Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
140. Gadis berjilbab masa depan


__ADS_3

"Kak! Bangun!!" teriak Arrida sambil menangis di dada Uwais.


"Kenapa aku nggak bisa RJP ya tidak seperti Kak Uwais waktu menyelamatkan aku saat hanyut di sungai Apa aku salah teknik ya?" gumam bathin Arrida.


Tiba-tiba punggung Arrida merasakan sentuhan tangan seseorang.


"Uhhuuk!" terdengar juga suara batuk seperti orang tersedak.


"Kakak!!! Alhamdulillah, Kakak udah sadar! Makasih ya Allah," kata Arrida sambil memeluk Uwais dan menciumi wajahnya beberapa kali.


"Eh, kamu siapa?" tanya Uwais setengah sadar.


"Oh, tidak! Ini hilang ingatan kok gak pergi-pergi sih!" kata Arrida dalam hatinya penuh kekecewaan.


"Ayo! Cepetan kita pergi, air laut datang, ada tsunami!" kata Uwais segera berdiri, lalu tanpa lihat kanan dan kiri ia menarik tangan Arrida untuk segera pergi secepatnya dari pantai.


"Tunggu, Kak!"


Arrida menarik tangannya kemudian menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa?"


"Lihatlah, keindahan ini! Tidak ada air laut naik, semua baik-baik saja!" kata Arrida sambil menunjuk lautan lepas.


Uwais memandang sekeliling, ombak di lautan tampak tenang, burung-burung beterbangan, semilir angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya.


"Ah, iya, bener juga, indah banget ini," ucap Uwais sambil menatap kagum keindahan lautan luas yang begitu tenang.


"Kamu siapa? Kenapa kamu cium-cium aku tadi?" tanya Uwais.


"Kenapa memangnya? Apa tidak boleh seorang istri mencium suaminya?"


"Apa kamu yang namanya Arrida Lathifatunnisa?" tanya Uwais kemudian.


"Kakak tau aku? Tau nama aku?" Arrida tak percaya jika Uwais mengetahui nama lengkapnya.


"Jadi benar kamu Arrida? Kamu istriku?" tanya Uwais menyelidik.


"Iya, Kakak ingat aku?" Arrida agak heran.


"Berarti benar aku sudah menikah," gumamnya.


"Tentu!"jawab Arrida singkat.


"Katakan siapa aku? Dan bagaimana aku bisa menikah dengan kamu?"


"Ya Tuhan, kenapa ingatannya jadi malah bingung gini?" tanya Arrida dalam hatinya.


"Karena sebuah keadaan, jadi kakak harus menikahiku,"


"Apa? Apa aku telah melakukan sesuatu sama kamu?"

__ADS_1


Arrida merasa kecewa dengan pertanyaan yang diucapkan oleh Uwais, ia merasa jika Uwais melupakan rasa cinta kepadanya.


"Iya, Kakak telah melakukan sesuatu padaku! Dan itu bikin aku sakit hati!" kata Arrida protes, karena Uwais sepertinya benar-benar melupakan rasa cintanya.


"Maaf! Apakah itu melanggar norma? Hingga aku harus menikahimu?" tanyanya sambil mengusap perut Arrida sekali.


"Hah, dia pikir aku hamil kali? Makanya dia menikahiku? Wah makin payah nih ingatannya! Kacau-kacau!" gumam bathin Arrida.


"Ayo kita pulang, nanti aku ceritakan di rumah!" kata Arrida yang akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan kencan mereka.


🌼


"Aku tau ini, ini rumah yang aku buat untuk calon istriku," kata Uwais setelah mereka tiba di teras rumah.


"Kakak ingat?" Arrida bahagia, karena Uwais mengingatnya, tidak seperti tadi ketika Arrida menunjukkan resto padanya, sama sekali Uwais tidak mengingatnya.


"Tentu, dia yang mendesign ini! Aku ingat saat dia memberikan gambar design rumah ini!"


"Apa kakak ingat wajahnya?"


Uwais menggeleng. "Yang aku tau dia tidak di jilbab! Dimana dia sekarang ya? Apa dia tau keadaanku saat ini? Apa dia tau kalau akhirnya aku harus menikah dengan kamu, hei, gadis berjilbab?"


Arrida menarik nafasnya panjang. Rasa kesal, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.


"Ayo kita masuk dulu!" Arrida mencoba bersabar.


🌼


"Terima kasih!" ucap Uwais sambil menerima gelas dari tangan Arrida. Matanya menatap lekat wajah Arrida seperti memindainya.


"Aku ingat kamu, kamu gadis berjilbab yang sudah merawatku selama ini, setelah tsunami!"


"Kakak ingat soal tsunami?" tanya Arrida setelah duduk disamping Uwais.


"Iya, itu adalah hal yang sangat mengerikan, kacau, dan ...." Uwais menghentikan kalimatnya sambil memegang dada, karena tiba-tiba saja ia merasakan nyeri yang teramat sangat pedih.


"Ada apa?"


"Aku merasa sakit hati! Sakit banget!"


"Kenapa?" tanya Arrida sambil mengusap lembut dada Uwais.


