
Uwais datang terburu-buru ke restoran, karena dia harus membawakan ponsel milik Bu Tania yang tertinggal di rumah. Begitu di pintu restoran, dia langsung memindai sekitar, mencari dimana orang tuanya duduk. Setelah terlihat, ia pun bergegas mendekati tempat duduk orang tuanya, lalu menyalami keduanya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Uwais, ia melihat kedua orang yang duduk di hadapan orang tuanya. Dan itu membuatnya terkejut.
"Ayah, bunda?" Uwais mengernyitkan keningnya
"Uwais?" Kata pak Arthur dan Bu Sofia kompak.
Uwais langsung menyalami keduanya.
"Lho, kamu udah kenal nak?" tanya Bu Tania pada Uwais
"Iya mah, ini orang tuanya Arrida" jawab Uwais malu-malu.
"Jadi ini anak kalian?" tanya Bu Sofia pada pak Ridwan dan Bu Tania
"Iya ini anak bungsu ku" jawab pak Ridwan.
"Pantesan, pertama kali aku lihat dia, aku langsung teringat kamu, Wan" ujar pak Arthur.
Bu Sofia dan pak Arthur saling menatap. Mereka tertawa seperti mengingat sesuatu. Sementara Uwais tersenyum kikuk.
"Wan... Wan... luar biasa kamu mendidik anakmu" sahut pak Arthur.
"Ada apa?" kali ini pak Ridwan bingung.
"Dua tahun yang lalu dia datang meminta ijin padaku untuk menjadikan Arrida sebagai masa depannya" kata pak Arthur.
"Padahal dia baru lulus sekolah waktu itu, kayaknya baru dua bulan setelah acara perpisahan sekolah, dia lulusan terbaik" Bu Sofia sedikit mengingat-ingat
" Kamu tau, Sof ?" Bu Tania merasa heran
"Iya, aku guru BK di sekolah Uwais dan Arrida"
"Lho, kenapa waktu acara perpisahan itu kita tidak bertemu ya?" tanya Bu Tania lagi
"Iya ya... entahlah bagaimana Alloh bisa mengatur pertemuan kita, seperti sekarang ini" jawab Bu Sofia
" Wah, betapa beruntungnya, aku bangga dengan anakmu Wan, aku gak tau bagaimana kamu mendidiknya selama ini" ujar pak Arthur.
**flashback on **
Hari itu, sekembalinya Uwais dan keluarga dari kota tempat tinggal kakek dan neneknya, Uwais segera membuka bingkisan dari Arrida dan membaca surat yang dianggap sebagai 'pernyataan cinta'.
Ia segera berlari menuju motornya yang terparkir di garasi, hingga membuat Bu Tania keheranan.
"Mau kemana Wais?" tanya Bu Tania, dia mengikuti Uwais hingga di garasi
" Ada hal penting mah, mau ketemu kehidupan ku dan masa depanku, restui ya mah" ucapnya sambil mencium punggung tangan Bu Tania.
Bu Tania hanya mengeryitkan keningnya tak mengerti, namun senyumnya selalu terbit untuk anak kesayangannya itu.
"Ya...mamah restui kamu selalu... Ya sudah hati-hati" kata Bu Tania asal menjawab karena sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti maksud yang Uwais ucapkan
Dan sebelum bertemu dengan gadis kesayangannya itu, terlebih dahulu dia pergi ke suatu tempat. Ke kantor ayahnya Arrida. Disana secara kebetulan ada Bu Sofia.
"Lho ada apa ini Uwais?" Tanya pak Arthur ketika Uwais sudah berada di ruangannya. Mereka sudah duduk berhadapan.
"Maaf banget Om, dan Bu Sofia, kalau saya mengganggu waktunya"
__ADS_1
"Ada apa Wais? Kayaknya penting" kata Bu Sofia mulai penasaran
"Bagi saya sangat penting Om, Bu Sofia"
"Ada apa hm?" tanya Pak Arthur dengan tenang
"Saya menyayangi anak Om dan Bu Sofia, Arrida Lathifatunnisa... saya ingin menjadikannya masa depan saya, saya mohon ijinnya Om, Bu Sofia" ucap Uwais penuh keyakinan. Tak ada keraguan sedikitpun. Bahkan tidak terlihat gerogi.
Pak Arthur dan bu Sofia terkejut, kemudian mereka saling pandang.
" Kamu nekat atau terlalu berani?" tanya pak Arthur tegas, nadanya terdengar mengintimidasi.
"Maaf kalau saya lancang Om, Bu Sofia... saya memang belum punya apa-apa untuk membahagiakan Arrida, namun ijinkan saya untuk membahagiakannya, saya akan selalu berusaha untuk membahagiakan anak Om dan Ibu"
"Kamu baru lulus kemaren lho Uwais? Kamu serius?" tanya Bu Sofia masih menahan rasa penasarannya, karena anak seusia Uwais sudah berani memikirkan hal yang sangat jauh.
"Saya sangat serius Bu"
"Kenapa kamu bisa yakin dengan anak saya? apa karena kamu sudah pernah menolongnya? atau kalian sudah berpacaran di belakang kami?" pak Arthur bertanya lagi dengan penuh penekanan.
