papah?" Arrida bingung.
"Iya, aku ingat, setelah akad papah bilang jika aku sudah menjadi seorang suami, maka aku harus menjagamu dan anak-anak kita kelak, tanggung jawab yang tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat,"
"Kakak mengingatnya?"
"Iya!"
"Kok bisa?"
"Entahlah, melihat papah di video ini, tiba-tiba saja ada bayangan dan suara papah hadir, dia juga berpesan agar aku selalu berbahagia bersama kamu," jelas Uwais.
Arrida tersenyum bahagia. Setidaknya ada sesuatu yang penting yang masih bisa diingat oleh Uwais.
__ADS_1
"Bersabarlah, tetaplah menemaniku!" ucap Uwais sambil menggenggam tangan Arrida. "Aku akan belajar menjadi suami yang terbaik untuk kamu!" janjinya.
"Tidak, tapi kita, kita akan belajar untuk menjadi suami istri yang baik, itu kata Kakak!" ujar Arrida sambil menekankan kata 'kita'.
πΌ
Sudah dua hari ini, Uwais mengantar dan menjemput Arrida ke tempat praktek. Tidak ada kata tersesat dan terlambat, semua berjalan seperti yang diharapkan. Bahkan dia ikut serta bergabung di resto, walau hanya melayani satu dua orang pembeli. Namun, ada yang tidak biasa siang ini, hati Uwais tiba-tiba merasakan nyeri saat melihat Arrida diantar pulang oleh Rasya. Ia pun memutuskan untuk segera ke rumah, bukan untuk menyambut Arrida, melainkan ingin merebahkan tubuhnya di tempat tidur, karena rasa nyeri di hatinya, terasa hingga kepala.
Perasaan Uwais saat ini memang sedang tidak karuan, terlebih dalam dua malam ini dimana Arrida sangat sibuk menyelesaikan tugas-tugas dan laporan, hingga akhirnya semalam, dirinya tersinggung dengan ucapan Arrida yang seakan-akan menyepelekannya karena menolak bantuannya.
"Ga usah Kak, kakak istirahat aja! Lagian ini banyak banget, kakak pasti gak bakal paham!" kata Arrida pada Uwais yang terbangun tengah malam dan melihat dirinya masih lembur mengerjakan tugas. Hatinya kecewa mendapat penolakan, tapi apa yang dikatakan oleh Arrida sepenuhnya benar, dia benar-benar tidak paham, kalau hanya mengetik saja, itu juga malah membuat semakin lama. Ah, dia merasa menjadi seorang suami yang bodoh dan tidak berguna, dia sakit hati, terlebih saat dia melihat Arrida diantar oleh Rasya. Lalu apa yang bisa diharapkan darinya? Bahkan untuk pulang saja, Arrida lebih percaya pada orang lain. Itu yang ada dalam benaknya saat ini.
πΌ
Malam ini, Arrida memperhatikan wajah Uwais yang sudah terlelap, ada rasa iba menyelimuti hatinya. "Emh, Kak, semoga Allah segera menyembuhkan kakak dan segera mengembalikan ingatan kakak seperti semula," gumam bathin Arrida.
Sebenarnya ada hal yang ingin dia bicarakan. Ia ingin menjelaskan sesuatu, namun, Uwais seperti sengaja menghindarinya. Ia masih teringat, ketika tadi ikut membereskan resto, Arman sempet menanyakan sesuatu, sesaat sebelum dia kembali ke rumah.
"Kamu ada masalah dengan Uwais?" tanya Arman.
"Nggak Bang, kenapa emangnya? Hanya aja, seharian ini kakak lebih pendiem, gatau kenapa, padahal aku lagi sakit!"'
"Mungkin dia lagi marah sama kamu,"
"Tadi siang dia ngelihat kamu dianter Rasya, trus wajahnya jadi beda, makanya dia langsung ke rumah, dan ini tadi dia ngelihat kamu nepuk-nepuk pundak Andri! Untung aja saat nangis, kepala Andri ada di atas meja bukan di dalam dekapan kamu!"
"Ih, abang, ngomong apa sih?"
"Ya, maksud abang, dia kayaknya lagi marah ngelihat kamu jalan dan ngobrol bareng cowok lain!"
"Berarti dia cemburu dong, katanya dia belum merasakan cinta!" kata Arrida protes.
"Hahaha, namanya juga otaknya cedera bukan hatinya! Untung aja masih keitung waras, Da!"
"Ih, Abang, tega banget bilang kayak gitu, kakak kan bukan bodoh apalagi gila, Bang, kakak cuma hilang ingatan, tapi anehnya, ingatannya bolak balik ga jelas! "
"Namanya juga barengan ma trauma di hatinya, ya, kehilangan papah, kena tsunami, belum wisuda, malah harus nikahin kamu sebelum lulus, semua diluar keinginan dan targetnya!"
