
"Aku gak mau bicara sama kamu! Lepasin aku! Dan gak usah seenaknya mendekap! Setelah kamu dekap cewek lain, kamu seenaknya dekap aku, emang aku apaan?" tangis Arrida.
Ia sudah kecewa dengan Uwais, hingga tidak lagi memanggil Uwais dengan kata 'Kakak' tetapi 'Kamu'.
"Maaf ... maafkan aku" ucap Uwais pelan di telinga Arrida
"Lepasin, Kak!" Arrida masih memberontak. Ia tetap berusaha untuk melepaskan kedua tangan Uwais yang melingkar di tubuhnya. Namun, tenaganya kalah kuat dari Uwais, akhirnya, dia pun memilih diam dan menangis.
Air matanya menetes di lengan Uwais, sehingga cowok tampan itu bisa merasakan basah di lengannya.
"Marahlah ... tapi plis, jangan pergi dalam keadaan emosi, jangan membawa amarah dalam hati kamu." ucap Uwais terdengar lirih di telinga Arrida.
Diam sesaat, hingga Uwais akhirnya membalikkan tubuh Arrida berada dihadapannya. Gadis itu menurut, namun ia hanya menundukkan kepalanya, sambil menangis.
"Ar ... " panggil Uwais pelan. Kepalanya miring agar bisa menatap wajah gadis kesayangannya itu.
"Lihat aku, Ar"
Arrida pun menatap Uwais dengan sorot mata yang penuh kekecewaan. Perlahan jemari Uwais menghapus air mata yang ada di pipi Arrida. Namun gadis itu segera menepis tangan Uwais.
"Gak usah megang-megang!" kata Arrida ketus.
"Maaf" ucap Uwais singkat.
"Kamu jahat, Kak! Aku kecewa sama kamu!" Arrida mulai menangis lagi. Dadanya masih terasa sesak.
"Maafin aku, Ar!"
"Kamu tau apa yang aku rasakan sesorean ini?aku gelisah, aku khawatir dengan kamu! Aku tungguin kamu, tapi kamu gak dateng jemput aku! Aku telfon gak aktif, aku chat gak ada balasan ... Jangankan balasan, bahkan diterima dan dibaca pun nggak!!!"
"Maaf, hapeku mati,"
"Itu hanya alesan kan, kamu sengaja matiin hape kan ... kata bang Arman, kamu pergi setelah dapet telfon, kamu langsung nonaktifkan hapenya kan?"
"Nggak! ini lihat ... " kata Uwais masih dalam keadaan tenang. Ia memperlihatkan ponselnya yang mati pada Arrida.
"Bohong!" kata Arrida masih dengan tangisnya. Ia terisak.
"Nggak! aku gak bohong, Ar!"
"Terserah kamu!"
Uwais menarik nafas panjang, ia mencoba menekan tombol di pinggir ponselnya agar layarnya bisa menyala, dengan maksud untuk meyakinkan gadisnya itu bahwa yang dikatakannya adalah benar. Dan nyatanya, memang ponsel itu tidak bisa aktif. Arrida akhirnya percaya, hatinya mulai luluh.
"Kakak tahu ... Aku cemas nungguin kakak! Aku nggak dapat kabar dari kakak sampe aku gelisah sendiri! Akhirnya, tadi Lani nyaranin aku untuk nemuin Kakak ... tapi nyatanya ... ketika aku ke sini, aku hanya lihat Kakak berdekapan dengan orang lain, sakit tau, Kak ... Aku bodoh kan? Nungguin Kakak sendirian, sementara Kakak dengan cewek lain ... Ini ga adil buat aku!" kata Arrida masih terisak. Dadanya masih terasa sesak. Kedua tangannya mengepal memukul dada bidang milik Uwais sekali lalu mendorong tubuhnya. Walaupun begitu, panggilan Arrida pada Uwais kembali seperti biasanya yaitu "Kakak".
"Gak ada yang bodoh, Ar ... Maafin aku, aku yang salah." kata Uwais sambil menggenggam kedua tangan Arrida.
"Gak usah pengang-pegang aku! Jelaskan, siapa cewek itu hingga kakak mendekapnya dengan sangat erat ... bahkan saat jalan pun, kakak tidak melepaskan rangkulan kakak! Kakak tau ... aku sakit ngelihat Kakak dengan cewek lain!" kata Arrida, kedua tangannya masih di genggaman Uwais.
"Aku tau ... Aku tahu apa yang kamu rasakan ... kegelisahan, kekhawatiran dan kekecewaan." kata Uwais sambil menciumi kedua tangan Arrida yang masih mengepal didalam genggamannya.
"Kamu percaya aku kan, Ar?"
Arrida hanya diam sambil menatap kedua mata Uwais. Dia masih membiarkan kedua tangannya digenggam oleh Uwais.
__ADS_1
"Cewek itu adalah mbak Fika, masih ingat?"
Arrida mengernyitkan keningnya, seperti mengingat-ingat nama Fika.
"Masih ingat waktu pertama kali kita ketemu?"
Arrida mengangguk pelan. Samar-samar, sepertinya ia mulai mengetahui siapa Fika.
