Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
12. penolakan cinta


__ADS_3

"Waktu di bis," ucap Uwais


DEG


Jantung Arrida berdegup kencang tak karuan, ia ingat betul ketika dengan tidak sengaja bibir lembut Uwais bersentuhan dengan bibir mungilnya. Wajahnya kini memanas. Tampak kemerahan. Ada rasa malu yang luar biasa. Ingin sekali rasanya dia pergi dari hadapan Uwais, namun kakinya terasa kaku, tidak bisa digerakkan.


"Rasanya aku harus ngomongin hal ini ke kamu," Uwais menoleh, menatap Arrida dalam-dalam.


"Aku minta maaf ya,"


"Udah kak ah, jangan ngomongin itu, aku juga gak mau ngomongin hal itu," kata Arrida cepat, ia bingung harus berkomentar seperti apa. Karena sebenarnya walaupun dia sangat tidak ingin untuk membicarakannya, namun kejadian waktu di bis itu memang masih terus saja berputar-putar dalam ingatannya.


"Itu gak sengaja ...." Uwais menjeda kalimatnya "Aku gak bermaksud ...." ucapan Uwais terhenti lagi, karena Arrida langsung memotong pembicaraan.


"Udah kak, aku tau kok, gak papa ... Kita lupakan aja, walau mungkin belum tentu bisa lupa seh," kata Arrida sambil menutup mulutnya, ia sedikit terkekeh, berusaha untuk tidak gugup, mengajak Uwais ke mode santai sambil tertawa kecil.


"Kamu gak papa Ar?" selidik Uwais yang mendapatkan anggukan pasti dari Arrida.


"Seriusan?"


"Emmm gimana ya kak ... Sebenernya ...." Arrida terdiam seperti memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk disampaikan.


"Kamu tidak baik-baik saja kan Ar?" tebak Uwais.


Arrida menatap Uwais dalam-dalam. Ada anggukan kecil yang ia tunjukkan.


"Walaupun tidak disengaja ... Tapi itu pertama buat aku kak! Jujur ... itu sempet bikin aku syok,"


Uwais mengangguk mengerti.


"Maaf," kata Uwais lirih dan singkat. Sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama dengan yang Arrida rasakan.


"Udah kejadian kok kak, gak papa,"


"Kamu gak marah? "


Pertanyaan itu malah membuat Arrida bingung menjawab. "Apa iya aku harus marah? dia mengambil first kiss ku ... Tapi apa iya yang seperti itu dinamakan first kiss?" gumam bathin Arrida.


Seperti terselamatkan, tiba-tiba bel pergantian jam berbunyi. Arrida tidak perlu susah-susah menjawab.


"Udah bel kak, aku masuk dulu ya, rapat gurunya pasti udah selesai," ucap Arrida berpamitan. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kelasnya.


Uwais mengangguk mempersilahkan Arrida ke kelasnya.


"Jangan berubah Ar, dan jangan menghindar," pinta Uwais sesaat sebelum Arrida masuk ke dalam kelasnya.


Tanpa mengiyakan atau tidak, Arrida pun masuk ke dalam kelasnya.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Hari berlalu, Arrida dan Uwais menjalani kegiatan seperti hari biasanya. Gedung kelas dua belas memang berbeda letaknya dengan gedung kelas sebelas apalagi kelas sepuluh, makanya hanya sesekali saja mereka bertemu atau bertegur sapa. Kebersamaan mereka justru lebih intens saat kegiatan ekstrakurikuler PMR, bersama Nana, Hani, Rian,Roni, dan Asep. Namun Arrida dan Uwais masih dengan perasaan yang aman tersimpan di hati masing-masing. Terkadang mereka hanya saling memberi tatapan.


Mereka tidak tau bagaimana menggambarkan perasaan mereka masing-masing. Apalagi Arrida, hatinya bagai ditarik ulur. Kadang, jika melihat Uwais dekat dengan seorang teman putri, ia merasa cemburu, dan ingin menghapus perasaannya pada Uwais, tapi, kadang bermekaran lagi jika Uwais memberikan perhatian kecil.


🌼


"Da, kenapa seh mbak Erna ngehukum kamu segitunya, padahal kan kesalahan mu gak fatal-fatal amat, trus, aneh aja, dia kayaknya ngikutin kamu mulu, di tiap pos pasti ada dia, dan anehnya cuma kamu yang sepertinya di salah-salahin mulu," gerutu Nana tidak setuju dengan sikap Erna yang berlebihan dan di ada-ada pada waktu hiking PMR.


"Mungkin dia emang niat mau ngerjain kamu Da, jadi dia sengaja melakukan itu," kata Hani menduga-duga.


"Sebab apa coba dia melakukan hal itu?" Arrida setengah berpikir.


"Gara-gara kamu deket ma kak Uwais lah, apalagi coba?" tebak Hani.


Arrida terdiam. Sedikit banyaknya dia membenarkan ucapan Hani. Ia ingat betul berberapa minggu ke belakang, saat kegiatan ekskul PMR, Erna pernah mengatakan: "Da, kamu jangan terlalu ngarep ma Uwais, dia emang baik sama semua orang, jadi jangan baper, dan lagi kamu tidak termasuk kategori cewek yang disukainya, jadi, jauhi dia jangan berharap banyak daripada kamu sakit hati,"


Sebenarnya dia ingin mengabaikannya, tapi kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinganya.


