Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
72. Kangen diobati kamu


__ADS_3

Hari ini, umat Muslim merayakan hari raya idul Fitri, rasa haru dan suka cita terpancar dan bersinar cerah, hampir tidak ada yang bersedih dan bersusah hati.


Ba'da Dzuhur Uwais datang berkunjung ke rumah Arrida. Untuk bersilaturahmi. Ia juga sudah memiliki janji, bersama Nana, Hani, Roni dan Asep akan silaturrahmi ke rumah guru-guru mereka yang lain terutama para pembina ekstrakurikuler PMR.


"Assalamu'alaikum" Ucap Uwais saat datang, dia ada di pintu rumah Arrida. Dan betapa terkejutnya, di ruang tamu rumah Arrida sudah ada Andri dan Ical. Mereka sedang berbincang bercanda.


Ah, rasa cemburu itu datang tanpa permisi di hati Uwais, sudut hatinya terasa nyeri.


"Wa"alaikumsalam. Masuk kak" kata Arrida tersenyum bahagia, ia mempersilahkan Uwais masuk dan duduk. Uwais pun masuk dan mendaratkan tubuhnya di sofa tepat dihadapan Andri.


Arrida memperkenalkan langsung Ical dan Andri pada Uwais. Ini adalah pertama kalinya Uwais bertatap muka langsung dengan mereka. Sebelumnya, Uwais memang hanya mengenali wajah mereka saja ketika konser pada waktu yang lalu.


Tak lama kemudian Ical dan Andri berpamitan bertepatan dengan kedatangan Nana, Hani, Roni dan Asep.


"Sejak kapan Ical ma Andri kesini?" tanya Hani pada Arrida sambil duduk di sofa diikuti Nana disampingnya. Sementara Asep dan Roni memilih duduk di sebelah kanan dan kiri Uwais.


" Tadi, sebelum Dzuhur" jawab Arrida cepat


"Lah kak Uwais kapan kesini?" tanya Hani lagi, kali ini pada Uwais.


"Tadi abis Dzuhur" jawab Uwais


"Wah ada yang keduluan neh" celetuk Roni.


Uwais hanya tersenyum kikuk. Ia tau walaupun Roni hanya menggodanya, namun itu seperti sindiran baginya. Arrida memahami hal itu. Namun ia tidak bermaksud menjelaskannya, karena memang tidak ada yang harus dijelaskan. Ical dan Andri hanyalah teman yang bersilaturahmi. Tidak lebih.


Setelah Uwais dan keempatnya bersilaturahmi dengan pak Arthur dan bu Sofia, akhirnya keenamnya pun berpamitan untuk bersilaturahmi kepada beberapa guru yang lain.


🌼


Hari sudah pukul setengah delapan malam. Mereka sudah bersilaturahmi pada guru-guru mereka. Tidak semua. Hanya beberapa saja, tepatnya guru yang mereka kenal karena mendapatkan guru pelajaran yang sama.


"Ya udah, kalo gitu, aku pulang ya Ar" kata Uwais berpamitan.


"Iya, kak, makasih" kata Arrida.


"Gak papa kan sendirian?" tanya Uwais memastikan. Ia sudah tau kalau pak Arthur dan Bu Sofia tidak ada di rumah, begitu pun dengan Adnan.


"Gak papa kak, bentar lagi juga ayah bunda pulang"


"Ya udah aku pergi ya" Uwais berbalik meninggalkan Arrida menuju motornya.


Baru beberapa langkah, Arrida sudah menyusulnya, ia menarik telapak tangan Uwais hingga cowok itu berbalik menghadap ke arahnya.


"Tunggu kak"


"Ada apa hm?"


"Maafin aku lahir bathin ya kak, minal Aidin wal faizin" Arrida menjabat tangan Uwais.


Uwais tersenyum. Ia ingat, seharian mereka bersilaturahmi, bermaaf-maafan, bahkan dengan Nana, Hani, Roni dan Asep mereka sudah saling bermaafan. Ternyata, mereka sendiri justru belum sempat bermaafan.


"Sama-sama ya, maafin aku juga, maaf lahir bathin ya, Ar" kata Uwais sambil mengusap pucuk kepala Arrida lembut.


Arrida mengangguk.


"Selamat hari raya idul Fitri ya kak"


"Selamat lebaran buat kamu"


Keduanya pun tersenyum.


Dan akhirnya Uwais pergi. Sementara Arrida masuk ke dalam rumahnya dengan senyumannya yang tidak pergi dari wajahnya.


