
"Eh," Arrida terkejut saat Uwais menggenggam tangannya, namun ia sangat bahagia. Ia pun membalas genggamannya dan mengecup punggung tangan Uwais. Hangat. Nyaman.
πΌ
"Sudah bangun?" tanya Arrida, dia baru saja menyelesaikan sholat subuh.
"Eh iya, aku juga belum sholat, ini pagi kan? Berarti sholat Subuh ya?"
Arrida seperti mendapatkan surprise, ia tidak menyangka jika Uwais mengingat untuk sholat.
"Kakak mau sholat?"
"Iya, bantu aku, ya!"
"Kakak bisa berwudhu?" tanya Arrida ragu-ragu.
"Tentu, mau sholat ya harus berwudhu," jawab Uwais.
"Okke, karena kakak gak memungkinkan untuk ke toilet, aku siapkan dulu untuk berwudhu ya," kata Arrida pada Uwais. Untung saja, dulu pak Salman sebagai pembina PMR pernah memberikan tutorial wudhu dan tayammum untuk orang sakit. Jadi, seluruh anggota PMR yang muslim bisa membantu saudaranya yang sakit untuk tetap melakukan sholat.
Arrida segera menyiapkan handuk dan kain untuk menadah tetesan air wudhu, yang nantinya diletakkan di atas paha dan kaki Uwais, kemudian segelas air untuk berkumur, wadah kecil untuk tempat membuang air bekas kumur-kumur, dan air suci yang ditempatkan di wadah spray (semprot). Ia menyiapkan sama persis dengan yang diajarkan pak Salman.
Luar biasa, Uwais bisa melakukannya dengan sangar baik, bahkan, untuk sholat pun dia melakukannya tanpa kesalahan.
"Kenapa senyum?" tanya Uwais setelah melakukan sholat.
"Seneng aja!"
"Kenapa?"
"Karna kakak bisa melakukan wudhu dan sholat dengan baik, walau keadaan masih sakit!"
"Oh," jawab Uwais hanya 'oh'
"Kakak tau, akibat bencana ini, kakak itu hilang ingatan, tapi untuk wudhu dan sholat, kakak bisa melakukannya dengan baik,"
Uwais terdiam seakan mengingat sesuatu.
"Aku hilang ingatan ya?" tanyanya kemudian.
"Iya, kakak aja gak tau nama kakak,"
"Aku tau kok, namaku Uwais,"
"Hah, benarkah?" Arrida berbinar, ia berharap ini adalah suatu kemajuan untuk kembalinya ingatan Uwais.
"Kakak kenal aku?"
"Nggak, bukannya Mbak perawat, kan?"
"Hah? Mbak?" Arrida heran dengan panggilan Uwais kepadanya.
"Iya, apa saya salah manggil?"
"Oh, nggak, gak papa, kakak tau orang tua kakak?"
"Jelaslah!"
"Wah, coba apa yang kakak ingat dan bisa jelaskan?"
Uwais terdiam sebentar sambil memegangi kepalanya.
"Orang tuaku pak Ridwan dan bu Tania, kakakku mas Fariz dan mbak Fika, aku sekarang kelas dua SMA, cita-citaku pengen punya usaha kuliner yang disukai oleh istriku kelak," kata Uwais sambil tersipu.
"Oh, ya Alloh, ternyata ingatannya saat ini adalah saat kakak kelas dua SMA, eh tunggu dulu, itu cita-citanya kok sederhana sekali?" kata Arrida dalam hati.
"Apa kakak sudah punya pacar?" tanya Arrida.
"Hei, Mbak, masih SMA ga boleh pacaran,"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena kalo pacaran tahapannya itu kayak main-main, aku, kalau udah menemukan cewek cantik yang bisa bikin hati aku bergetar, aku akan serius, aku akan jadikan dia istriku!"
Arrida merasa lucu dengan perkataan Uwais.
"Kalau aku daftar jadi istri kakak, boleh?" tanya Arrida menggoda, ia mendekatkan wajahnya pada Uwais, hingga membuat Uwais menarik kepalanya beberapa senti ke belakang. Tatapan mereka beradu.
Ah, tiba-tiba ada desiran indah dirasakan oleh Uwais. Ia segera mengelus dadanya, menetralkan degup jantungnya yang tak karuan. Nafasnya tersengal.
"Mbak, cantik!" ucapnya lirih. Sesaat bayangan ketika dia berdua dengan Arrida bermunculan di kepala Uwais. Bayangan ketika mereka saling menggoda, saat di kereta, saat Arrida mengerjakan tugas membuat poster digital, saat melihat bintang sambil menikmati coklat hangat, juga saat menikmati kembang api.
Uwais memejamkan matanya kuat-kuat, ia menahan rasa sakit di kepalanya yang begitu hebat. Terlalu banyak bayangan-bayangan itu hadir di kepalanya hingga otaknya harus bekerja keras.
