Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
31. Sholat bareng


__ADS_3

"Gerimis Ar... mau pulang atau nunggu? " tanya Uwais setelah membayar mie ayam dan baksonya. Ia menghampiri Arrida yang masih duduk di tempat dia makan tadi.


"Iyya kah? cuma gerimis kan?"


"Iya"


"Pulang aja ya.... udah pengen istirahat ini"


"Ya udah ayok, ntar kalo hujannya gede, kita pakai jas hujan aja,"


Arrida mengangguk, kemudian mengikuti Uwais dengan langkah pelan menuju motor yang terparkir di depan warung mie ayam.


"Yah, malah hujan beneran, Kak," Arrida dan Uwais sudah di pintu warung.


"Ya udah, pake jas hujan aja! Mau?"


"Emang kakak bawa dua?" tanya Arrida. Karena setahu gadis itu, jas hujan milik Uwais jas hujan model atasan dan bawahan (celana).


"Satu sih, kamu aja yang pakai ya,"


"Gak papa kak, aku ga usah pakai aja,"


"Ya udah kita pakai berdua," usul Uwais.


Arrida menoleh, mengerenyitkan keningnya.


"Emang bisa dipakai berdua?" tanya Arrida.


"Bisa lah, kan jas hujan ponco, yang lebar itu,"


"Ooh, bukannya jas hujan kakak yang atas bawah ya?"


"Oh, yang itu, kemarin dipinjem Asep waktu main ke rumah, nyampe sekarang belum dikembalikan, tuggu disini ya, biar aku ambil dulu jasnya,"


Uwais bergegas ke motor mengambil jas hujan, lalu kembali ke hadapan Arrida. Dia pun langsung mengenakan jas hujannya.


"Ayo masuk sini," kata Uwais sambil melebarkan jas hujan bagian belakangnya dan memerintahkan Arrida untuk masuk agar dirinya bisa terpayungi jas hujan. Namun Arrida malah terdiam. Dia tampak ragu.


"Kenapa?" tanya Uwais menangkap keraguan di wajah Arrida.


"Hmmm, berarti nanti kita berdua dalam satu jas hujan, Kak?" tanya Arrida ragu-ragu.

__ADS_1


"Iyalah," jawab Uwais singkat dan santai.


Arrida masih bingung. Walaupun dalam hatinya dia merasa senang, namun ia tidak terlalu percaya diri harus berduaan dengan pemuda pujaannya itu dalam satu jas hujan.


"Ehhh, nanti kalau udah jalan, kamu jangan macem-macem ya, Ar," Uwais sengaja bercanda, untuk mengalihkan perhatian Arrida, agar dia tidak ragu-ragu bersama dengannya dalam satu jas hujan. Uwais tau kalau saat ini, gadis kesayangannya itu sedang merasa canggung.


"Hish, Kakak, apaan sih, difilter pikirannya, mana ada aku mau ngapa-ngapain," kata Arrida sambil memukul lengan atas Uwais.


Uwais tertawa, ia senang gadis dihadapannya ini sudah mulai tidak canggung.


"Hehehe, tapi kalo kamu cuma meluk aku, aku ijinkan kok," kata Uwais masih dengan tawanya.


"Haish," Arrida cemberut, namun kemudian Uwais malah merangkulnya hingga kemudian Arrida ada dibawah naungan jas hujan. Gadis itu tak mengelak. Sambil tertatih, diapun berjalan mensejajari Uwais menuju motor.


🌼


Saat ini, motor melaju dengan kecepatan sedang. Sebenarnya keduanya merasa canggung, namun mereka sangat menikmati kebersamaan yang sedang mereka rasakan saat ini. Hangat dan nyaman.


Tiba-tiba, belum ada lima menit melaju, motor terasa oleng. Ternyata bannya kempes. Sebenarnya Uwais sedikit merasa aneh, kenapa ban motornya bisa kempes. Padahal baru kemarin motornya di service, seharusnya semua aman. Dia pun menghentikan laju motornya di pinggir jalan.


"Kenapa, Kak?" tanya Arrida sedikit bingung. Tangannya ke atas membuat jas hujannya terangkat.


Keduanya sama-sama turun dari motor. Uwais memeriksa ban motornya. Ternyata bukan hanya satu, tapi kedua ban motornya kempes.


"Bocor ya, Kak?" tanya Arrida memastikan.


"Iya, dua-duanya," jawab Uwais.


Arrida ikutan merasa aneh.


"Ya udah yuk, kita berteduh dulu," Uwais mencoba menenangkan Arrida. Ia menengok keadaan sekitar.


"Kita kesana dulu, sambil sholat Dzuhur," kata Uwais sambil menunjuk sebuah mushola yang ada di seberang jalan.


