Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
46. Bumi dan matahari


__ADS_3

"Assalamualaikum"


Uwais mengucap salam sambil mengetuk pintu rumah Arrida. Sore itu, untuk pertama kalinya dia berkunjung ke rumah Arrida. Tadi sepulang sekolah, Arrida memang kembali dulu ke rumah untuk berganti baju, begitu pula dengan Uwais. Mereka memang sudah membuat janji, kalau Uwais akan menjemput Arrida di rumahnya.


"Wa'alaikumsalam" Bu Sofia membukakan pintu.


"Bu..." Uwais mengangguk sopan kemudian menyalaminya.Ia masih tampak malu-malu mengingat kejadian waktu menitipkan salam buat Arrida.


"Udah datang ya... Masuk, nak" kata Bu Sofia, ia tau kalau Arrida akan ke tempat pertandingan badminton yang diikuti oleh Adnan dan Hani.


"Duduk dulu, ditunggu ya, Arrida lagi masukin bekal buat Adnan.... Kamu mau minum dulu?" kata Bu Sofia menawarkan minum pada Uwais.


"Nggak usah Bu, gak lama kan... Arrida bukan lagi dandan kan, jadi berasa mau kencan ini bu" Uwais menggaruk kepalanya tidak gatal. Ia menjadi kikuk. Ia merasa seperti sedang menunggu pacarnya yang sedang berhias untuk berkencan.


"Haiish... kamu...! kalo kencan malah belum ibu bolehin... " Sanggah Bu Sofia sambil menggelengkan kepalanya.


"Udah Bun... ini yang diatas meja, Rida masukin semua" Arrida muncul dari arah ruang makan sambil menunjuk tas bekal yang disiapkan Bu Sofia.


"Iya...ntar bilang ama abang, bunda kesana nya tunggu ayah pulang dari kantor ya"


"Siap! Berangkat ya bun!" Kata Arrida sambil menyalami Bu Sofia dan mencium punggung tangannya.


"Hmmm hati-hati ya... Jangan ngebut Uwais!" Kata Bu Sofia saat Uwais juga menyalaminya.


"Iya Bu ... InsyaaAllah kita hati-hati... Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


🌼


Arrida dan Uwais mengambil tempat duduk di bangku penonton. Mereka langsung menyaksikan saat-saat terakhir Hani menyelesaikan set pertamanya dengan sangat apik.


Hani sempat melambaikan tangannya tersenyum saat melihat Arrida dan Uwais di bangku penonton memberi semangat dan dukungan usai bermain di set pertama.


Memasuki set kedua Hani masih bermain stabil dengan performa yang sangat baik sekali. Namun sayang, di pertengahan permainan, Hani sempat jatuh terjerembab, dengan posisi tiarap. Sejak itulah performa permainannya mulai berkurang. Dan menyebabkan ia kalah di set kedua.


Arrida ikut lemas. Sudut matanya mengeluarkan cairan bening, ketika melihat Hani kalah di set kedua.


"Ga usah nangis Ar, Hani masih punya kesempatan di set ketiga, semoga dia lebih baik keadaannya" Uwais mengusap lembut dengan ujung jari telunjuknya air mata di sudut mata Arrida.


"Kasihan Hani kak" Arrida melirik Uwais, sudut matanya yang diusap Uwais barusan, tiba-tiba berkedut, hatinya berdesir.


"Tenang aja... dan yakin Hani pasti bisa" Uwais tersenyum menunjukkan keyakinannya.


"Udah lama dek... Wais?" Sapa Adnan pada Arrida dan Uwais.


" Iya bang, uda dua set nih... mudah-mudahan Hani bisa menang... Abang darimana? baru kelihatan? Abang udah main?"


"Abang udah main, masuk semi final, tadi abis main, abang ke klub dulu...Hani main 3 set?" tanya Adnan kali ini


"Iya, tadi set kedua, Hani jatuh, jadi kayaknya dia kesakitan, permainan di set keduanya Hani gagal fokus.... Oiya bang kata bunda ntar bunda kesini nya sepulang ayah dari kantor"


"Tadi udah nelpon, abang bilang gak datang juga gak papa, abang udah main...."


"Oh ya udah kalo gitu.... ini bang, bekal disiapin bunda"


"Hmm udah dibilang gak usah bawa, disini kan juga disiapin makan dek, buat kamu ajalah, belum makan malam kan... makan ma Uwais aja" kata Adnan menolak, karena memang klub nya sudah menyiapkan makanan.


