Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
78. Dilihat sunrise


__ADS_3

"Ayo naik" perintah Uwais agar Arrida naik ke sepedanya


"Mau kemana kak?" tanya Arrida penasaran


"Nanti juga kamu tau" Kata Uwais.


"Wais... tunggu!!!" Dari dalam Arman berlari tergopoh.


"Ada apa bang?"


"Keranjang belanja yang satunya ketinggalan di tempat Mpok Imah, kamu ambil ya mumpung mau keluar, kan?"


"Aku pake sepeda bang"


"Kalo gitu naik motor aja" kata Arman sambil menyerahkan kunci motor pada Uwais.


"Ya udah nanti aku ambil" Uwais mengambil kunci motor dari tangan Arman "Tapi bakal lama bang"


"Gak papa, itu buat bumbu ntar sore"


"Oh okke deh... Eh, iya Bang, tolong di temeni ya, para orang tua, minuman hangat dan roti udah aku siapkan di meja" kata Uwais sambil menaiki motornya.


" Iya, tapi mereka udah tau kamu ma Rida akan pergi?"


"Iya, aku udah bilang"


"Ya udah, siip"


Dan akhirnya Uwais beserta Arrida pergi meninggalkan Arman.


🌼


Selama dalam perjalanan, Arrida hanya terdiam takjub, menikmati suasana pagi yang sejuk dan cukup dingin. Hamparan sawah yang masih hijau. Semua begitu indah. Walaupun sebenarnya kabut pagi masih sedikit menutupi pandangan.


Tiba-tiba Uwais menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia menyadari sesuatu. Arrida mengenakan baju lengan pendek tanpa jaket.


"Ada apa kak?" Tanya Arrida terheran


"Kamu pake jaket ini, pasti dingin kan" kata Uwais sambil melepas jaketnya. Menyisakan kaos berlengan panjang di tubuhnya.


"Udah kak... kakak yang pake, kakak kan yang langsung kena angin... kan, kakak yang didepan"


Tanpa mendengar yang Arrida katakan, Uwais langsung turun dari motornya, lalu memakaikan jaketnya di punggung Arrida.


"Ih kok maksa sih kak" kata Arrida bernada protes


"Gak papa, turuti aja ya"


"Kenapa jadi posesif gini ya?" Bathin Arrida terheran. Namun akhirnya, ia pun memakai jaket tersebut.


"Kak tunggu dulu" Kata Arrida kemudian.


"Ada apa, hm?"


"Aku ingin lihat matahari terbit"


"Oh ya udah, kita tunggu disini" Kata Uwais mengabulkan keinginan gadis kesayangannya itu.


"Kakak gak lelah? katanya subuh mau tidur?" tanya Arrida. Kini keduanya sedang duduk di pinggir jalan, sambil menghadap ke hamparan sawah menunggu terbitnya matahari pagi. Uwais duduk dengan menekuk kedua lututnya. Sementara Arrida duduk santai dengan bersila di tanah pinggir jalan sisi sawah.


"Lelah ku hilang karna aku lagi bahagia,dari kemarin bersama kamu... lihat kamu udah kayak dicharge, udah jadi imun buat tubuh aku" Uwais tersenyum kecil


Arrida menggelengkan kepalanya, merasa aneh. Ada-ada saja. Pikirnya.

__ADS_1


"Kamu gak lelah?" tanya Uwais kini pada gadis kesayangannya itu


"Sebenarnya seh ngantuk, tapi kakak ngajak pergi aku jadi semangat dan penasaran aja"


"Maaf ya" Uwais tersenyum.


"Gak papa kak, emang kita mau kemana kak?"


" Beli nasi uduk yang enak, sambil jalan-jalan pagi, biar kamu tau suasana pagi disini"


"Oh" Arrida tersenyum.


"Ya udah sini, bersandar di aku" Uwais meminta Arrida bersandar di pundaknya.


Gadis itu menurut. Ia sandarkan kepalanya di pundak Uwais, lebih tepatnya di lengan atasnya, karena kepala Arrida tidak sampai ke pundaknya.


" Lihat tuh Ar, sunrisenya udah terlihat"


Arrida tak bersuara, ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Besok kalo udah kuliah kamu hati-hati ya, banyak temen kampus maupun seniormu dari berbagai macam daerah... jaga diri dan hati ya, Ar, terutama pada cowok"


"Kan... kakak mulai posesif" sekali lagi Arrida bergumam dalam hatinya.


"Ini indah ya kak sunrisenya" Arrida sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Hmm" jawab Uwais singkat.


Lalu hening seketika saling menikmati matahari terbit.


"Ar.. Pokoknya, aku berharap, kamu lancar kuliahnya, tanpa ada yang menghalangi, tanpa ada gangguan dari sekitarmu"


Arrida masih terdiam. Dia masih menikmati sandarannya di lengan Uwais. Nyaman. Tenang.


