Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
139. Bangun, Kak!


__ADS_3

"Kak, gak usah jemput aku, aku masih ada yang diurus, aku mau menyelesaikan laporan yang tertunda," Arrida mengirim pesan pada Uwais.


Lagi, ada perasaan kecewa di hati Uwais saat membaca pesan dari istrinya itu. Namun, ia tetap menunggu Arrida hingga sore.


"Nanti aku pulang naik taksi, mau ke kampus dulu, kebetulan hari ini prakteknya pulang cepat aku sudah pesan taksi!" pesan berikutnya dari Arrida terkirim.


Benar saja, sore itu Uwais melihat Arrida keluar dari tempat praktek sebelum jam kepulangan. Ia keluar bersama Rasya, mereka mengobrol dengan berkas-berkas di tangan mereka, kemudian Rasya seperti mengajak Arrida pergi bersama, namun Arrida lebih memilih menunggu taksi yang sudah dipesannya.


Uwais hanya mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Arrida, kemudian memastikan istrinya itu hingga tiba di kampus dengan selamat. Ia juga mengikuti Arrida ke perpustakaan. Di sana, ia bersembunyi di ujung ruangan, pura-pura membaca, padahal dia sedang memperhatikan istri tercintanya yang sedang fokus mengerjakan tugas-tugas sambil membuka buku dan mengetik di laptop. Ia benar-benar bertingkah seperti mata-mata.


Ada rasa kasihan melihatnya. Dalam hatinya, ingin sekali ia membantu istrinya itu, namun ia urungkan, karena ia melihat Rasya sedang membantunya.


"Siapa cowok itu? Apakah dia yang namanya Rasya? Partner lapangan kerjanya kah?" gumam Uwais.


Tanpa disadari, rasa cemburu itu hadir. Ia marah, namun ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi ketika sesekali terlihat Arrida tertawa dengan Rasya. Hatinya benar-benar tidak karuan. Akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkan perpustakaan, dan kembali ke rumah.


🌼


Arrida pulang ke rumah mendekati Maghrib, tampak di wajahnya rasa lelah. Ia melihat Uwais sedang tertidur. Wajah tampannya, membuat Arrida kembali bersemangat. Ah, seharian ini, dia meninggalkannya, hingga tidak sempat menghubunginya via panggilan telepon. Hanya dua kali saja dia mengirimkan pesan untuk tidak usah menjemputnya, itu pun tidak mendapatkan balasan satupun dari Uwais.


"Kakak lelah banget, ya!" ucapnya sambil mengusap lembut rambut Uwais.


Uwais mengerjap. Ia terkejut dengan kehadiran Arrida.


"Udah pulang?" tanya Uwais sambil menyembunyikan perasaan marah karena cemburu tadi sore.


"Iya, baru aja ... Kakak lelah banget ya?"


"Hmm," kata Uwais sambil bangun dari tidurnya, kemudian ia duduk di bibir tempat tidur.


"Udah makan?" tanya Arrida.


Uwais menggeleng. Ia memang belum makan sama sekali setelah mengantar Arrida tadi pagi.


"Ya Alloh, kenapa belum makan? Itu, kan masih ada lauk dan sayur tadi pagi,"


Uwais hanya diam, ia tahu jika Arrida sudah menyiapkannya pagi tadi, namun, dia memang tidak sempat menyentuh makanan yang disiapkan istrinya itu karena seharian ini dia menunggu dan mengikuti Arrida.


"Aku masakin mie, ya! Mau? Biar hangat?" Arrida menawarkan diri membuatkan Uwais mie kuah. Ia ingat, Uwais pernah memintanya membuatkan mie kuah seperti ketika dulu saat HUT sekolah.


Tanpa persetujuan dari Uwais, ia pun segera ke dapur dan memasak mie.


🌼


"Kak, mie nya sudah jadi tuh! Ayo makan!" ajak Arrida pada Uwais yang ternyata kembali tertidur sepeninggal Arrida ke dapur.


Uwais hanya membuka matanya malas.


"Ayo, Kak, kasihan perutnya,"


Uwais malah sengaja memejamkan matanya.