Uwais mendorong motornya, agak pelan karena mengimbangi langkah Arrida yang sedikit tertatih di belakangnya.


Setelah sampai di mushola, mereka pun segera


menuju tempat wudhu.


Suasana di mushola tidak sepi, walaupun waktu sholat berjamaah telah berlalu dan keadaan sedang hujan deras. Di dalam mushola ada seorang pria dewasa bersama seorang anak laki-laki yang usianya sekitar sepuluh tahun, sementara di teras mushola ada nenek-nenek sekitar tujuh puluh tahunan, dan ada seorang anak kecil perempuan yang usianya sekitar dua tahunan sedang disuapi oleh wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan yang kemungkinan besar dia adalah ibunya.

__ADS_1


Mereka seperti sebuah keluarga yang sedang melakukan perjalanan jauh, dan sengaja ke mushola itu untuk istirahat dan sholat. Karena di pelataran mushola ada sebuah mobil keluarga berwarna metalik.


🌼


"Ar, jamaah yuk!" ajak Uwais. Saat itu dia telah berwudhu dan sengaja menunggu Arrida untuk diajaknya sholat berjamaah.


Arrida yang akan masuk ke dalam mushola, menghentikan langkahnya. Dia baru saja menyelesaikan wudhunya. Ditatapnya Uwais dengan ragu-ragu.


"Ayo dipakai mukenanya, kita sholat bareng ya,"


Arrida mengangguk tersenyum. Entahlah, perasaan seperti apa yang hadir saat ini. Seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di hati Arrida. Bahagia dan keharuan membuncah begitu saja. Ingin menangis karena bahagia. Bolehkah saat ini Arrida berharap kalau Uwais kelak bisa menjadi 'imam'nya di dunia sampai akhirat?


Setelah mengenakan mukena, keduanya menempati tempat di dekat pintu masuk agak sebelah kanan. Mereka pun sholat sesuai shaf nya, Uwais didepan menjadi imam dan Arrida di belakang menjadi makmumnya.


Setelah salam, Uwais dan Arrida menyempatkan diri untuk berdoa. Kemudian Uwais sempat berbalik menatap Arrida, dan mengangguk tersenyum saat tatapan keduanya bertemu. Arrida pun mengangguk dan membalas senyuman Uwais. Sudah, sampai situ saja, tidak ada acara salaman apalagi sampai cium kening layaknya pasangan suami istri.


Arrida bangkit lalu melepas dan merapikan mukenanya. Kemudian dia ke teras menyusul Uwais duduk.


"Gimana, Kak?" tanya Arrida meminta kepastian bagaimana cara mereka pulang dan mengatasi kedua ban motor yang kempes. Dia duduk di samping Uwais agak berjarak beberapa sentimeter.


"Kamu pulang naik taksi, ya," kata Uwais mengusulkan.


Arrida mengangguk. "Lalu kakak gimana?" tanyanya sambil melihat ke arah motor.


"Gampang itu mah, kamu gak usah mikirin itu, yang penting kamu!" kata Uwais membuat Arrida mengangguk sekali lagi.


🌼


"Kalian belum nikah, kan? Kalian masih sekolah, kan? Kalian pacaran?" Itu yang bertanya adalah nenek yang sedang duduk di teras. Dia menghampiri Uwais dan Arrida, lalu duduk di hadapan mereka. Sejak tadi, nenek itu memegang tasbih, bibirnya tidak berhenti melafalkan kalimat thoyyibah. Namun tatapannya tidak bisa lepas dari interaksi Uwais dan Arrida semenjak mereka tiba di mushola.


Pertanyaan dari nenek tadi membuat Arrida dan Uwais terkejut. Ada sedikit rasa khawatir dengan pertanyaan itu, takutnya, saat ini, Uwais dan Arrida sedang melakukan sesuatu yang dianggap melanggar norma menurut nenek itu.


"Kami masih sekolah nek, kami gak pacaran," jawab Uwais meyakinkan.


"Tapi kalian juga bukan kakak adik, kan?"


"Bukan, Nek," jawab Uwais lagi. Arrida sebenarnya menjawab namun hanya dengan gelengan kepala.


"Hmmm, kalian ini terlalu banyak masalah dari luar, padahal dari diri kalian sendiri gak pernah bermasalah, kalian itu seperti air hujan yang senengnya menyiram. Tau filosofi hujan? Sembilan puluh lima persen hujan itu sederhana, menyenangkan dan menenangkan dan yang lima persen kemarahan seperti banjir. Dan kalo kalian jadi pasangan ... kalian itu saling menyirami saling memberi manfaat, kalian bisa bahagia ...."


Arrida dan Uwais saling menoleh, tatapan mereka beradu. Ada hal yang sulit mereka gambarkan saat ini tentang perasaan mereka.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2