🌼


Arrida terkejut, ketika membuka pintu rumah. Tampak dihadapannya saat ini lebih tepatnya di seberang jalan ada Uwais sedang berdiri bersandar di badan motor sambil memainkan ponselnya. Arrida mengernyitkan keningnya. Ia tak mengerti, bukankah setengah jam yang lalu, Uwais sudah pergi? lalu kenapa masih ada disini?


Uwais mengangkat wajahnya dan tersenyum, ketika melihat Arrida menghampirinya dengan wajah yang bingung.


"Kakak ngapain disini? bukannya tadi udah pulang ya?"


"Iya"

__ADS_1


"Terus kok ada disini? Ada yang ketinggalan kah?"


"Ada"


"Apa? kenapa gak masuk aja buat ngambil?"


"Susah"


"Kenapa? emang apaan?"


"Kamu! kamu yang ketinggalan Ar... tadinya mau aku bawa pulang, tapi sayang harus minta ijin resmi sama ayah dan bunda"


Arrida menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya, menutupi tawanya yang agak terbahak.


"Haish... aya-aya wae (ada-ada saja)" Kata Arrida masih dalam tawanya.


Uwais terkekeh.


"Jadi, sejak kapan kakak disini?"


"Aku gak pergi kemana-mana"


"Maksud kakak?"


"Aku, pergi trus balik lagi. Biar kamu gak sendirian di rumah. Yaaa... sampai ayah bunda atau Abang dateng"


Arrida menggelengkan kepalanya gemas. Betapa baik dan perhatiannya cowok pujaannya itu.


"Lah kamu sendiri ngapain keluar? malem-malem, sendirian" Akhirnya Uwais bertanya pada Arrida, karena gadis kesayangannya itu keluar dari rumah.


"Baru jam delapan kak, belum malem banget"


"Sama aja malem... Kamu mau kemana hm?"


"Tadinya pengen bakso Bu Yus, yang deket mini market itu, tapi pastinya libur, kan masih lebaran. Jadi ya... mau ke minimarketnya aja gitu, pengen beli es krim sama mie instan"


" Kamu laper kah?" tanya Uwais. Ia ingat, tadi setelah silaturrahmi yang terakhir ke tempat pak Salman, mereka memang belum makan malam, dikarenakan perut mereka sudah terasa sebah, terlalu banyak makan camilan kue lebaran.


"Iya, sebenernya sih di rumah masih ada menu pagi tadi, tapi pengen yang seger dan pedas"


"Kak, jalan kaki aja yuk, sambil nikmatin malam, kan minimarketnya deket"


Uwais menoleh, terdiam sesaat menatap Arrida, kemudian ia pun meletakkan kembali helmnya ke kaca spion motor. Lalu melepas jaketnya dan diletakkan di stang motor. Kini ia hanya mengenakan kaos berlengan pendek berwarna putih yang ditutupi kemeja kotak-kotak berlengan pendek juga.


"Ya udah, ayo!"


Mereka pun berjalan kaki, tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di minimarket, hanya sekitar sepuluh menitan. Setelah itu Arrida bergegas membeli apa yang diinginkannya.


🌼


Uwais berjalan di sisi pembatas jalan, sementara Arrida disisi badan jalan. Mereka berjalan sambil menikmati eskrim. Keduanya mengobrol sambil bercanda.


"Kakak tau gak... kakak itu kayak es krim?"


Uwais mengeryitkan keningnya. Ia tak paham.


"Nggak, kenapa aku bisa kayak es krim?"


"Karna kakak selalu bikin hati aku lumer"


"Hahaha, garing, gak pas!" Uwais menanggapi gombalannya Arrida dengan nada mengejek.


"Ish , iya-in aja kenapa sih, gak seru ah"


"Hahaha... iya deh iya ... Kalo kamu tau gak, apa persamaan kamu ma es krim"


"Apa?"


"Sama-sama manis pengen aku jilat"


"Ish jorok" Arrida mengerucutkan bibirnya.


Saat itu Uwais segera berpindah ke sisi badan jalan, agar Arrida berada di sisi pembatas jalan karena sudah kedua kalinya Arrida memepetkan tubuhnya ke Uwais karena hampir keserempet motor.