"Gak papa, yang penting aku baik-baik aja, kalau dia udah keterlaluan banget, aku pasti gak akan tinggal diem,"


"Kita dibelakang kamu, Da," ucap Nana meyakinkan.


"Untung tadi kak Rian belain kamu, jadi gak nyampe tuh mak lampir terus-terusan ngerjain kamu," lanjutnya.


Arrida dan Hani cekikikan, mereka tidak menyangka kalau Nana bakal ngasih julukan mak lampir buat Erna.


"Da, boleh ngomong sebentar?"


"Eh kak Rian? Ada apa?" tanya Arrida penasaran.


"Boleh gak disini tempatnya?" pinta Rian.


Arrida menoleh ke kanan dan ke kiri, meminta persetujuan dari Nana dan Hani. Keduanya mengangguk hampir bersamaan. Akhirnya Arrida pun mengikuti Rian ke tempat yang dimaksud olehnya.


"Da, mmmm ... Aku gak mau basa-basi,


sebenarnya ... Aku, udah lama suka sama kamu,"


Andaikata saat ini Arrida lagi main sinetron, pasti akan terdengar suara petir yang menggelegar. Namun sayang, petir itu hanya ada dalam imajinasinya saja.


"Kamu mau gak jadi pacar aku?"


Arrida masih terdiam. Dia kesulitan menelan salivanya.


"Kamu kaget ya ... Maaf, tapi udah lama aku pendam rasa ini, semenjak awal aku ngelihat kamu waktu daftar jadi anggota PMR, aku gak bisa bohong, kalau kamu itu bikin hatiku selalu gelisah,"


Selama ini Arrida, Nana dan Hani memang sering bersama kakak dewan senior ( yang kelas duabelas) terutama Rian dan Uwais. Mereka sudah seperti sahabat saja. Bahkan kadang Nana lebih suka bermanja pada Rian dan Uwais. Bagaikan adik pada kakak-kakaknya.


"Gimana ya, Kak?"

__ADS_1


"Kamu belum punya pacar, kan?"


Arrida menggelengkan kepalanya.


"Kamu gak perlu jawab sekarang, pikirkan saja dulu!"


"Nggak kak, sekarang atau nanti sama saja ... Maaf banget kak, aku ga bisa membalas rasa suka kak Rian, aku ga punya rasa yang lebih buat kakak, maaf bbanget," kata Arrida sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Rian mematung. Kepercayaan dirinya lenyap seketika. Padahal selama ini dia yakin banget kalau perasaan yang dimilikinya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Maaf," hanya itu yang akhirnya keluar dari mulut Arrida untuk kemudian dia meninggalkan Rian yang masih mematung.


🌼


Dari tempat yang lain, ada Uwais, Roni dan Asep yang sejak tadi mendengarkan semua percakapan Arrida dan Rian.


Ada kebekuan yang tiba-tiba terlihat di wajah Uwais. Entahlah, hatinya saat ini sangat sulit digambarkan. Roni menepuk pundak Uwais.


"Keduluan sahabat kan, Bro ...." kata Roni membuat Uwais menoleh memperhatikan ucapan Roni.


"Maksudnya?"


"Pake pura-pura nanya ... Hati elo, Bro, kenapa mesti disembunyikan seh? Lo suka Arrida, kan?"


"Tau darimana? Emang kelihatan ya?"


"Nggak, lo pandai nyembunyiin perasaan lo, orang lain gak akan tau, cuma gue yang tau, sampai-sampai cewek yang lo suka aja bingung ama sikap lo,"


Uwais tertawa kecil.


"Gue yakin Arrida juga suka elo, ya gak, Sep?" tanya Roni meminta persetujuan dari Asep. Asep hanya mengangguk.


"Tau gak si ketos Wisnu, dia kemaren juga baru aja nembak Arrida," seru Asep kini.


Uwais menoleh pada Asep, mode serius.


"Hah, beneran Sep?" Roni malah yang terkejut


"Beneran, gue dapet cerita dari anak-anak anggota OSIS kelas sebelas,"


"Jangan-jangan, Arrida tadi nolak Rian karena uda jadian ma Wisnu?" tanya Roni memastikan


"Gak lah, Wisnu juga dapet penolakan," jelas Asep.


"Waw," respon Roni singkat.


"Dan kalau mau tau lagi, si Pradana Pramuka Justin juga dapet penolakan dari Arrida beberapa hari yang lalu," Asep memberi informasi.


"Gila, para ketua di tolak semua," Roni masih geleng-geleng. Ia tidak menyangka Arrida bisa menolak pesona ketiga orang yang memiliki kepemimpinan di sekolahnya. Rian, mantan ketua PMR, Wisnu Ketua OSIS, dan Justin pemimpin Pramuka.

__ADS_1


Uwais tersenyum ketir. Ia sebenarnya juga ragu dengan perasaan Arrida yang kadang suka menolak perhatian darinya.


...🍀🍀🍀🍀🍀...


__ADS_2