
"Kamu dari rumah ke sekolah naik sepeda?"
Arrida mengangguk pasti.
"Mmm... kereeen," gumam bathin Uwais.
"Kamu sengaja dari rumah naik sepeda cuma pengen ngajakin balapan?" tanya Uwais masih tak percaya.
"Iya, Kak, siapa tau dengan kakak balap sepeda, matahari bersinar dan langit bisa terang,"
"Jadi, maksud kamu, langit mendung karena aku gitu?"
"Hmm ... semendung hati kakak!"
"Emang kamu tau kalo hati aku mendung?"
"Bukan cuma hati Kak, wajah juga kelihatan!"
"Sok tau!" Uwais mengacak pucuk kepala Arrida.
"Aish, aku pernah ngalamin Kak, soal video! Dan rasanya ituuu, hmmhh, ruarr biassaahh,"
Uwais menyunggingkan senyumannya.
"Ya udah, ayok ... aku terima tantanganmu, okke!"
Arrida mengangguk semangat, senyumnya mengembang hangat.
"Siap Kak ... kita mulaaai!" teriak Arrida sambil mengangkat tangan kanannya yang mengepal.
Kini mereka berdua sudah menaiki sepedanya. Melaju dengan riang hati. Tidak pelan tidak juga kencang, hanya kegembiraan. Sesekali mereka saling mengejar kadang Arrida yang didepan, kadang Uwais yang di depan.
"Kaaak tunggu akuu!" teriak Arrida pada Uwais, dia sudah tertinggal jauh.
Uwais yang samar-samar mendengar teriakan Arrida menengok ke belakang. Terlihat seakan Arrida berhenti, dia berdiri masih di sepedanya, tangannya seperti mengutak-atik remnya.
Uwais pun berbalik, dengan cepat dia menghampiri Arrida, dia khawatir gadisnya itu kenapa-napa.
"Ada apa, Ar?" tanyanya panik setelah tiba didekat Arrida.
"Kakak janji dulu, jangan bilang siapa-siapa ya, Kak," Arrida terlihat cemas.
"Ada apa?" tanya Uwais makin bingung.
Tanpa memberi jawaban Arrida langsung melajukan sepedanya meninggalkan Uwais dengan sangat cepat.
"Maaf ya Kak!" teriak Arrida sambil berlalu dari hadapan Uwais. Uwais merasa kecolongan. Dia menggelengkan kepala sambil tertawa, kemudian memutar sepedanya dan mengejar Arrida.
Terengah- engah dan tertawa, mereka pun akhirnya tiba di alun-alun kota. Hampir bersamaan. Namun lebih dulu Arrida beberapa detik. Mereka mengatur nafas agar kembali normal.
"Jadi siapa yang menang? Aku kan?" tanya Arrida masih tersengal.
"Curang?"
"Itu strategi Kak,"
"Iyalah iyaa! Ya udda, mau makan apa?"
" Aku pengen siomay,"
"Okke ... ayo, kita cari yang jual siomay,"
Merekapun bersepeda lagi dengan santai mengelilingi alun-alun, mencari penjual siomay.
"Gak pengen makan nasi, Ar?" tanya Uwais, saat mereka sudah menemukan penjual siomay, dan telah memesannya. Mereka duduk berhadapan.
"Gak lah, belum saatnya makan siang Kak, kakak mau nasi?" Arrida sedang mengaduk bumbu kacang pada siomaynya. Dia sudah tidak sabar ingin memakannya.
__ADS_1
"Nggak, cuma mau nawarin kamu aja!" Uwais sedang menyuapkan satu sendok potongan siomay.
Arrida mengangguk.
"Ar, kamu ...." Terjeda, Uwais tidak meneruskan kata-katanya.
"Kenapa?" tanya Arrida.
"Kamu gak nanya soal kemarin?"
"Nggak," jawab Arrida singkat.
"Kenapa?"
"Aku yakin aja, kakak gak bersalah, dan satu lagi, aku tau dari bunda,"
Uwais mengerutkan keningnya. Bingung.
"Bu Sofia ... Bundaku, Kak,"
"Serius?" Uwais tak percaya.
"Iya, tapi baru kakak lho yang tau, jangan bilang siapa-siapa ya,"
"Ya ampun ... Astaghfirullah," Uwais langsung meminum es tehnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika bu Sofia adalah ibu kandung Arrida.
"Ada apa Kak?" tanya Arrida heran.
"Gak papa," jawab Uwais cukup singkat.
Saat ini wajah Uwais memerah karena malu.
Ia teringat sesuatu.
**Flashback on**
"Gimana luka di perutmu?" tanya Bu Sofia saat itu.
"Alhamdulillah sudah baik bu, sudah mulai mengering juga,"
"Oh syukurlah, sehat selalu ya,"
"Aamiin,"
"Makasih ya, udah nolongin Arrida,"
"Sama-sama, Bu," jawab Uwais singkat.