__ADS_1


"Hehehe... nggak Ar... nggak... Kamu istimewa.... Aku gak bisa nyamain kamu dengan yang lain apalagi dengan pluto" Kata Uwais. Ia teringat akan malam itu, ketika Arrida memandangi wajah Uwais lalu sempat mengeluarkan air matanya. Saat itu, Arrida sempat mengatakan kalau dia teringat akan Pluto. Yang keberadaannya ada selama bertahun-tahun, tapi dalam sekejap dia dianggap bukan planet dan akhirnya dilupakan orang.


"Kakak" kata Arrida terdengar manja, ia terharu mendengar penuturan Uwais. Ia pun menghentikan langkahnya. Kini terjawab sudah kegalauannya malam itu. Bahwa dirinya bukanlah Pluto.


"Kenapa, hm?" Uwais ikut menghentikan langkahnya. Ia menghabiskan sisa es krimnya.


"Kenapa kakak ngungkit soal pluto?"


"Keingetan malam itu, ketika kamu nangis abis ngelihatin wajah aku"


" Jadi, sekarang aku kayak apa? Matahari atau bumi?"


"Aku bilang aku gak bisa nyamain kamu dengan yang lain... kamu istimewa, kamu adalah salah satu dari tujuan hidupku saat ini dan nanti"


"Aaah... khaaannn hatiku lumer...." Arrida terharu. Ia berusaha menghilangkan rasa tak biasanya dengan menggombal. Sejujurnya jantungnya sudah berdebar kencang. Rasanya ia ingin berteriak 'Aku Bahagia, Kak'


Uwais tersenyum.


"Ayo jalan" Ajak Uwais kemudian, ia mencoba membuat gadis itu nyaman kembali.


🌼


"Heiii!!!" Arrida berteriak, saat ada sebuah sepeda motor yang melaju dengan sangat kencang menyerempet Uwais, hingga Uwais terdorong ke pinggir mengenai Arrida hingga Arrida tidak seimbang dan jatuh, namun kedua lengan Uwais segera mendekap tubuh Arrida, dia bermaksud menggunakan kedua lengannya untuk menahan tubuh Arrida agar gadis itu tidak terlalu sakit saat terjatuh ke badan jalan. Sempurna.


Kini keduanya tak berjarak. Ada debaran hebat yang mereka rasakan. Gugup, kala tatapan keduanya beradu, jantung mereka berdetak tak karuan. Posisi seperti itu, membuat keduanya menelan saliva mereka dengan susah payah. Uwais segera bangun, mencoba menetralkan semua yang dirasakannya, lalu menarik lengan Arrida agar gadis itu berdiri tegak.


"Kamu gak papa, Ar?"


"Gak papa... Kakak gak papa? lengan kakak tadi keserempet, ada yang luka?"


"Nggak, Ar, aku gak papa"


Jawaban itu memang menenangkan Arrida, namun dia tau tangan Uwais pasti tidak baik-baik saja. Selain keserempet ia juga menggunakan tangannya untuk menjaga tubuhnya agar tidak sakit saat terjatuh tadi.


"Biar aku lihat!" kata Arrida sambil menarik lengan Uwais dan melihat bagian belakang lengannya. Ada beberapa goresan luka di kedua lengannya.


" Ayo ke rumah, kita obati" ajak Arrida, sambil menarik lengan Uwais. Ia berjalan sangat cepat.


🌼


Arrida mengoleskan salep antibiotik di kedua lengan Uwais setelah sebelumnya dibersihkan.


"Ah, kangen juga diobati sama kamu Ar"


"Kalo kakak luka di kampus siapa yang ngobatin?" tanya Arrida sambil merapikan kotak P3K nya.


Uwais terdiam. ia seperti mengingat sesuatu.


"Alhamdulillah, aku ga pernah terluka... kalaupun terluka maka aku akan pulang minta kamu obati lukaku..." canda Uwais


"Haish... lebay... luka kayak gini aja harus jauh-jauh naik kereta pulang kesini" kata Arrida sambil sengaja menekan luka Uwais dengan telunjuknya.


"Aww.. lumayan Ar, sakit" Uwais meringis


Arrida tertawa kecil


"Ar, maaf, kejadian tadi...tangan aku reflek gitu aja dekap kamu.... dan jatuh...."


"It's okay kak" Arrida tersipu, ia tau kalau Uwais bermaksud melindunginya, karena dia akan jatuh disebabkan terdorong olehnya. Ia juga masih bisa merasakan bagaimana jantungnya berdegup diatas normal.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers udah mampir


Makasih udah baca


Makasih udah mendukung


Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa


Sehat selalu kakak readers


Semoga suka dan terhibur...

__ADS_1


☺️☺️☺️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»


__ADS_2