Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
17. Maaf aku terlambat


__ADS_3

Arrida membuka pintu ruang klub atletik. Perlahan dia masuk ke ruangan itu, hanya ada keremangan cahaya dari jendela karena lampu ruangan sepertinya memang tidak dinyalakan. Dia celingukan, mencari keberadaan pak Jefry, hingga akhirnya dia mendapati pak Jefry yang sedang duduk di sebuah kursi di pojok ruangan, dengan kaki kanan terangkat menyilang diatas kaki kirinya.


"Siang Pak, Bapak memanggil saya?" tanya Arrida takut-takut.


"Iya, kamu mendekatlah!"


"Ada apa ya, Pak?" Arrida masih diam di tempatnya. Dia sama sekali tidak berkeinginan untuk mendekat ke arah pak Jefry.


"Arrida, apa kamu tau kamu udah membuat saya seperti ini?!" kata pak Jefry, ia bangun dari duduknya kemudian melangkah mendekati Arrida dan menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Lebih tepatnya mengerikan, hingga Arrida memundurkan tubuhnya ketakutan.


"M, m, maksud bapak apa ya?" tanya Arrida masih tidak mengerti.


"Apa kamu gak tau, kalau aku suka kamu, aku ingin kamu hanya menjadi milikku ... Milikku, paham!!!" Pak Jefry menahan amarahnya.


"Aku akan menunggu kamu sampai lulus sekolah, tapi kenapa kamu tidak menjaga diri baik-baik? Malah jadi pemain cowok-cowok, hagh? Seharusnya, kamu itu bisa menjadi gadis imut yang lucu dan menggemaskan Arridaaaaa!" kata pak Jefry penuh penekanan, lebih seperti frustasi. Dia semakin mendekatkan diri ke tubuh Arrida.


Arrida berpikir cepat. Ada yang tidak beres dengan guru olahraga yang sedang berdiri di hadapannya sekarang ini, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera keluar menyelamatkan diri.


"Bapak salah ... Saya tidak mengerti maksud Bapak," Arrida membalikkan badan hendak menuju pintu keluar. Namun tangan pak Jefry lebih dulu menahan lengan Arrida, lalu mendorong tubuh Arrida hingga mepet ke dinding. Kini tubuh Arrida terkungkung oleh kedua tangan pak Jefry.


"Apa aku tidak cukup tampan hmh? Aku mapan, aku bisa membuatmu bahagia Arrida!"


Arrida mulai menangis, tubuhnya gemetar. Dia berusaha mempertahankan dirinya.


"Sekarang ... Mana aja yang sudah disentuh cowok-cowokmu, hagh? Biar aku hapus semua, hanya aku saja yang boleh menyentuhmu, paham!"


Arrida memalingkan wajahnya, dia tidak ingin melihat wajah pak Jefry, dia berusaha menghindari serangan pak Jefry yang akan menciumnya. Kedua tangannya menahan tubuhnya agar tidak berhimpitan dengan tubuh pak Jefry.


"Jangan, Pak!" Arrida mencoba mendorong tubuh pak Jefry dengan kedua tangannya, namun kekuatannya masih kalah dengan kekuatan pak Jefry. Arrida makin terhimpit.


Uwais membuka pintu ruang klub atletik, dia mengatur nafasnya yang masih tersengal menatap tajam ke arah pak Jefry yang hendak melakukan tindakan yang tidak senonoh pada Arrida.


Pak Jefry terkejut, dia melepaskan kungkungannya, menatap bingung dan panik ke arah Uwais.


"Kamu siapa? Mau apa kesini?" Pak Jefry gelagapan, logikanya mulai normal, dia mulai merasa menyesal dengan tindakan yang baru saja dia lakukan kepada Arrida.


Merasa ada celah untuk menyelamatkan diri, Arrida segera berlari ke arah Uwais dan bersembunyi dibalik punggung Uwais, sambil memegang erat baju Uwais yang basah. Menyembunyikan wajahnya di punggung lebarnya, ada air mata yang hangat dirasakan punggungnya, hingga membuat Uwais sempat menoleh ke belakang sebentar untuk memastikan gadis yang disukainya ini baik-baik saja.


"Maaf aku terlambat, kamu gak papa kan?" tanya Uwais lembut dan menenangkan. Membuat Arrida nyaman, apalagi saat Uwais menepuk pelan lengan Arrida. Gadis itu terdiam dan malah makin menempelkan wajahnya di punggung Uwais.