"Eh tuh ada Arrida," Bu Sofia menunjuk Arrida bersama Hani dan Nana. Mereka seperti akan menuju ruang PMR.
"Oh iya itu dia ... Arrida cantik ya, Bu," Uwais memberi komentar. Saat itu dia tidak tau kalau Arrida adalah putrinya bu Sofia.
Bu Sofia menatap Uwais penuh tanya.
"Kenapa?" tanya bu Sofia kemudian.
"Dia lucu dan menggemaskan,"
"Kamu suka?" tanya Bu Sofia lagi sambil tersenyum.
Uwais membalas senyuman itu sambil mengusap tengkuknya.
"Hehee, salam ya bu kalau ibu bertemu dengan dia!"
"Belajar dulu yang bener!" komentar bu Sofia.
"Pasti bu, tapi ga papa kan kalo kita suka seseorang,"
__ADS_1
"Boleh, asal gak ganggu pelajaran dan cita-cita,"
"Siaaap, Bu!" jawab Uwias pasti, "Ya sudah bu, saya permisi dulu, mau ke perpus,"
"Hmm," Bu Sofia mengangguk dan tersenyum.
**flashback off**
Tak pernah dia sangka sebelumnya, kalau dia pernah menitipkan salam buat Arrida melalui ibunya Arrida sendiri. Ya Tuhaaaan.
"Beneran neh gak papa? Kenapa wajah kakak memerah gitu?" tanya Arrida sambil menatap Uwais penuh selidik.
"Iya Ar, gak ada apa-apa, ngomong-ngomong, bu Sofia pernah bicara sesuatu gak?"
"Bunda maksudnya?"
"Iya,"
"Banyak hal lah," jawab Arrida.
"Maksudnya pernah menyampaikan sesuatu gitu?"
"Tentang apa?" tanya Arrida sama sekali tidak mengerti. Dan itu membuat Uwais yakin kalau bu Sofia tidak benar-benar menyampaikan salamnya pada Arrida.
"Ya udah, lupakan lah,"
Arrida mengangguk tak peduli. Dia tidak terlalu penasaran dengan hal yang dimaksudkan oleh Uwais.
πΌ
"Ar, ternyata kamu salah, langit makin mendung, tidak cerah walaupun kita sudah bersepeda," kata Uwais sambil menatap langit yang semakin gelap, bahkan bisa diprediksi kalau beberapa saat lagi akan turun hujan.
Saat ini mereka telah menyelesaikan makannya, dan sudah bersiap dengan sepedanya.
"Gak papa, tapi hati kakak udah lebih baik, kan?"
"Asal ada kamu dan kamu percaya padaku, itu udah cukup buat aku,"
Arrida bagai melayang. Ia begitu bahagia dengan apa yang Uwais sampaikan. Bolehkah saat ini dia bertanya bagaimana perasaan Uwais kepadanya? Kenapa dia selalu merasa spesial di mata Uwais. Jantungnya berdegup sangat kencang.
"Ya udah yuk Kak, kita pulang!" ajak Arrida sambil menetralisir perasaannya.
"Ayo, eh, kalo hujan gimana?"
"Hujan-hujanan lah," jawab Arrida tertawa, ia mulai mengayuh sepedanya meninggalkan Uwais.
Uwais tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah gadis kesayangannya itu. Kemudian dia pun segera mengayuh sepedanya menyusul Arrida.
Hujan akhirnya turun ketika mereka telah melajukan sepedanya beberapa meter. Mereka pun menghentikan laju sepedanya lalu mengenakan jas hujannya masing-masing. Uwais memang selalu membawa jas hujan di sepedanya, sementara Arrida yang baru pertama kali menggunakan sepedanya hari ini, memang sengaja membawa jas hujan karena sejak dari rumah langit memang terlihat sudah mendung.
Akhirnya mereka tetap meneruskan perjalanan pulang sambil berhujan ria, dan mereka tampak bersenang-senang. Mereka tertawa hangat. Bahkan Arrida sangat menikmati guyuran air hujan yang turun. Sesekali di saat jalanan sepi, wajahnya sengaja menengadah agar terkena air hujan. Kayuhan sepedanya dia pelankan, satu tangannya terulur ke samping, telapak tangannya menadah air hujan.
Melihat hal itu, satu tangan milik Uwais pun ikut terulur ke samping lebih tepatnya diatas telapak tangan Arrida, kemudian dia menggenggam tangan Arrida.
"Heyy," Arrida menoleh terkejut. Ia bermaksud menarik tangannya yang di genggam. Namun, Uwais malah mengeratkan genggamannya.
"Kayak gini dulu saja ya," pinta Uwais.
Arrida menyerah. Ia pun mengijinkan tangannya digenggam erat oleh Uwais.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Hai kak readers
sehat selalu ya
makasih udah setia baca kisah Arrida dan Uwais
__ADS_1
makasih atas dukungannya ya πππ