"Aku gak mau kamu sedih, gak mau kamu terluka, dan gak mau kamu kesusahan seperti dulu"


"Dua tahun yang lalu, ketika aku harus ke kota ini... itu rasanya beraaat banget karena harus ninggalin kamu, tapi aku selalu berkeyakinan, semua orang yang ingin mencelakai kamu, sudah benar-benar tidak ada bersama kepergianku, dan bersyukurnya aku, selama aku disini gak pernah aku ngedenger kamu kenapa-kenapa"


Arrida tak merespon.


"Kadang aku berpikir, kenapa kamu harus terluka dan kesusahan jika ada aku? bersama aku? Nyatanya ketika aku tak ada, kamu selalu aman"


Arrida masih diam saja


"Aku berharap, kelak di perkuliahan tidak akan terjadi apa-apa, karena disebabkan kamu bersamaku, aku berharap semua akan berjalan normal dan baik-baik saja, ya, Ar"


"Astaghfirullah..." ucap Uwais, ia segera menahan kepala Arrida yang hampir terjatuh dari sandarannya, karena ternyata gadis itu sudah tertidur.


"Ya ampun anak ini, kebiasaan....tidur gak tau tempat"


Uwais masih menahan kepala gadis kesayangannya itu, ia biarkan untuk tetap bersandar di lengannya. Dia menarik nafasnya panjang. Ternyata ketika dia berbicara panjang lebar tadi, kemungkinan besar gadis kesayangannya itu tidak mendengarkannya.


Ia pun kemudian menggelengkan kepalanya sambil mengulum senyumnya.


"Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu, Ar.... Walaupun harus terjadi sesuatu, aku harap kamu gak melepas tangan mu, kamu genggam tangan ini erat ya" Kata Uwais sambil meraih telapak tangan Arrida dan menggenggamnya.


"Hmm... kalau sudah tidur sampai tidak merasakan apa-apa, digenggam kayak gini aja gak bangun... ck bahaya ini" Gumam Uwais dalam hati.


🌼


"Ar... bangun!!" ucap Uwais sambil menepuk pipi Arrida, ketika sinar matahari mulai tampak terang, dan orang-orang sudah mulai banyak yang lalu lalang. Mungkin saat ini sekitar jam enam menjelang setengah tujuh pagi.


"Mmmh" suara Arrida terdengar malas

__ADS_1


"Bangun Ar!!!" Uwais kembali menepuk pipi Arrida, bahkan sedikit mengguncang pundaknya.


"Ar.... Ar!"


"Hmmh" Arrida mulai membuka matanya walau agak menyipit. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, membiarkan kesadarannya kembali. Satu yang dilihatnya sangat jelas, wajah tampan cowok pujaannya. Senyumnya kemudian terbit di wajah cantiknya.


"Ayok bangun, udah terang mataharinya.... Gak enak dilihat orang duduk di pinggir jalan pagi-pagi gini" Kata Uwais sambil berdiri, telapak tangannya terulur untuk membantu Arrida berdiri.


Arrida mulai memindai ke sekelilingnya. Lalu melihat ke arah mentari pagi yang cahayanya mulai menyilaukan. Kemudian pandangannya beralih menatap Uwais dan telapak tangannya yang ada tepat didepan wajahnya.


Arrida pun meraih uluran tangan itu, lalu menggenggamnya erat. Tubuhnya terangkat hingga akhirnya dia berdiri tegak.


"Aku tidur ya kak?"


"Hmm"


"Maaf" Arrida terlihat menyesal.


"Masih ngantuk?"


Arrida mangangguk.


"Ya udah, kita ke tempat Mpok Imah dulu terus beli sarapan nasi uduk yang enak didekat sini, mudah-mudahan belum habis, biasanya siang dikit udah abis"


"Maaf ya... karna aku tidur...." ucapan Arrida terhenti karena Uwais menyelanya


"Gak papa, tapi ngomong-ngomong, siapa tadi yang pingin lihat sunrise?" tanya Uwais pada Arrida.


"Hehehe" Arrida nyengir "Abis lengan kakak nyaman banget"


"Hmm... Bukannya kamu yang lihat sunrise, malah kamu yang dilihat sunrise" Komentar Uwais gemas. Dia sudah mulai naik ke motornya.


"Heee ... jarang-jarang kan kak, tidur dilihatin sunrise" Arrida membela diri, sambil turut menaiki motor yang ada dihadapannya itu.


"Iya iya tuan putri.... putri tidur!" Uwais terkekeh.


Dan pukulan manja pun mendarat di punggung Uwais.


Akhirnya, keduanya menuju tujuan, ke tempat Mpok Imah dan membeli nasi uduk.


🌼


Kini Arrida dan Uwais baru saja sampai di resto, membawa tas belanja yang tertinggal di tempat Mpok Imah beserta sekantung plastik besar berisi beberapa bungkus nasi uduk.


"Dari mana aja kalian? kok lama?"


...🌸🌸🌸🌸🌸...




...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers udah mampir


Makasih udah baca


Makasih udah mendukung


Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa


Sehat selalu kakak readers

__ADS_1


Semoga suka dan terhibur...


☺️☺️☺️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»


__ADS_2