
"Masih ingin menikmati wajah ku?" Uwais mendekatkan wajahnya ke arah Arrida. Dan tentu saja gadis itu menjadi salah tingkah. Tatapannya ia alihkan menatap keluar ke arah langit. Uwais tersenyum gemas, ia selalu saja merasakan suka yang unik jika melihat gadisnya itu salah tingkah.
"Eh Wais....maaf ni, ganggu kalian... gue baru keingetan, gue mau nyampaikan sesuatu!" Kirno tiba-tiba datang menyela keasyikan Uwais dan Arrida.
"Ada apa No? serius amat"
"Iya, serius... menurut gue sih penting, walaupun sebenarnya orang yang mau dibicarakan sama sekali gak penting"
"Siapa?"
"Si uler" jawab Kirno menggunakan nama julukan yang disematkan untuk orang yang akan dibicarakan.
"Oh, kenapa dengan dia?" Uwais paham siapa yang dibicarakan.
Arrida hanya memperhatikan tidak mengerti.
"Waktu lo pulang kemarin, pas hari keberangkatan lo, seperti biasanya, dia kesini, nyari elo, gue bilang aja kalo lo mau lama di kota lo, yaaa... sekitar seminggu atau dua minggu"
"Oh, pantesan dia telpon terus"
"Siapa uler kak?" Arrida yang sejak tadi penasaran akhirnya bertanya.
Kirno melirik Uwais, seakan bingung harus menjelaskan seperti apa. Tapi dia memang sengaja untuk menceritakannya di hadapan Arrida, agar ke depannya tidak menjadi sebuah masalah diantara Arrida dan Uwais.
"Uler itu Laura" jawab Uwais singkat
Arrida mengernyitkan keningnya. Seperti mengingat-ingat nama itu.
"Kamu inget ceritaku waktu SD tentang pak Jefry yang melakukan hal tidak pantas pada siswinya?"
Arrida terdiam, memorinya mulai ingat kisah kelam yang pernah diceritakan Uwais di ruang BK, setelah Arrida diperlakukan tidak baik di ruang atletik oleh pak Jefry.
"Jangan bilang, Laura itu adalah temen SD kakak yang dipeluk pak Jefry?"
"Sayangnya itu bener, Ar!" Uwais mengangguk penuh sesal.
"Lalu....? Berarti kalian ketemu kembali? dia kuliah di kampus yang sama?" tanya Arrida penuh selidik.
Uwais mengangguk datar. Dia sedang memperhatikan ekspresi wajah Arrida, dia tidak ingin ada prasangka macam-macam melintas dalam pikiran dan hati gadis kesayangannya itu.
"Lalu kenapa dipanggil uler?" Arrida mulai mencari tahu.
"Itu julukan yang dikasih bang Arman, soalnya dia kayak uler!" Kirno menimpali.
"Hah?" Arrida masih belum mengerti
"Ya uler... jadi, berbahaya!" kata Kirno dengan nada tidak suka.
Arrida mengangguk seakan paham.
"Dan... intinya gue mau minta maaf, gue salah, maaf banget" Kata Kirno mulai masuk pada inti yang dia maksudkan.
"Ada apa No?" Uwais mulai serius menanggapi
"Kemarin pas dia datang itu, dia nanya, ngapain lama-lama disana? gue jawab karena dia mau nyiapin adeknya masuk kampus sini!"
"Maksud kamu 'adek'... Arrida???" tanya Uwais terkejut.
"Iya maapin gue, bro!"
"Kenapa gak bilang yang sebenarnya?" tanya Uwais kecewa karena Kirno tidak jujur pada Laura siapa Arrida sebenarnya. Sesungguhnya ia juga sangat risih, karena selama ini Laura terus mendekatinya.
"Maaf, gue pikir kita harus nyelametin Arrida, karena Laura itu saiko (psycho)"
Arrida menatap Kirno serius.
"Maksudnya gimana?" Uwais bingung
"Lo mungkin kenal dia waktu SD, tapi gue kenal dia waktu SMA, kita satu sekolah... Walau gue gak tau banyak soal dia, tapi gue cukup tau dia itu bermasalah"
"Jadi,dia pindah ke kota ini?"