"Kaaak, jangan tidur mendekati Maghrib, kata orang tua, pamali, lho! Ayo makan, yuk!" ujar Arrida sambil menarik lengan Uwais. Dan mau tidak mau, lelakinya itu pun menurut.


Kini mereka duduk di kursi meja makan, di hadapan mereka telah tersedia semangkuk mie kuah.


"Ini buatku aja? Kamu gak makan?" tanya Uwais.


"Nggak, aku masih kenyang!"


"Kapan kamu makan?"


"Tadi sebelum pulang ditraktir temen!"


Uwais diam. Ia benar-benar tidak berselera untuk makan. Dalam benaknya, jika Arrida pasti telah makan bersama Rasya.


"Aku suapin ya!" kata Arrida bersemangat.


Satu sendok mie meluncur ke mulut Uwais.


Karena dirasa memang perutnya pun lapar, Uwais akhirnya membuka mulutnya.


"Emh, nikmat banget ini mie?" gumam Uwais dalam hati. Ia pun berselera kembali untuk menghabiskan mienya tanpa menghiraukan perasaan cemburunya.


"Biar aku makan sendiri ya, kamu mandi sana!" perintah Uwais menyadari bahwa Arrida belum sempat mengganti bajunya.


Arrida tersenyum. Ia pun menurut apa yang diperintahkan suaminya itu. Dan sebelum dia pergi, ia menyempatkan mengecup sekilas pipi Uwais. Mendapat kecupan di pipi, mood Uwais berubah lebih baik. Namun ada kebimbangan melanda, apakah sikap manis Arrida ini, hanya ingin menutupi kesalahan yang dilakukannya karena telah jalan dengan laki-laki lain? Ah, hati Uwais makin tak karuan.


🌼

__ADS_1


Malam ini, Arrida masih sibuk di depan laptop, ia sengaja menyelesaikan tugasnya di tempat tidur sekalian menemani Uwais yang sedang mencoba memainkan permainan di ponselnya.


"Tidurlah Kak, udah jam sepuluh!" perintah Arrida pada Uwais. Lelaki itu menghentikan aktivitasnya memainkan game.


"Kamu udah selesai?" tanya Uwais.


"Belum!"


"Masih banyak?" tanyanya lagi.


"Lumayan!" jawab Arrida sambil memperhatikan lembaran-lembaran berkas.


"Kenapa gak diselesaikan besok? Besok kan Minggu?"


"Besok mau aku gunakan ngedate ma Kakak seharian!"


"Emh, apa?" Uwais agak tak percaya.


"Iya, kita kencan seharian! Dulu kita pernah kencan dari pagi sampai malam,"


"Benarkah?"


"Iya, aku ingin mengulanginya, siapa tau kakak ada yang ingat!" kata Arrida bersemangat, ia sudah tidak sabar untuk mengembalikan ingatan Uwais.


"Kalo gitu, sini, tugas kamu, aku bantu ya, biar cepet selesai, biar besok kamu fit!"


Arrida tersenyum.


"Kenapa malah tersenyum, hm?"


"Kangen kakak?" kata Arrida.


"Emhh?"


"Iya, kakak selalu bantuin aku menyelesaikan tugas kuliah,"


"Maaf tadi aku cuek, aku lagi marah,"


"Eh, kakak marah kenapa?"


"Karena kamu gak mau dijemput, kamu juga gak mau makan malam bareng aku, kamu makan dengan orang lain!"


"Ya Alloh, Kak, maafkan aku ... Tadi maksud aku kirim pesan biar kakak gak jemput, soalnya aku mau langsung ke kampus, biar kakak gak lelah!"


"Ya Alloh, kenapa kakak ga bilang?" Arrida terkejut. "Kenapa kakak ga pulang aja, kan lelah nungguin aku seharian!" lanjutnya sambil memeluk Uwais lalu mengecup pipinya.


"Karena aku tidak ingin mengecewakan kamu untuk yang ketiga kalinya, aku berharap bisa berhasil jemput kamu kali ini! Taunya, kamu malah minta gak dijemput!" Uwais merajuk seperti anak kecil.


"Ya ampun, Kak, trus kenapa kakak ga bales pesan aku? Dan ngabarin kalo kakak ada di tempat praktik aku?"


