Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
112. cinta pada pandangan pertama


__ADS_3

"Camiku, calon suamiku," ucap Arrida lembut, membuat lelakinya itu tersenyum mendengarnya.


"Katakan sekali lagi!" pinta Uwais.


"Apa?"


"Panggilanmu untukku."


"Camiku."


"Aku suka."


"Benarkah? Aku bahkan saaangat suka ketika kakak bilang ke orang-orang kalau kakak adalah calon suamiku, dan aku adalah calon istriku."


"Aku lebih suka lagi jika aku bilang kalau kamu istriku dan aku suami kamu."


"Wah, belum boleh Kak,"


"Tunggu disini!" perintah Uwais. Ia berlari ke kamarnya, seperti mengambil sesuatu, kemudian segera kembali ke hadapan Arrida. Di tangannya ada sebuah kotak beludru mungil berwarna biru muda. Lalu dibukanya. Sebuah cincin. Sederhana namun begitu elegan. Tanpa meminta ijin, Uwais menarik tangan kanan gadisnya itu, kemudian memasangkan cincin tersebut di jari manisnya.


"Alhamdulillah, pas! Nah, mulai sekarang, kamu adalah calon istriku, jadi, kamu gak boleh lirik-lirik cowok manapun, okke! Kamu akan menjadi milikku selamanya, InsyaaAllah!"


"Hah ... Ini kakak ngelamar aku?" Arrida terkejut, ia benar-benar tidak percaya.


"Hmm, niatnya lebaran ini, tapi, biarlah, aku ngelamar pribadi dulu! Besok kalo pas lamaran, bareng keluarga aku pasangkan yang lain, okke"


"Kakak ..."


Mata Arrida berkaca-kaca, ia sangat terharu. Lalu ia memandangi cincin yang sudah tersemat di jari manisnya. Cantik.


"Kamu suka?"


"Aku suka cincinnya, ini bagus banget, tapi aku lebih suka momen ini, saat kakak ngelamar aku!"


"Apa kamu mau?"


"Apa?"


"Kelak jadi istriku?"


Arrida mengangguk cepat.


"Gak pikir-pikir dulu?"


"Kenapa harus pikir-pikir dulu? Bukannya kakak juga udah menetapkan kalo aku calon istri kakak? Berarti, aku gak punya pilihan, kan?"


"Emang sengaja! biar kamu gak lari setelah tau keadaan aku!"


"Maksud Kakak?"


"Aku punya banyak utang, Ar! Apa kamu masih mau sama cowok yang punya banyak utang? Belum apa-apa udah diajak menderita ... Apa kamu mau hidup prihatin sama aku?"


"Gak mau," jawab Arrida singkat.


"Hah?" Uwais terkejut dengan jawaban Arrida. Ia tidak menyangka jika gadis kesayangannya itu menolaknya., Walaupun dia tahu, jika Arrida hanya bercanda, "Nah kan, kamu pasti menyesal, iya kan? Kalo gitu kamu harus tunggu aku, sampai lunas utangku, okke! Gak boleh pergi, gak boleh tinggalin aku!" sambungnya.


"Kalo aku nunggu kakak, tapi di tengah jalan aku berubah pikiran, apa boleh?"


"Gak boleh, kamu hanya harus nunggu aku melunasi utangku pada mas Fariz," Uwais mulai panik.


"Sampai kapan? Kalo ntar yang dijodohin ayah keburu datang sebelum kakak lunas utangnya gimana?"

__ADS_1


"Biar nanti aku bicara ma ayah dan bunda."


"Emang berani?"


"Kenapa nggak? Aku udah nyelametin anak gadisnya berkali-kali, pasti gak akan ditolak,"


"Aih, kakak terlalu pede,"


"Kita buktikan ya, aku yakin gak ditolak! Tunggu ... kenapa kamu ngomongin terus orang yang dijodohin sama kamu, kamu tertarik sama dia?"


"Penasaran, kalo dia kaya, ganteng, gak punya utang, boleh tuh dipertimbangkan lagi." Arrida mencandai Uwais.


"Aish, anak ini matre juga."


"Kalo aku matre apa kakak masih mau sama aku?" goda Arrida. "Kakak punya utang, dan aku matre, kita kayaknya gak jadi cocok deh" lanjutnya masih mode bercanda.