"Di rumah sakit, mamah cerita tentang penyebab papah kritis, dialah mbak Fika yang lebih memilih kabur dengan laki-laki pilihannya daripada kuliahnya!"
Arrida terkejut, ia juga merasa malu dan bersalah karena telah cemburu dengan mbak Fika, kakak kandung Uwais.
"Oh ya ampun, ternyata aku cemburu sama kakaknya sendiri?" Gumam bathin Arrida.
"Maaf, telah membuatmu menunggu dan kecewa ...." kata Uwais masih mengeratkan genggaman kedua tangannya.
"Ini kesalahanku, Ar ... Dari semalam hapeku gak dicas ... Dan waktu sore, aku kaget banget dapet telfon dari nomer asing berkali-kali, aku buka chat, ternyata nomer asing itu mbak Fika, dia ada di terminal, meminta tolong padaku. Padahal selama ini kami sama sekali tidak pernah dihubungi oleh mbak Fika. Aku mencoba menghubungi nomer itu, namun sayang langsung tidak aktif"
Arrida masih mendengarkan Uwais.
"Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju terminal ... Maaf, aku salah, seharusnya aku titip pesan pada Bang Arman, bang Dika ataupun Kirno" kata Uwais masih belum melepaskan genggaman tangannya
"Dan saat di terminal, aku baru sadar kalau daya baterai hapeku tinggal dua persen ... aku masih berusaha agar bisa menghubungi mbak Fika ...tapi nihil hingga hapeku mati, bahkan aku gak bisa menemukan mbak Fika .... padahal aku udah nyari sampai sudut terminal ... dan, karena hape mati itu jugalah, aku gak bisa menghubungimu."
"Maaf ya, Ar ...." ucap Uwais meminta maaf sekali lagi.
Arrida menganggukkan kepalanya pelan. Ia sangat memahami keadaan Uwais saat itu.
"Setelah hapeku mati, aku hanya berharap sebuah keajaiban, bisa bertemu dengan mbak Fika dalam keadaan baik-baik saja ... Alhamdulillah ... akhirnya kita ketemu beberapa saat yang lalu"
"Hei kenapa nangis?" tanya Uwais
Arrida menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Uwais. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Lalu menatap dalam-dalam cowok pujaannya itu.
"Ada apa, hm?"
"Maafin aku, Kak, udah marah-marah gak jelas"
"Gak papa ... tapi sekarang udah gak marah, kan?"
Arrida mengangguk.
"Ya udah, aku antar pulang, jam malam kamu udah mau selesai, kita lanjutkan besok, akan aku kenalkan dengan mbak Fika"
"Kok kakak tau jam malam ku akan selesai?"
"Sebelum turun dari taksi, aku sempat lihat jam di dalam taksi, ayok!" ajak Uwais sambil menggandeng lengan Arrida. Akhirnya keduanya pun berjalan menuju asrama.
"Oh iya, kak ... Aku juga mau cerita banyak tentang hari ini,"
"Ya udah besok aja ya ceritanya ... atau, kalau kamu belum tidur, aku akan hubungi kamu ... kalau hapeku udah dicas ya"
"Besok aja, kak, ceritanya ... karena terlalu banyak kejutan"
"Oh ya?"
__ADS_1
"Hmm" Arrida mengangguk.
Β ---------
"Udah sana masuk!" perintah Uwais ketika mereka sudah sampai di dekat gerbang asrama.
"Iya, makasih ya, Kak"
"Iya ... udah sana!"
Arrida pun berbalik lalu melangkah meninggalkan Uwais. Namun saat di depan pintu gerbang asrama, gadis itu menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badannya menatap cowok pujaannya yang masih setia berdiri memperhatikannya.
Uwais mengernyitkan kening, melihat Arrida terdiam. Dagunya terangkat seakan bertanya 'ada apa'
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Arrida langsung berlari begitu saja mendekat ke arah Uwais lalu mendekap tubuhnya dengan erat. Uwais terkejut dengan sikap Arrida yang tiba-tiba saja mendekapnya. Namun ia juga tak menolaknya. Tenang, itu yang ia rasakan.
"Makasih udah kembali dengan selamat ... aku seneng kakak baik-baik saja ... Maafin aku, ya, Kak"
Sebuah senyuman terbit di wajah tampan Uwais. Kedua tangannya terangkat, mengeratkan dekapan, dia juga merasa rindu karena seharian ini baru bertemu dengan gadis kesayangannya itu.
"Hmm ..." Jawab Uwais. Satu tangannya mengusap lembut rambut Arrida.
Setelah saling merasakan kehangatan dan kenyamanan dan juga ketenangan di hati mereka. Arrida pun melepaskan dekapannya. Lalu menatap Uwais dan tersipu.
" Aku masuk ya, Kak"
"Hmm, masuklah" kata Uwais sambil mengusap pucuk kepala Arrida.
Keduanya pun tersenyum sebagai salam perpisahan.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
**Oiya kakak readers mampir juga ya ke karya temanku... recommended banget nget.... karya: Zafa
ππππππππππππππππππ
Β
__ADS_1
ππππππππππππππππππ**