"Waktu ada pesan dari kamu, aku lihat kamu sama cowok,"


"Oooouh berarti kakak cemburu?"


Uwais diam.


"Dia itu Rasya, partner aku saat aku pulang ke kota S kemarin karna ada tsunami itu, aku minta mana aja yang harus aku buat laporannya! Eh tunggu dulu, berarti, kakak pulang ke rumahnya kapan?"


"Aku ngikutin kamu sampai perpus, aku lihat kamu mengerjakan bersama dia! Trus aku pulang!" ujar Uwais masih merajuk.


"Mmh, kasihan maafin aku ya! Tapi kami hanya mengerjakan tugas kok, Kak, gak ada yang lain!"


"Kamu pasti makan juga ma dia kan, nyampe gak mau makan dengan aku!"


"Oh, kalo soal makan, aku makan ma Lani, kakak inget gak waktu Mbak Fika dan bang Arman pamitkan aku ke asrama?" tanya Arrida mengingatkan Uwais saat akhirnya Fika yang meminta ijin menarik Arrida untuk tidak lagi tinggal di asrama.


Uwais mengangguk. Ia ingat waktu ikut mengemasi barang-barang Arrida dari asrama.


"Nah, Lani itu temen sekamarku, Kak! Kakak juga dapet salam dari dia, dia pacarnya bang Kirno! Dia sering kok ke resto, bantu-bantu, cuma selama praktek lapangan aja, dia gak pernah kesini!"


Uwais mengangguk mengerti.


"Maaf ya, udah buat kakak salah sangka!" ucap Arrida sambil mengecup kembali pipi Uwais.


Uwais tersenyum tipis. Dia merasa lega, namun, dalam hatinya masih ada yang mengganjal, karena kehilangan ingatan dia merasa tidak berguna untuk istrinya itu. Apalagi ketika dia membantu menyelesaikan tugas-tugas, yang biasanya bisa ikut menyelesaikan ini hanya bisa mengetikkan saja di laptop. Beruntung, dia masih ingat huruf-huruf.


🌼


Sesuai yang Arrida katakan, jika hari ini mereka akan berkencan seharian, seperti halnya waktu itu, kali ini Arrida mengajak Uwais melihat matahari terbit di pantai. Mereka berangkat setelah Subuh.

__ADS_1


Mereka bergandengan tangan berjalan di bibir pantai sambil menikmati matahari terbit. Mereka juga membiarkan kaki mereka terkena deburan ombak.


Walaupun Uwais tidak bisa menghadirkan ingatannya kembali tentang kencan di pantai waktu itu, namun ia sangat menikmati keindahannya dan kebersamaannya saat ini dengan Arrida.


"Hai Wais, Rida, gimana kabar kalian?" tanya seseorang. Dia Sony, pemandu dan pendamping Uwais dan Arrida bermain snorkeling waktu itu.


"Eh, mas Sony! Kami baik, Mas! Mas masih inget kami?" tanya Arrida.


"Tentulah, aku hafal banget sama kalian, pasangan yang sangat serasi, cantik dan tampan, yaaa, sebenernya tadi aku sempet ragu buat nyapa kalian karena kamu sekarang pake jilbab, tapi aku gak akan lupa dengan wajah tampan Wais!" jelas Sony.


"Iya, Mas, sekarang kami udah nikah!" kata Arrida.


"Wah, benarkah? Selamat ya, ikut seneng, jadi ... Ceritanya kalian kesini mau bulan madu gitu?" ledek Sony.


"Nggak Mas, kita cuma main aja!" kata Arrida.


"Ohh ... Kalian mau snorkeling juga?"


"Kakak mau?" tanya Arrida sambil melirik Uwais.


Walau sedikit bingung, Uwais mengangguk.


Sony merasa agak aneh dengan sikap Uwais, yang tidak sehangat dulu. Arrida memahami kebingungan Sony, akhirnya ia pun menceritakan keadaan Uwais dan peristiwa yang dialaminya hingga menyebabkan dia kehilangan ingatan.


🌼


"Ya udah, kalian bersenang-senang ya, ingat, jangan kejauhan dan jangan terlalu tengah, aku gak bisa dampingi kalian saat ini, soalnya, tuh banyak orang yang mau snorkeling, mereka pada baru pertama kalinya, sementara, ni pendampingnya baru tiga orang yang dateng!" kata Sony.