"Apa yang sedang Bapak lakukan?!!" tanya Uwais penuh penekanan. Dari nada bicaranya seperti menahan amarah. Dia kini mengalihkan pandangannya pada pak Jefry, setelah memastikan kalau Arrida mulai tenang.


"E, ti, tidak ada!" pak Jefry kebingungan. Ia tahu, berbohong pun tidak mungkin, karena tadi yang dia lakukan pada Arrida itu sudah jelas terlihat oleh Uwais.


"Benarkah?!!?" nada Uwais meninggi.

__ADS_1


"Saya hanya memberi hukuman atas kesalahannya!" jawab pak Jefry meluncur begitu saja.


Dari arah pintu, datang Nana dan Hani, mereka tergopoh-gopoh dan tersengal. Ternyata, sesaat setelah Nana dan Hani melihat Uwais berlari panik, mereka pun memutuskan untuk mengikuti Uwais ke ruang klub atletik.


Ketiganya menoleh ke pintu. Arrida langsung berlari ke arah Nana dan Hani, lebih tepatnya mendekap Hani. Ia menangis, sampai pundaknya memperlihatkan isakannya.


"Hukuman apa Pak? Kesalahan apa yang sudah dia lakukan, hagh?" Uwais kini berteriak.


"Kam, kamu jangan salah sangka, apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu bayangkan!" Pak Jefry mencoba membela diri.


"Penglihatan saya masih awas, Pak, dan saya tau apa yang sudah Bapak perbuat! Bapak gak layak jadi seorang guru! Hanya merusak anak didiknya, mencoreng nama baik dunia pendidikan, Anda harus dibinasakan!!!" kata Uwais sambil mengepalkan tangannya.


"Ap, apa yang akan ka-kamu lakukan?" Pak Jefry mulai ketakutan. Apalagi kini Uwais semakin mendekatinya.


"Saya tidak akan tinggal diam Pak, lihat saja!" ancam Uwais. Dia mengurungkan niatnya untuk memukul pak Jefry, karena walau bagaimana pun dia hanyalah siswa, bertindak main hakim sendiri tetaplah salah, ada yang lebih berwenang untuk mengurusi hal ini.


"Ayo, kita tinggalkan guru amoral ini, kita sekarang ke ruang BK!" ajak Uwais pada Arrida, Nana dan Hani.


Hujan masih saja mengguyur, mereka berempat meninggalkan ruangan klub atletik menuju ruang BK, dengan gejolak perasaan marah, sedih dan kecewa.


Sementara di ruang klub atletik, pak Jefry hanya bisa mematung mengutuk dirinya sendiri. Memalukan. "Aaaaargh!!! " teriak pak Jefry frustasi.


🌼


"Ada apa ini?" Bu Sofia menghampiri Arrida yang masih terisak. Semua masih terdiam, belum memberikan jawaban. Arrida kemudian masuk ke ruangan dipapah bu Sofia. Sementara Uwais, Nana dan Hani menunggu di luar.


"Oh ini yang namanya Arrida ya," sapa ibunya Erna. Dia bangkit dari duduknya menghampiri Arrida.


Arrida mengangguk, membenarkan.


"Nak, kami mohon maaf atas sikap Erna ya, karna dia sudah memfitnah kamu!"


Arrida masih mengangguk.


"Kami yang salah, kami akan lebih memperhatikan Erna dan bersikap lebih tegas, kamu maafin Erna kan?" kini ayahnya yang menghampiri Arrida.


"Mungkin pihak sekolah akan mengeluarkannya, Da, tapi kami mohon kebaikan dari kamu ya nak, tolong maafin Erna!" Ini kata pak Lukman.


Arrida terdiam memikirkan sesuatu.


"Erna, minta maaflah!" perintah ibunya pada Erna yang dari tadi hanya duduk terdiam di sofa yang ada di ruangan tersebut. Ia menarik lengan Erna agar bisa mendekat ke arah Arrida.


"Maafin aku, Da," kata Erna tanpa ekspresi bersalah, malah lebih terlihat kesal. Ia mengulurkan tangannya tidak ikhlas.