Arrida menoleh pada Uwais.


"Asiiik, makan masakannya Bu Sofia nih" kata Uwais tersenyum dan mengangguk. Ia mengambil kotak bekal dari tangan Arrida.


Puk


Arrida menepuk punggung tangan Uwais.


"Nanti Kak, kita nonton dulu Hani main"

__ADS_1


"Ishhh.... kirain boleh sekarang" Uwais menarik kembali tangannya. Adnan hanya tertawa melihat interaksi keduanya. Kemudian ia duduk disamping Uwais.


🌼


Hani melompat lalu ia memukul kok dengan sangat keras, 'Smash'... dan itu membuat Hani berhasil menyelesaikan permainan dengan sangat spektakuler..... Dia berhasil memenangkan pertandingan di set ketiga. Hani langsung bersujud syukur. Arrida, Uwais dan Adnan bersorak gembira. Bahkan tanpa sadar Arrida sampai mengeluarkan air matanya karena bahagia.


Uwais tersenyum, melihat reaksi gadisnya itu, bagaimana tidak, ternyata Arrida benar-benar memiliki perasaan yang halus. Padahal terlihat dari luar dia begitu lincah dan tangguh.


"Hey.... kenapa tu air mata keluar lagi? Hani kan udah menang" Uwais menepuk pelan pundak Arrida. Gadis itu menoleh, sambil mengusap air mata yang memenuhi sudut matanya.


"Yang ini karena bahagia kak, Hani berhasil walaupun kakinya sakit, dia penuh perjuangan"


Uwais tersenyum sambil mengacak pucuk kepala Arrida. Gemas.


🌼


"Han, selamat ya" Arrida memeluk Hani erat.


"Daaa... makasih yaaa" Hani sangat bahagia karena sahabatnya datang memberi dukungan.


"Selamat ya Han" kata Uwais dan Adnan hampir bersamaan.


"Makasih ya kak, bang"


"Gimana keadaanmu, katanya sempet jatuh saat set kedua?"tanya Adnan kini.


"Iya, ni masih agak kerasa bang, mudah-mudahan di pertandingan berikutnya bisa lebih fit" kata Hani. Dia juga sama seperti Adnan melanjutkan ke babak semifinal.


"Ya udah Bang, Han... aku ma kak Uwais mau jenguk Nana dulu biar gak kemaleman" Arrida pamit pada Adnan dan Hani.


"Ah iya, salam buat Nana ya Da, semoga lekas sembuh" kata Hani sambil meminum air mineralnya. Ia ingat, kalau tidak sakit, seharusnya hari ini Nana juga turut hadir menyaksikan pertandingannya.


"Siap" jawab Arrida mantap


"Ya udah kalian hati-hati ya, jangan ngebut Wais" ujar Adnan sambil menepuk lengan Uwais.


"Siap bang" kata Uwais sambil mengangkat ibu jarinya.


🌼


"Waah dijengukin kakak tamvan" kata Nana menyapa Arrida dan Uwais


"Sakit apa Na?" tanya Uwais membalas sapaan Nana.


" Demam biasa, agak flu nih"


" Udah periksa?"tanya Arrida


"Belum, cuma beli obat di apotik ma istirahat yang banyak aja.. Ini juga udah mending ko, mudah-mudahan lusa udah bisa masuk, besok...masih pengen gak masuk sekolah, hee" kata Nana sambil nyengir.


Arrida dan Uwais tertawa sambil menggelengkan kepala mereka.


"Eh gimana tadi Hani?" tanya Nana kemudian


"Dia masuk semi final Na... salam dari Hani"


Nana ikut bahagia, dia tidak sabar ingin segera menghubungi Hani.


Akhirnya, setelah lima belas menit, Arrida dan Uwais pamit pulang. Mereka memang sengaja tidak ingin berlama-lama di rumah Nana, karena tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya Nana.


🌼


Arrida dan Uwais, keluar dari masjid. Mereka menuju taman kota. Sepulang dari rumah Nana mereka memang sengaja mampir ke masjid untuk menunaikan sholat Maghrib.


"Ar tau gak?" tanya Uwais sambil mengambil kotak bekal dari tangan Arrida. Kini mereka sedang duduk di bangku taman.