"Matre lah, aku akan kasih apa yang kamu mau."


"Wah, serius?"


"Iya," jawab Uwais enteng.


"Ntar kakak jadi miskin lho."


"Tinggal aku minta lagi sama Alloh."


"Jadi kalau aku matre, gak papa nih?" tanya Arrida penuh selidik.


"Asal sama aku ya, dan jangan sama orang lain! Okke! Emang kamu mau minta apa? Rumah? mobil? Perhiasan?"


"Ah, rasanya kok aneh ya?" komentar Arrida.


"Kenapa?"


"Apapun kamu, aku suka."


"Tapi aku gak suka kalo kakak nganggap aku matre,"


"Truss?" Uwais sebenarnya tahu jika gadisnya itu sedang mencandainya.


Arrida malah mematung.


"Hei, malah diem!" Uwais terheran.


"Kak, aku tadi cuma bercanda, kakak jangan anggap serius!"


"Aku tau," jawab Uwais singkat. "Aku cuma ingin kamu tau, apapun kamu, walaupun matre, aku tetep suka kamu!"lanjutnya


"Dan walaupun kakak punya banyak utang, aku juga tetap sayang kakak, dan akan memilih kakak, nungguin kakak, membersamai kakak, dan gak akan ninggalin kakak." ujar Arrida penuh keyakinan.


Uwais tersenyum. Ia merasa penuh syukur diijinkan Tuhan bisa memiliki gadis kesayangannya itu.


"Kamu Arrida-ku, kamu bener-bener menggemaskan!" ucap Uwais sambil mengacak-acak pucuk kepala Arrida.


"Kak," panggil Arrida, ia sangat suka ketika Uwais mengusap pucuk kepalanya.


"Apa?Hm?" Uwais menatap gadisnya itu dengan lembut


"Hatiku Padamu, Kak." kata Arrida sambil mengangkat dua jarinya membetuk finger heart, jempolnya menempel pada jari telunjuk hingga seperti bentuk Love.


Uwais tersenyum.

__ADS_1


"Hatiku Padamu, Arrida-ku. Cuma untuk kamu!"


"Jadi, seperti ini ya andai kata kakak balas suratku?"


Uwais mengeryitkan keningnya. Ia mengingat isi surat yang diberikan Arrida.


"Aku tanya, kenapa suratmu itu isinya laguku?"


"Heee" Arrida nyengir. " Isinya sudah mewakili perasaan aku kak, toh di ujung surat, aku kasih kata Hatiku Padamu, Kak."


"Dan itu yang kamu bilang surat pernyataan cinta?"


"Hu-um" kata Arrida sambil mengangguk.


"Kamu benar-benar lucu, Ar ... Kamu tahu, sebelum kamu memberi surat itu, aku sudah berencana ingin jujur pada kamu tentang perasaanku, pokoknya aku udah bertekad sebelum pergi ke kampus, aku harus sudah mengikat kamu, tapi ternyata, kamu yang lebih dulu memberikan surat itu!"


"Kakak emang gak pernah inisiatif sendiri!" protes Arrida.


"Hei siapa bilang? Lah, ini aku ngelamar kamu." Uwais membela diri.


"Iya, maksud aku, waktu itu,"


"Aku masih bingung, apa aku bisa jaga kamu sementara kita berpisah?"


"Ah, emang aku yang suka kakak duluan." keluh Arrida


"Sejak kapan kamu suka aku? Katakan!"


"Setelah mendapatkan pertolongan dari Kakak, waktu hanyut di sungai."


"Berarti aku yang lebih dulu mencintai kamu, karna aku udah suka kamu sejak pertama kali kita ketemu, aku suka lihat wajah panik kamu saat mau nolongin aku jatuh dari motor dan aku tertarik dengan senyuman kamu waktu di rumah sakit."


"Ah, benarkah? Berarti, cinta pada pandangan pertama?" tanya Arrida memastikan.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Yuk kak readers mampir ke novel sahabat ku karya ka Nazwatalita. Pokoknya novel dengan judul "DENDAM" ini keren abis.... 😘😘😘


ini Blurb nya:


Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa, Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu.


**Happy reading yaaa πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–**


__ADS_2