"Tidak Om, kami tidak berpacaran, sampai saat ini saya masih memiliki batasan. Karena saya tidak ingin main-main dengan perasaan, dan tidak ingin memainkan perasaannya anak Om"
"Kamu yakin Arrida suka kamu?" tanya pak Arthur mencoba menerka-nerka.
"Awalnya saya tidak yakin, karena beberapa kali anak Om selalu membatasi diri, tapi setelah Arrida mengirimkan ini, saya memantapkan hati saya untuk menjadikannya masa depan saya" Uwais menyerahkan surat 'pernyataan cinta' yang ditulis Arrida.
"Wah, ternyata anak Om cukup berani juga ya" pak Arthur bergumam, tidak menyangka kalau anak gadisnya akan mengungkapkan perasaannya pada seorang laki-laki.... "Bun, gimana ini?" tanya Pak Arthur pada Bu Sofia setelah membaca isi surat Arrida.
"Kamu yakin Wais?" tanya bu Sofia akhirnya.
"Hmm... cinta monyet, kamu tau, cinta pertama itu seringnya tidak berhasil" kata pak Arthur dengan nada menyepelekan.
"Saya ingin menjadi bagian dari yang berhasil Om"
"Kamu yakin? kamu tidak akan main-main dengan anak saya?" pak Arthur bertanya sekali lagi mencari keyakinan dan kepastian.
"Saya yakin om, InsyaaAllah"
"Apa yang membuatmu yakin bisa sampai minta ijin pada kami seperti ini? "
"Karna saya tidak ingin main-main dengan masa depan saya Om, saya ingin mendapatkan ijin dari Om dan Bu Sofia, sebelum saya benar-benar melangkah menjalaninya... Dengan adanya doa restu dari Om dan Bu Sofia, saya akan berusaha untuk selalu membahagiakan Arrida, dan saya harap Om dan Bu Sofia bisa mengijinkan Arrida untuk saya saja, jangan ijinkan orang lain sampai saya benar-benar bisa berhasil dan bisa membuktikannya"
"Orang tua mu bagaimana?"
"Saya udah mendapatkan doa restu mamah"
" Lalu ayahmu bagaimana?"
"Saya memang belum berbicara dengan beliau, tapi dari dulu papah selalu memberikan kepercayaan pada saya, hanya satu pesan beliau lakukan yang kau yakini jika itu memang yang terbaik lalu mintalah doa restu ibumu"
"Kalau kami tidak mengijinkan bagaimana?"
Uwais terkejut. Ia menarik nafas panjang. Ia tidak menyangka akan ada opsi ditolak.
"Saya tidak akan mengganggu anak Om, dan saya akan mengubur perasaan saya"
"Kenapa kamu tidak mengambil cara pintas? kayaknya kamu cukup berani melakukannya, bukannya kalian saling suka"
__ADS_1
"Tanpa doa dan restu Om dan ibu, hubungan kami tidak akan berkah"
Pak Arthur melirik Bu Sofia, menatap penuh arti. Ada senyuman kekaguman pada Uwais terbit di wajah kedua orang tua Arrida.
"Kalo bunda sih okke aja Yah, ibu udah kenal baik Uwais!!" kata Bu Sofia sangat yakin.
"Bagaimana saya bisa melepas pemuda amanah seperti kamu, Om yakin kamu bisa membuat anak saya bahagia" kata pak Arthur sangat pasti.
Uwais menarik nafasnya lega. Ia menelan salivanya dan menahan senyumnya.
"Baiklah... lampu kuning ya Wais, belum lampu hijau, kamu harus hati-hati, jaga diri jaga hati, jangan khianati kepercayaan Om, bu Sofia, dan orang tuamu... dan jangan sekali-kali merusaknya, jaga diri kalian, jangan melewati batas" Kata pak Arthur memberi ijin.
Uwais mengangguk, dari sudut matanya keluar buliran kristal bening. Tangisan bahagia, penuh syukur.
"Makasih Om, makasih Bu Sofia" kata Uwais sambil mengusap air matanya yang masih saja mengalir.
"Bunda Nak... mulai sekarang panggil ibu dengan bunda" Kata Bu Sofia ikut mengeluarkan air mata penuh keharuan. Ia benar-benar bangga dengan Uwais.
"Iya, panggil juga Om dengan ayah" Kata Pak Arthur yang ikut terharu. Ia juga merasa bangga terhadap pemuda yang ada dihadapannya ini. Di usianya yang masih sangat muda memiliki pemikiran luar biasa untuk hidupnya. Dia punya keyakinan jika Uwais bisa membahagiakan Arrida.
" Doakan Uwais selalu Yah, Bun... agar bisa jaga amanah ini, agar Uwais bisa sukses dan bisa membahagiakan orang-orang yang Uwais sayangi"
"Pasti, doa kami untuk kamu, nak" Kata Bu Sofia.
"Iya, semoga kamu sukses, Wais" kata pak Arthur kemudian.
"Makasih Yah, Bun... makasih banyak"
Uwais tersenyum kemudian mencium punggung tangan pak Arthur dan Bu Sofia.
"Kamu akan kuliah dimana Wais?" tanya Bu Sofia setelah merasa lebih tenang daripada rasa haru tadi.
"Universitas B di kota X"
"Wah, itu kan kampus yang diinginkan Arrida... iya kan Yah"
"Berarti besok kita bisa menitipkan Arrida pada Uwais"
"InsyaaAllah Yah"
**flashback off**
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
__ADS_1