"Eh, sudah, kakak istirahat aja ya, nanti kalau udah pagi, sarapan, lalu minum obat!" kata Arrida menenangkan Uwais. Ia membantu Uwais berbaring kemudian membenarkan selimutnya.
"Yang tenang ya, aku tinggal dulu ya," kata Arrida berniat akan menyiapkan sarapan.
Gep
Spontan tangan Uwais mencekal lengan Arrida, hingga membuat Arrida berbalik.
"Aku kayak kenal kamu,"
Arrida tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung tangan Uwais.
"Jangan dipaksakan kalo belum ingat, okke!"
Uwais mengangguk.
πΌ
Uwais terbangun sekitar pukul tujuh pagi, setelah tidur sehabis sholat subuh tadi. Ia memindai sekelilingnya penuh tanya.
"Udah bangun, Kak? Sarapan dulu ya!" kata Arrida yang dari tadi setia menunggui Uwais yang sedang tidur.
"Eh, kenapa aku disini dengan orang-orang yang terluka? Seperti terkena bencana? Apa aku korban bencana?"
"Ya Alloh, tiap bangun tidur ingatan yang muncul acak, bahkan yang kemarin dan sebelumnya terjadi, dia lupa," ucap Arrida dalam hati.
"Tidak,"
"Hmmm, ya Alloh, berarti kakak juga ga ingat saat aku bilang aku istrinya, dan namaku Arrida, pasti dia juga gak ingat sudah menggenggam tanganku semalaman," gumam bathin Arrida.
"Apa aku juga korbannya?"
"Iya! Apa Kakak bener-bener ga ingat?" tanya Arrida
"Enggak,"
"Oh, ya sudah, gak papa, sekarang kakak sarapan dulu, nanti aku ceritakan lagi,"
"Jadi bencana ini bikin aku hilang ingatan?" tanya Uwais setelah mendengar cerita dari Arrida.
"Emang apa yang kakak rasakan saat ini? Apa Kakak sudah tau nama kakak?"
Uwais menggeleng.
"Ya ampun, sekarang dia lupa lagi dengan namanya,"
"Kakak inget ma keluarga kakak?"
"Tidak, mereka siapa, dimana? Apa mereka juga jadi korban gempa tsunami?" tanya Uwais.
Arrida mengangguk dan seketika dia menghapus air matanya.
"Banyak yang sedih dan kehilangan, termasuk aku, ayahku meninggal dunia," kata Arrida sedikit terisak.
Uwais menelan salivanya dengan berat. Ia merasakan betapa hebatnya bencana ini menelan korban.
πΌ
"Kakak butuh apa?" tanya Arrida siang itu. "Kakak mau sholat Dzuhur?"
__ADS_1
Namun Uwais hanya diam saja. Ia menatap Arrida dengan tatapan yang sangat serius.
"Ada apa?" tanya Arrida heran.
"Kamu mirip seseorang yang aku kenal!"
"Hmm? Benarkah? Siapa?"
"Aku gak inget namanya,"
Arrida mengangguk, mencoba mendengarkan.
"Tapi dia cantik, kayak kamu, perhatian juga kayak kamu, rambutnya panjang, dia gak dijilbab,"
Arrida masih mengangguk. Ia sebenarnya tahu siapa yang dibicarakan oleh Uwais, namun, ia hanya ingin membiarkan sejauh mana lelakinya itu bisa mengingat tentang dirinya.
"Trus?" tanya Arrida.
"Emm ... Dia mukanya sama banget kayak kamu, dia pernah nolongin aku waktu ...." Uwais menjeda kalimatnya, ia seperti mengingat sesuatu.
"Waktu kapan?" tanya Arrida dengan hati-hati. Ia juga berharap Uwais bisa mengingatnya.
"Aku tidak ingat, tapi ... Aku kayaknya pernah sakit di perut!" kata Uwais sambil memegang perutnya, ia mencoba membuka bajunya.
Arrida membantu. Ada luka bekas jahitan di perut bagian kirinya.
"Kan benar, aku pernah luka di perut, dan orang yang cantik itu menolongku, tapi kenapa ya, perut aku luka?"
"Karena kakak pernah kena pisau sama orang jahat!"
"Benarkah?"
"Iya!"
"Kamu tau banyak tentang aku?"
"Iya,"
"Apa kamu kenal aku?"
"Tentu!"
"Benarkah? Apa kita dekat?"
"Sangat dekat!"
"Waw, beruntung sekali aku bisa dekat dengan perawat cantik kayak kamu!"
Arrida terkekeh, ia jadi ingin mengerjai Uwais.
"Aku bukan hanya dekat, tapi sangaaat dekat!" kata Arrida sambil memajukan wajahnya beberapa senti ke dekat wajah Uwais. Namun kali ini Uwais tidak menarik kepalanya ke belakang, ia tetap diam dan menikmati wajah cantik Arrida.
Mereka saling menatap. Getaran indah itu hadir kembali di hati Uwais, hatinya berdebar kencang, nafasnya tercekat.
"Jangan ngegoda, Ar!"
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...
__ADS_1