"Apa?"

__ADS_1


"Makan bekal ini penuh perjuangan"


"Kok bisa?"


"Iyalah, bayangin aja, dari sejak kita nonton Hani, ke rumah Nana, sholat, ke taman kota, baru deh bisa makan"


Arrida terkekeh, ia membenarkan ucapan Uwais.


"Iya deh iya, maafin ya, sini biar aku siapin" Arrida menarik kembali kotak bekalnya, lalu membukanya.


"Sekalian suapin ya" goda Uwais, meminta agar Arrida bukan hanya menyiapkan makanannya akan tetapi menyuapkannya.


Arrida mendelik, namun tangannya akhirnya menyuapkan makanan yang telah disendoknya ke mulut Uwais.


Uwais tersenyum. Ia pun menerima suapan dari tangan Arrida.


"Makasih suapannya ya" kata Uwais sambil menatap dalam-dalam Arrida. Tangannya sengaja memegang tangan Arrida yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya.


Arrida terpaku. Pikirannya nge blank. Genggaman tangan Uwais membuat jantungnya berdetak kencang. Ah lagi dan lagi, perasaan itu hadir tanpa permisi bahkan kadang tidak bisa terkondisikan.


Arrida segera menarik tangannya. Ia mencoba menghilangkan rasa canggungnya. Uwais tersenyum gemas melihat reaksi Arrida yang salah tingkah.


"Kenapa Ar....gerogi gitu" Jawab Uwais sengaja menggoda Arrida.


"Kakak" Arrida memukul manja lengan Uwais.


"Iya maaf.. maaf, abisnya kamu nggemesin tau gak"


"Tau!" Jawab Arrida mulai mode santai.


"Ya udah suapin lagi ya, kalau udah gak gerogi"


"Ish... makan sendiri ah" kata Arrida menolak. Ia menyodorkan kotak bekalnya pada Uwais. Yang kemudian diterimanya.


"Tau gak Ar, baru kali ini kita jalan, ga hujan... lihat! langit cerah banget, banyak bintang berserakan" Uwais menyuapkan makanannya sambil menatap langit.


Arrida turut mendongakkan kepalanya. Ia menatap bintang yang menghias langit.


"Iya kak... bener banget...Ah iya, jadi keingetan, waktu SMP pernah diterangin bang Adnan soal planet... kakak tau tentang Pluto?"


"Iya, selama bertahun-tahun, Pluto dianggap sebagai planet dalam tata surya kita, tapi kemudian sekarang dia bukanlah planet...Kamu tau Ar... Pluto itu kayak orang yang mencintai dalam diam, keberadaannya ada, tapi terasa jauh. Cintanya tak diketahui...Atau ..Pluto itu bagaikan orang yang dilupakan begitu saja padahal selama ini dia diakui keberadaannya dalam kurun waktu yang begitu lama, namun secara tiba-tiba... bumm... dia tak ada dihapus begitu saja" kata Uwais memberi suara seperti dentuman.


"Maksudnya, kok gak paham seh kak"


"Orang yang mencintai dalam diam itu... dia ada, tapi cintanya gak dianggap, keberadaannya diakui, tapi kemudian dihapus dan perlahan dilupakan..."


"Sakit ya kalau jadi Pluto" komen Arrida sambil mengambil sendok yang sudah ada nasinya dari tangan Uwais lalu menyuapkannya ke mulutnya.


"Hei..."


"Aku juga pengen makan kak" Arrida nyengir sambil mengunyah makanannya.


"Bilang dong pengen ikut makan...."


"Ih gak peka, dari tadi aku kan juga belum makan"


Uwais tersenyum. Kemudian ia menyuapkan lagi makanan ke mulut Arrida


"Oiya Ar... Kalau mau diumpamakan planet, kamu pengen jadi planet apa?"


"Bumi"


"Kenapa?"


"Karena 'indah'... didalamnya banyak kehidupan dengan berbagai cerita yang penuh hikmah... kalau kakak pengen jadi apa?"


"Karena kamu milih bumi, biar aku jadi mataharinya sebagai sumber energi yang selalu bikin hangat bumi"

__ADS_1


Arrida mengangguk tersenyum mencoba memahami, walaupun sebenarnya dia tidak terlalu memahami arah pembicaraannya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2