Kirno mengangguk memastikan.
"Iya, dia disini, hidup sama nenek dari pihak ayah, hidup neneknya glamor, 'highclass grandma'... Dan sepertinya Laura tidak mendapatkan perhatian utuh dari keluarganya, setau gue ayah ibunya cerai, dan sudah berumah tangga lagi semuanya"
__ADS_1
"Kok kamu baru cerita?" tanya Uwais sambil mengernyitkan keningnya.
"Karena menurut gue gak penting, toh lo juga ga respect ma dia"
"Trus, maksud bang Kirno saiko apa?" tanya Arrida kini.
"Dia suka ngebully, dan gue gak mau itu terjadi pada Arrida" Kirno mulai menjelaskan.
Arrida dan Uwais saling pandang.
"Waktu kita kelas duabelas, ada adik tingkat kelas sepuluh, namanya Ratih, dia disukai mantan ketua OSIS, temen sekelas gue, namanya Ardi... Dan ternyata, Ardi ini disukai oleh si uler, dan yang terjadi, Ratih ini habis di-bully ma si uler"
"Taunya?"
"Beberapa kali gue lihat Ratih keluar dari toilet putri dalam keadaan gak karuan, seluruh tubuhnya basah, kotor, rambut acak-acakan."
"Emang gak ada yang melaporkan? dimana guru-gurunya? trus kalau kamu tau, kenapa tidak bertindak?"
"Gak bisa Wais, gue ga punya bukti, dia licik, bahkan Ratih pun hanya bisa diam... Si Ardi yang sempet melaporkan ke BK, sempat ditindaklanjuti tapi tidak tahu akhirnya seperti apa, maklum aja, itu kan sekolah yayasan milik ayahnya Laura"
"Terus?" Arrida penasaran dengan cerita selanjutnya
" Kayaknya Laura sempet diskors beberapa hari, tapi kemudian neneknya datang, dan tak lama kemudian, gue denger, Ratih kecelakaan, dan entah setelah itu, bagaimana ceritanya, tapi gue curiga kalau itu perbuatan Laura yang dendam sama Ratih"
Uwais menarik nafas panjang kemudian memperhatikan gadis kesayangan yang ada di hadapannya itu. Ada rasa khawatir yang sangat mendalam untuknya.
"Jadi gue bener-bener minta maaf, kalau sampai nanti akhirnya terbongkar kalau Arrida bukan adik lo, gue gak tau apa yang akan terjadi pada Arrida, tapi semoga aja dia sudah berubah, tidak seperti waktu SMA"
Arrida menelan salivanya dengan sangat berat. Pikirannya nge blank. Sampai tidak tahu harus berkomentar apa. Mungkinkah selama perkuliahan dia harus berpura-pura menjadi adiknya Uwais?
"Gue yang salah, kebohongan memang gak akan berakhir baik.... Walau mungkin, maksud awal gue, demi kebaikan Arrida, tapi setelah gue pikir, seharusnya jujur aja, adapun tentang tindakan Laura selanjutnya, gue rasa kalian bisa menghadapinya bareng." Kata Kirno merasa menyesal.
"Maafin gue, Wais, Da! Tadinya, gue pikir kalau Laura tau, Arrida adik lo, paling tidak, dia gak akan macem-macem, soalnya, dia kan suka elo, Wais...! Ya udahlah, besok kalo ketemu si uler, biar gue bilang yang sebenarnya" kata Kirno.
Uwais dan Arrida hanya terdiam.
"Gak papa No, biarkan saja, selama ini aku juga tidak pernah merespon apalagi memberi harapan pada dia!" kata Uwais sangat yakin.
"Beneran gak papa?" tanya Kirno mencari kepastian
"Iya, toh aku juga jarang ketemu dia, kecuali kalau dia kesini,"
"Hmm"
"Gue ke belakang dulu ya" Kirno pun meninggalkan Uwais dan Arrida menuju pantry.