"Iya, Mas, gak papa! Makasih ya!" kata Arrida.


"Okke tinggal dulu ya," kata Sony.


Akhirnya mereka pun mulai bermain snorkeling, awalnya Arrida mendampingi Uwais, hingga Uwais bisa memahami bagaimana ber-snorkeling


dan kini mereka berdua saling menikmati keindahan permukaan laut yang penuh dengan hiasan terumbu karang yang cantik dan ikan-ikan kecil yang menarik.


Tiba-tiba tanpa Arrida sadari, Uwais telah kehilangan pandangan, ia menahan sakit di kepalanya, karena telinganya berdengung dan menyebabkan sakit yang sangat luar biasa. Terdengar teriakan-teriakan yang tidak beraturan di telinganya itu.


"Tolooong! Lariiiiii! Aiiiir! Aiiir Naiiik! Tsunamiii! Cepat lariiii!!"


Kilasan peristiwa yang Uwais alami saat menyelamatkan diri sambil menggendong jasad pak Ridwan muncul begitu saja secara acak, hingga tubuhnya pasrah terbawa tsunami, juga saat ia meraih sebuah kayu yang mengambang, dan dari arah yang tidak diduga, sebuah mobil yang juga terbawa arus tsunami mengenai tubuh Uwais tepat kepalanya. Walaupun hanya terserempet namun benturan itu cukup keras, dan saat itulah ia tidak sadarkan diri.


Arrida bingung, sudah cukup lama dia menikmati terumbu karang, tapi Uwais tidak juga menghampirinya. Awalnya ia mengira Uwais masih menikmati pemandangan bawah laut di dekatnya, namun akhirnya ia menyadari jika tidak ada pergerakan dari Uwais. Ia segera mendekati Uwais dan memeriksanya, ketakutan dan kekhawatiran pun melanda dirinya. Ia panik. Dengan segera ia membawa Uwais ke tepi pantai.


"Kakaaaak!! Bangun Kak!!" panggilnya berteriak. Ia menepuk bahu Uwais. Tak ada respon. Arrida makin panik. Dia memperhatikan dada atau perut Uwais memastikan bergerak naik-turun atau tidak. Tapi tak ada pergerakan. Ia teringat pelajaran pertolongan pertama yang dilakukan kepada orang yang tenggelam.


Arrida pun meletakkan jari telunjuknya di depan lubang hidung Uwais untuk memeriksa ada hembusan napas atau tidak. Kemudian memeriksa denyut nadiΒ di pergelangan tangan Uwais. Denyut jantungnya terasa lemah. Dicoba di bagian sisi leher Uwais untuk memastikan jantungnya tetap berdetak pun sama masih terasa lemah.


Arrida benar-benar semakin panik. Saat inilah, ia teringat kembali pelajaran RJP.


"Bismillah ...."


Akhirnya Arrida pun melakukan RJP atau memberikan nafas buatan. Sama seperti ketika Uwais melakukannya kepada Arrida saat hanyut di sungai beberapa tahun lalu.


"Kakak! Bangun Kak!!!"


Arrida terisak. RJP pertama yang dia lakukan belum berhasil, akhirnya ia melakukannya untuk kedua kalinya. Namun masih belum juga berhasil, Uwais tidak memberikan respon apapun. Ia pun mencobanya untuk yang ketiga kalinya.


Sempat sedikit ada respon, Uwais terbatuk, menghirup udara sebanyak mungkin, dan mengeluarkan air dari mulutnya. Namun matanya masih terpejam. Bahkan sepertinya melemah, karena posisi kepala seakan terkulai miring ke pasir.


Arrida menangis, menjerit, sambil menggoyangkan tubuh Uwais.


"Kakak! Bangun Kak!"


Kemudian ia memukul dada Uwais beberapa kali. Tetap saja tidak ada respon dari Uwais. Ia menjatuhkan kepalanya di dada Uwais dan menangis sejadinya.


....🌸🌸🌸🌸🌸...


5Ramadhan 1434 H/ 7 April 2022/ Kamis


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......

__ADS_1


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2