Arrida mengangguk, dan menerima uluran tangan dari Erna. "Iya mbak, kelak di masa depan jangan lagi bertindak bodoh, berpikirlah terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, jangan sampai akhirnya mempermalukan diri sendiri," kata Arrida menohok hati Erna. Orangtuanya hanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dengan sedikit bincang-bincang, akhirnya Erna dan kedua orang tuanya pulang. Lalu Uwais, Nana dan Hani langsung masuk ke ruang BK.


"Apa yang terjadi?" tanya pak Lukman. Dia tahu kalau sebelum Arrida ke ruang BK telah terjadi sesuatu.


"Arrida mendapatkan pelecehan Pak!" kata Uwais tegas.


"Astaghfirullah ... Apalagi ini?" pak Lukman menarik nafas panjang.


Bu Sofia, bu intan dan pak Tino ikut terkejut.


Keempat guru BK itu langsung menatap Arrida meminta kepastian dan Arrida pun mengangguk pelan.


"Siapa yang berani melakukannya? Di sekolah?" kini pak Tino yang bertanya, dan mendapatkan anggukan dari keempat murid yang ada dihadapannya.


"Siapa?" tanya pak Tino


Uwais menatap Arrida, lalu menoleh pada Nana dan Hani. Dia ingin menjawab, namun masih ragu.


"Pak Jefry!" Arrida yang akhirnya menjawab.


Bu Sofia dan bu Intan menutup mulutnya tak percaya. Pak Lukman dan Pak Tino tak kalah terkejut walaupun mereka tidak terlalu mengekspresikannya.


"Gimana ceritanya nak?" Bu Sofia langsung mendekap Arrida. Dia tidak menyangka anaknya akan menjadi korban pelecehan. Setelah kemarin di fitnah, sekarang dilecehkan. Ada cairan bening mengalir di sudut matanya.


Arrida mulai bercerita. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat sambil terisak dan takut-takut. Bukan hanya saat kejadian tadi saja yang Arrida ceritakan tapi kejadian-kejadian sebelumnya saat pelajaran olahraga, dimana pak Jefry selalu menatap Arrida penuh gairah, bahkan kadang Arrida mendapatkan perlakuan yang membuatnya risih, seperti pernah dipegang bok*ngnya, dicolek dagunya, dipegang lengannya erat, dipegang trainingnya bermaksud mengelus pahanya. Walaupun akhirnya Arrida selalu bisa menghindarinya.


Nana dan Hani menguatkan cerita Arrida. Memang, mereka selalu memperhatikan sikap Pak Jefry yang berbeda kepada Arrida. Mereka juga selalu melindungi Arrida jika jam pelajaran olahraga. Sehingga Pak Jefry tidak bisa melakukan hal yang berlebihan.


Semuanya geram mendengar cerita Arrida, Nana dan Hani.


"Ini sih keterlaluan!" bu Intan emosi, "Bikin malu dunia pendidikan!" lanjutnya berkomentar.


"Kayaknya dia punya kelainan jiwa pak!" Uwais memberikan pendapatnya. Semuanya menoleh pada Uwais.


Dia pun menceritakan bahwa dia telah mengenal pak Jefry sejak SD, kemudian dia menceritakan juga tentang temannya ketika SD, bernama Laura, yang mendapatkan perlakuan tidak seharusnya antara seorang guru dan murid. Laura memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan Arrida. Matanya bulat dengan bulu mata lebat dan lentik, memiliki lesung pipit di kedua pipinya, hidungnya mancung dan bibirnya mungil, kulitnya kuning langsat sedikit kemerahan, rambutnya panjang lurus berponi. Anaknya ceria dan lincah. Namun setelah kejadian itu dia terlihat murung, dan akhirnya pindah sekolah.


"Saya pernah melihat pak Jefry menatap Arrida dengan tatapan yang tidak biasa, sebenarnya saya mulai khawatir, wajah Arrida memang tidak mirip dengan Laura, tapi ciri-cirinya sama, dan ternyata hari ini malah kejadian," Uwais menambahkan ceritanya.


"Apa pak Jefry masih ada di ruang klub atletik?" tanya pak Lukman.


"Waktu kami kesini, pak Jefry masih disana, Pak," jawab Hani.


Tanpa basa-basi lagi, pak Lukman dan Pak Tino segera menuju ruang klub atletik. Namun sayang, pak Jefry sudah tidak ada disana. Akhirnya mereka memutuskan untuk ke ruang kepala sekolah. Guna menginformasikan kasus ini agar bisa ditindaklanjuti.


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2