"Ya udah kak, aku juga mau ke kamar dulu, pengen istirahat" Kata Arrida sambil bangkit dari duduknya. Ia memang sengaja ingin ke kamar, karena tidak ingin membicarakan lebih lanjut tentang Laura.
Uwais ikut bangkit dari duduknya, ia mencekal lengan Arrida.
"Tunggu Ar"
Arrida menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke belakang melihat wajah tampan Uwais.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Uwais memastikan.
Arrida hanya terdiam. Iya yakin tanpa harus mengatakan sesuatu, cowok pujaannya itu, pasti akan tahu jawabannya.Dan memang benar, seperti biasanya, Uwais bisa menemukan jawaban hanya dengan melihat raut wajah gadis kesayangannya itu. Bahwa dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Maaf, maaf udah bikin kamu gak nyaman" ucapnya kemudian
Arrida mangangguk kecil.
"Kamu percaya aku, Ar?"
"Untuk saat ini iya" jawab Arrida.
"Kamu curiga sama aku?"
"Entahlah kak"
"Tanyalah Ar, apa yang ingin kamu tanyakan?" kata Uwais sambil meminta Arrida duduk kembali di kursi.
"Sejak kapan kakak bertemu lagi dengannya?" tanya Arrida, kini dia sudah kembali duduk disamping Uwais.
"Waktu dia dan teman-temannya ke warung Cinta Pluto, dia yang mengenaliku lebih dulu, bahkan aku tidak mengenali siapa dia"
__ADS_1
"Duluan mana aku atau dia ke warung Cinta Pluto?"
"Kamu"
"Kakak kasih tau nomer telepon ke dia?"
"Tidak, aku juga gak tau dia dapet darimana"
"Hmmm, lalu kata kakak dia telepon kakak terus? berarti kakak tau nomernya kan?"
"Iya, dia pernah nge chat, lalu ku simpan nomernya, biar kalau ada nomer itu, tidak akan ku respon"
"Serius?"
"Iya"
"Tadi kata kakak dia telepon terus kakak? kok aku gak tau kalau hape kakak pernah ada panggilan?"
"Karena aku cuma lihat di layar aja, ada panggilan tak terjawab"
"Berapa kali?"
"Banyak"
"Gak kakak angkat?" tanya Arrida penasaran.
"Gak pernah dan gak akan pernah"
"Kalau chat?"
"Gak pernah ku balas"
"Satu lagi" kata Arrida. Ia ingin menanyakan satu lagi pertanyaan pada Uwais
"Apa?"
"Apa dulu waktu SD kakak suka sama dia"
"Tidak! Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"
"Kali aja dia cinta pertama kakak, cinta monyet gitu"
"Kamu yang pertama dan untuk yang terakhir !!!" ucap Uwais sangat jelas, pasti dan penuh keyakinan.
Hati Arrida meleleh.... senyum pun terbit di wajahnya.
"Maafin aku kak, udah curiga... gak tau kenapa, tiba-tiba, ada yang sakit aja disini" kata Arrida sambil menunjuk dadanya.
" Aku yang minta maaf, karna buat hati kamu sakit"
Arrida mengangguk.
"Sebelum kamu memintaku untuk menjaga hati... Aku sudah menjaganya, dan akan selalu menjaganya" ucap Uwais kemudian.
Arrida menatap Uwais dalam-dalam. Hanya kejujuran yang terpancar dari sorot matanya. Tak ada yang lain.
"Makasih, kak, udah menjaganya untukku"
"Hmm... Kamu juga menjaga hatimu, kan?"
"Iya"
"Makasih ya, Ar" kata Uwais sambil mengusap pucuk kepala Arrida. Dengan secepat kilat, Arrida menggenggam tangan Uwais yang ada diatas kepalanya. Lalu ia tempelkan di pipinya. Hingga pipi Arrida merasakan hangatnya telapak tangan Uwais. Gadis itu memejamkan matanya. Menikmati kenyamanan. Dan Uwais pun membiarkannya, agar Arrida tau bahwa dia sangat sangat menyayanginya.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
__ADS_1
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»