"Entah, aku merasa sedih banget, aku kayak kehilangan seseorang yang sangat berarti untuk aku! Tapi siapa?" ujar Uwais yang kemudian menangis tersedu. Namun ingatannya tentang pak Ridwan akhirnya muncul.


Arrida ikut mengeluarkan air mata, ia ikut merasakan apa yang Uwais rasakan. Ia tahu lelakinya ini sedang kacau. Bukan hanya ingatan, tapi juga perasaannya.


"Ya Alloh, sebegitu tertekannya pikiran dan perasaan kakak, disaat sedang bersedih karena kehilangan papah, dia juga harus berjuang melawan tsunami, terombang-ambing antara hidup dan mati! Hingga mungkin, inilah yang menyebabkan kacau di hati dan ingatannya!"


"Apa lagi yang kakak ingat dan kakak rasakan?" tanya Arrida.


"Sakit! Papah, iya Papah!" tangisnya sambil menjatuhkan kepalanya di pundak Arrida, kemudian menangis. Ia seakan meluapkan perasaannya saat pak Ridwan meninggal, perasaan yang sempat ia pendam dalam-dalam ketika itu. Ia mencoba kuat dibalik keterpurukannya kehilangan seorang ayah.

__ADS_1


"Seharusnya saat itu kakak menangis saja gak usah dipendam, gak usah sok kuat, makanya sekarang jadi terjebak dengan perasaannya ini," kata Arthda dalam hatinya.


"Papahku gak ada, dia meninggal! Hiks, hiks!"


"Ya Alloh, kakak rapuh banget ternyata kehilangan papah! Jangan biarkan kak Uwais stress ya Alloh! Cukup hilang ingatan saja!Dan segerakanlah dia mengingat kembali dengan normal" gumam bathin Arrida.


"Tenanglah, Kak," ucapnya sambil mengusap punggung Uwais.


"Nggak, aku gak bisa menyelamatkannya, padahal aku sudah menggendongnya agar tidak terbawa tsunami, tapi aku sendiri hanyut, aku gak tau lagi gimana papah sekarang!" kata Uwais masih terisak. Ia akhirnya mendekap erat tubuh Arrida.


Wanita itu hanya diam. Tangannya masih mengusap punggung Uwais untuk menenangkannya. Ia sengaja membiarkan suaminya itu menangis hingga pundaknya terasa basah karena air mata suaminya itu.


"Ceritakan apa yang kakak ingat!" pinta Arrida setelah dirasa jika suaminya itu dalam keadaaan tenang.


"Papah sakit keras, dia memintaku untuk menikah, dan akhirnya aku menikah, dengan Arrida Lathifatunnisa, padahal aku sudah punya rencana sendiri dengan calon istriku,"


"Apa kakak merasa terpaksa menikah denganku?"


"Maaf bukan itu maksudku! Hanya saja aku butuh waktu untuk mengingatnya,"


"Maksudnya?"


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu sakit hati karena menyebut calon istriku itu di hadapan kamu! Aku sudah bisa menerima kamu, aku ingat kamu gadis berjilbab yang baik, kamu sholihah, mau merawatku selama ini, hanya aku butuh waktu untuk menerima keadaan ini!"


"Ya Alloh kejadian tadi di laut, malah membuat kakak merasakan kembali kesedihannya. Ini malah membuat trauma kakak dan terjebak hanya di ingatan pasca tsunami, tapi, kenapa dia juga melupakan perasaannya padaku?"


"Kakak, kalau aku cerita yang sebenarnya terjadi, apa kakak akan percaya?"


"Ceritakanlah, semoga aku bisa mengingatnya!" kata Uwais.


"Calon istri kakak yang kakak maksudkan adalah aku!"


"Tidak, dia tidak di jilbab, tapi dia cantik dan baik,"


"Katanya kakak tidak ingat wajahnya, kok tau kalau dia cantik?" protes Arrida.


"Perasaanku saja!"


"Ah, benar juga, kakak lebih lama bersama aku yang tidak mengenakan jilbab, bahkan kita belum pernah bertemu langsung setelah nikah, kecuali melalui panggilan video setelah akad," gumam bathin Arrida lagi.


Ya, Arrida memang berniat untuk mengenakan jilbab setelah menikah dengan Uwais. Kini, ia memahami jika Uwais hanya mengenali dirinya yang dulu yang tidak mengenakan jilbab, dan menganggap jika Arrida yang sekarang adalah orang yang berbeda.


"Kakak tau, calon istri yang Kakak ingat, dia adalah Arrida yang tidak menggunakan jilbab, dia masa lalu kakak sebelum menikah, tapi yang ada di hadapan Kakak saat ini, adalah Arrida masa depan Kakak! Aku sudah memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah resmi menjadi istri Kakak!"


Uwais terdiam mencerna semua yang dikatakan oleh Arrida.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Maaf kak readers telat Up. Banyak yg diurus. πŸ™πŸ™πŸ™


Terima kasih selalu dari Uwais dan Arrida karena masih setia mendukung dengan like comment dan votenya, sehat selalu ya Kakak readers....

__ADS_1


Hatiku Padamu Kak readers... 😘😘😘


__ADS_2