"Iya, sih, Bang!"
"Yaa cobalah ngomong sama dia baik-baik, dia lagi gak stabil, sabar ya, dia aslinya kan selalu sabar dan kalau ada apa-apa, pasti akan segera dia selesaikan!"
__ADS_1
"Iya Bang, Rida ngerti!"
Arrida menarik nafas panjangnya sambil menatap Uwais kemudian membelai lembut rambutnya. Namun, entah sengaja atau tidak, Uwais tetap memejamkan matanya.
Arrida pun memilih beranjak lalu menuju ke tempat tidur di samping Uwais. Malam itu, Uwais sama sekali membelakangi Arrida.
πΌ
"Kak, bangun, nanti aku terlambat!" kata Arrida membangunkan Uwais. Sejak bangun tidur, Uwais sama sekali tak menyapanya. Selepas Subuh, ia memilih untuk tidur lagi, terlebih cuaca sedang hujan.
"Kakak kenapa sih, dari kemarin gak bicara? Kata kakak, kalo ada apa-apa kita segera selesaikan, tapi mana? Ini kakak malah mendiamkan aku dari kemarin, aku sakit hati, Kak!" gerutu Arrida manja seperti biasanya. Namun, Uwais masih diam dan memejamkan matanya.
"Kak, aku kemarin sakit, aku inget, waktu aku sakit perut saat hari pertama datang bulan, kakak begitu mengkhawatirkan aku, tapi kemarin bahkan saat aku datang, kakak gak menyapaku, gak menenangkanku, padahal aku butuh kakak!" Arrida mulai bercerita.
"Tadinya aku mau minta dijemput Kakak secepatnya, tapi dosen pembimbing praktekku bilang sekalian aja pergi dengan Rasya, karena Rasya juga mendapatkan perintah untuk ke kampus, akhirnya aku nurut apa yang dikatakan pak Andi,"
Arrida sengaja meneruskan penjelasannya, ia tidak peduli akan didengar oleh Uwais atau tidak, yang jelas, dia hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Semalam, kakak aku ajak ketemu Andri di resto malah gak mau, padahal, karena dialah aku bisa pulang ke kota S Ikut tim relawan! Kakak tahu, sore kemarin dia baru datang dari kota S langsung ketemu aku dan bercerita kalau Nana pacarnya telah meninggal karena peristiwa tsunami, dia juga kehilangan ibunya yang sampai sekarang belum diketahui dimana, apakah hidup atau tidak! Semalam, dia menangis karena kepergian Nana, Kakak masih ingat dengan Nana? Sahabatku yang selalu lucu dan ceria!" jelas Arrida sambil mengeluarkan air matanya karena mengingat Nana.
"Andri orang baik, dia yang pernah membantu Kakak menemukan aku waktu aku diculik Bryan dan disekap oleh Laura! Mungkin Kakak lupa, tapi kita banyak berhutang padanya!" ujar Arrida lagi walaupun sebenarnya Uwais masih tidak meresponnya.
"Kalau kakak mendiamkanku karena aku bersama Rasya dan Andri, aku minta maaf karena telah membuat Kakak marah, dan aku tidak akan mengulanginya,"
Uwais membuka matanya perlahan.
"Aku bukan suami yang sempurna, bahkan aku tidak ingat apapun, aku sangat tidak berguna, kamu gak butuh aku, kamu bisa sendiri, dan kamu bisa minta tolong pada laki-laki lain!" ucap Uwais penuh keputus-asaan.
"Kak!!!" Arrida sedikit berteriak, ada rasa kecewa dan marah, tapi kemudian hatinya memaklumi keadaan Uwais. Ia menangis menahan emosi.
"Aku emang belum bisa jadi istri yang baik buat Kakak! Tapi aku harus ngertiin kakak gimana? Kakak tau, hal yang Kakak ucapkan tadi, membuat aku sakit hati!" tegas Arrida sambil mengusap air matanya.
"Asal kakak tau, semenjak aku suka kakak, di usiaku yang enam belas tahun, aku gak pernah berpaling ke orang lain, hati aku hanya untuk kakak!" teriak Arrida kemudian beranjak meninggalkan Uwais.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Uwais bikin jengkel yaaaa.... kasihan Arrida. Maklum masih rapuh..... masih bimbang masih gak paham siapa dirinya.... π€π€π€
Maaaf kak readers. telat Up. kemaren udah mau up eh kehapus 700 kata. harus mulai dari awal. hayati tak sanggup. lelah. hiks.... semangat ilang. tepar pula.
Semoga kak Readers sehat selalu yaaaaa.
__ADS_1
OTW tamat ya kak....
πππ